Kisah Mentari

Kisah Mentari
Bedak dingin


__ADS_3

...----oOo----...


Bintang menuruni tangga, mencari keberadaan Bunda nya, dia takut terjadi apa-apa dengan benda paling berharga yang dia miliki.


Saat melihat keadaan rumah sepi, dia berjalan ke arah dapur saat mencium wangi masakan.


"Bun... " Panggilnya saat melihat ibunya tengah berada di depan kompor.


Bunda berbalik, "Apa? sarapan? tuh Bunda udah bikin nasi goreng." Katanya, lalu kembali mengocek panci yang entah berisikan apa.


Bintang duduk dan langsung menyendok beberapa centong nasi goreng ke atas piring nya.


Dia makan dengan lahap, melupakan tujuan awalnya berkonsultasi dengan sang Ibu.


Namun saat makan tangan kiri nya sesekali menggaruk bagian bawahnya.


"Bintang... jorok." Bunda yang tak sengaja melihat apa yang di lakukan anaknya langsung berteriak dari depan kompor yang tak jauh dari meja makan.


"Pake celana ini Bun, gatel." Katanya membela diri.


Bunda ikut duduk di sebelah nya, "Iya, tapi Bunda jijik ngeliatnya." Timpal wanita cantik itu.


Bintang menenggak air putih nya dan menoleh ke arah pintu dapur yang menghubungkan dengan ruang tengah.


"Ayah, mana Bun?" bisiknya.


"Masih, tidur. Semalem kan nungguin Cindy. Ponakan kamu nambah, Abang kamu anaknya cowok, ganteng banget." Jelasnya dengan antusias dan bahagia.


"Iya, pasti dingin jutek kek bapaknya. Atau bawel kek mak nya." Cibir nya.


Bunda menepuk keras paha putranya itu. Tak terima cucu nya di ledek.


"Bun, aku mau curhat." Bintang mendekat ke arah Bunda nya.


"Apalagi? Naya lagi?" Tebak nya, sambil mengupas sebuah jeruk.


"Bukan... " potongan nya, sambil kembali menggaruk bagian bawahnya.


"Ini, ini aku gatel Bun!" Bisiknya.


"Kenapa? is jorok. Sana sama Ayah ngomong nya, Bunda nggak tau." Entah kenapa mendengar kalimat yang menjurus ke arah itu dari putranya dia merasa malu sendiri.


"Lah, kalo sama Ayah . Nanti aku malah di ledek, di omelin di gibahin." Rengeknya.

__ADS_1


Bunda terdiam sambil memakan jeruknya.


"Terus, bunda bisa bantu apa?bunda nggak ngerti kalo soal bagian laki-laki. Kalo adek kamu yang cerita mungkin Bunda ngerti."


"Kenapa emangnya? "


"Semalem... aku, ehmn ya itu lah. Terus aku pake lotion, aku kira itu handbody punya Helen."


Bunda masih menyimak kata-kata, "terus?"


"Ternyata, hair lotion mana udah kadaluwarsa tiga bulan lalu. Jadinya gatel Bun... " wajahnya memancarkan aura masa depan yang terancam suram.


Bunda seketika terbahak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Ampun punya anak, se ajaib gini." Dia masih terkikik geli.


"Terus aku harus gimana Bun?"


"Pake bedak... " Bunda kembali tertawa...


"Bedak? nggak ah... nggak keren pisang pake bedak." Bintang mendengus kesal.


"Ya udah pake lotion dingin, buat yang gatel-gatel." Bunda kini semakin keras tertawa nya hingga dia memegangi perutnya yang terasa keram karena tertawa yang tak henti.


"Haduh, terus ntar pisang aku kayak yang di cat dong Bun. Putih semua, kek yang bulukan(jamuran).


"Bun, serius... Ya, udah. Nanti sore aku kan mau ke Jakarta. Ketemu Naya, ntar mau suruh dia liat. Biar di obatin, dia pasti tau obatnya kan perawat." Katanya sambil bangun dari kursi dan bersiap- siap mendapatkan serangan dari ibu nya.


