
❤❤❤
"Ya ampun, Nak. Maafin ibu, belum rela rasanya Ayah kamu tau soal kamu sekarang." Matanya menatap Helen yang juga sedang menatap nya di sertai rengekan kecil berharap Ibu nya akan menghampiri nya.
"Masuk ... " Dafa membuka pintu mobil.
"Mau kemana?"
"Lebih cepat kamu masuk, lebih cepat selesai masalah kita." Dafa berujar, sambil menuntun Mentari agar segera masuk ke dalam mobilnya.
Mentari menatap Helen yang semakin menjerit histeris saat melihat Ibu nya semakin menjauh.
"Kenapa?" Dafa melihat ke arah seorang wanita menggendong seorang bayi yang tengah menangis.
"Karyawan kamu, ada yang kerja bawa bayi?" Dafa bertanya sambil melajukan mobilnya melewati Helen yang tengah menangis di gendongan Sri karyawan Mentari.
Mentari memandang wajah putri nya dari balik kaca mobil. "Sebentar, Sayang. Ibu nggak akan lama." Hatinya tak tega meninggalkan buah hatinya. Tapi bagaimana lagi, dia tidak ingin Dafa mengetahui keberadaan Helen saat ini.
"Buruan, aku nggak bisa lama." Ketusnya.
"Kenapa? salah, suami bawa pergi istrinya?" Dafa kembali mulai terpancing emosinya.
"Pokoknya aku nggak bisa lama, banyak urusan. Calon istri kamu juga belum selesai aku urusin." Dia membuang wajahnya kesal dan malas melihat wajah pria di sampingnya.
"Apa sih? kamu cemburu?" Dafa menyeringai melirik sekilas pada istrinya yang terlihat semakin cantik dan terlihat semakin berisi. Sial kenapa badanya makin berisi bikin otak berfantasi, dia langsung bangun. Sabar kita bujuk dulu ibu negara. Gumamnya dalam hati.
"Menurut kamu?"
"Kamu ... kamu, nggak enak banget ngedenger nya. Aku masih suami kamu. Seenggaknya, Mas. Kayak dulu." Dafa menyentuh ujung dagu Mentari, mencoba menggoda istrinya.
Mentari menjauhkan wajahnya, menolak sentuhan Dafa.
"Kalo kamu mau nikah lagi, seenggaknya kamu ceraikan dulu aku, Mas." Bentaknya kesal.
"Cerai lagi, cerai lagi yang kamu omongin ngebet banget kayak nya kamu pengen pisah dari aku. Udah ada yang nunggu janda kamu?"
"Apasih? kayak maling teriak maling. Udah tau kamu yang mau nikah lagi malah nuduh aku yang gitu." Kata Mentari dengan nafas yang semakin kasar, dia sesak karena rasa cemburu, kesal, dan kecewa menjadi satu.
"Siapa yang kamu kira istri aku? Anita? dia calon istri Rijal. Aku cuma wakilin Rijal yang lagi nggak bisa dateng." Akhirnya Dafa menerangkan semua.
Mentari menoleh ke arahnya, antara senang dan tak percaya. "Bohong ... "
"Terserah, mau percaya nggak."
Dafa menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di bawah pohon rindang, tak jauh dari butik.
__ADS_1
"Kamu kemana aja selama ini? kenapa pergi ninggalin aku? apa nggak ada maaf buat aku?" Dafa memposisikan tubuhnya menghadap Mentari.
Kini mereka saling berhadapan, " Liat aku, Sun!" Dafa menarik dagu Mentari agar mau menatapnya.
"Apa? waktu itu aku kecewa banget sama kamu!"
"Maaf, please Sun. Maafin aku. Walaupun itu nggak akan merubah dan mengembalikan anak kita." Dafa menautkan jari jemari mereka.
"Maafin aku!" ucapnya lagi.
Mentari diam, Dafa sungguh menyesal dan mengira anak mereka tidak selamat.
"Gimana, kalau dia tau kalau anaknya selamat dan sehat, Apa marah? atau jangan-jangan dia ambil nanti." Pikiran negatif terus saling berdesakan di kepalanya.
Mentari merasakan dadanya terasa penuh dan ngilu, Helen pasti sedang mengamuk sekarang, biasanya akan ada kontak batin antara ibu dan anak apalagi ini masih intens mengasihi.
"Aku pulang sekarang, kalo kamu nggak aku nganter. Aku pulang sendiri, aku harus segera pulang sekarang."
