Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Tuan Wishnu Kembali


__ADS_3

Doni duduk termangu di ruang kerjanya. Dia menatap nanar menu makan siang yang sudah disajikan di atas meja.


Nafsu makannya menjadi terganggu siang ini karena melihat mood Amanda yang berbeda tadi di sekolah.


Doni masih ingat dengan jelas, Amanda terlihat kuyu dan lesu. Dia sepertinya sedang sangat sedih. Tetapi Doni tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada gadis yang sangat dicintainya itu.


Doni mencoba bertanya tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari Amanda. Hal itu membuat Doni gundah gulana.


"Hemmm... Ada apa sebenarnya?" Doni membatin.


"Tidak biasanya dia seperti itu..." Gumam Doni.


Doni menatap lagi makanan di hadapannya. Dia tahu dia harus makan. Dia butuh energi yang cukup untuk membantu dirinya menyelesaikan setumpuk pekerjaan di perusahaan.


Sejak papanya pergi tugas ke luar negeri, Doni merasa sedikit kewalahan. Banyak beban tambahan yang diletakkan di pundaknya.


Ditambah lagi desas-desus munculnya keanehan di salah satu divisi penting perusahaan. Hal itu semakin mengganggu konsentrasi Doni dalam bekerja.


Sungguh berat beban pemimpin perusahaan. Pantas saja jika sebuah perusahaan hanya bisa maju dan berkembang jika dipimpin oleh orang yang kompeten dan ahli.


Dan Doni merasa dirinya belum mampu mengambil amanah itu. Dia merasa dirinya belum layak menjadi pemimpin perusahaan. Apalagi perusahaan sebesar ini. Tanaka Mining, Co. Ltd. bukanlah perusahaan kecil.


Perusahaan yang dipimpin oleh papanya ini adalah perusahaan skala besar yang berkecimpung tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga melebarkan sayap hingga di kancah internasional.


Doni semakin salut saja dengan kelihaian papanya dalam merintis dan memimpin perusahaan ini.


DRRRRRTTTT... DRRRRRTTTT... DRRRRRTTTT...


Doni melirik ponselnya yang diletakkan di samping piringnya.


Mama.


"Hemmm... Mama..." Gumam Doni dan segera menerima panggilan telpon yang masuk.


"Halo, ma..." Sapa Doni lembut.


"Halo, sayang..." Nyonya Wishnu membalas sapaan putera kesayangannya dengan suara yang lebih lembut lagi.


"Lagi apa kamu? Sudah makan siang? Mama rasa di Indonesia sudah waktunya kamu untuk makan siang, bukan?" Tanya Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Iya, ma." Sahut Doni.


"Sudah makan siang kan?!" Tanya Nyonya Wishnu lagi.


"Sudah, ma." Jawab Doni.


Doni menghentikan makannya sejenak. Dia tidak jujur mengatakan bahwa dia sedang makan.

__ADS_1


Doni sebenarnya tidak bermaksud berbohong tetapi dia juga tidak ingin membuat mamanya panik.


Nyonya Wishnu akan sangat panik jika Doni terlambat makan. Tentu saja wanita cantik itu akan bersedia repot-repot memberi wejangan panjang jika mengetahui Doni menunda-nunda waktu makannya.


Jadi, daripada harus mendengar wejangan mamanya, Doni memilih berbohong sedikit.


"Kamu sehat kan, sayang?" Tanya Nyonya Wishnu.


"Iya, ma. Doni sehat." Jawab Doni cepat.


"Ohhh... Syukurlah..." Ucap Nyonya Wishnu lega.


"Sayang, kami akan tiba di Indonesia malam ini." Ujar Nyonya Wishnu.


"Oh... Iya, ma." Sahut Doni.


"Ya, papa harus masuk kantor besok pagi. Mama rasa sudah terlalu lama papa meninggalkan beberapa tugas pentingnya di perusahaan." Ujar Nyonya Wishnu.


"Hemmm..." Gumam Doni pelan.


"Mama sebenarnya khawatir dengan keadaan kamu. Mama ngerti pasti kamu kelelahan sekali selama papa tidak masuk." Suara Nyonya Wishnu terdengar sendu.


"Oh... Iya, tidak masalah. Doni baik-baik saja, ma." Doni berusaha meyakinkan mamanya.


"Hemmm... Ya, mama harap begitu." Suara Nyonya Wishnu terdengar lebih lega.


"Tidak ada, ma... Semuanya lancar." Jawab Doni.


"Bagus! Tapi sepertinya beberapa kegiatan ekskul kamu sedikit terganggu ya?" Tebak Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Iya, ma. Tapi itu tidak jadi masalah. Doni sudah minta izin untuk beberapa hari." Doni menjelaskan bagaimana selama ini dia menghadapi berbagai kegiatan ekskul di sekolah.


