
"Sayang... Kamu dari mana? Kenapa telat pulangnya?" Tanya Nyonya Wishnu ketika melihat Doni tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.
"Hemmm... Iya, ma. Tadi dari rumah sakit." Jawab Doni.
Doni berbalik badan dan menyalami mamanya. Dia benar-benar lupa waktu hari ini.
"Kamu sakit, sayang?" Tanya Nyonya Wishnu sambil pasang ekspresi berpura-pura cemas.
"Oh... Bukan, ma. Tadi jenguk teman yang sakit." Tukas Doni.
"Ya ampun... Syukurlah, mama kira kamu yang sakit." Ujar Nyonya Wishnu.
"Hemmm..." Gumam Doni.
"Ya sudah, lain kali kalau kamu ga langsung pulang sekolah, kabarin mama ya. Kasihan Nyonya Martha jadi ikutan panik tadi..." Ujar Nyonya Wishnu.
"Iya, maaf ma. Doni hampir lupa ada agenda sore ini." Ucap Doni dengan nada menyesal.
"Gapapa, sayang... Ya sudah, kamu istirahat saja dulu sebentar. Nanti sore mas Dirga yang nganterin kamu." Nyonya Wishnu berkata sambil tersenyum.
"Iya, ma. Doni ke kamar ya..." Ucap Doni.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Nyonya Wishnu sambil tersenyum simpul.
"Hemmm... Udah, ma." Jawab Doni.
"Sama siapa? Ehh... Maksud mama, kamu makan siang dimana dan sama siapa?" Nyonya Wishnu meralat cepat pertanyaannya.
Nyonya Wishnu tentu saja sudah mengetahui apa yang dilakukan Doni sepulang dari sekolah tadi siang.
Sang agen rahasia super tampan sudah melaporkan dengan rinci kegiatan Doni tadi siang di rumah sakit.
Namun Nyonya Wishnu hanya bermaksud menguji kejujuran Doni. Apakah Doni akan menyembunyikan sesuatu atau menceritakan semuanya dengan wajar.
"Hemmm... Di kantin rumah sakit, ma. Sama teman sekolah." Jawab Doni.
Tentu saja Doni menjawab dengan jujur. Namun Sang Tuan Muda tentu tidak akan menceritakan detail peristiwa yang sesungguhnya terjadi antara dirinya dan Amanda.
"Oh... Baiklah... Mama senang kamu jenguk teman di rumah sakit. Sepertinya anak mama sekarang punya teman-teman yang baik." Nyonya Wishnu memancing dengan memberi pujian.
"Hemmm... Iya, ma. Doni ke kamar ya..." Ucap Doni.
"Oh... OK, sayang..." Ujar Nyonya Wishnu dengan suaranya yang lembut.
Doni bergegas naik tangga menuju ke kamarnya. Dia tidak ingin berlama-lama lagi di situ, dia mulai merasa mamanya sedang melakukan interogasi terselubung.
Nyonya Wishnu tersenyum geli. Dalam hitungan detik, Nyonya Wishnu sempat melihat perubahan ekspresi pada wajah Doni.
"Hemmm... Gadis itu akan sangat beruntung mendapatkan hati puteraku..." Gumam Nyonya Wishnu.
Nyonya Wishnu kemudian menemui Pak Wicaksono. Wanita cantik itu menyampaikan bahwa mereka akan kedatangan tamu penting lagi malam ini.
__ADS_1
Nyonya Wishnu menjelaskan dengan detail setiap hal yang perlu dipersiapkan oleh para pelayan.
Semua penjelasan dan pengaturan dari Nyonya Wishnu dapat dipahami dengan cepat oleh Pak Wicaksono dan para pelayan lainnya.
"Tapi ini lebih santai... Suasananya kita buat santai saja, pak. Tidak perlu terlalu formal karena ini acara internal, kita tidak mengundang tamu dari luar..." Ujar Nyonya Wishnu mengakhiri penjelasan dan titahnya.
"Baik, Nyonya." Pak Wicaksono berkata sambil manggut-manggut.
"Terima kasih, Pak Wicaksono. Saya percaya anda akan melakukan yang terbaik." Nyonya Wishnu berkata sambil tersenyum.
Pak Wicaksono membalas dengan senyuman terbaiknya.
"Oh... Sepertinya Tuan Wishnu sudah pulang..." Nyonya Wishnu sayup-sayup mendengar derap sepatu Tuan Wishnu di depan rumah.
"Benar sekali, Nyonya. Tuan baru saja tiba." Ujar Pak Wicaksono.
"OK... Semoga semuanya lancar ya pak..." Ujar Nyonya Wishnu sebelum meninggalkan Pak Wicaksono dan beberapa pelayan yang ada di sana.
Nyonya Wishnu kemudian meninggalkan ruang dapur dan segera menghampiri suaminya.
"Hemmm... Doni mana?" Tanya Tuan Wishnu ketika melihat Nyonya Wishnu mendekatinya.
"Dia sedang istirahat, sayang..." Ujar Nyonya Wishnu sambil memeluk suaminya dengan penuh rasa sayang.
