Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Anak Nongkrong


__ADS_3

"Huhhh... Dia selalu aja sibuk!" Gerutu Windy.


Gadis belia itu merebahkan badannya di atas sebuah sofa di kamarnya yang luas dan mewah. Ia menghabiskan waktu dengan cara scrolling dari satu akun social media ke akun social media lainnya.


"Mumpung mama lagi arisan, aku bisa santai nih!" Ujar Windy senang.


Tiba-tiba berbagai ide muncul di benak Windy. Ide untuk melakukan pendekatan khusus dengan Doni nanti ketika mereka bertemu lagi.


"Aku pasti bisa PDKT sama kak Doni!" Tekad Windy.


Windy bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Tanpa sengaja ia melihat wajahnya di cermin.


"Hemmm... Kayaknya perlu ke saloon nih!" Batin Windy.


Windy dan mamanya punya saloon langganan di kota Semarang. Sudah cukup lama juga dia tidak ke sana. Biasanya dua kali dalam sebulan, Windy akan bertandang ke saloon itu untuk melakukan beberapa treatment di wajahnya.


"Jadi lebih kece nanti kalau ketemu kak Doni. Ehemmm..." Ujar Windy girang.


Windy mulai halu tingkat dewa. Dia sudah membayangkan bahwa dirinya bisa mendapatkan hati Tuan Muda Anthony dengan mudah.


Tidak ada cowok yang menolak dekat dengannya selama ini. Selain memiliki paras wajah yang cantik, Windy juga dikenal sebagai gadis yang ramah dan pemurah. Dia tidak pernah pelit dengan teman-temannya, baik dengan teman cewek maupun teman cowok. Oleh karena itu, Windy selalu memiliki banyak teman dimana-mana.


Walaupun Windy sudah memiliki kekasih, banyak cowok yang berusaha mendekatinya. Windy belum pernah merasa perasaannya goyah, kecuali ketika ia melihat Tuan Muda Anthony untuk pertama kali. Dia sudah terpesona pada pandangan pertama.


"DRRRRTTTT..."


Smartphone Windy bergetar beberapa kali. Awalnya Windy tidak menyadari. Setelah tanpa sengaja Windy melihat ke arah smartphone-nya, barulah ia mengetahui ada panggilan di sana.


Windy melonjak kegirangan. Akhirnya Tuan Muda Anthony balik menghubunginya.


"Yeahhh... Akhirnya dia menghubungiku!!" Pekik Windy girang.


Windy buru-buru meraih smartphone-nya. Raut wajahnya berubah seketika. Ternyata sebuah panggilan dari teman sekelasnya, bukan dari Doni. Kecewa!


"Halo..." Sahut Windy dengan nada kurang senang.


"Kita nongky yukkk, ada cafe kekinian baru loh di dekat sekolah!" Ajak teman Windy tersebut.


"Eummmm... Anak-anak pada ikut semua?" Tanya Windy.

__ADS_1


"Ikut dong! So pasti!" Seru teman Windy.


"Ya... Ya... Aku ikutan deh kalau gitu. Jam berapa kita ngumpul?" Ujar Windy.


"Jam lima yahhh... Ntar aku share loc!" Sahut teman Windy.


Setelah sepakat dengan temannya, Windy menutup telpon. Ia tentu saja tidak pernah mau melewatkan kesempatan nongkrong bareng teman-temannya. Apalagi ada tempat tongkrongan baru yang kekinian, wowww... Tentu saja anak nongkrong sekelas Windy tidak boleh ketinggalan.


Kehidupan Windy yang hedon seringkali menjadi content utama semua social media yang dimilikinya. Ada kebahagiaan dan kepuasan tersendiri di hati Windy jika dia bisa memamerkan kehidupannya yang menyenangkan pada dunia.


Windy memilih beristirahat sejenak, dia merasa mengantuk sekali. Setelah memasang alarm di smartphone-nya, Windy merebahkan lagi tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata. Sebentar saja dia sudah tertidur pulas.


Nyonya Robby masuk ke kamar putri bungsunya. Wanita itu melihat Windy sudah tidur dengan nyenyak. Awalnya Nyonya Robby berniat mengajak putri sulungnya itu pergi bersama untuk berbelanja di mall. Namun setelah melihat Windy tertidur, Nyonya Robby mengurungkan niatnya.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Nyonya Wishnu mulai merenungi apa yang sedang terjadi pada Doni. Anak semata wayangnya itu selalu menjadi prioritas setelah suaminya.


"Kenapa, sayang? Apa yang sedang kamu fikirkan?" Tanya Tuan Wishnu setelah memperhatikan sikap istrinya yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Hemmm... Iya, aku jadi kefikiran terus nih..." Sahut Nyonya Wishnu jujur.