"Baiklah, sayang... Mama jadi lebih tenang kalau begitu." Ujar Nyonya Wishnu.


"Iya, mama tidak perlu khawatir. Semua di sini baik-baik saja." Kata Doni.


Nyonya Wishnu lalu menutup telpon. Doni menghembuskan nafas dengan lega. Dia tidak ingin membuat mamanya menjadi susah hati jika dia mengeluhkan banyak hal.


Doni menghabiskan makan siangnya dengan cepat. Dia lalu kembali berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang telah menantinya.


Baru beberapa menit memperhatikan laptop, Doni melihat sebuah notifikasi dari akun e-mail-nya. Ada sebuah pesan masuk dari Professor Gilbert.


Professor Gilbert telah mengirimkan sebuah e-book penting tentang perkembangan ilmu bisnis di era digital. Professor tersebut berharap Tuan Muda Anthony bisa segera mempelajari materi-materi yang ada di dalam e-book tersebut.


Seorang office boy masuk ke ruang kerja Doni dan membereskan peralatan makan siang Doni dengan sigap dan cekatan.


"Permisi, Tuan Muda..." Ucap pemuda itu sopan sambil sedikit menunduk untuk berpamitan.

__ADS_1


Doni mengangguk dengan kalem dan elegant. Setelah office boy tersebut keluar dari ruang kerjanya, Dia kembali memusatkan perhatiannya pada file yang dikirim oleh Professor Gilbert.


"Hemmm... Ini menarik!" Gumam Doni.


Doni berhasil melawan rasa kantuknya yang teramat sangat setelah makan siang tadi. Topik pembelajaran yang menarik ini tidak ingin dilewatkan oleh Doni. Dia memang suka sekali belajar tentang dunia bisnis.


Saat sedang serius membaca e-book tersebut, sebuah panggilan masuk dari Nyonya Martha.


Doni menerima panggilan tersebut dan mengalihkan fokusnya dari e-book itu ke ucapan Nyonya Martha.


"Ya, Nyonya Martha." Ucap Doni.


"Tuan Muda, izin memberitahukan laporan terbaru terkait kasus kemarin." Nyonya Wishnu mulai membuka pembicaraan.


Doni refleks mengernyitkan dahi dan menajamkan pendengarannya. Dia menegakkan duduknya dan menyimak ucapan-ucapan Nyonya Martha selanjutnya.


"Kita telah menemukan titik terang. Beberapa nama tersangka sudah ada di tangan kita. Database mereka sedang dipelajari kembali oleh staf khusus kita."


Nyonya Martha menjelaskan progress penyelidikan yang telah dilakukan oleh orang-orang kepercayaan yang ditunjuk sebagai staf khusus untuk mengusut kasus penggelapan uang tersebut.


"Hemmm... Bagus sekali, Nyonya Martha." Ujar Doni.


"Bukti-bukti penguat dan fakta di lapangan akan terus dipelajari. Saya optimis kita bisa menyelesaikan semua laporan ini dan segera menyerahkannya pada Tuan Wishnu secepatnya." Nyonya Wishnu berkata dengan suara tegas.


Terlihat sekali sekretaris pribadi Tuan Wishnu itu sedang serius dan menahan geram menghadapi orang-orang yang membuat masalah di perusahaan.


"Baik, Nyonya Martha. Besok pagi papa sudah akan kembali ke perusahaan." Terang Doni.


"Ya. Tuan Wishnu sudah memberi kabar tentang kepulangannya pada saya."


"Saya akan mengatur semuanya secepat mungkin."


"OK. Saya percaya anda akan melakukan yang terbaik, Nyonya Martha."


"Siap, Tuan Muda."


"Terima kasih atas kepercayaan anda!"


Nyonya Martha lalu berpamitan dan mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.


Doni menghela nafas. "Hemmm... Berani-beraninya mereka membuat masalah di sini..." Doni merasa begitu geram.


Loyalitas perusahaan ini kepada para karyawan sudah cukup baik. Menurut Doni, tidak seharusnya para karyawan membuat makar dengan cara seperti itu.


Dunia kerja selalu penuh intrik dan ketidak jujuran. Selalu ada segelintir orang yang menghalalkan segala cara untuk memperkaya pribadi dan keluarganya.


Mereka mengatakan itu adalah tuntutan kehidupan. Padahal sejatinya itu adalah tuntutan setan yang suka menjebak manusia untuk terjerumus ke dalam lembah kesesatan yang terdalam.

__ADS_1


***


__ADS_2