
"Selamat pagi, Pak Suwanto!" Miss Donna menyapa dengan ramah dan lembut.
"Pagi." Sahut Pak Suwanto dengan nada suaranya yang berat.
Pak Suwanto menoleh ke arah Helena, satu-satunya siswa di antara mereka.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Pak Suwanto pada Helena.
"Errrrr... Iya, pak... Saya disuruh Pak Cahyono ke sini." Sahut Helena dengan jantung yang mulai berdegup kencang.
"Hemmm..." Pak Suwanto menggumam sambil memperhatikan gelagat Helena.
Helena berusaha mati-matian agar tidak terlihat salah tingkah. Tapi tentu saja tidak mudah bersikap santai ataupun tenang bila berhadapan langsung dengan Pak Suwanto.
Guru BK itu menatap Helena dengan tatapan tajam.
"Bukankah kalian sedang ujian?" Tanya Pak Suwanto lagi.
"Errrrr... Iya, benar pak." Sahut Helena jujur.
"Kenapa kamu tidak di kelas untuk mengikuti ujian?" Pak Suwanto mulai menaikkan nada suaranya.
"Pak Cahyono yang suruh saya ke sini, pak..." Jawab Helena takut-takut.
Miss Donna ikut melirik ke arah Helena. Psikolog cantik itu menghentikan pekerjaannya sebentar dan memperhatikan Helena dengan wajah serius.
"Sini kamu. Duduk di sini." Pak Suwanto memberi perintah pada Helena.
Helena bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kursi di hadapan Pak Suwanto.
"Duduk!" Perintah Pak Suwanto.
Tanpa bantahan, Helena langsung duduk di kursi yang ditunjuk oleh Pak Suwanto.
"Hemmm... Katakan apa kesalahanmu hingga Pak Cahyono mengeluarkan kamu dari kelas?" Pak Suwanto langsung to the point.
Helena terhenyak. Dia ngomel-ngomel dalam hati. Dia menimang-nimang apakah sebaiknya dia menceritakan kronologi kejadian tadi atau sebaiknya memilih berdiam diri saja.
"Dasar bego! Ga cerita juga entar bakal ketahuan!" Sebuah suara berbisik di dalam hati Helena.
Pak Suwanto terlihat menatap Helena dengan tatapan tidak sabar. Akhirnya dengan susah payah Helena mencoba menceritakan masalahnya.
"Oh... Jadi kamu ketahuan mencontek di kelas Pak Cahyono?" Pak Suwanto menarik kesimpulan cepat dari cerita Helena yang berputar-putar.
"Errrrr... Iya pak..." Sahut Helena lirih.
"Kelas?" Tanya Pak Suwanto.
"Kelas 1-2, pak." Jawab Helena.
__ADS_1
"Nama lengkap?" Tanya Pak Suwanto lagi.
"Helena." Jawab Helena.
Pak Suwanto mulai mengetikkan sesuatu di komputer kerjanya.
"Kasus kemarin juga dari kelas 1-2. Sepertinya kalian senang berkunjung ke ruang BK ini." Pak Suwanto berkata dengan nada menyindir.
Helena memilih diam saja. Dia hanya merutuk dalam hati. Miss Donna tertawa pelan.
Pintu ruang BK kembali terbuka. Pak Cahyono masuk ke ruangan. Helena merasa semakin khawatir.
"Selamat pagi, Pak Cahyono." Sapa Miss Donna ramah.
"Iya, pagi." Pak Cahyono membalas sapaan Miss Donna dengan datar.
"Nah... Pak Cahyono. Apa yang telah dilakukan oleh siswa anda ini?" Pak Suwanto menunjuk Helena.
Pak Cahyono berjalan mendekati meja Pak Suwanto. Masih dengan posisi berdiri, guru mata pelajaran matematika itu menatap sinis ke arah Helena.
"Dia mencontek selama ujian. Hukuman apa yang tepat bagi seorang pencuri, Pak Suwanto?" Tanya Pak Cahyono dengan suara tegas.
"Hemmm... Pencuri ya, Pak Cahyono?" Pak Suwanto seolah menggumam pada dirinya sendiri.
"Apakah kamu tahu bahwa mencontek itu sama dengan mencuri?" Pak Suwanto bertanya pada Helena.
Helena menunduk. Dia tidak berani menjawab sepatah katapun.
