
💔💔💔
Sorak sorai menggema di ruang tim itu, Dafa menang dia juara satu tanpa hambatan yang berarti.
Semua orang berlari ke arah tempat podium, tempat di mana pemberian trofi penghargaan.
"Yuk..." ajak Rijal pada Mentari yang masih duduk menyaksikan sorak gembira pada tim yang menaungi Dafa.
Mereka pergi menuju tempat podium itu, cukup jauh mereka berjalan. Hening sebelum akhirnya Rijal bersuara.
"Kamu tau nggak bayaran Dafa balap gini kalo menang?" Tanya Rijal.
Mentari menggeleng kan kepalanya.
"Ratusan juta, tapi dia hanya mengambil Setengah nya, setengahnya dia bagi pada tim dan para mekanis, makannya dia begitu di sayang dan di kagumi sama anak-anak tim. Nah dari uang yang hanya dia ambil setengah itu, dia bagi lagi ke saya dan sebagainya lagi dia sumbangin ke panti asuhan."
"Di begitu menyanyi anak-anak yang tak mengenal kasih sayang orang tua, karena dia merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang orang tua." Rijal membeo, meluapkan semua rasa kagumnya pada sang sahabat.
Mentari hanya terdiam takjub, lelaki ini luar biasa, lelaki yang sangat baik pikirnya.Lelaki yang tegar di bawah rasa haus kasih sayangnya dia membalasnya dengan kebaikan.
"Kakak tau dari siapa kalo Mas Dafa ngasih ke panti?" tanyanya penasaran.
"Ck... aku tau sendiri, misalnya gini dia kebagian delapan puluh juta, dia paling ngambil cuma dua atau tiga puluh juta aja, sisanya dia kasih ke saya sama minta buat kirim ke panti." terangnya.
"Mas Dafa baik banget ya!" Gumam Mentari.
"Iya, makannya aku bingung sama kakak2 kamu yang nyebut dia breng*sek dari mana nya coba, hanya kejadian yang tidak dia perbuat dengan sengaja karena di bawah alam sadarnya. Dan menghasilkan kesalah pahaman yang nggak mau mereka dengar penjelasannya, dengan gampangnya men judge Dafa sebagai lelaki breng*sek." Rijal menaikan nada suaranya terlihat jelas dia kesal.
Mentari pun hanya terdiam merasa malu atas nama kakak-kakaknya.
"Emang sih dia bar-bar dan nakal, tapi masih sewajarnya anak laki, apalagi dia kurang kasih sayang. Untung nggak berbuat yang aneh-aneh." cicitnya lagi.
Rijal terus saja menceritakan semuanya tentang Dafa.
"Dia juga mesum ya?" tanyanya sambil tertawa.
Mentari tersenyum menahan malu akan pertanyaan Rijal.
"Tenang mesumnya cuma sama kamu, dia nggak pernah deketin cewek. padahal kalo niat udah berjejer tuh antrian. Tapi dia bukan tipe laki-laki yang gampang jatuh cinta. Dia pernah pacaran dua kali setau saya, tapi ya gitu cuma di manfaatin terus di akhiri penghianatan." terangnya.
"Iya, Mas Dafa dulu sempet cerita." ucap gadis itu masih dengan malu-malu.
Kini mereka semakin dekat, Dafa sudah terlihat sedang di kelilingi para tim dan mekanis yang setia padanya.
Dafa tersenyum lebar pada Mentari yang juga tersenyum bangga pada lelaki baik hati yang ada di depannya.
Dafa memeluk Mentari dengan erat, dan berbisik. "Jangan lupa hadiahnya, aku tagih pulangnya." seringai mesum itu kembali Mentari lihat dari lelaki yang baik nya luar biasa itu.
"Apa sih mas, masih banyak orang juga!" Mentari memukul punggung Dafa yang masih memeluknya.
Dafa hanya tertawa lalu mengecup kening gadis cantiknya bertubi-tubi.
"Love you my sunshine." bisiknya tulus.
Siapa yang tak meleleh mendapatkan perlakuan seperti itu, dari laki-laki yang dia cintai dan juga mencintai dia.
