
Hari ini semua siswa kelas I-2 merasa lega. Tidak ada tambahan PR ataupun tugas yang mereka terima. Rasanya plong sekali. Bahagia itu sederhana. Satu hari saja tanpa PR adalah definisi baru dari kata bahagia bagi para siswa.
Amanda berjalan cepat meninggalkan gedung SMA Adhyaksa. Hari ini dia tidak ingin bertemu kak Edo. Tidak! Hatinya masih sakit, sakit sekali. Dia takut luka di hatinya akan semakin menganga jika bertemu kak Edo sekarang. Apalagi jika nanti dia melihat kak Edo bersama gadis itu lagi. Ya Tuhan! Itu akan sangat menyakitkan!
Tanpa sadar, Amanda telah sampai di halte tempat biasa dia menunggu angkot. Terlihat seorang wanita paruh baya dan seorang bocah laki-laki berusia sekitar empat tahunan duduk di halte. Bocah itu sedang menikmati ice cream di tangannya dengan lahap.
Amanda duduk tidak jauh dari mereka. Sesekali ia menatap bocah itu yang masih sibuk dengan ice cream-nya. Wajahnya begitu polos, begitu ceria. Tidak ada beban apapun di raut wajah itu.
Amanda merasa cemburu dengan bocah itu. Dia rindu dengan masa kecilnya. Tanpa beban, tanpa perasaan-perasaan seperti saat ini. Perasaan-perasaan yang tidak penting, yang hanya menambah beban saja.
Sebuah angkot berhenti di depan halte. Wanita itu meraih tangan sang bocah dan menuntunnya masuk ke dalam angkot tersebut. Amanda menatap mereka dalam diam. Berbagai kenangan masa kecilnya berkelabat di dalam memory otaknya yang lelah siang ini. Lelah dengan berbagai pelajaran di sekolah, lelah dengan berbagai perasaan yang tidak penting.
Angkot lainnya berhenti lagi di depan halte. Empat orang siswa laki-laki berseragam SMA turun dari angkot sambil tertawa terbahak-bahak. Entah dari SMA mana mereka berasal, yang jelas mereka bukan siswa SMA Adhyaksa. Beberapa siswa dari sekolah-sekolah lain memang sering mampir di halte itu.
Keempat siswa itu berceloteh riang. Mereka sedang membicarakan sebuah film action yang sepertinya baru saja dirilis. Mungkin mereka berencana pergi ke bioskop untuk menonton film itu.
Seorang siswa di antara mereka mulai menyadari kehadiran Amanda. Dia mengamati Amanda kemudian memberi kode yang aneh pada teman-temannya. Mereka tertawa lagi.
"Hai cewek!" Ujar siswa laki-laki itu berusaha mendekati tempat Amanda duduk. Amanda merasa sedikit kaget. Dia berusaha cuek, berpura-pura tidak mendengar sapaan dari siswa laki-laki itu.
"Pulang kemana?" Tanya siswa itu lagi. Dia semakin mendekat ke arah Amanda. Amanda melirik sekilas, dia mulai merasa risih dan segera bangun dari duduknya. Dia mulai menjaga jarak.
Ketiga siswa lainnya tertawa terbahak-bahak. "Pepet terusss!" Seru salah satu dari mereka sambil tertawa. Yang lainnya mulai bersiul-siul aneh. Amanda semakin merasa risih.
"Duh... Mana ini angkotnya?" Gumam Amanda cemas. Dia mulai celingak-celinguk tidak sabar dan khawatir siswa itu akan mendekatinya lagi.
"Sombong bener sih... Pulang kemana, sayang?" Cowok itu benar-benar mendekati Amanda lagi. Teman-temannya bersorak riuh. Amanda mulai merasa merinding.
"Apaan sih!?" Tukas Amanda kesal. Dia mendelik kemudian menatap sinis cowok itu, berharap agar cowok itu tidak mendekatinya lagi. Dalam hati ia berdo'a agar angkot yang ditunggunya segera tiba.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Doni bisa melihat Amanda dan beberapa siswa laki-laki berseragam SMA di halte. Doni mempercepat langkahnya. Semakin dekat ke halte, Doni semakin yakin ada hal yang tidak beres sedang terjadi di sana.
