Kisah Mentari

Kisah Mentari
akting ngelindur


__ADS_3

...โคโคโค...


Mentari sampai di rumah, tepat pukul empat sore. Dafa sudah menyambut nya di pagar. Pagar setinggi dada orang dewasa itu, sudah di buka lebar oleh sang suami.


"Kok, belum siap-siap?" tanyanya saat turun dari mobil yang telah terparkir.


"Nunggu kalian, lagian aku lagi beresin file yang mau di persentase in buat besok, kamu aku tinggal nggak apa-apa kan? nggak akan lama lah, paling juga beberapa jam." Ucapnya sambil mengambil Helen di carseat.


"Ughh ... Anak, Ayah." Panggilnya sambil menciumi pipi gembul Helen.


Mentari langsung masuk ke dalam rumah dan segera menyiapkan bawaan yang akan menjadi bekal mereka. Satu buah tas Helen dan satu koper kecil untuk baju dirinya dan juga Dafa.


"Mas, baju buat kerjanya mau apa?" teriaknya dari dalam kamar.


"Bawa yang sedikit resmi, tapi nggak terlalu formal aja. Sisanya baju santai aja." Ucapnya sedikit mengeraskan suaranya dari arah ruang tamu, dirinya yang tengah memangku Helen sambil mengetik sesuatu di atas laptop nya.


"Berapa hari?" Mentari kembali bertanya.


"Dua hari, soalnya aku banyak kerjaan!"


"Jangan lupa, bawa baju yang anget buat Helen, sama selimut-selimutnya." Tambahnya lagi.


Mentari menarik beberapa selimut untuk Helen, lalu baju-baju panjang dan tebal untuk anaknya itu.


"Helen aja, Sun. Kamu nanti aku yang angetin, skin to skin." Katanya menggoda.


"Hilih, modus." Mentari mencibir nya saat Dafa mendekat ke arahnya.


Dafa hanya tertawa, sambil mendekat dan mengecup kepala belakang istrinya itu.


"Kamu, hutang jawaban posisi loh, Sun. Aku penasaran nih!" Bisiknya.


Mentari menoleh ke arahnya dengan mata yang melotot dan wajah memerah.


"Apa ...?" Dafa beringsut


"Nggak usah di bahas, bisa kan?"


"Nggak, aku penasaran. Semakin penasaran, sama nggak impian adegan er*tis kamu sama aku!" godanya lagi.


...*****...


Mentari menarik koper kecil, dan tas peralatan Helen keluar dari kamar. Dafa sedang membereskan dokumen yang berserakan di atas meja ruang tamu. Sedangkan Helen dia tidurkan di sebelah nya.


"Udah?" Dafa mendongak melihat ke arah Istrinya. Mentari memakai tanktop dengan di lapisi kemeja panjang, juga dengan denim panjang yang membuat kaki jenjangnya semakin indah terbentuk.


"Cantik, cantik banget princess ku." Pujinya.


Mentari hanya mencebik mendengar pujian yang terdengar seperti sebuah rayuan.


"Buruan, keburu kemaleman." Mentari duduk di sebelah Helen.


"Eh, iya. Aku ganti baju dulu." Dafa bangun setelah membereskan laptop dan berkasnya ke dalam tas laptop nya.


Mentari kembali bermain bersama Helen, yang mengeluarkan suara celotehan lucunya.


Tak berapa lama, Dafa keluar dengan sebuah sweater abu dan celana training hitam.


"Kamu gitu?" Mentari menatapnya aneh.

__ADS_1


"Iya, kita kan langsung ke rumah Papa."


"Aku ganti kalo gitu, pake yang lebih simple." Mentari berdiri dan kembali memasuki kamar.


Dia keluar dengan sebuah tunik hijau lumut se betis, dengan cardigan warna hitamnya.


"Duh, makin cantik aja!" Dafa mengedipkan matanya.


Mentari tak menanggapinya, dia melewati Dafa lalu menggendong Helen yang berbaring di sofa.


Mereka berjalan keluar dari rumah hampir pukul 5 sore, Setelah sebelumnya berdebat antara membawa Carseat Helen atau memasang kasur balon di kursi belakang, agar lebih nyaman untuk Mentari memberikan asi kepada Helen.


Akhirnya keduanya di pakai, carseat di simpan di kursi paling belakang, sedangkan di tengah sudah membentang lebat kasur balon yang sudah di lapisi selimut dan beberapa bantal yang Dafa bawa dari kamar.


" Beli cemilan dulu, ntar kamu suka laper lagi di jalan." Dafa membelokkan mobilnya ke sebuah minimarket indoapril.


"Aku, tunggu di sini. Sama Helen." Dafa merentangkan tangannya meminta Helen.


Mentari pun turun memasuki minimarket itu.


***


Di dalam mobil..


"Nak, sayang. Nanti di jalan tidur yang nyenyak ya, Ayah mau pacaran sama Ibu." bisiknya di telinga Helen. Helen hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya yang seolah mengajak nya bercanda.


Dafa kembali menciumi Helen dengan gemas, dia sangat bersyukur Helen ada di tengah-tengah mereka. Itu suatu anugrah yang sangat besar untuknya.


Mentari terlihat keluar dari minimarket itu, dengan dua keresek sedang di tangannya.


"Udah, Yuk. Ngebolang ... " Teriaknya antusias.


"Biar, di jalan kita bisa tenang." timpalnya lagi.


"Tenang ...?" Mentari mengerutkan keningnya.


