
"OK, guys... Kita masih punya waktu seminggu lagi. Kalian harus lebih sering berlatih dan banyak baca!" Coach Winnie memberi wejangan penutup.
Ryan mengangguk dan mengiyakan pesan Coach Winnie.
"Ryan, aku berharap progress yang lebih memukau minggu depan!" Coach Winnie memberi tantangan khusus untuk Ryan.
Ryan tersenyum lebar dan berkata, "I will do my best!"
"Hemmm... Doni dan Amanda... Semakin banyak literasi yang kalian baca, akan semakin bagus kualitas tulisan kalian." Coach Winnie kembali memberi motivasi kepada Amanda dan Doni.
Setelah Coach Winnie meninggalkan villa Ryan, Amanda dan Doni juga ikut berpamitan.
Ryan mengantarkan mereka sampai ke halaman depan villa.
"Hemmm... Kalian pulang naik apa?" Tanya Ryan.
Amanda melirik Doni. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Bagaimana kalau Pak Sam yang nganterin kalian pulang?" Ryan tiba-tiba menawarkan bantuan.
"Hemmm... Makasih Ryan. Jangan sampai merepotkan. Kami bisa pulang sendiri..." Amanda berkata sambil tersenyum manis.
"Oh... OK..." Sahut Ryan dengan wajah ceria.
Mobil Odyssey berwarna platinum white pearl berhenti di depan Doni dengan elegant.
Amanda kembali terpana melihat kilauan mobil mewah tersebut.
"Wahhh... Keren banget! Tapi sayang amat mobil semewah ini dipake buat ngojek..." Amanda menggumam dalam hati.
"Ayo!" Doni menarik tangan Amanda mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Ryan tertawa pelan melihat ekspresi kesal di wajah Amanda. Ia lalu melambaikan tangannya ketika mobil mewah itu melaju meninggalkan pekarangan villa.
Amanda masih menikmati nyamannya suasana di dalam mobil ketika Doni tiba-tiba meminta driver untuk merubah arah perjalanan mereka.
"Kita mau kemana?" Tanya Amanda.
"Hemmm... Apakah kamu buru-buru?" Doni bertanya balik.
"Errrr... Ga sih... Tapi ini udah kesorean..." Ujar Amanda khawatir.
"Nanti aku antarin kamu sampai ke rumah." Ucap Doni.
"Hemmm... Sebentar, kalau gitu aku ngabarin ke rumah dulu. Orang tuaku bisa khawatir kalau aku tiba-tiba telat pulang." Jelas Amanda.
"OK..." Doni mengangguk pelan.
Amanda menelpon adiknya, Magdalena. Setelah telpon diterima, Amanda berbicara dengan ibunya. Dia terdengar meminta izin pada ibunya.
"Aku harus pulang sebelum jam 8 malam..." Desis Amanda setelah ia menutup telpon.
"OK..." Sahut Doni.
Tuan Alfred sebagai pengemudi berusaha menahan senyum agar tidak mencurigakan. Ia berfikir sepertinya Tuan Muda ingin berkencan malam ini.
Amanda sebenarnya merasa sedikit kepo dengan sang driver mobil mewah tersebut. Namun Doni duduk begitu dekat dengan Amanda membuat Amanda duduk dengan kaku karena salah tingkah sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas sosok driver yang duduk di depannya.
Amanda memberi kode khusus agar Doni sedikit menjauh darinya. Tapi Doni tidak peduli dengan hal itu. Dia tidak menggubris sama sekali. Amanda hanya bisa melengos.
Amanda merasa lega ketika mobil memasuki area parkir sebuah supermall. Doni mengajak Amanda turun dari mobil.
__ADS_1
"Ehhh... Kamu belum bayar!" Teriak Amanda.
"Hemmm... Aku bayar di aplikasi." Kata Doni enteng.
"Ohhh..." Amanda melirik sekilas ke arah mobil mewah itu.
Entah mengapa Amanda masih merasa penasaran dengan mobil mewah itu. Sepertinya ada kejanggalan di sana.
"Ayo!" Ajak Doni dan lagi-lagi menarik tangan Amanda.
Amanda mengikuti langkah Doni yang berjalan santai menerobos keramaian di dalam mall.
Seperti biasa, cewek-cewek akan melirik Doni dengan tatapan terpesona. Amanda sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Apalagi penampilan Doni hari ini memang sempurna. Dia terlihat keren sekali meskipun hanya mengenakan celana jeans dan T-shirt polos.
Amanda melirik sepatu yang dikenakan Doni. Amanda terperangah. Dia tahu merk sepatu itu, meskipun tak kan pernah mampu membelinya. Harganya benar-benar menyedihkan bagi seorang Amanda.
"Ah... Mungkin cuma merk KW..." Batin Amanda.
Amanda tidak yakin Doni mampu membeli sepatu semahal itu. Jadi dia langsung mengambil kesimpulan bahwa sepatu itu adalah merk palsu alias merk tiruan.
Doni berhenti di depan sebuah resto Jepang. Dia mengajak Amanda ikut masuk ke dalam. Mereka memesan beberapa menu makanan dan minuman.
"Doni, uangku ga cukup nih..." Bisik Amanda ketika melihat daftar harga makanan di list menu.
"Hemmm... Pesan saja, aku yang bayar." Ujar Doni santai.
"Errrr... Tapi nanti uang kamu habis loh. Ini semua harganya mahal." Amanda mulai protes.
"Hemmm... Buruan, nanti kita kemalaman pulang." Kata Doni.
Amanda berfikir benar juga apa yang dikatakan oleh Doni. Akhirnya dia mulai memilih menu makanan yang mungkin disukainya. Sepertinya mood Doni sedang baik sekali malam ini.
