Kisah Mentari

Kisah Mentari
selangkah lagi


__ADS_3

❤❤❤


Dafa sedang mengendarai mobilnya.


Saat dia melihat Mentari keluar dari sebuah apartemen di pinggir kota Bandung, dengan mobil sama yang dia lihat di malam hari itu.


Istrinya itu sedang membuka kaca mobilnya berbicara pada security apartemen itu.


"Sun ... akhirnya, aku nggak akan membiarkan kamu kembali lolos." Dafa amat senang, rasa rindunya semakin menjadi tat kala melihat senyum yang sekian bulan tidak ia lihat.


Lalu dia mengikuti kemana mobil Mentari pergi, dia terus mengikuti. Hingga mobil itu berbelok ke sebuah butik bernama "Helen mode"


Dafa diam di sebrang jalan, masih mengamati butik itu, dia masih menerka-nerka apakah Mentari pelanggan atau bekerja di butik itu.


Lelaki itu masih mengamati bangunan butik setinggi dua lantai itu. "Kok, nggak keluar-keluar?" dia semakin gelisah, bahkan jantung nya semakin berdetak kencang.


****


Saat sedang menunggu...


Dering ponselnya membuyarkan segala lamunan dan fokusnya pada butik di sebrang nya itu.


Dafa melihat siapa yang menghubungi nya, "Papa,"


Gumamnya.


"Ya, Pa ... "


" ... "


"Nggak bisa besok?"


" ... "


Dafa memejamkan matanya, saat dirinya harus meninggalkan Mentari, saat selangkah lagi mereka akan bertemu. Hanya untuk menggantikan Papa nya menghadiri meeting dengan salah satu perusahaan yang akan membangun proyek untuk beberapa cabangnya.


"Astagaaa ... Ada aja penghalang." Dafa menggerutu sepanjang jalan menuju kantor milik Papa nya itu.


Mobil hampir masuk ke pelataran parkir, dering ponsel kembali terdengar.


"Hemmm ... " Jawabnya malas, saat tau Rijal yang menghubungi nya.


" ... "


"Sama siapa?"


" ... "


"Apa? Helen mode? ok, gue besok ke sana."


Sebuah senyuman antusias terpancar dari Wajah Dafa.


"Nggak sekarang, besok mungkin. Tunggu aku Sun!"


Lalu, mobil pun dia parkirkan. Dan Dafa langsung berlari memasuki ruang meeting.


*


*


Tok ... Tok ...


Dafa mengetuk Pintu saat memasuki ruang meeting. Walaupun kantor milik sang Papa, tapi dirinya menjaga etika.


Menganggukan kepalanya kepada beberapa orang yang sudah duduk rapi di meja besar berbentuk oval itu.


Setelah duduk pandangan nya menyapu ruangan, dan tatapan matanya bertemu dengan sosok tak asing. "Abang" Gumamnya. Saat melihat kakak iparnya.


Langit menatapnya penuh kebencian, jika bukan karena pak Rudi pemegang 40% saham Ayah, yang menyarankan perusahaan kontraktor milik Ayah Lelaki bajingan yang telah membuat adiknya tersakiti dan berjuang sendiri.


"Laki-laki bajingan," ucap Langit dan mengepalkan tangannya, dengan sorot mata sinis memandang Dafa yang duduk di kursi tunggal pemimpin.


Berbeda dengan Dafa, dia malah senang bertemu Langit, pikirnya ini kesempatan untuk mendapatkan informasi tentang istrinya.

__ADS_1


"Dia, pasti tau di mana Sun," pikirnya.


Rapat pun berjalan dengan lancar, saat satu persatu orang keluar dari ruang meeting. Dafa menahan Langit.


Langit menghempaskan lengannya, saat Dafa menahannya. "Apa?" bentaknya.


"Gue, ngeliat Suny ... eh Tari maksudnya. Keluar dari apartemen xxxxx, terus ke sebuah butik." Dafa berucap dengan nada lemah, dia sudah tidak ada tenaga untuk selalu berdebat sudah lelah rasanya dia menanggung rindu untuk istrinya selama ini.


Langit yang sudah menghampiri pintu lalu berbalik, "terus mau lu apa? mau lanjut nyakitin adek gue?" ketusnya.


Dafa langsung menggeleng kencang, "nggak ada Bang, gue kangen ... mau minta maaf, please Bang! walaupun dia nggak mau balik lagi sama gue, seenggaknya dia mau maafin gue. Gue nggak ada di saat-saat dia terpuruk kehilangan calon anak kami."


"Dan gue nyesel, nyesel banget." Dafa berkata dengan suara bergetar menahan sakit di hatinya, jika mengingat semua perbuatannya pada sang istri.


Langit melihat raut penyesalan di mata Dafa.


"Serius, kamu mau berubah?" tanyanya


Dafa mengangkat wajahnya, "Iya Bang, serius." Angguknya meyakinkan Abang dari wanita yang paling dia cintai.


"Iya, emang Tari tinggal di apartemen itu. Sedangkan butik itu ..., hadiah dari Ayah ketika ... "


"Ketika dia ninggalin gue, kan Bang?" Dafa memotong ucapan Langit.


Langit sedikit mengernyit, dan baru menyadari jika Dafa tidak tau kalau kandungan Mentari selamat, bahkan sekarang telah lahir princess, yang kini tumbuh dengan sehat dan lucunya.


"Nanti, besok malem ke rumah lu ngomong ke Ayah sama Bunda, minta maaf. Kalo di acc gue kasih tau akses buat bisa ketemu Tari." Bibirnya sedikit melengkung, membayangkan seperti apa reaksi keduanya jika bertemu.


"Bunda?" tanyanya bingung.


"Iya, keluarga kita udah kumpul lagi." Jelasnya.


