Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Pacar!?


__ADS_3

Doni mencoba menetralisir debaran jantungnya. Dia tidak pernah berdebar-debar begitu sebelumnya. Tetapi saat ini dia merasa agak tegang sendiri sehingga mengucapkan kata-kata itu pada Amanda.


Masalahnya adalah, itu bukan kata-kata yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh Doni. Tetapi karena rasa gugup yang mendadak hadir, Doni kelepasan bicara begitu saja.


Ditambah lagi dia sudah sangat kelaparan hingga membuat dia gagal fokus. Doni tidak sempat ke kantin sekolah tadi siang karena membuntuti Amanda ke perpustakaan. Jadinya sekarang dia super duper lapar.


Doni menatap Amanda dengan perasaan sedikit gelisah. Sedangkan Amanda menunduk dengan ekspresi wajah yang aneh. Amanda kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.


Dua remaja itu terdiam beberapa saat di kursi mereka.


Doni dan Amanda sama-sama terkejut ketika mendengar nada dering dari smartphone Amanda di dalam tasnya.


"Halo..." Ucap Amanda pelan ketika menerima telpon dari Nunik, sahabatnya.


"Hai beppp... Dimana?" Tanya Nunik di seberang telpon.


"Errrr... A... Aku... Aku di kantin rumah sakit..." Ujar Amanda terbata-bata.


"Oh... Hehehe... OK. Santai aja. Betewe, Aku udah di depan ruangan Tiwi dirawat." Kata Nunik.


"Errrr... Wahhh... Vera juga udah nyampe ya?" Tanya Amanda panik.


"Belum... Katanya tadi dia masih di jalan..." Nunik masih bicara dengan nada santai.


"Hemmm... Gimana nih? Makanannya belum datang, Nik..." Kata Amanda. Dia semakin panik dan melirik Doni sekilas.


"Hehehe... Santai aja, beppp. Vera juga belum nyampe kok... Ntar kalau mau ke sini, kabarin aja! Hehehe..." Ujar Nunik dengan nada mencurigakan.


"Hemmm... Iya, Nik." Ucap Amanda pelan.


"OK, beppp! Selamat ken... Maksudku, selamat makan! Hehehe..." Seru Nunik sambil tertawa terkekeh-kekeh.


Nunik mengakhiri panggilan. Amanda merasa curiga. Ia merasa agak aneh dengan cara bicara Nunik siang ini.


"Hemmm... Ayo, kita makan dulu..." Ujar Doni.


"Ehhh... Iya..." Desis Amanda parau.


Makanan dan minuman yang dipesan oleh Doni sudah dihidangkan di atas meja. Amanda tadi tidak tahu harus pesan makanan apa karena terlalu grogi.


Doni akhirnya memutuskan memesan menu makanan yang sama untuk mereka berdua. Dia menepati janjinya untuk mentraktir Amanda siang ini, sebagai bentuk permohonan maafnya pada Amanda.


"Aduh... Aku ga ***** makan kalau gini ceritanya..." Amanda merutuk dalam hati.


Dia betul-betul gugup sampai-sampai rasa lapar nyaris tidak dirasakannya lagi.


"Hemmm... Ayo makan..." Ucapan Doni membuat Amanda kaget lagi.


"I... Iya..." Desis Amanda.


Doni makan dengan cepat. Sebentar saja dia sudah menghabiskan makanannya. Sedangkan Amanda merasakan makanannya hambar siang ini. Sepertinya lidahnya mulai mati rasa.


"Apa ini tidak enak?" Tanya Doni.


"Errrr... Enak kok..." Jawab Amanda.


"Atau kita pesan menu yang lain?" Tanya Doni lagi.


"Ehh... Ehh... Ga usah!" Tukas Amanda panik.


"OK..." Doni berkata setengah menggumam.


"Makanan ini jadi aneh rasanya gara-gara kamunya yang aneh siang ini!!" Gerutu Amanda dalam hati.


Untung saja Doni tidak bisa mendengar suara hati Amanda. Jadi dia masih duduk santai sambil menyeruput iced lemon tea yang tadi dipesannya. Sesekali dia memperhatikan Amanda di depannya.