Dafa, menulikan telinganya. Dia menarik mentari dan memegang kepala bagian belakangnya. Menciumnya dengan sangat rakus. "Aku kangen, kangen banget. Kamu kabur terlalu lama. Aku tersiksa, Sun." Ucapnya saat pautan itu terhenti, lalu Dafa kembali ******* bibir itu menggigit kecil bibir Mentari lidahnya sudah bermain dan membelit di dalam mulut istrinya itu. Tangannya yang sebelah menarik pinggang Mentari agar semakin mendekat.
Mentari memukul lengan Dafa, dada nya yang padat menempel sempurna di dada lelaki yang tengah menciumnya rakus itu.
"Cukup, kamu nganggep aku apa? setelah kamu hilang dan nggak peduli. kini kamu bersikap seperti ini sama aku? aku kayak perempuan yang pasrah. Aku menyimpan rasa sakit hati dan kecewa luar biasa sama kamu." Mentari memukuli tubuh Dafa sambil menangis terisak.
"Sayang ... Maafin aku!" Dafa menarik tubuh istrinya itu lalu memeluknya erat, sambil mengelus punggungnya.
Lalu mengusap bibir itu yang sangat candu dan begitu dia rindukan, Dafa kembali ******* benda lembut itu, Kini Mentari tidak se histeris tadi. Hanya dia tidak menolak tapi tidak juga membalas ciuman itu.
"Antar aku ke butik. Dan aku minta waktu sedikit lagi. Aku masih kecewa sama kamu, Mas." Pintanya.
"Jadi, kamu maafin aku?" Tanyanya meyakinkan.
Mentari mengangguk pelan.
Dafa kembali menarik tengkuk Mentari, kembali menyatukan bibir itu, dan menciumnya keras.
Tangannya dengan sengaja turun mengusap leher terus sampai dada istrinya itu. Pautan bibir itu terlepas. "Kenapa ini makin besar dan padat? Tubuh kamu banyak berubah ya? sedangkan aku makin kurus nggak ada yang ngurus." Dafa masih mengelus lembut bulatan sinyal di balik baju itu.
Mentari menepis tangah Dafa, dia takut air susunya merembes karena pijatan tangan suaminya itu.
"Kenapa? kamu masih milik aku kan?" Dafa terlihat frustasi, sesuatu di tubuhnya sudah mulai menggeliat bangkit.
"Iya, tapi nanti setelah aku benar-benar sembuh dari rasa kecewa, dan kamu mendapatkan kembali ijin dari Ayah." Terangnya.
Sesuatu terasa keluar dari puncak dadanya,
__ADS_1
"Aduh, buruan. Aku harus cepet-cepet kembali ke butik." Mentari merengek terus pada Dafa.
"Ok, aku akan lakuin semua. Asal kita mulai semua dari awal lagi." Dafa kembali memberi sebuah kecupan singkat di bibir nya.
*
*
Mentari turun dari mobil Dafa, berlari masuk ke dalam butik nya. "Sri mana?" Tanyanya cemas dengan Helen.
"Di kamar samping, Teh." Jawab seorang pegawai pria yang gemulai.
Lalu Mentari masuk ke arah belakang bangunan butik nya, menuju kamar tempat karyawan nya.
"Helen, Sayangnya Ibu." Mentari memanggil putrinya.
Pandangan nya haru melihat Sri sedang menimang-nimang tubuh Helen yang masih sesenggukan namun matanya sudah terpejam.
"Helen nangis sampai ketiduran, Teh." Sri berkata sembari menyerahkan Helen ke pangkuan bos nya.
"Ughhh ... Maafin Ibu ya sayang." Mentari menciumi wajah Putri nya, seolah tau Ibu nya sudah datang. Helen kembali membuka matanya yang sudah terlihat sembab dan sayu. bibirnya kembali bergelombang siap menangis kembali.
Mentari langsung mengeluarkan pucak dadanya, dan langsung Helen meraup nya dengan rakus. Bayi itu meminumnya sampai berdecak bersuara, menelannya dengan cepat hingga suara tenggorokan yang sedang menelan pun terdengar jelas.
"Putri Ibu, haus banget. Maaf ya, Ayah kamu kelamaan ngajak ngobrol nya."
"Sri, bilang ke lelaki yang ada di depan kalo dia nyari saya, bilang nggak bisa di ganggu." Mentari berkata kepada Sri, sambil mengasihi Helen.
"Teh ... "
Sri memanggil nya.
"Udah, cepet entar dia nyari saya. Saya nggak mau dia liat Helen sekarang." Mentari menggerakan tangannya mengusir Sri.
"Ta_tapi ...."
Sri menghentikan ucapannya.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰
Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤
__ADS_1
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