
"Hihihi... Itu pacar kak Amanda, ya kan?!" Tuding Mutiara.
"Hussss... Anak kecil kok ngomong-ngomong pacaran?" Amanda menghardik kedua adiknya yang cengengesan sejak tadi.
"Pacar kak Amanda ganteng banget!" Teriak Magdalena.
Spontan Amanda melemparkan bantal ke arah Magdalena. Magdalena berhasil berkelut sehingga bantal itu tidak menimpuk dirinya.
"Weeeekkkk!!" Ejek Magdalena sambil menjulurkan lidahnya dengan wajah usil.
"Ehhh! Kalian tuh masih kecil, sok tahu banget soal pacaran! Makanya jangan asyik nonton sinetron aja! Jadi kotor tuh fikiran kalian!" Amanda menasehati kedua adiknya sambil berteriak.
Ibu yang tiba-tiba lewat mendengarkan keributan dari dalam kamar Amanda.
"Ehhh... Ehhh... Apa-apaan ini? Kok pagi-pagi udah pada ribut?!" Tanya ibu.
"Ada apa, Amanda?" Ibu menoleh ke arah Amanda yang duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah kesal.
"Ini, bu. Mereka ini sok tahu..." Ujar Amanda.
"Bu... Bu... Yang kemarin datang itu pacarnya kak Amanda ya?" Tanya Mutiara dengan wajah polos.
"Pacar?" Wajah ibu terlihat bengong.
"Tuh kan, bu. Mereka ini udah kelewatan." Tukas Amanda.
"Itu temannya kak Amanda, nak. Bukan pacar. Ga boleh itu, yang namanya pacaran. Kalian sekolah dulu yang bener. Ga boleh mikir macam-macam ya..." Nasehat ibu.
"Ummmm..." Mutiara terlihat manyun.
"Ya sudah, ayo main di luar sana. Matahari pagi baik untuk kesehatan kalian." Ujar ibu.
Magdalena dan Mutiara mengikuti perintah ibunya. Amanda geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kedua adiknya itu.
"Begitulah anak zamannow, kecil-kecil udah tahu pacaran!" Sungut Amanda.
Amanda heran mengapa anak-anak sekarang cepat sekali paham istilah-istilah seperti itu. Dia ingat betul, dirinya baru benar-benar mengerti arti pacaran ketika sudah duduk di bangku SMP.
"Aku yang telat puber apa gimana ya?!" Amanda bertanya pada dirinya sendiri.
"Tapi kamu memang ga pacaran kan, Amanda?" Ibu menoleh dan bertanya pada Amanda.
"Ya ga dong, bu. Doni itu temanku. Teman satu sekolah. Kebetulan kami sama-sama ikut lomba, jadi kami belajar bareng di rumah temanku yang satu lagi." Amanda menjelaskan hubungannya dengan Doni pada ibunya.
"Ya, syukurlah kalau begitu. Ingat Amanda, kamu belajar yang serius. Hindari berpacaran. Pacaran itu tidak baik. Tidak ada untungnya untuk masa depan kamu." Nasehat ibu.
"Iya, bu." Amanda mengangguk patuh.
"Kamu lihat sendiri kan, Amanda... Banyak anak-anak yang rusak masa depannya karena sibuk berpacaran." Ujar ibu.
__ADS_1
Amanda mengangguk lagi. Dia setuju dengan kata-kata ibunya. Dia sudah melihat banyak contoh dan dia tidak ingin mengalami hal-hal yang buruk seperti itu.
"Sekolah saja yang bener. Jadilah anak yang berprestasi. Nanti ketika kamu sudah lebih dewasa, kamu akan lebih bijak dalam memilih pasangan." Ibu memberi wejangan berikutnya.
"Pasangan seumur hidup, tentunya... Agar kamu bahagia..." Sambung ibu sambil tersenyum.
"Iya, bu. Amanda ngerti..." Sahut Amanda sambil membalas tersenyum pada ibunya.
"Ya sudah, rapikan ini semua." Perintah ibu ketika melihat tempat tidur Amanda yang acak-acakan.
"Bu, Amanda mau ke rumah Tiwi dulu ya. Hari ini udah janji sama Nunik dan Vera. Kami kan udah lama ga jenguk dia..." Amanda meminta izin pada ibunya.
"Ya, pergilah... Titip salam ibu untuk kedua orang tuanya ya. Semoga Tiwi sudah lebih sehat." Ucap ibu.
"Iya, bu. Nanti Amanda sampaikan." Ujar Amanda.
Setelah merapikan kamarnya, Amanda buru-buru mandi dan berganti pakaian. Beberapa menit kemudian Amanda sudah selesai berkemas dan memilih berjalan kaki ke rumah Nunik.
"Niiiik...!!! Ooo Niiik...!!!" Teriak Amanda sambil mengetuk pintu rumah Nunik.