"Iya, kalo dia kenyang kan pasti nyenyak dan tenang." Dafa menjelaskan, sambil sedikit gelagapan.


Mentari menatapnya penuh rasa curiga, "Jadi aku pindah ke belakang aja nih?" tanyanya.


"Iya, biar nyaman. Tapi sambil ngobrol ya, aku nggak ada temen." Pintanya.


Mentari pun mengangguk, lalu kembali akan membuka pintu. Namun tangan Dafa mencekalnya.


"Lewat sini aja, biar gampang." Dafa menunjuk celah di antara bangku.


Mentari pun menuruti dan dengan hati-hati dan perlahan melewati celah itu sambil Helen berada di pangkuannya.


Mobil pun melaju menuju Bogor, Dafa menjalankan nya dengan perlahan sambil tak henti menatap istrinya itu yang memposisikan dirinya dengan nyaman sambil memberi Asi untuk anaknya.


"Sun?" panggilnya.


"Hemm ... "hanya gumaman kecil dari Mentari, sepertinya istrinya itu menuju alam mimpi. pikirnya.


" Sun, Apa sih yang kamu sembunyin dari aku."


"Nggak ada ... " ucapnya lemah


"Bohong, terus gaya apa yang kamu mau dari aku. Sewaktu hamil Helen." Tanyanya lagi, Dafa sengaja mencoba mengorek isi pikiran Mentari yang dia rasa mengantuk dan siapa tau dia mengungkapkan tanpa sadar.

__ADS_1


"Sun, ayo apa aku penasaran!" Ucapnya lagi, sambil sesekali menatap istrinya itu dari kaca.


Mentari yang sedang memunggungi Dafa, dengan wajah yang memerah menahan malu dan tawa yang siap pecah kapanpun, tanpa sepengetahuan Dafa tentunya yang mengira dirinya sedang terkantuk-kantuk dan sedikit mengigau.


"Aku pengen main di tempat awal kita pacaran. Di tempat yang dingin-dingin." nadanya di buat se lemah mungkin agar terlihat benar seperti orang yang sedang mengigau.


"Hah, di mana? Kebun teh?" Dafa sedikit menoleh kepalanya.


Mentari sudah tak tahan lagi ingin tertawa, sampai jempol kakinya menekan jempol satunya lagi, agar dia kuat untuk menahan tawanya.


"Sun, kebenaran. Kita lewat jalan Cianjur aja ya, nggak usah pake tol ya, biar kita lewat puncak." Dafa bersemangat membayangkan kegiatan ero*tis nya bersama Mentari.


"Pake gaya apa, Sun?" tanyanya lagi.


Mentari memejamkan mata, dia mengigit bibir bawahnya agar bisa terlihat natural tanpa suara getar menahan tawa.


"Sun, mau pake gaya apa?"


"Nggak tau, yang belum aja... " Jawabnya se lemah mungkin bahkan seperti orang yang sedang menggumam.


"Banyak loh, gaya yang belum kita coba?"


"Di mobil kan belum?" kata-kata pancingan keluar dari bibir jahil Mentari.


Dafa menginjak rem nya dan segera membalikan tubuhnya ke belakang, dimana istrinya itu tengah membelakanginya.


"Sun, Sun... Kamu serius kan?" tangannya mengguncang pinggang istrinya itu.


Mentari yang memang sedang berakting pura-pura mengigau, sedikit tersentak dan merasa takut ulahnya akan terbongkar.


"Apa, sih. Mas. Aku ngantuk." Gerutunya seperti orang yang bangun dari tidur dengan kaget.


"Eh, iya. Maaf sayang, terusin lagi tidurnya." Dafa sedikit mengusap-usap punggung Mentari, dia merasa bersalah dan sekaligus merasa senang. Tak di sangka istrinya itu punya pemikiran liar tentang gaya2 ke uhuyan mereka.


Dafa kembali menjalankan mobilnya, menuju Bogor tanpa masuk tol, agar bisa melewati Hamparan kebun teh Di puncak.


Seringai mesum dan fantasi nya seketika berlarian di otaknya, seakan sedang bersiap akan melakukan pertunjukan luar biasa.


"Aghhh , Sun. Aku udah nggak bisa bayangin, Helen anak ayah yang cantik dan pintar. Nyenyak ya nak!" Ucapnya dalam hati, sambil matanya tak lepas mencuri pandang ke arah istrinya itu dari arah kaca spion tengah.


Mentari yang tadi pura-pura tertidur, hanya bisa menggigit bibirnya sambil jantungnya berdetak kencang, entah baik atau tidak rencananya barusan. Namun hanya dengan cara itu dia berharap tidak akan di ledek ataupun di goda oleh suaminya, karena dia berbicara sambil tertidur.


Semoga ini cara terbaik, buat aku. Biar kamu nggak narsis ataupun kepedean, Mas. Maaf aku bohongin kamu, Pura-pura tidur, supaya nggak di ledek kamu.


Hantinya sedikit lega, malu, sekaligus berdebar.


Apa yang akan di lakukan suami mesumnya itu? apakah akan menuruti semua ucapannya tadi? atau menyewa hotel? Semua itu berdesakan di kepalanya seolah mencari jawabannya masing-masing.


Tanpa dia sadari Mentari pun tertidur sendiri, walaupun otaknya masih sibuk apa yang akan terjadi selanjutnya...


Samar-samar terdengar suaminya itu, melantunkan lagu bertema ingin bercinta. "Astaga, niat banget." Gumamnya dalam hati.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

__ADS_1


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ


__ADS_2