
🌹🌹🌹
Kini mereka tengah makan siang di salah satu restoran khas perbukitan, menampilkan view kota Bandung yang terlihat jelas dari tempat mereka makan.
"Pelan-pelan makannya?" Dafa berujar saat melihat Mentari makan dengan begitu lahapnya.
Mentari hanya menyeringai lalu melanjutkan kembali makannya.
"Habis ini kamu anter aku pulang?" tanya nya.
"Nggak lah, kan mau nikah!" ujar Dafa serius.
"Mas, jangan bercanda!" Mentari menatap pria di depannya itu.
"Serius, aku bakal pastiin besok kamu udah jadi istri aku!"
"Nggak mungkin segampang itu, kamu kira bisa dapet Restu ayah dengan mudah?" tanya nya meragukan.
"Bisa... kamu nggak mau?" Dafa menatapnya
"Mau, mau banget. Tapi ini nggak akan mudah!" Lirih Mentari.
"Pesimis, ikutin aku aja. Tau besok kita di nikahin!" jawab Dafa yakin.
"Mas... jangan macem-macem, aku takut!" Mentari menggenggam tangan Dafa.
"Takut apa? tenang aja. Ini kan tujuan kita?" Dafa tersenyum menatap wajah Mentari yang tercengang.
"Aku nggak bisa bayangin... kita bakalan bisa nikah secepat ini, nggak mungkin deh." Mentari masih menatap wajah Dafa yang masih terlihat santai tapi meyakinkan itu.
"Yuk... kita lanjutin misi nikah muda kita!" Ajak Dafa sambil bangun dari duduknya.
"Mas... kenapa aku jadi takut!" Mentari mengekor Dafa ke arah kasir.
"Hehehehe... takut apa? semangat dong!" Dafa mengepalkan tangannya ke atas
"Kita berjuang... untuk hidup yang lebih berwarna!" ucapnya sambil merangkul Mentari ke arah mobil.
*
*
Di rumah besar.
"Pa... Neng Chaca ke rumah den Iqbal, tapi barusan Mang Unang jemput, katanya udah pulang dari tadi!" Mbok berkata dengan cemas saat melihat majikan nya itu pulang.
"Dari kapan dia perginya?" tanya lelaki itu menahan emosinya yang kembali memuncak.
"Tadi pagi, katanya jenuh di rumah. Ya saya ijinin lagian ke rumah kakak nya." Bela mbok Tini.
Helaan nafas berat terdengar dari mulut lelaki gagah itu.
"Saya bela-belain pulang, buat ngebujuk dia ngasih pengertian. Anak itu malah kabur lagi!" pria paruh baya itu mendengus kesal sambil menghubungi Langit.
"Adek kamu kabur lagi! cari dia bang!" ujarnya kemudian menutup panggilan itu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Gimana aku ngadepin gadis kita Bun? aku nggak bisa ngerangkul hatinya, seandainya kamu ada!" ucapnya lirih pada selembar foto wanita cantik dengan mata coklat mirip sekali dengan sang putri.
Ayah Gunawan merebahkan tubuhnya yang mulai renta, dia lelah lahir maupun batin, pikirannya bercabang kemana-mana.
*
*
"Mas... kenapa kita berhenti di sini?" Mentari bingung saat Dafa berhenti dekat pemukiman warga.
Dafa tak menjawab dia sibuk dengan ponselnya.
"Mas...
"Iya, Sun?" jawabnya tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponsel.
"Kita ngapain di sini?" tanyanya dengan nada kesal.
"Sebentar, aku selesaikan dulu urusan yang ini!" ijin lelaki yang mengklaim akan segera menjadi suaminya itu.
__ADS_1
Mentari pun terdiam, mau menyalakan ponsel takutnya dirinya kembali di lacak oleh ke tiga pria posesif nya.
Dia melihat sekeliling terlihat nyaman asri rumah-rumah yang di kelilingi halaman hijau khas pedesaan.
"Aku keluar boleh ya?" tanya nya pada Dafa yang masih sibuk berkutat dengan ponselnya.
"Jangan jauh-jauh, kamu nggak tau daerah ini nanti malah nyasar." lelaki itu menginterupsi sang pacar.
"Iya, cuma ke situ aja!" ucap Mentari sambil berlalu melihat pemandangan sekitar.
Dia menatap rumah-rumah yang nyaman, dengan pekarangan di tumbuhi berbagai jenis bunga dan sayur.
"Seger banget sih udaranya, hunian nyaman, anak-anak berlarian bikin hati tenang." gumamnya dalam hati.
Warga yang ramah juga anak-anak yang bermain bercanda dengan riangnya, seakan menghipnotis dirinya terus menyusuri pemukiman itu, tak terasa dia berjalan semakin jauh dari mobil Dafa terparkir.
"Hah... ini di mana?" ucapnya panik.
Dia berjalan kembali namun langkahnya malah membawa dirinya semakin dalam masuk ke perkebunan sayur.
"Ya Tuhan, ini di mana? kenapa semakin sepi, jalan besar nggak keliatan lagi!" tubuhnya bergetar dia takut.
"Mas..." air mata mulai menetes.
Mentari menangis semakin dia berjalan mendekati perumahan warga yang tadi dia lewati. Langit sudah mulai mendung seperti nya akan segera turun hujan. Dan dia belum menemukan jalan besar.
Benar saja, hujan turun langsung dengan derasnya tanpa aba-aba gerimis dulu.
Mentari berlari mencari tempat berteduh, air mata menyatu dengan cucuran air hujan.
"Mas... aku ke sasar," ucapnya sambil menangis di bawah guyuran hujan dia berteduh di sebuah saung reyot tempat para pekerja kebun berteduh.