Dafa hanya mengangguk mengerti.


"Jangan dulu, ke apartemen nya. Ada Bintang di sana, ntar malah gelut lagi." Langit terkekeh dan berlalu.


Dafa mengepalkan tangannya, dia berjingkrak-jingkrak karena selangkah lagi dia akan bisa bertemu dengan Suny nya. Apalagi besok dia akan mewakilkan Rijal untuk fiiting jas pengantin di butik yang baru dia tau, itu milik istrinya.


Sebuah rencana melintas di kepalanya, dan dia akan mengetes Mentari, apakah masih ada harapan atau tidak untuk mereka bersatu.


*


*


Di lain tempat


"Pak, ini sudah tidur bayinya. Lagian saya harus keliling lagi!" dia menggerutu.


Bintang yang baru menyelesaikan makan sambil bermain game itu, hanya menoleh sesaat. "Oh, udah tidur? yuk, bawa ke mobil. Takutnya pindah gendongan dia malah bangun lagi." Ujarnya seraya bangkit dan menjentikkan jarinya memanggil seorang pelayan.


Setelah memberikan sebuah kartu untuk membayar semua tagihan, dia menghabiskan jus mangga nya.


"Loh, kok minum kamu nggak di minum? nggak suka?" tanyanya melihat minuman yang di pesan gadis itu masih utuh.


"Pak, gimana aku bisa minum? dari tadi nimang-nimang bayi tanpa gendongan pula! bapak kira bayi cantik ini nggak bikin pegel saya? saya juga haus ... "


Belum selesai dia berbicara, Bintang menyodorkan gelas itu ke hadapannya. "Nih, minum. Jangan berisik, tuh gelas jus nggak akan nyamperin kamu." Ucapnya menyebalkan.


Wanita itu hanya terpaku saat gelas jus sudah di depannya, dan Bintang memegangi sedotannya tepat di depan bibirnya.


"Ck, muka nya merah! nggak usah baper, gue lagi nggak naf*su ama cewek secantik apapun." Kembali dia berucap songong.


"Bapak yang geer. Aneh, narsis banget sih." Gerutunya.


Bintang hanya tertawa mendengar omelan wanita di depannya.


Seorang pelayan menghampiri dan menyerahkan kartu dan struk pembayaran pada Bintang.


"Yuk, kasian bayi kesayangan gue." Ajaknya lalu keluar dari cafe meninggalkan wanita yang dengan tidak tau malunya dia jadikan pengasuh dadakan.


"Cowok gila ..." Dia menatap punggung Bintang yang berjalan dengan santainya meninggalkan anaknya, "ayah kamu nyebelin, Untung kamu cantik sayang." Lalu dia mencium pipi bulat Helen yang merona.


"Hey ... "

__ADS_1


"I_iya," Lalu dia berjalan cepat menghampiri Bintang yang sudah membuka pintu mobil bagian belakang.


"Nyenyak, ya sayang." lalu kembali mengusap pipi bulat Helen, sebagai perpisahan.


Dia mendongakkan wajahnya menatap lelaki ini, yang dia rasa pernah bertemu tapi entah di mana.


"Makasih," ketusnya.


"Iya,"


Bintang pun mengelilingi mobilnya dan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Gitu doang? asemmm ... cowok gila." Gerutunya kesal.


Dia pun kembali berjalan ke arah motornya, dia memeriksa beberapa amplop dokumen yang dia gantung di motor. Lalu melihat kembali alamat yang akan dia tuju.


"Semangat, harus secepatnya dapet kerja." Dia menyemangati hatinya.


*


*


Bintang terus tersenyum dalam mobil, seketika dia membola, dan langsung menginjak rem. "Kagak nanya namanya." Kata Bintang melirik ke arah belakang, di mana perempuan tadi sudah hilang.


"Dih, dah ilang aja! Jangan-jangan .... " Lalu dia bergidik dan kembali melajukan mobilnya ke arah rumah orang tuanya.


Bintang menerka-nerka, merasa pernah bertemu perempuan tadi, tapi entah dimana.


Tak lama dia tiba di depan rumah orang tuanya.


Mobil pun masuk, terlihat Bunda nya tengah menggunting bunga-bunga hias koleksinya.


Bintang membunyikan klaksonnya.


Keluar dari mobil dan memutari mobilnya, Bunda yang tengah memegang gunting dan selang air melihat heran padanya.


"Pakettt ..." Cengirnya.


"Apa sih kamu?" Bunda menatapnya aneh.


"Usir, Bun. Kita nggak pesen paket." Ayah yang baru keluar ikut menyauti ucapan Bintang.


"Asiap, gitu Bun jawabnya! nanti aku kasih paket special." Rengeknya.


"Aku ulang ya?"


"Pakettt ... "


"Asiappp." Ayah yang berteriak menjawab


Bunda hanya terkikik geli, melihat kelakuan suami dan anak ke dua nya itu.


"Aishhh ... Asemmm."


"Buruan, mana paketnya? semprul." Ayah berjalan mendekati.


Bintang membuka pintu mobil nya.


"Nih, paket special." Tangannya merentang menunjuk ke dalam mobil.


"Ya, Ampun ... kesayangan Nenek." Bunda menjerit senang.


"Yah, ambil dulu. Bunda cuci tangan dulu, kotor." Pintanya pada sang suami.


Ayah pun sumringah melihat cucu nya, yang tengah terlelap tidur. "Si cantik Kakek." Bisiknya, sambil menciumi pipi Helen yang ada di gendongan nya.


Bintang mengikuti dengan tas kecil milik Helen.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤


Terimakasih juga buat teman-teman, terutama Mak fit author hedon, yang udah promosi in cerita bubuk rengginang ini🙏🙏 semoga suka ya🥰🥰


__ADS_2