"Heiii... Bisa ga sih kamu ga lihatin aku terus!?" Ujar Amanda kesal.


"Hemmm..." Doni hanya menggumam singkat membuat Amanda menjadi dongkol.


"Aku ga bisa makan nih kalau dilihatin begitu!" Seru Amanda sewot.


"Hahaha... OK! Habiskan makanan itu..." Ujar Doni seolah sedang memberi perintah.


"Idiiihhh... Siap, Tuan Besar!" Amanda berkata sambil mendengus pelan.


"Dikiranya dia itu boss besar apa!? Gayanya itu, sotoy bener perintah-perintah aku!" Sambil makan, Amanda terus saja mengomel di dalam hati.


Doni tersenyum simpul. Gadis di depannya ini sepertinya tidak menyadari betapa wajahnya menjadi begitu menggemaskan jika dia sedang kesal.


Setelah selesai makan siang, Amanda bergegas meninggalkan kantin tersebut.


"Makasih Doni untuk traktirannya..." Ucap Amanda.


"Hemmm... Kita ke ruangan mana?" Tanya Doni.

__ADS_1


"Apa!?" Amanda bertanya setengah berteriak.


"Jangan bilang kamu mau ikut ke sana!" Hardik Amanda.


"Kenapa? Apa aku ga boleh jenguk teman kamu?" Tanya Doni polos.


"Oh... Boleh, Tuan Besar! Kamu mau jungkir balik di rumah sakit ini juga ga dilarang kok!" Ujar Amanda sekenanya.


"Nah... Kalau gitu tidak ada masalah." Ujar Doni santai.


"Ehhh... Masalah dong! Kami tuh cewek semua, kan lucu banget tiba-tiba kamu nongol di situ!" Amanda mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"So what!? Kamu cemburu ya?" Tanya Doni usil.


"Hahhh... Cemburu!? Ah, bodo amat! Terserah kamu deh kalau emang udah ga waras!" Tukas Amanda berang.


Amanda berjalan cepat, berusaha meninggalkan Doni agar tidak bisa mengikutinya. Namun Doni dengan mudahnya mengikuti langkah kaki Amanda. Dia berjalan santai di belakang Amanda.


Sebenarnya Doni hanya penasaran ingin melihat seperti apa sahabat-sahabat Amanda.


"Idiiiihhhh... Apaan sih kamu! Ngapain ngikutin aku terus!?" Amanda berseru kesal dan berhenti di samping sebuah lift.


"Pulang sana, pulang!!!" Amanda menolak tubuh Doni sekuat tenaga.


Doni tidak bergeming sama sekali. Ekspresi wajahnya datar saja seperti biasa. Amanda melihat kiri-kanan, memastikan tidak ada seorangpun yang sedang memperhatikan mereka.


"Doni, please... Udah, sampai sini aja ya! Ntar temen-temenku..." Amanda menghentikan kalimatnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya.


"Amanda, tunggu aku!" Teriak Vera.


Gadis itu berjalan cepat ke tempat Amanda dan Doni berdiri. Doni menoleh ke lift yang sedang terbuka. Beberapa orang keluar dari lift tersebut dan selang beberapa detik kemudian pintu lift tertutup kembali secara otomatis.


"Oh Tuhan... Habislah aku!" Ratap Amanda.


"Pas banget yahhh kita ketemu di sini..." Ujar Vera sambil ngos-ngosan.


"Ehhh... Iya, Vera. Nunik udah duluan tadi." Ucap Amanda.


"Iya, iya... Aku tahu! Hemmm... Ternyata ada yang temenin yahhh..." Nunik berkata sambil melirik Doni yang berdiri di samping Amanda.


"Oh... Ehh... Ini Doni..." Ucap Amanda sedikit gugup.


Dia bingung bagaimana cara memperkenalkan Doni kepada Vera. Vera tersenyum penuh makna.


"Yuk... Kita buruan! Kasihan Nunik lohhh... Udah kelamaan nunggu kita." Ujar Vera ketika melihat pintu lift sudah terbuka lagi.


"Tiwi udah pindah ruangan lagi loh..." Vera bersuara lagi untuk memecah keheningan di dalam lift.


