Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Teguh Galau


__ADS_3

"Selamat pagi, Teguh. Selamat, anda telah lolos seleksi administrasi. Dimohon kehadirannya besok pukul 08.00 pagi untuk mengikuti seleksi wawancara. Terima kasih." Sebuah pesan masuk di WA Teguh.


Pesan itu berasal dari divisi personalia perusahaan tempat papa Vino bekerja.


"Yesss!!!" Seru Teguh puas.


Teguh memang sudah yakin dirinya pasti bisa lolos seleksi administrasi di perusahaan besar itu. Curriculum Vitae yang diajukan oleh Teguh tentu akan membuat siapapun yang membacanya berdecak kagum.


Segudang prestasi yang ditorehkan Teguh di bangku kuliah layak menjadi bahan pertimbangan. Sejumlah pengalamannya di berbagai organisasi membuktikan dirinya dapat bersosialisasi dengan baik dan hal itu juga menunjukkan dia dapat bekerja dalam team.


"Selamat pagi. Baik. Terima kasih atas informasinya." Teguh mengetikkan balasan dan langsung mengirimkannya tanpa menunda-nunda.


Tes wawancara bukanlah hal yang sulit bagi Teguh. Dia sudah mempelajari tips dan trik lolos seleksi wawancara jauh-jauh hari. Kemampuan public speaking Teguh sudah barang tentu tidak perlu diragukan lagi.


Teguh sudah sering berbicara di depan orang banyak, menyampaikan pidato atau orasi mengenai topik-topik tertentu. Berbicara dengan dosen dan pejabat kampus juga sudah menjadi hal biasa bagi seorang Teguh. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Apalagi jika nanti pihak interviewer mengetahui hubungan Teguh dengan Bapak Handoko, papanya Vino, sudah pasti para pewawancara akan langsung meluluskan Teguh hari itu juga.


Tapi seorang Teguh tidak ingin menjadikan itu sebagai andalan dirinya. Teguh ingin menunjukkan siapa dirinya, bukan siapa kenalannya di perusahaan itu.


Teguh beranjak keluar dari toko buku. Dia baru saja membeli beberapa buku yang akan dibutuhkannya selama magang nanti. Dia berjalan santai menuju kasir, bermaksud membayar buku-buku yang sudah dikantonginya.


Antrian di bagian kasir tidak terlalu ramai. Hanya ada dua orang cewek yang antri di situ. Teguh memilih berdiri santai di belakang mereka.


Seorang cewek dengan rambut dikuncir kuda berdiri dan antri di belakang Teguh. Gadis itu sepertinya cukup terpesona dengan Teguh. Maklum saja, tampang Teguh yang mirip dengan oppa Korea tentu saja dengan mudah bisa menarik perhatian para gadis muda.


Teguh tidak menyadari tatapan penuh minat dari gadis-gadis yang ada di sekitarnya. Dia sedang melamun. Tiba-tiba saja dia teringat Emma, kakaknya Vino.


Gara-gara melihat seorang bule yang sedang asyik memilih-milih buku, Teguh mendadak teringat Emma yang sedang kuliah di Australia.

__ADS_1


"Apa betul dia sedang dekat dengan seseorang? Akhir-akhir ini aku sibuk sekali, sampai lupa memperhatikan story yang dia update." Teguh membatin di dalam hati.


Teguh selalu saja khawatir jika mendengar kabar kedekatan Emma dengan cowok lain. Teguh sejak kecil sudah mengagumi sosok Emma. Sepengetahuan Teguh, Emma belum pernah memiliki hubungan khusus dengan cowok manapun. Hal itu yang membuat Emma terlihat berbeda di matanya.


Gadis secantik dan setajir Emma pastilah digandrungi banyak cowok. Teguh juga cukup tahu betapa banyak cowok-cowok yang berusaha mendekati Emma. Namun Emma tidak pernah mau menanggapi mereka. Bagi Emma, mereka hanyalah teman biasa. Tidak bisa lebih.


Namun sampai saat ini, Teguh tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan Emma pada dirinya. Tidak mungkin Emma tidak mengetahui jika Teguh menyimpan rasa yang terdalam untuk dirinya.