Mentari ketakutan dia terduduk di saung itu, mengeratkan tubuhnya yang kedinginan, lutut yang tertekuk itu dia dekap erat.
Masih menangis menenggelamkan wajahnya.
"Mas..." jeritnya dalam tangis.
"Iya..."
Suara itu, suara yang sangat dia tunggu-tunggu.
"Mas..." Tangis mentari semakin kencang, namun hatinya lega, akhirnya Dafa menemukannya.
"Udah aku bilang jangan jauh-jauh, tetep aja!" gerutu nya kesal.
"Maaf..." dia berhambur kepelukan lelaki itu.
"Maaf... aku nggak dengerin kata-kata kamu, Mas!" sesalnya.
Dafa hanya membalas pelukan itu sambil mengusap-usap punggung Mentari. Lalu dia kecup pucuk kepala yang sedikit basah.
Padahal setengah jam yang lalu dia panik karena Mentari tak ada di sekitar mobilnya, juga langit yang tiba-tiba menggelap. Dia berjalan menyusuri jalan yang kira-kira di lewati Sang kekasih hatinya itu.
Dia tidak bisa bertanya pada orang-orang karena keadaan hujan lebat, jadi orang-orang memilih berdiam diri di rumah.
Dafa terus mencari Mentari menyusuri jalan sambil mendekap sebuah Hoodie dan memegang payung. Saat dia melewati jalan menuju lahan perkebunan yang luas, Dia melihat seseorang terduduk di sebuah saung yang berada di tengah-tengah Kebun.
Dia tersenyum lega telah berhasil menemukan wanita yang dia yakini akan segera menjadi istrinya itu.
"Dasar si gadis polosku, untung sayang!" ujar nya sambil berjalan mendekat.
Saat semakin dekat dia mendengar suara lirih Mentari memanggil-manggil namanya.
Saat sudah berada di depannya dia pun menjawab panggilan itu, dan langsung mendapatkan pelukan dari si pemilik suara manja itu.
*
*
"Mau di sini dulu?" tanya Dafa saat pelukan itu terurai.
Mentari menggelengkan kepalanya.
"Nggak mau, bau itu tuh!" tunjuknya pada tumpukan karung pupuk di belakangnya.
__ADS_1
Dafa tertawa lalu memberikan Hoodie yang dia pegang sedari tadi, "pake nih dingin!" titahnya.
Mentari langsung memakainya, kebesaran tentu saja itu kan milik Dafa yang jauhnya lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya.
"Ayo ke mobil!" ajaknya mengulurkan tangannya agar di genggam Mentari. Lalu mereka berjalan di bawah payung yang sedikit melindungi dari guyuran air hujan.
Tak butuh waktu lama mobil Dafa terlihat.
"Kok nggak jauh ya? perasaan aku dari tadi muter-muter malah makin ke sasar." ucapnya heran.
"Masa?" Dafa terkekeh mendengar ucapan polos Mentari.
"Huum." Mentari mencebikkan bibir nya.
Dafa tak kuat jika Mentari sudah bermain dengan bibirnya.
"Nggak usah di gini-giniin bibirnya!" ucap Dafa sambil mencubit gemas bibir milik sang kekasih.
...-------...
Dafa membuka pintu mobil bagian belakang.
Mentari masuk tanpa pikir panjang karena hujan yang semakin deras.
"Dingin banget ya!" Mentari mengusap-usap lengannya yang kedinginan.
"Sini aku peluk biar anget!" Dafa merentangkan tangannya.
"Dih... modus kamu Mas!"Mentari memukul tangan yang akan merangkulnya.
Ponsel Dafa berbunyi nyaring menggema di dalam mobil itu. Dafa langsung menjawabnya.
"Udah siap? ok sepuluh menit lagi kita mulai!" Ucapnya pada seseorang di seberang sana.
"Siapa Mas?"tanya Mentari penasaran akan perbincangan Dafa yang terasa ambigu.
Dafa hanya tersenyum sambil mengusap pipi mentari yang terasa dingin.
"Buka baju kamu..." ucapnya
"A... apa? apa maksud kamu suruh aku buka baju mas?" jawabnya takut.
"Buruan buka baju kamu!" ucap Dafa sambil membuka kemeja flanel yang dia kenakan.
"Mas... apaan sih?" Mentari semakin takut.
"Buruan buka baju kamu, kita mulai semua sekarang!" Dafa terus melakukan kegiatannya melucuti pakaian yang dia kenakan.
"Nggak mas, aku nggak mau. Bahkan ini di daerah pemukiman!" Mentari menahan tangan Dafa yg sedang sibuk melepaskan kemejanya.
"Mas... cukup!" Mentari berteriak kesal.
"Sun...
Dafa mendengus frustasi, dia menggeser duduknya mendekati Mentari.
"Percaya sama aku, kita udah sepakat bukan?" bisiknya lalu mengecup lembut bibir itu.
"Buka ya... kancing nya aja, kalo kamu nggak mau!" Dafa kembali ke aktivitas nya yang Mentari hentikan tadi.
"Ayo... buruan!" titahnya kembali.
Mata Mentari membola saat Dafa mengeluarkan sebuah bungkusan "sebuah kon*dom" gumam mentari dalam hati.
"Kon*dom?" Akhirnya kata itu keluar dari mulut Mentari, dengan takutnya dia menatap ke arah lelaki di depannya.
Dafa menatapnya dengan wajah yang tak dapat Mentari artikan.
"Iya, kon*dom!"Jawabnya santai.
"Mas....
Bersambung❤️❤️❤️
makasih yang sudah mau baca🙏🙏
__ADS_1
semoga suka🤲🤲, like komen nya jangan lupa kritik saran juga aku terima😘😘🤗🤗
Sehat dan bahagia sellau buat kita semua❤️