"Oh ya!?" Tanya Amanda.


Vera mengangguk. Dia kemudian menuntun Amanda dan Doni menuju ke ruangan Tiwi yang baru.


Amanda melirik sinis ke arah Doni, memberi tanda agar Doni menjaga jarak darinya.


"Ehhh... Gimana dengan dia nih?" Amanda berbisik pada Vera sambil masih melirik ke arah Doni.


"Hehehe... Ya gapapa sih, ntar bisa ikut masuk aja... Tiwi udah semakin sehat. Mungkin beberapa hari lagi dia udah bisa pulang ke rumah." Vera menjelaskan perkembangan kondisi terakhir kesehatan Tiwi.


"Oh gitu... Syukurlah... Aku jadi ikutan lega dia udah baikan..." Ujar Amanda.


"Ganteng bener pacar kamu..." Bisik Vera.


"Apa!? Pacar!?" Seru Amanda.


"Ssstttt...!!!" Vera memberi tanda di mulutnya agar Amanda mengecilkan volume suaranya.


Amanda mendelik dan ingin protes namun mereka sudah tiba di depan pintu ruangan tempat Tiwi dirawat. Beberapa perawat yang lewat memperhatikan mereka bertiga.


"Doni, ayo ikut masuk aja bareng kita!" Ujar Vera sambil tersenyum ramah.


"Hemmm... Terima kasih." Ucap Doni sopan.


Amanda mendengus pelan. Dia berdo'a keras dalam hatinya semoga teman-temannya tidak akan salah paham dengan kehadiran Doni yang sedang tidak waras di antara mereka.


"Selamat siang, tante." Ucap Vera. Dia menunduk dan menyalami mamanya Tiwi yang kebetulan sedang menjaga Tiwi siang ini.


Amanda mengikuti apa yang dilakukan Vera. Begitu juga dengan Doni. Dia menyalami mamanya Tiwi dengan sopan.


"Oh... Kalian memang anak-anak yang manis. Tiwi sudah lebih sehat, bukan? Dia pasti senang kalian datang berkunjung!" Ujar mama Tiwi dengan wajah bahagia.


"Hai..." Ucap Tiwi pelan. Dia masih agak lemah pasca operasi. Namun wajahnya sudah terlihat jauh lebih segar sekarang, tidak sepucat dulu.


Nunik tidak mengucap sepatah katapun. Dia duduk tegak dan terdiam membisu menatap sosok Doni yang begitu memukau di matanya.


Sebenarnya Nunik sudah melihat sekilas ketika Amanda dan Doni tadi berjalan bergandengan menuju kantin rumah sakit.

__ADS_1


Namun dia tidak menyangka sosok cowok yang sejak tadi bersama Amanda ternyata setampan ini. Dia betul-betul terkesima. Terpesona lebih tepatnya.


"Apakah dia pangeran? Ah... Bukan, dia pasti artis. Atau mungkin saja seorang model." Nunik menebak-nebak dalam hati.


"Hehhh... Nik, biasa aja kelessss! Tumben kamu kalem banget di pojokan." Vera berkata dengan nada menyindir, menyadarkan Nunik yang sedang halu.


"Hehehe..." Nunik hanya nyengir kuda.


"Silahkan duduk, santai saja. Tante tinggal sebentar ya biar kalian lebih nyaman ngobrolnya." Ujar mama Tiwi sambil tersenyum manis.


"Iya, makasih tante." Balas Vera sopan.


Mama Tiwi kemudian meninggalkan para gadis itu di dalam ruangan.


"Ehemmm..." Vera berdehem dan menyikut lengan Amanda.


"Kita ga dikenalin nih ke pacar kamu?" Tanya Nunik sekenanya.


Nunik sesekali mencuri-curi pandang ke arah Doni. Tiwi yang duduk bersandar di atas ranjang menahan senyumnya.


"Pacar!? Pacar siapa? Kalian ngomong apa sih..." Tukas Amanda sewot.


"Ya udah, biar aku aja yang kenalin." Sergah Vera.


"Kenalin guys, ini Doni. Pacarnya Amanda!" Ujar Vera dengan suara lantang.