Helena masih diam saja dan menundukkan kepalanya. Dia bisa merasakan aura intimidasi dari Pak Cahyono meskipun guru matematika itu belum berkata apa-apa.
"Helena, jangan biasakan lagi bersikap begitu. Jangan sampai itu menjadi kebiasaan buruk kamu. Jika sudah menjadi kebiasaan, kamu akan terbiasa juga mengambil hak orang lain ketika kamu dewasa nanti." Pak Suwanto memberi wejangan panjang lebar.
"Helena, apakah kamu mendengar nasehat Pak suwanto?" Tanya Pak Cahyono.
"Iya. Sa... Sa... Saya mengerti, pak..." Sahut Helena dengan suara terbata-bata.
"Bagus! Jangan diulangi lagi ya!" Ujar Pak Suwanto pada Helena.
"Baik, pak..." Jawab Helena lirih.
"Hemmm... Pak Cahyono, mungkin anda ingin memberikan tugas tambahan?" Pak Suwanto bertanya pada guru matematika tersebut.
"Saya serahkan pada bapak saja. Permisi, Pak Suwanto. Saya harus segera kembali ke ruang guru." Tutur Pak Cahyono sebelum meninggalkan ruang BK tersebut.
Setelah Pak Cahyono pergi, Pak Suwanto mulai menjelaskan hukuman yang harus dilaksanakan oleh Helena.
"Jika sudah selesai, serahkan pada Miss Donna." Perintah Pak Suwanto.
"Baik, pak..." Ujar Helena sedikit lega.
__ADS_1
Miss Donna memanggil Helena dan menjelaskan kembali mengenai tugas sekaligus sanksi yang harus dikerjakan. Psikolog cantik itu juga menjelaskan poin kesalahan yang telah dilakukan Helena dan mengingatkan Helena agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Helena mengangguk patuh dan kemudian kembali ke kelas dengan hati kesal. Meskipun hukuman yang diberikan bukanlah hukuman yang berat, tetap saja Helena merasa direpotkan oleh tugas tersebut.
Helena masuk ke kelas sambil mendengus. Amanda bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi selama Helena berada di ruang BK. Namun tentu saja ia tidak akan berani bertanya langsung pada Helena. Seperti biasa, toh nanti Helena sendiri pasti akan bercerita tanpa perlu diminta.
Setelah Helena duduk dengan tenang, Amanda memberanikan diri bertanya pada teman sebangkunya itu.
"Kamu mau ke kantin atau mau ke perpustakaan?" Tanya Amanda.
Helena terlihat berfikir sejenak.
"Tumben... Pake mikir..." Amanda membatin sendiri.
"Ummmm... Ke perpustakaan aja deh... Aku ada tugas nih." Jawab Helena.
"Tugas?" Tanya Amanda polos.
Helena mengangguk. "Iya, tugas dari bapak dedemit itu!" Gerutu Helena.
"Ohhh... Ya udah, ayo kita ke perpustakaan!" Ajak Amanda penuh semangat.
Helena mengangguk lagi. Dia lalu mengambil binder note dan kotak pensil.
"Busyettt! Tumben amat ini anak, pake perlengkapan nulis." Amanda membatin lagi.
Amanda dan Helena lalu berjalan menuju ke perpustakaan. Mereka berpapasan dengan Ryan di tangga.
"Haiii..." Sapa Ryan ramah seperti biasa.
"Hai Ryan! Dari mana?" Tanya Amanda.
"Aku baru aja dari perpustakaan." Kata Ryan.
"Ohhh... Iya... Kami baru aja mau ke sana nih!" Ujar Amanda.
"Sipppp... Betewe, kamu sudah mulai buat kerangka essay-nya?" Tanya Ryan.
Amanda mulai merasa salah tingkah. Dia sama sekali belum memulainya.
"Hehehe... Belum, Ryan. Aku belum nemu ide nih." Jawab Amanda jujur.
"Hahaha... OK... OK... Santai aja. Nanti di perpustakaan kamu pasti bisa dapat ide buat nulis!" Ryan mencoba memberi motivasi.
"Iya, aku harap begitu!" Ujar Amanda.
"Semangat ya! Minggu depan kita coaching lagi!" Seru Ryan sambil berjalan cepat menuruni tangga.
Amanda menjawab dengan senyum lebar. Helena tiba-tiba teringat sesuatu.
__ADS_1
"Hemmm..." Helena menggumam pelan ketika dirinya dan Amanda mulai masuk ke ruang perpustakaan.