Dia mulai merasa curiga dengan siswa laki-laki yang terlihat berdiri di dekat Amanda. "Oh... Apakah itu pacarnya!?" Doni mulai merasakan luapan emosi negatif di dalam dirinya.
Doni berdehem kecil. Dia sudah berdiri di samping Amanda. Dia menatap siswa laki-laki yang sedang mendekati Amanda dengan tatapan mengintimidasi, membuat siswa itu mundur beberapa langkah. Postur tubuh Doni yang lebih tinggi dan tegap sepertinya berhasil memberi kesan menakutkan bagi siswa laki-laki itu.
Amanda merasa nervous karena Doni berdiri cukup dekat dengan dirinya. Tapi dia juga tidak berani beranjak menjauhi Doni karena ada keempat siswa laki-laki itu.
__ADS_1
Amanda berfikir cepat, dia jauh lebih aman berada di dekat Doni pada saat-saat yang tidak menguntungkan seperti ini. Sehingga Amanda memilih tetap berdiri pada posisinya saat ini, berdiri cukup dekat di samping Doni.
"Kenapa ga nunggu aku!?" Doni bertanya dengan nada kejam membuat Amanda tersentak kaget.
"Hahhh!? Apa!?" Amanda ternganga. Lagi-lagi dia bingung dengan pertanyaan yang diajukan Doni secara mendadak.
Siswa laki-laki tadi sepertinya mendengar kata-kata Doni. Ia akhirnya berbalik, duduk kembali bersama teman-temannya yang sedang menahan tawa mereka.
Amanda ingin protes namun melihat situasi saat ini, dia merasa lebih baik diam saja. Diam lebih aman, lebih menyelamatkan.
Salah seorang siswa bergegas menghentikan sebuah angkot yang lewat di depan halte. Keempat siswa itu masuk ke dalam angkot yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Angkot itu bergerak meninggalkan halte dan dua siswa SMA Adhyaksa yang saling diam, tenggelam dengan fikiran mereka masing-masing.
"Siapa mereka!?" Tanya Doni. "Entah! Mana aku tahu!" Tukas Amanda. Dia sudah lega akhirnya keempat cowok itu sudah tidak ada lagi di situ.
Amanda mulai menggeser langkahnya perlahan agar Doni tidak menyadari pergerakannya. Doni melirik dengan ekor matanya. Tatapannya yang tajam menusuk tepat di hati Amanda.
"Deg! Deg! Deg!" Kali ini jantung Amanda berdetak tidak seperti biasanya. Bukan ketakutan, tapi ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Tatapan Doni benar-benar tajam menghujam. "Kenapa dia selalu menatapku mengerikan begitu?" Batin Amanda.
"Pinjam HP kamu!" Ujar Doni. Dia tiba-tiba mengulurkan tangannya.
Lagi-lagi Amanda dibuat bingung dengan sikap Doni. "Dulu sembarangan minta uang, sekarang sembarangan minta HP. Gembel amat ini orang!" Amanda tidak berhenti merutuk di dalam hati.
"Apa aku mau dirampok?" Nyali Amanda mendadak semakin ciut. Kini dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan Doni pada smartphone-nya.
Doni mendengus ketika melihat ada kombinasi angka yang harus dimasukkan agar bisa menggunakan smartphone itu.
"Password..." Desis Doni. Ia menyerahkan kembali smartphone Amanda.
Amanda langsung memasukkan kode password di smartphone-nya. Doni menatap Amanda lagi, aura intimidasinya masih terasa begitu kuat. Amanda buru-buru menyerahkan smartphone-nya pada Doni.
"Ya Tuhan... Anak ini menakutkan sekali..." Amanda mengeluh sendiri di dalam hati. Hari ini Doni terlihat berbeda dalam pandangan Amanda. Dia tidak seperti biasanya. Tidak cuek seperti biasanya.
Doni terlihat serius sekali mengetikkan sesuatu di smartphone Amanda. Amanda merasa penasaran, dia melirik apa yang sedang dilakukan Doni pada smartphone-nya.