Doni tersenyum tipis. Dia duduk dengan tenang memperhatikan gerak-gerik Amanda dan teman-temannya.


Dia benar-benar tenang, terlihat begitu percaya diri. Dia bahkan tidak merasa risih sedikitpun menjadi orang asing sekaligus pusat perhatian di ruangan itu.


Sementara Amanda sejak tadi sudah sangat risih dan tidak berhenti mengumpat di dalam hati.


"Wowww... Selamat, beppp. Akhirnya kamu ga jomblo lagi!" Ujar Nunik riang.


"Aduh... Please... Please... Kalian kok pada ngawur semua sih!" Ujar Amanda. Ia merasa wajahnya mulai panas.


Nunik dan Vera tertawa lebar melihat ekspresi Amanda yang panik. Tiwi juga ikut tersenyum. Dia ikut bahagia melihat kehadiran teman-temannya yang ceria dan penuh semangat.


Tiwi ingin secepatnya bisa berkumpul lagi bersama mereka seperti biasa. Makan rujak bersama, bercanda dan berghibah tentang topik-topik yang tidak penting seperti dulu lagi.


"Hemmm... Aku keluar sebentar ya." Doni berkata setengah berbisik pada Amanda.


Dia menggenggam smartphone-nya. Sepertinya ada seseorang yang menelpon Doni.


Semua menatap Doni dengan takjub, kecuali Amanda tentu saja.


Doni tidak banyak berbicara namun sepertinya ia memancarkan aura yang begitu kuat.


Ketika Doni sudah menghilang dari ruangan tersebut, Nunik sontak melompat mendekati Amanda.


"Gila! Sumpah! Ganteng banget pacar kamu! Ya Tuhan, aku ga bakalan bisa tidur kalau punya pacar setampan itu!" Nunik mulai nyerocos panjang lebar.


Vera tertawa terbahak-bahak. Tiwi jadi ikut tertawa melihat reaksi Nunik yang sangat antusias.


"Cowok di SMA Adhyaksa kan emang terkenal cakep-cakep toh!" Ujar Vera.


"Iya sihh... Aku tahu! Tapi ini super ganteng dan berkelas..." Gumam Nunik takjub.


"Pokoknya sekarang kita ikut senang, kamu udah ga jomblo lagi." Ujar Vera sambil menyikut lengan Amanda.


"Huhhh... Iya, biar pada mingkem itu mulut-mulut yang selalu nyinyirin kamu!" Nunik menimpali dengan ketus.


"Aduh... Apaan sih! Ini ga seperti yang kalian pikirkan!" Amanda mencoba berdalih.


Namun teman-temannya tidak ingin lagi mendengar penjelasan Amanda. Pembicaraan mulai beralih topik. Mereka mulai membicarakan rencana-rencana menyenangkan yang akan mereka lakukan bersama Tiwi nanti jika Tiwi sudah boleh pulang ke rumah.


Doni belum juga kembali ke ruangan. Vera melirik jam di dinding ruangan itu. Sepertinya mereka sudah harus pulang. Mereka pun mulai berpamitan pada Tiwi dan berjanji akan menjenguk Tiwi lagi dalam waktu dekat.


"Cowok kamu mana?" Tanya Vera pada Amanda ketika mereka telah keluar dari ruangan.


"Diiihhh... Mana aku tahu!" Ujar Amanda cuek.


"Ga boleh gitu dong, Amanda!" Ucap Vera.


Smartphone Amanda berdering dengan nyaring. Sebuah panggilan masuk dari Doni.


"Yaelah... Baru juga anak aneh ini diomongin..." Amanda menerima telpon dari Doni dengan hati mencelos.


"Iya..." Ucap Amanda pelan.


"Sorry... Aku harus pulang duluan. Ada hal mendesak." Ujar Doni.


"OK... OK..." Balas Amanda cepat.


Amanda merasa lega Doni sudah tidak ada lagi di situ. Dia menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"CIEEEE... YANG UDAH PUNYA PACAR!!!" Nunik dan Vera berteriak dengan kompak ketika mereka sudah masuk ke dalam lift. Kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak.


Amanda speechless.


__ADS_2