Mentari mengangguk hatinya menghangat sekaligus bingung bagaimana caranya meyakinkan pada keluarganya bahwa lelaki ini, lelaki yang tengah memeluknya erat ini adalah lelaki baik yang pantas untuk mendapatkan cintanya.
"Woyy... naik podium dulu, tuh dah di panggil, ntar lanjutin lagi!" Ucap Rijal menepuk punggung Dafa.
"Ganggu aja, sirik kan lu?" dengus Dafa kesal.
Namun mereka semua malah tertawa.
*
*
Mentari bertepuk tangan bangga, melihat kekasihnya itu bersorak di atas podium memegang sebuah trofi.
Tatapan mereka saling mengunci juga dengan senyuman keduanya yang tak pernah luntur sedari tadi.
Sebuah jempol Mentari acungkan untuk sang kekasih hatinya itu. Dafa tertawa bangga.
Setelah selesai pemberian trofi dan sedikit merayakan kemenangan dengan para tim dan mekanis, Dafa mentraktir mereka semua dengan menjamunya dengan memesan pizza. Mereka makan bersama dengan candaan dan gelak tawa menambah ke akraban antara mereka.
"Pulang yuk..." rengek Mentari saat melihat jam nya sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Mas mandi sebentar ya! lengket banget badan!" Ujarnya sambil membuka baju balap yang memang tebal dan berat pastinya.
Mentari menunggunya sambil bermain ponsel.
Tak selang lama Dafa muncul dengan stelan kaos polos di lapisi kemeja flanel seperti biasa juga celana jeans hitam.
"Ughh... auranya ganteng banget!" Batin mentari sambil tak melepaskan tatapannya dari Dafa.
"Gue duluan, makasih buat semuanya sampai ketemu lagi dua Minggu ke depan!" pamit Dafa menyalami semua orang yang masih di sana.
"Sun... hey, ayo katanya mau pulang. Malah ngelamun!" Dafa menyentuh puncak kepala mentari yang masih duduk mematung menatapnya.
Dafa tidak tau Kekasihnya itu sedang mengagumi nya, dirinya telah bertahta dan merajai hati Mentari.
"I... iya Mas, ayo." Mentari bangun dan kedua tangan mereka saling bertautan.
__ADS_1
Mereka melewati sebuah lorong sebelum keluar dari jejeran ruangan para pembalap.
Dafa tiba-tiba berhenti menengok ke segala arah.
"Mas... kenapa? jangan nakutin ih, mana gelap sama sepi lagi." Mentari mengeratkan pegangannya pada Lengan Dafa.
"Shhhttt..." Dafa menempel kan telunjuk pada bibirnya.
Mentari semakin menempelkan tubuhnya pada dafa.
"Mas... buruan, malah diem!" Mentari berucap sambil memejamkan matanya takut.
Dafa diam menahan tawanya yang akan pecah.
"Tuh setannya bangun!" Dafa berbisik
"Argggghhhh.... Mas...takut!" Mentari teriak tubuhnya menjingkrak semakin memeluk erat tubuh Dafa, wajah nya tenggelam di dada bidang Dafa.
"Hahahaha ..."
Akhirnya tawa Dafa pecah juga, dia tidak kuat menahan tawanya sedari tadi.
Mentari terdiam lalu mendongakkan wajahnya menatap Dafa. Seketika mulutnya mengerucut kesal. Demi apapun dia sudah sangat ketakutan tapi ternyata itu akal-akalan sang pacar.
"Mas... kamu bohongin aku?" tanyanya dengan nada kesal.
"Nggak, aku nggak bohong!" jawabnya
"Terus, tadi bilang setannya bangun, apaan dong?"Mentari menguar pelukannya.
Namun Dafa segera menahan pinggang itu agar tubuh itu tetap menempel padanya.
"Iya, setan mesum yang bangun!" bisiknya
"Aku mau nagih hadiah yang kamu janjiin tadi, kalo aku menang. Sekarang aku menang, aku minta hadiahnya." Ucapnya lagi.
