Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Rencana Tuan Muda


__ADS_3

Doni masuk ke dalam mobil Tuan Alfred. Tuan Alfred langsung mengemudikan mobil menuju ke kediaman Tuan Wishnu.


"Tuan Muda, apakah anda ingin mengikuti kegiatan club bela diri sore ini?" Tanya Tuan Alfred.


"Hemmm..." Doni menimbang sesaat keputusan yang harus diambilnya.


Tuan Alfred menanti jawaban Doni dengan sabar. Dia mengerti pastilah Tuan Muda Anthony sedang memikirkan jawabannya.


"Sepertinya sore ini saya absen saja." Jawab Doni akhirnya.


"Baik, Tuan Muda. Saya akan menguruskan perizinannya nanti." Sahut Tuan Alfred.


"Terima kasih, Tuan Alfred." Ucap Doni.


Doni melihat gerbang rumahnya. Dia lega sekali. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk beristirahat di kamarnya.


Tuan Alfred menurunkan kaca mobilnya. Dua orang security yang sedang bertugas di pos membungkukkan badan mereka untuk memberi hormat.


Mobil memasuki pekarangan rumah Tuan Wishnu. Doni keluar dari mobilnya dan langsung disambut dengan ramah oleh Pak Wicaksono.


"Selamat sore, Tuan Muda dan Tuan Alfred." Pak Wicaksono menyapa Doni dan Tuan Alfred.


Kedua pemuda tampan tersebut membalas sapaan Pak Wicaksono dengan serempak. Pak Wicaksono tersenyum puas.


"Tuan Alfred, apakah anda tidak singgah dulu?" Tawar Pak Wicaksono.


"Terima kasih, Pak Wicaksono. Mungkin lain kali. Sore ini saya harus segera kembali bekerja." Sahut Tuan Alfred.


Tuan Alfred merasa tidak perlu menjelaskan pada Pak Wicaksono bahwa dia harus segera pergi mengurus perizinan Tuan Muda Anthony di club bela diri yang biasa diikutinya.


"Baik, Tuan Alfred. Selamat bertugas!" Ucap Pak Wicaksono.


Tuan Alfred mengangguk penuh wibawa. Pemuda tampan itu lalu berpamitan pada Doni dan Pak Wicaksono.


Mobil BMW berwarna hitam melintas keluar dari kediaman Tuan Wishnu.


Pak Wicaksono mengikuti Doni masuk ke dalam rumah. Doni terlihat agak kelelahan. Pak Wicaksono bisa merasakan hal itu.


"Tuan Muda, saya telah menyiapkan makan malam untuk anda." Kata Pak Wicaksono.


"Hemmm..." Gumam Doni.


"Saya bisa mengantarkan ke kamar anda jika anda menginginkannya." Sambung Pak Wicaksono.


"Hemmm... Ya, silahkan pak." Ucap Doni singkat.


"Baik, Tuan Muda." Pak Wicaksono lalu berpamitan pada Doni untuk kembali ke dapur dan mempersiapkan semuanya.


Doni naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya dan meletakkan tas ranselnya yang cukup berat.


Doni memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih dulu. Dia melepaskan pakaian seragam sekolahnya.

__ADS_1


Doni lalu berendam di bathtub. Dia ingin melepaskan rasa penatnya dengan cara berendam dalam air hangat yang ditambahkan sabun cair aroma therapy favoritnya.


Ia merasa sedikit lebih rileks setelah berendam. Sambil memejamkan mata, bayangan wajah Amanda terlintas lagi di benaknya.


Gadis itu betul-betul telah mencuri hatinya. Ia begitu gelisah hari ini hanya karena tidak bisa bersama Amanda tadi siang. Semakin lama rasa di hatinya untuk Amanda sepertinya semakin kuat saja.


"Mengapa dia tidak mengerti juga tentang perasaanku?" Doni merasa kesal pada dirinya sendiri.


Doni memejamkan mata lagi. Otaknya kini bekerja keras memikirkan cara yang harus dilakukannya agar Amanda menyadari perasaannya.


"Ayo tembak dia!" Sebuah suara berbisik di dalam hati Doni.


Doni kini betul-betul terpengaruh dengan suara bisikan halus di dalam hatinya itu. Ia mulai menyusun rencana untuk menyatakan cinta pada Amanda.


Dia telah beberapa kali mencoba menyatakan perasaannya tetapi sepertinya Amanda belum memahami betapa besarnya rasa yang dipendamnya selama ini.


"Jangan sampai kamu ditikung cowok lain!" Bisikan suara itu semakin kuat.


"Hemmm... Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Doni berkata pada dirinya sendiri.


Doni bergegas menyelesaikan ritual mandinya. Ia memilih piyama yang nyaman untuk beristirahat sore ini. Fisiknya terasa lelah sekali.