"Ehh... Ngapain kamu!?" Hardik Amanda. Dia mulai sewot melihat Doni membuka WA di smartphone-nya. Amanda melotot dan mulai berceloteh panjang. Doni tidak bergeming.
"Hei... Balikin HP aku!" Amanda mulai gusar. Dia benar-benar ingin meraih smartphone-nya di tangan Doni. Namun dia mengurungkan niatnya melihat wajah Doni yang serius dan lagi-lagi menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Hubungi aku dulu kalau mau pulang!" Ujar Doni dan mengembalikan smartphone Amanda.
Amanda melongo. "Apa!?" Hanya itu kata-kata yang meluncur dari mulut Amanda. Dia menatap smartphone-nya. Ada sebuah chat baru atas nama Doni. "Ini no aku." Pesan yang tertulis di chat itu.
Ternyata Doni menyimpan nomor HP nya di smartphone Amanda dan mengirimkan sendiri pesan itu ke WA nya.
"Kamu ga sopan ya, buka-buka WA aku!" Amanda berkata dengan emosi. Dia benar-benar kesal sekarang.
"Aku cuma nyimpan nomor!" Balas Doni santai. Dia melirik beberapa angkot yang lewat di hadapan mereka.
"Huhhh... Ga gitu juga caranya!" Amanda masih ngomel-ngomel. Dia tidak menyangka sama sekali Doni meminjam smartphone-nya hanya untuk menyimpan nomornya di situ.
"Ayo!" Doni tiba-tiba menarik tangan Amanda, mengajaknya naik angkot yang berhenti di depan mereka.
Amanda lagi-lagi dibuat kaget dengan sikap Doni. Karena terlalu emosi, dia tidak menyadari angkot yang biasanya dia naiki ternyata sudah ada di hadapannya.
Doni memberi tanda agar Amanda masuk lebih dahulu ke dalam angkot. Mereka kemudian duduk berhadapan di dalam angkot.
Penumpang di dalam angkot tidak terlalu ramai. Angin berhembus masuk dari sela-sela jendela angkot yang terbuka, menyibak rambut Amanda. Amanda sesekali merapikan rambutnya yang tertiup angin.
Amanda jarang mengikat rambutnya karena rambutnya selalu pendek. Dia tidak pernah betah dengan rambut panjang. Rambut panjang baginya sangat merepotkan. Jika panjangnya sudah sebahu, dia pasti akan segera ke saloon untuk memotong rambutnya.
Amanda tidak menyadari sepasang mata indah di hadapannya menatapnya dengan terkesima sejak tadi.
Jika Amanda sibuk merapikan rambutnya yang tertiup angin, Doni fokus menatap jemari Amanda yang terlihat seperti sedang menari-nari di antara helai demi helai rambutnya yang lembut.
Doni memberi tanda agar angkot berhenti. Dia sudah tiba di tempat tujuannya. Kali ini dia menatap Amanda dengan lembut. Amanda merasa gugup ketika tatapan mata mereka bertemu. Entah mengapa Amanda merasa wajahnya panas.
"Selalu hubungi aku kalau mau pulang!" Doni mengulang kata-katanya yang tadi sambil turun dari angkot.
Amanda terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Amanda tidak menyadari wajahnya sedikit merona. Beberapa penumpang melirik Amanda. Lirikan mata mereka membuat Amanda refleks merubah raut wajahnya.
Amanda berusaha menetralisir suasana aneh di hatinya. Ia menatap lagi pesan melalui WA yang diketik Doni di smartphone-nya. Ia berusaha mencerna setiap tindakan dan kata-kata Doni tadi.
"Ya Tuhan... Apa maksudnya ini?" Amanda mendesah pelan. Dia terlalu lelah untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tentang apa yang diinginkan Doni. Lebih tepatnya, apa yang diperintahkan oleh Doni.
Amanda hanya merasa dirinya seperti sedang menerima perintah yang harus dilaksanakannya mulai besok.
__ADS_1
"Oh... Cepatlah sampai. Aku capek..." Amanda meratap sedih. Ia ingin sekali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Hari ini benar-benar melelahkan.