Mentari tersenyum lalu dia berjinjit sedikit untuk menautkan bibir merah nya pada bibir kekasihnya itu.
"Cup.." Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Dafa, hanya persekian detik mana kenyang untuk lelaki itu
"Kamu apa-apaan sih?" Dafa sedikit meninggikan suaranya.
Mentari kaget, kenapa? apa ada yang salah? kenapa niat hati ingin memberi hadiah yang selalu Dafa suka malah berakibat Dafa marah.
"Ke...kenapa Mas? Maaf kalo aku lancang!" Mentari menundukkan kepalanya matanya tiba-tiba panas dan berair.
Dafa menarik Mentari menuju sebuah ruangan.
"Mas... maaf atas kelakuan aku!" Mentari takut Dafa marah atas ulahnya yang nyosor kayak soang.
"Kenapa kamu minta maaf?"tanya Dafa heran mendengar Mentari terus meminta maaf.
"Karena aku nyosor kayak soang sama kamu, a..aku lancang!" Ucapnya takut.
"Bukan sayang, kesalahan kamu cuma satu!"
"A... apa Mas?" tanyanya penasaran.
"Kurang lama, apaan cuma gini. Cuup." Dafa mengulang adegan yang tadi Mentari lakukan padanya.
"Mana kenyang aku, kamu kan tau itu favorit aku, makanan kesukaan aku!" cicitnya sambil tersenyum mesum.
"Astaga Mas.." Mentari memukul dada Dafa.
"Aku mau gini nih..."Dafa mulai mengecupi bibir itu memagutnya lembut. Decapan itu berubah semakin kasar, suara desa*Han lolos saling bersahutan. Mentari meremat kemeja bawah Dafa. Dafa mulai menyelusupkan tangannya ke dalam kaos yang Mentari pakai, mengusap perut lembut itu naik ke atas di mana terletak benda padat nan empuk kesukaannya.
"Eughhh..." Mentari melenguh tangannya mencengkram pinggang Dafa.
Dafa melepaskan pautan itu, kening mereka saling menempel kedua mata sayu itu saling memandang, deru nafas yang sudah tak beraturan, dan juga detak jantung seperti habis lari maraton.
"Sun..." Lirih Dafa.
"Hemm...? Mentari menatap Dafa.
Dia tau Dafa menginginkan sesuatu itu.
dia sudah merasakan adik kecil di bawah sudah mengeras dan menekan ke tubuhnya.
"Bukan aku yang minta hadiah tapi si adik, boleh nggak?" tanyanya dengan wajah di buat sesendu mungkin merengek seperti anak yang menginginkan permen.
"Kayak biasa?" tanya Mentari gugup.
"Iya, aku nggak mau ngerusak kamu sebelum kita sah, tapi aku nggak bisa nahan si adik yang suka berbuat se enaknya aja, kurang asem emang dia!" ucapnya menyalahkan yang tak perlu.
"Kamu aneh Mas!" Mentari mencibirnya.
"Aku normal tau, cuma sama kamu. Serius cuma sama kamu, percaya nggak?" ujarnya.
Mentari mengangguk lalu tersenyum pada lelaki baik sekaligus mesum di hadapannya.
"Takut ada orang!" Mentari gelisah.
"Bawa tisu nggak?" tanya Dafa.
__ADS_1
Mentari mengangguk dan mengeluarkan dari tas kecilnya.
"Nih, buat?" tanyanya masih saja polos.
Tanpa menjawab Dafa kembali menyesap bibir itu, sebelah tangannya mere*mas gundukan lembut itu, sedangkan sebelahnya siap-siap memegang tisu.
Mentari melenguh saat Dafa semakin intens menekan dan menggesek Adiknya pada tubuh Mentari.
"Mas..." Mentari menahan tangan Dafa yang semakin kasar Mere*mat buah nya.
"Apa?" suara Dafa yang tersengal.
"Sakit, kayaknya aku mau pms. Ngilu banget kamu gituin!" dia meringis.
Dafa bingung sungguh dia butuh pegangan, megang apa dong gue? batinnya berpikir.