Untung saja Tuan Alfred sangat memahami dirinya. Tuan Alfred tidak membantah sama sekali ketika Doni mengatakan untuk libur hari ini dari kegiatan club bela diri. Justru dengan sigap, Tuan Alfred mengurus perizinan di club bela diri tersebut.


Pak Wicaksono masuk dan membawakan menu makan malam untuk Doni.


"Terima kasih, Pak Wicaksono." Ucap Doni.


Doni mengangguk dan tersenyum tipis. Pak Wicaksono lalu meninggalkan Doni sendirian di kamarnya.


Sambil menikmati makan malamnya, Doni iseng-iseng melihat obrolan di WA. Tiba-tiba mata Doni tertuju pada sebuah kolom chat.


"Huhhh... Apa lagi ini?" Doni terlihat sedikit sebal.


Ada beberapa pesan masuk dari Windy, puteri Tuan Robby. Selalu saja begitu. Selalu ada chat beruntun dari gadis itu.


Doni sangat tidak suka dengan sikap seperti itu. Ia tidak suka ranah pribadinya terganggu. Windy sering menjadi gangguan bagi Doni, meski gadis itu hanya menghubungi dirinya melalui chat di WA.


Style Windy dalam mengirimkan pesan terasa tidak sesuai dan tidak sopan bagi Doni. Doni tidak suka jika pesan masuk secara beruntun seperti itu. Dia merasa seolah di-terror oleh gadis itu.


"Dasar childish..." Doni mendesis.


Sebenarnya rasa kesal Doni sedikit kurang beralasan. Windy hanya mengirimkan dua pesan singkat saja di WA Doni tadi pagi. Tetapi bagi Doni itu adalah sebuah kesalahan dan merupakan gangguan bagi dirinya.


Doni membaca pesan dari Windy namun tidak mau mengirimkan pesan balasan. Lagipula sudah expired, menurut Doni. Windy mengirimkan pesan tadi pagi, sedangkan Donu baru membaca pesan itu di sore hari. Rasanya tidak ada gunanya lagi membalas pesan yang tidak penting itu.


"Huhhh..." Doni mendengus kesal.


Doni melihat lagi layar smartphone-nya. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari mamanya.


"Halo..." Ucap Doni pelan.

__ADS_1


"Halo, sayang... Kamu lagi di mana?" Tanya Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Di rumah, ma..." Jawab Doni.


"Lho... Kamu sudah pulang?" Nyonya Wishnu terdengar sedikit kaget.


"Hemmm... Iya..." Sahut Doni.


"Bukannya sore ini jadwal kamu ke club bela diri?" Tanya Nyonya Wishnu lagi.


"Iya, ma. Hari ini libur dulu..." Jawab Doni.


"Ohhh... OK. Kalau kamu kecapean, sebaiknya kamu istirahat saja dulu." Tutur Nyonya Wishnu.


"Iya, ma..." Ucap Doni.


"Besok pagi kamu harus ke sekolah. Jadi tetap utamakan pembelajaran di sekolah ya." Pesan Nyonya Wishnu.


"Iya, ma..." Sahut Doni patuh.


"Hemmm... Kapan mama dan papa pulang?" Tanya Doni.


"Ohhh... Iya, tergantung urusan papa di sini." Jawab Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Kalau urusan papa cepat beres, malam besok mungkin kami akan bertolak ke Indonesia." Terang Nyonya Wishnu.


"Hemmm..." Doni menggumam.


"Kamu merindukan mama, sayang?" Goda Nyonya Wishnu.


"Hemmm..." Doni menggumam dan tersenyum tipis.


Nyonya Wishnu terkekeh pelan. Wanita itu tahu betul sifat puteranya yang terkadang bisa manja seperti anak kecil.


"Atau ada gadis lain yang sedang kamu rindukan? Ehemmm..." Nyonya Wishnu berdehem sambil tersenyum usil.


"Mama..." Doni ingin membantah namun akhirnya dia memilih diam saja.


Suara cekikikan Nyonya Wishnu terdengar jelas di telpon. Doni merasa sedang dijahili oleh mamanya sendiri.


"By the way, kapan kamu mau ngenalin gadis itu ke mama?" Tanya Nyonya Wishnu sekonyong-konyong.


Doni terperanjat mendengar kata-kata mamanya. Untuk pertama kalinya ucapan mamanya terdengar aneh dan tidak masuk akal.


"Hemmm... Apa maksud mama?" Tanya Doni.


"Hahaha... Sayang, mama tahu pasti saat ini ada seorang gadis di dalam hati kamu. Benar kan?" Tebak Nyonya Wishnu.


"Hemmm..." Doni hanya mampu menggumam.


Dia bingung harus menjawab apa. Namun ada hal yang membuat dirinya lebih bingung lagi. Yaitu, mengapa mamanya bisa membaca fikirannya saat ini? Aneh sekali!

__ADS_1


__ADS_2