
🥀🥀🥀
"Jawab..." Bintang membentak adiknya itu.
Mentari masih terdiam, tertunduk takut bingung akan menjawab apa. Kata-kata yang dia rancang bersama Dafa tadi buyar entah kemana.
"Dek..?" kini suara Langit menginterupsi.
Mentari memandangi kedua kakaknya bergantian, jantungnya berdetak tak karuan, bibirnya Kelu terkalahkan oleh rasa takut.
"Hehhh.... jawab? malah diem?" Bintang semakin menunjukkan emosinya.
flashback on..
"Neng Chaca nggak pulang kok den!" Ucap mbok Tini di sebrang telepon.
Bintang akhirnya menelpon ke rumah untuk mencari keberadaan adiknya. Dia berusaha menghubungi namun nihil tak ada panggilan.
"Nggak pulang gimana sih mbok?" Tanya Bintang heran.
"Tadi kan mang Unang jemput?" ucapnya lagi.
"Nggak, kirain Neng Chaca memang tidur di rumah sakit!" Mbok Tini menerka.
Panggilan pun terputus.
"Kemana dia? kalo ada ayah mati udah kita bang!" Bintang terlihat frustasi.
"Justru mungkin karena ayah nggak ada, dan keadaan gue lagi gini. Dia merasa bebas, dan ngelakuin sesuatu yang sekiranya nggak bisa di lakuin saat kita dalam formasi lengkap." Ucap Langit tak kalah cemas.
Bintang dan Langit terus mencoba menghubungi Mentari secara bergantian.
"Ada kontak temennya nggak?" Langit bertanya
"Nggak ada bang, Si Chaca kan emang nggak pernah main ke luar, ada juga langsung dia yg minta ijin ke ayah atau nggak ke lu langsung bang!" Jawab Bintang.
Hingga tengah malam masih belum bisa menghubungi gadis kesayangan mereka, akhirnya mereka pun memutuskan untuk istirahat.
...flashback off.....
"A...aku nungguin temen aku yg di rawat di sini juga kak, dia nggak ada temen." Jawab Mentari dengan sedikit kegugupan yang di sadari kedua kakaknya.
"Hahaha... aneh kamu, masih satu gedung kenapa kamu nggak minta ijin langsung, jadi kan nggak bikin kita panik!" Bintang masih terlihat kesal.
Mentari masih gelagapan.
"Temen kamu sakit apa dek?" tanya Langit dengan nada tenang nya jauh berbeda dengan Bintang yang tak bisa mengontrol emosinya.
"I..itu kak, dia kecelakaan. Ada keretakan di tangannya." Jawabnya.
Ke dua pria itu hanya terdiam menanggapi Ucapan mentari, yang entah kenapa hati mereka merasakan ada yang adiknya tutupi.
"Dah lah... gue ke kampus dulu." Bintang bangkit dan meraih tas ranselnya di pinggir mentari.
Matanya membola melihat bercak merah di leher adiknya itu, sedikit tertutup kerah baju namun masih dapat dia lihat jelas. Dia tahu bercak apa itu.
Matanya terlihat menyalang, rahangnya mengeras. Pikirannya sudah jauh menduga apa yang adik polosnya itu lakukan.
"Nggak beres ini!" gumamnya dalam hati.
Dia meihat ke arah Langit dan menggerekan tangannya di leher memberikan kode pada Langit, tentang apa yang dia lihat di leher adiknya itu.
Dia pun berpamitan dan langsung meninggalkan ruangan tempat Abangnya itu di rawat.
Saat sudah di luar dia segera merogoh ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Abangnya.
__ADS_1
"Bang .. lihat di leher sebelah kiri deket kerah baju, ada tanda ******!" isi pesan yang Bintang kirimkan kepada Langit.
Langit yang membaca pesan itu sedikit kaget.
Lalu dia memanggil Mentari agar mendekati nya.
"Dek... sini!" Panggilnya.
Mentari pun mendekat, dan duduk di pinggir ranjang sang kakak.
"Ya Bang?" tanyanya.
"Kupasin jeruk dong, Abang pengen!" pintanya beralasan.
Mentari mengambil jeruk yang ada di nampan buah-buahan, mengupas tanpa ada rasa curiga.
Langit menatap terus ke leher Mentari, dan pas Mentari menghadap ke arahnya leher kiri nya terlihat. Jelas sangat bercak merah itu di balik kerah baju adiknya.
Seketika tubuhnya melemas, dadanya terasa sesak dan rasa takut melingkupi pikirannya.
"Apa-apaan ini? kenapa adik perempuannya yang terkenal polos itu bisa bertindak nekat seperti ini!" batinnya berkecamuk.
*
*
Bintang sudah berada di depan kamar rawat, yang kemarin dia lihat Mentari keluar dari kamar itu.
Dia mengetuk pintu dan membuka pintu itu, setelah tidak ada jawaban dari dalam.
"Kosong.. kemana isinya?" Bintang mendapati kamar itu kosong.
Tentu saja kosong, beberapa saat sebelum dia masuk, Dafa pergi ke kafetaria untuk membeli kopi.
Ada sebuah kaos putih teronggok di sofa. Dia mengambilnya , seketika wangi parfum adiknya yang begitu dia kenal menyeruak di Indra penciumannya.
Dia mencari petunjuk akan siapa penghuni kamar itu, siapa orang yang adiknya sebut sebagai teman itu.