"Kamu juga butuh istirahat... Aku buatkan segelas jus?" Nyonya Wishnu menawarkan minuman favorit suaminya.
Tuan Wishnu menyukai segala jenis jus buah. Apalagi jika jus itu dibuat oleh Nyonya Wishnu langsung. Tuan Wishnu akan sangat menikmatinya.
"Baik, sayang... Istirahat lah di kamar. We need to talk..." Nyonya Wishnu berbisik dan mengedipkan matanya.
Tuan Wishnu tersenyum. Pria itu sudah bisa menebak apa yang akan dibahas oleh istrinya yang sangat cantik itu.
Selang beberapa waktu kemudian, Nyonya Wishnu menyusul Tuan Wishnu di kamar tidur mereka.
Wanita cantik itu terlihat membawakan segelas jus guava untuk suaminya.
"Sayang... Aku benar-benar ingin tertawa sejak tadi. Biarkan aku tertawa sebentar." Nyonya Wishnu meletakkan segelas jus guava di meja.
Nyonya Wishnu lalu membantu melepaskan jas kerja Tuan Wishnu seperti biasa. Senyum dikulum di wajah Nyonya Wishnu membuat Tuan Wishnu merasa gemas.
"Tertawalah jika memang ingin tertawa..." Ujar Tuan Wishnu sambil mencubit manja hidung istrinya.
"Hahaha... Lihat ini, sayang. Aku benar-benar merasa ini sangat lucu!" Seru Nyonya Wishnu.
Wanita cantik itu tergelak sendiri. Tuan Wishnu meraih smartphone yang sedang digenggam istrinya dan memperhatikan foto yang diperlihatkan oleh Nyonya Wishnu.
"Hemmm... Apa yang dilakukannya? Mengapa gadis itu sepertinya kesal sekali?" Gumam Tuan Wishnu.
"Menarik, bukan!? Aku bahkan belum pernah melihat ada gadis yang berani menatap putera ku seperti itu..." Ujar Nyonya Wishnu.
"Apakah Doni menyukainya?" Tuan Wishnu bertanya sambil masih menatap foto-foto lainnya.
__ADS_1
"Mungkin saja... Wajar bukan? Doni sudah memasuki usia puber..." Kata Nyonya Wishnu.
"Hemmm... Tapi mengapa selera anakku sepertinya agak aneh?" Tuan Wishnu menggumam.
"Apa maksudmu, sayang? Gadis itu terlihat menarik!" Nyonya Wishnu menyanggah ucapan suaminya.
"Hemmm..." Tuan Wishnu menggumam lagi.
Pria tampan itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Hahaha... Tapi dia jauh lebih agresif dari papanya!" Canda Nyonya Wishnu.
Nyonya Wishnu melirik suaminya dengan ekspresi wajah usil.
"Apa maksudmu, sayang?!" Tuan Wishnu menatap tajam istrinya.
"Tuan Muda Anthony jauh lebih tampan dan lebih agresif dari Tuan Wishnu!" Nyonya Wishnu mengulang kalimatnya dengan suaranya yang lembut namun terdengar cukup lantang.
"Oh... Begitukah, sayang?!" Tuan Wishnu melirik istrinya dengan gemas.
"Sepertinya begitu, tuanku tersayang..." Bisik Nyonya Wishnu.
"Baiklah, jika Nyonya yang sangat cantik ini ingin diperlakukan dengan lebih agresif... Aku siap melayani!" Ujar Tuan Wishnu penuh semangat.
"Hahaha... Sayang, aku hanya bercanda!" Seru Nyonya Wishnu.
Nyonya Wishnu mencoba menghindari pelukan suaminya. Namun tentu saja Tuan Wishnu lebih sigap.
Sore itu menjadi sore yang sangat indah dan romantis bagi Tuan Wishnu dan Nyonya Wishnu.
Tuan Wishnu berhasil membuktikan lagi kehebatan cintanya pada Nyonya Wishnu.
"Sudah dong... Sudah cukup, sayang... Kamu sudah lelah seharian..." Nyonya Wishnu mencoba menghentikan suaminya yang kelihatan masih sangat bersemangat.
"Apakah aku masih kurang agresif?" Tanya Tuan Wishnu.
Pria tampan itu menatap tajam istrinya.
"Hahaha... Tidak! Tidak! Kamu yang terbaik, sayang... Ampun, sayangku..." Ucap Nyonya Wishnu sambil tersenyum dan bergelayut manja pada suaminya.
"Itu hukuman jika meragukan kemampuanku!" Ujar Tuan Wishnu santai.
"Hahaha... Mau lagi jusnya, sayang?" Tanya Nyonya Wishnu.
Tuan Wishnu mengangguk pelan dan tersenyum.
"Biarkan pelayan yang membawanya ke sini, honey..." Ujar Tuan Wishnu sambil mendekap erat Nyonya Wishnu.
Wajah Nyonya Wishnu tersenyum penuh kedamaian di dalam dekapan hangat suaminya yang tercinta.
Nyonya Wishnu kemudian menghubungi pelayan dapur untuk membawakan lagi segelas besar jus guava untuk Tuan Wishnu.
__ADS_1