"Terus pegang apa dong? Mas butuh pegangan!" ucapnya tanpa tau malu.
"What??? dasar cowok mesum!" gerutu Mentari dalam hati.
"Ya maksud aku, pelan gitu!" ucapnya kesal.
"Oh... " ucap Dafa
" Dasar cewek pake muter-muter segala bilang aja langsung pelan, jangan sok ngerem gue lagi tanggung!" batinnya kesal.
"Gini?" tanyanya sambil tangannya kembali bekerja namun dengan tempo lembut.
Mentari tak menjawab namun dari raut wajahnya nya Dafa sudah tau, bahwa dia menikmati.
"Ughhh... Sun... sebentar lagi!" Dafa yang sedang menyesap bulatan choco chip milik mentari seketika pindah naik kembali ke bibir itu.
Gesekan itu semakin intens, dia segera mengeluarkan adiknya itu, lalu mencengkeram nya kuat lalu dia tutup dengan tisu yang sedari tadi dia pegang.
"Akhhh... erangan keluar dari mulut Dafa
"Udah?" Mentari menarik wajah Dafa yang masih menyandar di ceruk lehernya.
"Udah?" tanyanya lagi.
"Udah, apa?" godanya.
"Adik kamu udah muntah Mas?" Mentari sedikit menekankan kata-katanya kesal.
Dafa tertawa melihat raut wajah kesal sekaligus malu milik Mentari.
"Udah sayang, makasih ya kado kemenangan nya si adik suka banget!" di kecup kening itu.
sambil tangannya membersihkan si adik dari sisa-sisa muntahnya.
"Duduk dulu, duh aku lemes!" ucap Dafa
"Hebatnya aku, si adik muntah sedangkan aku dalam keadaan berdiri. Perkasanya aku!" bangga nya.
"Astaga Mas... bahasa kamu, ampun!" Mentari menggelengkan kepalanya.
"Kaitin lagi !" Mentari menyodorkan punggungnya agar Dafa mengaitkan kembali tali Kacamata dadanya.
Dafa tersenyum dan meraihnya, tapi sebelum mengaitkan dia meremas kembali benda kesukaan nya itu.
"Aww... Mas, sakit!" Mentari merintih kesakitan.
"Maaf, abisnya gemesin!" Dafa terkekeh.
"Astaga... pacar aku mesumnya dah makin parah!" ucap mentari saat berbalik ke arah Dafa.
"Udah yuk pulang, udah makin sore aku takut!" ucapnya.
"Aku anter sampai rumah, biar aku bantu kamu ngomong sama keluarga kamu!" Usulnya sambil berdiri.
"Gimana nanti aja Mas, aku mikir dulu. Ini bakal aman nggak buat kamu!" Mentari berpikir sambil menggandeng lengan Dafa kuat dari ruangan kecil itu.
Dafa terlihat berjalan ke arah tong sampah, membuang tisu bekas dia melap cairan muntah si adik.
"Bye... anak-anakku." gumam nya.
Mentari mengerutkan keningnya.
"Anak-anakku?" tangannya heran.
"Iya lah, mereka kalo jadi kan jadi anak-anakku, kecuali kalo muntahnya di dalem kamu jadi anak-anak kita." Dafa membeo.
"Astaga... Mas, bahasa kamu makin ngaco!" Mentari terbahak mendengar kata-kata yang keluar dari Mulut Dafa.
"Kok ngaco sih? nyata itu. kamu harus biasain ya ngedenger kata-kata gila dari mulutku!" ucapnya merangkul sang kekasih setelah mencuci tangannya .
Mereka melenggang ke arah parkiran , berjalan dengan Mentari melingkarkan tangannya di pinggang Dafa, sebaliknya Dafa melingkar kan tangan nya di pundak sang pujaan hatinya.
Satu kata yang ada di hati mereka, BAHAGIA.
Bersambung ❤️❤️❤️
terimakasih yang sudah mampir, semoga suka. like komennya ya aku tunggu 🙏😘😘😘
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu untuk kita semua ❤️