Namun nihil tidak ada apa-apa. Saat tangannya membuka lemari ada sebuah tas ransel dan dia yakin itu tas pria. karena ada beberapa kaos pria di atas tas itu.
"Sial.. dek, apa yang kamu lakuin sih?" dia menjambak rambutnya frustasi.
Dia berlari ke arah resepsionis, menanyakan siapa penghuni kamar itu. Namun dia tidak mendapatkan jawabannya. karena pihak rumah sakit tidak bisa memberikan data pasien ke sembarang orang.
Akhirnya Bintang pun mengalah dan berlalu pergi menuju kampus.
"Malem dia tidur di kamar cowok kak!" dia kembali mengirimkan pesan pada abangnya. lalu melajukan mobilnya ke arah kampus.
*
*
Langit memejamkan matanya, berpikir apa yang harus dia lakukan untuk menjaga adik perempuannya itu. Bagaimana reaksi ayah jika sudah menyangkut masalah seperti ini. Dia yakin ayahnya akan semakin posesif pada Mentari.
"Kenapa Bang?" tanya mentari melihat perubahan raut wajah Langit.
"Nggak, Abang cuma minta kamu harus bisa jaga diri, harus pilih-pilih pergaulan." Ucapnya menasehati.
"Ngomong apa sih bang? ku nggak ngerti!" tanya nya namun dia tau ke arah mana abangnya berbicara.
"Aku mau pulang dulu ya bang, ada kelas jam sebelas!" pamitnya saat melihat jam sudah menunjukkan hampir jam delapan.
"Hati-hati." ucapnya mengecup sekilas kepala adiknya yang sedang mencium tangannya.
Mentari pun segera berlalu, menaiki ojol pesanannya.
__ADS_1
*
*
Mentari keluar dari kamar mandi masih dengan handuk yang melilit tubuhnya, mengambil baju di lemari namun matanya membulat sempurna saat dia menatap pantulan dirinya di cermin. Dia melihat ada noda merah di lehernya.
"Aduh... mas Dafa, kenapa harus di tandain gini sih?" Ucapnya panik menyentuh lehernya.
Mentari seketika panik, mengingat ke dua kakaknya tadi terlihat aneh. "Pasti mereka tadi lihat ini!" masih mengusap noda merah itu.
Dia menarik sebuah kaos berkerah tinggi, menutupi lehernya yang bernoda hasil perbuatan kekasihnya itu.
...____...
Di kampus...
"Hey.. tadi kakak lu tanya-tanya ke gue." ucap Cindy saat Mentari baru menduduki bangku kelas tepat di sebelahnya.
"Tanya apaan?" Mentari sedikit panik mendapati kakaknya mengorek tentangnya pada Cindy.
"Dia tanya , lu punya pacar nggak?"
"Ya gue jawab aja nggak, gue kan takut lu di marahin!"
"Ughh... makasih sayangku, kamu menyelamatkan aku!" Mentari memeluk sahabatnya itu.
Mentari semakin takut akan hubungan nya dengan Dafa akan segera terbongkar.
Dia yakin hubungan nya dengan data pasti akan di tentang. Tapi sumpah demi apapun dia mencintai lelaki penuh rayuan, lelaki mesum itu, lelaki dengan tingkah-tingkah jahilnya itu. Dia merasa kini hidupnya lebih berwarna semenjak dia mengenal Dafa.
"Aku akan perjuangkan hubungan kita!" gumamnya dalam hati.
*
Kelas pun selesai tepat di jam empat sore. Dia sedang berjalan bersama Cindy ke arah parkiran.
"Tumben lu pake baju kerah Ampe tinggi bener?" Cindy bertanya dengan nada heran.
Mentari hanya tersenyum tanpa niat untuk menjawab.
"Dih.. malah senyum! pasti ada yang di sembunyikan ya?" godanya.
Mentari pun menahan tangan Cindy yang akan menarik turun kerah bajunya itu.
"Asli... ini sesuai yang gue duga." Cindy menatap ke arah wajah sang sahabat.
"Aku harap kamu nggak kelewatan batas ya! kaga diri kamu baik-baik! ucapnya dengan nada serius.
"Apa sih? kan kamu yang bilang kalo pacaran bisa bikin hidup berwarna dan penuh semangat!" ujarnya.
"Iya, tapi harus ada batasan yang membentengi, nggak bisa kamu terobos begitu aja!" Kini Cindy menahan Tangan Mentari.
"Janji ya sama aku, kamu akan jaga diri!" ucapnya penuh rasa khawatir.
"Iya... ish aku juga takut kali di gantung sama ayah dan kedua kakak aku yang udah kayak pacar posesif nya." kekehnya.
"Karena mereka menjaga berlian kayak kamu, mereka sayang sama kamu." Bahasa Cindy tiba-tiba menjadi baku dan kaku.
"Dah lah.. aku pulang, tuh mang Unang dah nunggu!" Mentari berlalu meninggalkan Cindy di depan motornya yang terparkir.
"Aku harap kamu baik-baik aja!" menatap punggung sahabatnya yang kian menjauh.
Bersambung ❤️❤️❤️
terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏, semoga suka, tinggalkan jejak kalian ya, kritik saran pun aku tunggu, jangan sungkan😘😘
__ADS_1
Terimakasih sehat dan bahagia selalu untuk kita semua❤️❤️❤️