"Doni, kamu tadi lupa ya ngomong ke Ryan." Tebak Amanda.
"Tapi kamu maunya minggu depan kita belajar di rumah kamu." Amanda mengingatkan Doni akan kata-katanya tadi.
"Hemmm..." Gumam Doni.
Pramusaji mulai menata hidangan makanan pesanan Amanda dan Doni di atas meja.
"Makasih, mbak..." Ujar Amanda sambil tersenyum.
Setelah pramusaji menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan mereka, Amanda menoleh ke arah Doni dengan isyarat menunggu jawaban.
Doni terlihat cuek dan santai, dia mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya dengan tenang.
Amanda mendengus sendiri. Dia pun mengikuti Doni menikmati makanan yang tadi telah dipesannya.
"Mau sushi?" Doni menyodorkan sepiring sushi ke hadapan Amanda.
Amanda menggeleng. "Ga, Doni. Makasih..." Tolak Amanda.
Tanpa sengaja Amanda melihat dua orang gadis yang duduk di meja depan sedang curi-curi pandang ke arah Doni.
"Huhhh... Dia selalu saja menarik perhatian cewek!" Amanda menggerutu dalam hati.
Doni kembali menyodorkan segelas peach tea dingin ke hadapan Amanda. Kedua gadis tadi mulai mengalihkan pandangan mereka dari Doni.
"Hemmm... Makasih..." Amanda lagi-lagi mengucapkan terima kasih.
Setelah selesai menikmati makanan mereka, Doni duduk dengan tenang di hadapan Amanda. Dia mulai fokus menatap Amanda yang sedang mengeluarkan buku catatan dari tasnya.
__ADS_1
Amanda meletakkan buku catatannya di atas meja dan berkata, "Coach Winnie itu keren sekali ya. Aku suka banget cara dia menjelaskan kerangka karangan tentang topik korupsi tadi."
"Hemmm..." Gumam Doni.
"Wajar sih ya, dia kan mahasiswa fakultas hukum." Amanda mulai memberi opini.
"Hemmm..." Gumam Doni lagi.
"Heiiii... Kamu dengerin aku ga sih?" Seru Amanda.
"Aku kayak ngomong sama meja nih!" Amanda mulai terlihat kesal.
Doni tersenyum tipis. Amanda makin sewot.
"Ayo kita pulang! Udah malam nih." Ajak Amanda
Doni melirik smartwatch di pergelangan tangannya. Dia terlihat mengetikkan sesuatu.
"OK... Aku antar kamu pulang ya." Ujar Doni.
Amanda mengangguk cepat meskipun sebenarnya dia merasa sungkan. Doni menyelesaikan pembayaran tagihan makan mereka.
"Apakah ini tidak merepotkan?" Tanya Amanda khawatir.
Doni tersenyum tipis dan tiba-tiba ia merangkul bahu Amanda membuat Amanda shock setengah mati.
"Ayo..." Ucap Doni pelan.
Mereka berdua berjalan melewati meja para gadis yang sejak tadi memperhatikan Doni. Kedua gadis itu menatap Amanda dengan tatapan iri. Amanda melengos.
Doni terus saja merangkul bahu Amanda hingga mereka berada di lobby pintu keluar supermall itu.
Tuan Alfred menghentikan mobil tepat di depan Doni berdiri. Doni membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Amanda masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Amanda benar-benar merasa tersanjung malam ini. Ia merasa diperlakukan layaknya seorang putri. Doni bersikap manis sekali. Dia seperti pangeran.
"Ah... Dia manis sekali! Duhhh... Bisa baper aku kalau gini ceritanya!" Batin Amanda mulai bergejolak sendiri.
Amanda melirik Doni. Doni menggenggam tangan Amanda. Genggaman tangan Doni terasa begitu hangat. Hangatnya sampai ke hati.
Amanda merasa hatinya semakin berdebar-debar. Wajahnya diam-diam mulai merona. Tiba-tiba Amanda menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya saat ini adalah mobil mewah yang tadi.
"Ini kebetulan apa gimana? Apa dia memang nyewa mobil ini offline?" Amanda bertanya-tanya dalam hati.
Namun karena sedang baperan, Amanda tidak bisa banyak berfikir. Logikanya mulai tidak jalan.
Amanda tidak bisa banyak bergerak. Dia duduk dengan kaku dan jantungnya berdetak cepat di dalam mobil mewah Tuan Muda Anthony.
Amanda berusaha keras menenangkan debaran jantungnya. Dia tidak ingin terlihat konyol di dalam mobil ini.
Tuan Alfred sangat mengerti jiwa muda tuannya. Ia juga suka melihat Amanda yang bisa bersikap sopan sejauh ini. Sulit sekali menemukan gadis yang bisa bersikap sopan jika diperlakukan lebay seperti itu.
"Sepertinya Tuan Muda melewati kencan yang baik malam ini." Batin Tuan Alfred.
Amanda menjelaskan rute menuju rumahnya. Mobil mewah itu melaju santai mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Amanda.
Doni tertegun melihat sebuah rumah sederhana yang ditunjukkan oleh Amanda. Dia tidak menyangka Amanda tinggal di rumah sekecil itu. Bahkan garasi mobil Doni saja dua kali lipat lebih besar dari rumah Amanda.
"Doni... Makasih ya... Mau mampir dulu?" Ujar Amanda.
Doni mengalihkan pandangannya dan menatap Amanda lekat-lekat. Amanda memberi tanda agar Doni melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Hemmm... Mungkin lain kali." Sahut Doni datar.