Perhatian dan kasih sayang Teguh kepada Emma selama ini tentu saja terlihat berbeda. Tetapi entah mungkin Emma memang belum menyadari atau Emma tidak mau terlalu baper, itu semua masih misteri. Teguh hanya bisa menerka-nerka dan akhirnya galau sendiri.


"Terima kasih." Ucap Teguh pada petugas yang berjaga di bagian kasir.


Teguh lalu berjalan santai keluar dari toko buku terkenal itu. Setiap gadis yang berpapasan dengannya akan melirik dengan lirikan terpesona. Teguh tidak peduli itu. Dia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian kemanapun dia pergi.


Teguh sudah berada di parkiran mobil. Dia masuk ke mobil dan dalam waktu singkat sudah meninggalkan gedung toko buku yang berdiri megah itu.


Seperti biasa, Teguh mengemudikan kendaraan dalam kecepatan sedang. Dia bukan tipe orang yang suka buru-buru di jalan. Tetapi dia tidak suka ngebut dan melanggar peraturan yang ada.


Kerap kali Teguh merasa heran dengan generasi muda zaman now. Mereka seolah bangga jika bisa melanggar peraturan yang ada. Kebanggaan akan semakin bertambah mana kala mereka bisa lolos dari jeratan hukum akibat kesalahan atau pelanggaran yang mereka buat.


Sebagai seorang mahasiswa, Teguh sering mengikuti kampanye-kampanye yang bersifat positif. Seperti kampanye anti narkoba, anti korupsi, dan sebagainya. Tujuannya khususnya adalah agar dirinya selalu ingat untuk tidak tergoda melakukan hal-hal negatif seperti itu. Lalu tujuan umumnya adalah untuk mengajak dan memberi contoh agar teman-teman yang lain mengikuti jejak yang sama.


Teguh tiba di perempatan jalan. Lampu merah membuatnya berhenti. Tiba-tiba smartphone Teguh bergetar di atas dashboard mobil. Ia kaget bukan main ketika melirik nama yang muncul di sana.


Emma.


Wow! Ini sebuah kejutan! Teguh sadar Emma sudah lama tidak menghubunginya via telpon.


"Tumben dia nelpon. Hemmm... Ada apa ya?" Batin Teguh.

__ADS_1


Ia merasa sedikit deg-degan. Sambil melirik ke lampu merah yang sudah berubah warna menjadi hijau, Teguh menerima panggilan dari Emma. Mobil kembali melaju santai dengan arah tujuan kembali pulang ke rumah Vino.


"Halo, Mas Teguh..." Sapa Emma dengan suaranya yang khas, lembut dan manis.


Teguh merasa begitu senang mendengar suara gadis pujaannya itu.


"Iya. Halo, Emma. Bagaimana kabarnya di sana?" Balas Teguh.


"Very well..." Sahut Emma.


"Mas Teguh lagi dimana nih? Di jalan ya?" Emma seperti mendengar suara berisik angin di jalan.


"Hemmm... Hehehe... Iya, ini lagi di jalan mau pulang ke rumah kamu." Jawab Teguh santai.


"Ohhh... Wahhh... Mas Teguh sudah kembali ya! Kok ga pernah ngabarin Emma kalau Mas Teguh udah berkunjung ke rumah?" Tanya Emma dengan suaranya yang manja.


"Iya, maaf. Kebetulan baru nyampe juga sih. Hehehe... Mas juga segan, takutnya malah ntar jadi ganggu kuliah kamu." Ujar Teguh.


Ia sudah tiba di pekarangan rumah Vino. Pelan-pelan ia mengemudikan mobil masuk ke dalam garasi.


Pak Anto bergegas menghampiri dan membantu mengarahkan mobil masuk ke dalam garasi.


Teguh turun dari mobil dengan tangan masih menggenggam ponselnya dan melempar senyum ke arah Pak Anto. Pak Anto membalas senyuman Teguh tersebut sambil merapikan barang-barang yang da di garasi.


"Mas Teguh, kapan ada waktu senggang?" Tanya Emma.


"Sementara ini selalu ada. Kebetulan aku belum ada kesibukan." Jawab Teguh.


"Horeee!! Sipppp... Kalau gitu, nanti Emma telpon lagi ya, mas. Ada yang ingin Emma diskusikan." Ucap Emma.

__ADS_1


"Anytime." Sahut Teguh.


__ADS_2