Kisah Mentari

Kisah Mentari
Pasrah


__ADS_3

❤❤❤


Bintang tiba sore hari di rumah Ayah.


"Helen ... Papi pulang," Teriaknya masih di ambang pintu.


Mentari melotot saat mendengar suara teriakan kakaknya.


"Helen, sayang Papi .... " ucapannya terhenti kala Mentari meletakan telunjuknya di bibir, tanda dirinya harus diam.


"Baru tidur, berisik. Aku mau pulang." Bisiknya.


"Jangan pulang dulu, aku kangen Helen." Bujuknya.


"Lah, ngelayap mulu. Kenapa sih sering banget ke Jakarta?" Ampir dua hari sekali, aku curiga." Mentari menyipitkan matanya memandang penuh kecurigaan.


"Yap ... kecurigaan kamu bener seratus persen. Hahaha ... " dia tertawa kencang.


Mentari mendekap Helen yang seketika mengerjap kaget akan suara papi nya.


Ya, panggilan Helen untuk Langit adalah Papa, dan untuk Bintang adalah Papi.


"Astaga, suara nya Kak." Mentari merengek kesal sambil menimang Helen kembali.


"Sorry, abis aku seneng kamu bisa baca otak aku, yang IQ nya luar biasa ." Kekehnya.


"Luar biasa mesum nya, aku percaya." Sindirnya


Bintang menaiki anak tangga menuju kamarnya, "Eh, Bunda kemana? sepi banget biasanya lagi dua-duaan sok mesra ama Ayah." Tanyanya dari undakan tangga paling atas.


"Lagi ke rumah sakit, periksa Bunda. Kayaknya Bunda hamil." Mentari terkikik geli.


"Apa ....? kamu jangan ngada-ngada." Bintang berlari menuruni anak tangga, dia kembali menghampiri Mentari yang tengah menimang keponakan cantiknya.


"Iya, udah dari kemarin katanya Bunda mual-mual. Tadi pagi aku dateng malah muntah-muntah, Ayah langsung pulang dan bawa Bunda ke rumah sakit.


" Astaga , kenapa mereka masih produktif? harusnya tinggal menunggu hasil kita. Biar kita aja yang produktif." Bintang melemas di atas sofa.


Mentari hanya tertawa melihat kelakuan kakaknya.


*


*


Sebuah suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Langkah kaki terdengar memasuki ruang tamu.


"Heleeeennn, Papa pulang." Langit yang pulang.


"Shhhttt"


Mentari menggelengkan wajahnya saat dari arah depan Langit sudah menyeringai. Seketika dia pun mengatupkan mulutnya.


"Cup ... " Langit menyapa hanya memberikan kecupan di pipi bayi montok itu.


"Sus, boleh tolong gendong sebentar. Di taman aja biar udara nya asri, kelamaan diem di ruangan ber AC." Ucapnya.


"Titip sebentar ya, bentar lagi saya pulang." Saat dia mengalihkan tubuh Helen pada susternya.


Langit duduk di sebelah Bintang yang terlihat lemas.


"Kenapa lu?" tanyanya sambil meminum jus mangga milik Mentari.

__ADS_1


"Bunda, hamil." lelaki itu menangkup wajahnya.


"Pffftt .... "


"Yang bener lu kalo ngomong, sembarangan." Langit menendang kaki Bintang di sebelahnya.


"Noh, tanyain ke si bontot. Dia yang bilang." Menunjuk adiknya dengan dagu.


"Apa, aku cuma tau dari Bunda. Dari kemarin mual terus, tadi pagi waktu aku nganterin Helen ke sini, Bunda muntah-muntah. Ya aku telpon Ayah." Terangnya.


"Amazing ... " Langit menggelengkan kepalanya takjub, atas berita yang dia dengar di sore itu.


"Gue sebel, kesel. Kenapa bisa?" gerutunya.


"Ya, Bisa lah. Berarti Ayah sama Bunda masih berjiwa muda." Suara lelaki paruh baya terdengar dari arah pintu depan.


Mereka semua menengok, dan melihat Bunda mereka tengah di gandeng oleh Ayah mereka.


"Bun? gimana?" Mentari mendekati.


"Hamil udah dua bulan." Ayah menjawab dengan wajah ceria.


"Argghhh .... " Bintang mengacak rambutnya.


"Hahaha kamu kenapa? sirik dengan ke perkasaan Ayah?" tanya Ayah sombong.


"Yah, nggak kasian apa sama Bunda? kasian tau udah tua masih di hamilin!" Protes nya.


"Ayah, nggak ada kerjaan." Bunda menepuk lengan sang suami.


"Ini gimana sih?" Langit bertanya dengan mimik wajah serius dan penasaran.