Seperti biasa Amanda memanggil temannya itu dari depan pintu rumahnya. Dia harus berteriak kuat-kuat agar Nunik bisa mendengar suaranya dari dalam rumah. Amanda kadang-kadang berfikir mengapa Nunik tidak memasang bel saja di pintu depan ini. Jadi dia tidak harus berteriak sekuat itu setiap kali memanggil Nunik.
"CEKLEKKK!"
Pintu depan rumah Nunik terbuka. Nunik muncul sambil tertawa.
"Ya iyalah! Gimana ga semangat, namanya juga aku lagi manggil Tuan Putri dari dalam istana." Sindir Amanda.
"Hahaha... Iya ya... Kamu sebagai rakyat jelata memang harus banyak sabar!" Nunik bercanda sambil tertawa lebar.
"Puas... Puas..." Sindir Amanda lagi.
"Ayolah... Nanti keburu siang." Ujar Nunik sambil menutup pintu.
"Vera ga ikut?" Amanda mendadak teringat akan temannya yang satu lagi.
"Ohhh... Dia udah duluan nyampe." Sahut Nunik.
"Maksudmu Vera udah duluan ke rumah Tiwi?" Tanya Amanda.
"Iya." Jawab Nunik.
"Ohhh... Iya deh..." Desis Amanda.
Seorang cowok keren melintas di depan Amanda dan Nunik. Cowok itu mengendarai motor tanpa menggunakan helm sebagai pengaman di kepalanya sehingga Amanda dan Nunik dapat mengenali cowok keren itu.
"DEG!"
Amanda merasa jantungnya berdetak kuat sejenak.
__ADS_1
"Hemmm... Sombong sekali dia!" Tukas Nunik setelah cowok keren itu berlalu dari hadapan mereka.
Amanda tidak menanggapi kata-kata Nunik. Dia berpura-pura tidak mendengarnya.
"Ehhh... Amanda, kamu dengar aku ga sih?" Bentak Nunik.
"Errrr... Apa?" Sahut Amanda pura-pura ga nyambung.
"Itu tuh! Kakak kelas kamu!" Ujar Nunik.
"Ohhh..." Amanda membulatkan bentuk mulutnya membentuk huruf O.
Amanda berusaha terlihat santai di depan Nunik. Dia tentu sadar bahwa cowok yang lewat di depan mereka tadi adalah kak Edo.
"Ah oh ah oh... Kamu lihat kan tadi! Dia melihat kita loh! Tapi wajahnya cuek gitu, kayak ga kenal sama kita." Nunik ngomel-ngomel sambil menyeberang jalan.
"Santai dong, mbak. Lihat kiri-kanan!" Ujar Amanda.
Setelah berhasil menyeberang jalan dengan aman, Nunik melanjutkan omelannya.
"Apa dia juga begitu di sekolah? Masa dia ga kenal kamu, sih?!" Tanya Nunik dengan nada sinis.
"Hemmm... Ya, mungkin dia memang ga kenal aku." Jawab Amanda polos.
"Hahhh... Ga kenal? Kita kan satu sekolah dulu. Rumah juga deketan. Masa sih kamu ga pernah interaksi sama dia di SMA? Ga mungkin dong dia ga kenal kamu!" Ujar Nunik setengah tak percaya.
"Ya, begitulah..." Sahut Amanda pasrah.
"Ahh... Ga masuk akal! Sombong banget itu orang. Mentang-mentang ada tampang dikit! Huhhh..." Nunik merutuk kesal.
"Hehehe... Sabar, Nik. Aku kan dari dulu juga bukan cewek yang terkenal di sekolah. Apalagi di SMA Adhiyaksa itu... Aku masih anak baru..." Amanda masih saja mencoba membela Edo
"Iya... Iya... OK, bepppp... Tapi minimal dia senyum dikit dong sama kita. Dia kan udah sering lihat kita di sini!" Bantah Nunik sebal.
"Sok kegantengan! Ciiiihhh...Aku ga suka!" Nunik masih saja mencela kak Edo.
Amanda berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak suka membahas tentang kak Edo. Nunik tidak tahu betapa Amanda sangat mengidolakan kak Edo dan berakhir dengan perasaan kecewa.
Meskipun kak Edo sama sekali tidak menganggap dirinya ada, Amanda tetap saja belum bisa move on sepenuhnya.
"Aku yakin, di SMA Adhyaksa pasti masih banyak cowok yang lebih keren dari dia. Iya kan?" Tebak Nunik.
"Hemmmm..." Amanda hanya menggumam, tidak memberi jawaban yang memuaskan.
"Aku ingat, teman kamu itu! Dia ganteng banget, loh! Jauh deh lebih ganteng dari Kak Edo yang songong itu!" Ujar Nunik mengingat sosok cowok ganteng yang menemani Amanda menjenguk Tiwi di rumah sakit dulu.
"Ehhh... Lihat! Tiwi udah bisa jalan!" Amanda berkata setengah berteriak.
Amanda mempercepat langkahnya menemui Tiwi dan Vera yang ada di halaman. Dalam hatinya dia merasa lega bisa mengalihkan perhatian Nunik. Dia sedang tidak ingin membahas tentang kak Edo saat ini.
__ADS_1