"Ada apa, Anne?" Tuan Wishnu bertanya dengan suara lembut.


Tuan Wishnu mengerti ada sesuatu yang mengganjal di hati istrinya itu. Nyonya Wishnu jarang sekali bersikap diam dan seserius itu jika bukan karena ada sesuatu yang sedang membebani fikirannya.


"Hemmm..." Tuan Wishnu menggumam pelan dan menunggu kata-kata istrinya selanjutnya dengan sabar.


"Aku mulai mengkhawatirkan Doni. Seiring bertambah usianya, akan semakin banyak gadis-gadis yang mendekatinya." Ujar Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Ya, itu hal yang wajar." Respon Tuan Wishnu.


"Iya... Tapi aku khawatir dia tergelincir ke dalam pergaulan yang tidak baik. Kita tidak bisa mengendalikan dengan siapa dia boleh bergaul, bukan?" Nyonya Wishnu mulai mengeluarkan keluh kesahnya.


"Ya. Tentu saja kita tidak bisa, sayang..." Tuan Wishnu membenarkan ucapan istrinya.


"Itu yang aku khawatirkan..." Nyonya Wishnu terdiam sejenak, tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


Tuan Wishnu mendekati istrinya lalu mendekapnya erat. Nyonya Wishnu merasa hatinya begitu pilu karena kecemasannya akan masa depan Doni, putra kesayangannya.


"Tenanglah, Anne. Semua akan baik-baik saja. Kita sebagai orang tuanya telah mendidik dia sejak kecil. Menanamkan norma-norma yang baik. Aku yakin, itu akan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter dan kepribadiannya." Jelas Tuan Wishnu, berusaha menenangkan hati istrinya yang gundah gulana.

__ADS_1


"Iya, aku berharap begitu..." Ucap Nyonya Wishnu.


"Lagipula... Bukankah Alfred sudah kita minta untuk memperhatikan kegiatannya sehari-hari?" Ujar Tuan Wishnu.


"Iya..." Sahut Nyonya Wishnu.


"Alfred adalah seorang pemuda yang baik. Aku yakin dia bisa diandalkan. Partner yang baik untuk Doni." Tuan Wishnu berkata dengan nada optimis.


"Emmm... Iya, sayang." Ucap Nyonya Wishnu.


Nyonya Wishnu kini terlihat lebih tenang setelah meluahkan keluh kesahnya pada suaminya. Tuan Wishnu mengelus rambut istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Semoga saja dia menemukan pasangan yang baik. Anak kita semakin tampan saja dari hari ke hari. Aku yakin banyak gadis yang akan mendekatinya." Ujar Nyonya Wishnu.


"Hahaha... Tenang saja, sayang. Doni bukan tipe yang mudah ditaklukkan!" Kelakar Tuan Wishnu.


"Emmm... Ya, semoga begitu..." Lirih suara Nyonya Wishnu.


"Bahkan putri si Robby... Aku yakin, itu bukan tipe Doni sama sekali. Hahaha..." Tuan Wishnu tertawa lebar.


Nyonya Wishnu kaget mendengar suaminya tiba-tiba berkata begitu. Tidak biasanya Tuan Wishnu memberi pendapat seperti itu, khususnya terkait dengan Doni. Dan tiba-tiba suaminya membahas gadis belia itu, anaknya Robby.


Nyonya Wishnu melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Ia menatap serius wajah Tuan Wishnu.


"Bagaimana kamu bisa berkata begitu?" Tanya Nyonya Wishnu.


"Ya, lihat saja. Doni tidak mempedulikannya, kan?" Tuan Wishnu bertanya balik.


Nyonya Wishnu tidak menjawab meskipun dalam hatinya dia membenarkan kata-kata suaminya itu.


"Dan sekarang... Gadis itu terus berusaha mendekati Doni lagi." Tutur Nyonya Wishnu.


"Dan Doni minta Alfred membereskan gadis itu! Hahaha... Anakku memang pintar!" Tuan Wishnu ngakak sendiri.


"Hussss... Kamu ini. Jangan tertawa seperti itu." Nyonya Wishnu melarang suaminya namun dia sendiri terlihat menahan tawa.


"Gadis yang disukai Doni pastilah bukan gadis sembarangan... Gadis yang berkelas..." Ucap Tuan Wishnu.


"Emmmm..." Gumam Nyonya Wishnu sambil tersenyum dan menyandarkan kepalanya lagi di pundak suaminya yang tercinta.

__ADS_1


Memori Tuan Wishnu kembali bekerja. Pria itu masih ingat betul ekspresi dan sorot mata Doni ketika mereka berada di Jepang beberapa waktu yang lalu.


"Putri Tuan Kimigawa..." Batin Tuan Wishnu.


__ADS_2