Ketiga anak-anaknya itu langsung menghela nafas lega, bahkan Bintang berteriak dan berjingkrak senang.


"Udah, Bunda ke kamar dulu ya." Lalu Ayah mengikutinya.


"Yah, rem dong jangan ngamar terus. Atau pake sarung." Bintang berucap saat Ayah hampir menutup pintu.


Ayah yang belum sepenuhnya masuk kamar langsung menoleh, dan melihat tempat tisu di dekat meja TV, dan dengan arahan penuh kekesalan dia lempar ke arah Bintang.


"Bluk ... "


Tempat tisu tepat mengenai kepalanya.


"Budak semprul ... " Ayah lalu menutup rapat pintu kamar.


"Tuh, udah ngamar aja! gue takut bakal kejadian. Lu kagak jadi bungsu. Dan Helen lebih tua tante atau om nya." Bintang berucap risau.


Langit masih senyum-senyum namun bukan karena ocehan Bintang, dia tersenyum membaca chat di ponselnya.


"Aku, pulang deh. Udah mau malem." Dia melambaikan tangannya pada suster yang sedang menggendong Helen di dekat meja makan.


Mentari masuk ke kamar orang tuanya untuk pamitan, dan juga ke dua kakak laki-laki nya.


"Kenapa nggak di sini sih dek? bikin capek sendiri aja." Langit mengantarkannya ke teras sambil terus menciumi Helen yang tertidur di gendongan Mentari.


"Pengen jadi orang tua sesungguhnya." Mentari meletakkan Helen di carseat di kursi belakang.


Mobil pun keluar dari rumah besar itu, menuju apartemen nya yang tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu kurang dari 40 menit perjalanan itupun jika macet, jika jalanan lancar kurang dari 30 menit sudah sampai.


*

__ADS_1


*


"Asli? lu mau nikah?" Dafa tak percaya Rijal yang terlihat cuek ternyata sudah menjalin hubungan hampir setahun dengan seorang wanita pelanggan cafe nya.


"Akhirnya, barang lu kepake juga." Lalu dia tertawa terbahak-bahak.


"Anjir ... Mulut lu, gue jejelin juga ... " Sebuah buku menu melayang ke arahnya.


"Boleh request nggak? gue pengen di jejelin yg kenyal punya bini gue." Lalu dia kembali tertawa.


"Otak, lu Dafa ..."


"Halah, ntar juga lu ngerasain. Sensasinya gimana!" Lalu dia bangkit.


"Gue pulang, capek. Besok mau datengin alamat Mentari. Semoga yang ini bener, gue udah mulai capek pengen ada kepastian, kalo gini terus gue ngerasa ngejar-ngejar bayangan." Keluhnya.


"Sabar, tapi feeling gue nggak lama lagi lu bakalan ketemu sama Bini lu." Rijal menyemangati.


"Semoga, dah lah gue balik." Ujarnya berlalu ke arah pintu.


*


*


Di dalem mobil


Dafa masih setengah melamun, rasa rindu nya semakin hati semakin menyiksa.


Rasanya jika masih terus seperti ini, dia akan bersujud di depan Ayah dan kedua kakak iparnya.


"Sudah cukup, aku lelah Sun." Gumamnya.


Mobil berhenti di lampu merah.


Saat dia tengah menurunkan kaca jendela memberi uang pada pengamen badut di lampu merah.


Matanya membola melihat siluet mirip sekitar dengan Mentari.


Sebuah mobil berwarna hitam dengan wajah sang pengendara mirip sekali dengan istrinya.


"Sun ... Suny?" Dafa berusaha memanggil sambil membunyikan klaksonnya.


Dafa hendak keluar dari mobilnya, namun saat baru turun lampu merah telah berganti dengan lampu hijau. Klaksonan yang memekakkan telinga terdengar dari arah belakang mobilnya, bahkan beberapa ada yang sampai memaki, Dafa segera tersadar dan kembali memasuki mobilnya.


Sial nya lagi dia tidak melihat ke arah mana mobil tadi berbelok karena itu adalah jalan perempatan dan bodohnya dia tidak melihat plat mobilnya.


Dia menggeram kesal, kebingungan, dan rasa marah dan merasa bodoh menyerangnya.


Dia meraung, menangis ... seorang Dafa menangis di dalam mobil dengan memukul-mukuli stir mobil.


"Harus kemana aku nyari kamu, Sunnn ... " Lirihnya.


Hatinya merasakan perjuangan nya akan segera berakhir, entah bisa kembali atau kehilangan dia sudah pasrah dengan jalan yang telah dia gariskan untuknya.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤

__ADS_1


__ADS_2