"Apa kamu bilang? enak aja, terus kalo udah kamu liatin berharap yang lain pasti, dasar budak ini... " Bunda berlari mengejar anaknya yang berlari kecil menjauh , dia membawa sapu yang tergeletak tak jauh dari meja makan.


Bintang berlari ke arah tangga, sambil tertawa. Mana mungkin dia memberi tahu Naya, ini aib bagi benda kebanggaan nya.


"Jangan lupa sore ngumpul di rumah sakit, liat ponakan ganteng kamu." Bunda berteriak di bawah tangga.


Bintang hanya mengacungkan jempol nya di undakan tangga teratas.


*


*


Sore hari di rumah sakit.


Semua keluarga Gunawan berkumpul di salah satu kamar rawat, mengelilingi sebuah box berisikan member baru keluarga Gunawan.


"Lucu... " Mentari mengusap pipi keponakannya.

__ADS_1


"Ganteng nya.. " Ucapnya lagi, yang kini menggerakkan tangannya hendak menggendong bayi itu.


"Iya, dong kayak papa nya... " Langit berujar dengan bangga.


Ayah yang sedang duduk di sofa seketika ikut bersuara, "liat dong ganteng Papa nya turun dari siapa?" Ujarnya menimpali tak mau kalah.


Bintang yang baru datang mencebik sebal, "Lama-lama yang udah di bawah kubur juga dateng, ikut menyombongkan diri." Katanya ketus.


"Kak... apaan sih ngomong yang nggak-nggak." Bunda lagi-lagi menepuk nya.


Bintang hanya cengengesan seperti biasa.


"Bun, aku pamit ya. Mau ke Jakarta, ngapel."Pamitnya.


" Alah, ngapel terus. Halalin dong, biar bisa punya yg lucu gini."Ayah yang sedang melahun Helen melontarkan sindiran nya.


Bintang hanya mendengus pasrah, sambil pamit ke semua orang. Dan berlalu keluar dari ruang rawat itu.


Meninggalkan anggota keluarga nya yang tengah berbahagia mendapatkan anggota baru.


Dia kesal, dia pun tak sabar. Siapa yang tak ingin menikah, apalagi setelah mendapatkan wanita yang di rasa sudah cocok dengannya.


"Harus ngomong lagi nih, kapan sih dia siap gue lamar." katanya dalam hati.


Dia pun melenggang masuk ke area parkiran dan menuju mobilnya, dari sudut matanya dia melihat Intan yang sedang membaca buku di sebuah kursi taman di area dekat parkiran.


"Si lelet... cantik juga... Eh, anjim... ngapain gue muji si lelet." Gumamnya sambil membuka pintu mobil.


Di dalam mobil dia kembali melihat Intan yang sedang serius membaca.


Lalu dia menggelengkan kepalanya membuyarkan segala lamunan tentang perempuan di depannya.


Mobil pun dia kemudikan keluar dari rumah sakit swasta di Kota Bandung itu, menuju tol yang akan membawanya ke Jakarta.


"Naya.... aku datang... siapkan mental mu... " Teriaknya antusias.


"Aduh... kenapa masih gatel sih," Bintang kembali menggaruk bagian bawah tubuhnya. "Bisa gagal ganteng gue, kalo depan Naya. Bakal ilfeel dia, mending mau bantuin garuk... Eh.. " Dia tertawa membayangkan kegiatan yang pasti akan sangat asik.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.


Cuma mau mengingatkan yang udah nge favorit in cerita ini jangan di un fav lagi dong, Tiba-tiba naik ntar tiba-tiba berkurang lagi. Aku kayak yang di kasih jajan terus di pinta lagi 🤭🤭 Tapi bebas sih gimana kalian aja lah, susah nggak bisa maksa☺☺ Terimakasih yang masih setia mendukung, semoga berkah dan tidak mengecewakan🥰🥰🥰

__ADS_1


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘


__ADS_2