Kisah Mentari

Kisah Mentari
Posisi apa??


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸


Tidak tau yang di inginkan nya sewaktu hamil itu masuk kategori ngidam atau hanya kerinduan yang teramat besar yang dia rasakan pada suaminya.


Rasanya tidak mungkin juga dia mengatakan semua itu pada suaminya yang sifat nya luar biasa narsis. Bisa di goda habis-habisan dia, pikirnya sudah bergidik ngeri.


"Hey, malah ngelamun." Dafa yang sedang menatapnya dari arah depan. "Pindah ke depan, aku nggak bisa jauh-jauh dari kalian." Pintanya.


Mentari pun mengangkat Helen, dan memberikannya pada Ayah bayi montok itu. Dia turun sendiri pindah posisi menjadi di depan.


Pandangan saat dia masuk, adalah Dafa yang tengah menciumi gemas pipi Helen, bayi itu sampai tertawa renyah karena geli.


Saat Helen melihat Ibu nya masuk, dia langsung menggapaikan tangannya minta di gendong.


Rengekan pun mulai terdengar.


"Sini, ughhh ... Anak Ibu sayang." Mentari langsung mengambil Helen dan segera memposisikan bayi lucu itu di dadanya.


"Duh, haus. Anak ayah laper banget, enak nak? rasa siomay ya?" Kekehnya saat mendengar Helen berdecak-decak berisik menghisap asi dari pabriknya langsung.


Mobil pun melaju, membelah jalan yang sedang dalam titik macet nya di waktu hampir gelap itu.


Dafa melajukan mobilnya menuju sebuah tempat interior dan keperluan rumah tangga yang cukup kumplit.


*


*


Mereka sampai di rumah hampir jam 9 malam, tidak lama memilih box bayi dan lemari untuk Helen, yang lama dan menguras waktu adalah waktu makan mereka di salah satu tempat makan di daerah perbukitan di kota Bandung. Sesuai request sang istri yang ingin mengenang masa-masa pacaran mereka.


"Aduhh ... pegel, lemes banget." Mentari mengeluh saat sudah menidurkan Helen di atas kasur. Dia menggantikan baju bayi itu, menjadi baju rumahan yang nyaman.


Dafa langsung merakit box yang tadi mereka beli.


"Mas, udah malem. Besok aja!" Mentari yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan baju tidur dengan celana sepaha. Berjalan ke arah meja rias dan melakukan rutinitas malam pada wajahnya.


"Besok, aku takut nggak keburu." Jawabnya singkat sambil serius memasangkan setiap rangkaian dari box itu.


Mentari naik ke atas kasur dan sedikit bercanda dengan Helen yang ternyata belum tidur sedang berceloteh seperti menunggui Ayahnya.


"Nak, tidur yuk. Ibu ngantuk! besok ikut Ibu ke Butik ya, atau mau di rumah kakek?" tanyanya pada sang putri seperti akan menerima jawaban padahal bayi tiga bulan itu hanya senyum-senyum mendengar ucapan ibunya.


"Mas ...


" Iya,


"Gimana? bawa ke butik atau titipin? Mobil aku juga di rumah Ayah." Dia menatap wajah suaminya yang tengah serius merangkai tempat tidur untuk anaknya.


"Ya, terserah kamu! Kalo mau ke Ayah, aku anterin dulu. Sekalian kamu ngambil mobil, kayaknya aku pulang malem." Jawabnya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

__ADS_1


Mentari masih menimang keputusannya untuk besok, sambil meraih Helen ke sisi kanannya dan langsung menempel kan puncak dadanya untuk segera di hisap oleh anaknya itu.


Tak lama ibu dan anak itu terlelap tidur, Dafa tersenyum saat selesai merakit box itu, dan melihat Istrinya tidur membelakangi dirinya.


Dafa menarik box yang sudah dia bersihkan dan dia lapisi selimut hangat milik anaknya, di tempelkan ke sisi tempat tidur dekat istrinya. Agar memudahkan jika malam Helen menangis.


Setelah memindahkan bayi itu, Dafa membenarkan letak dada sang istri yang terbuka setelah selesai memberikan asi. Dia berlalu ke kamar mandi dan membersihkan diri, tubuhnya pun sudah sama lelahnya. Naik ke atas tempat tidur dan langsung menarik selimut menutupi tubuhnya dan juga sang istri yang sudah terlelap nyenyak sesuai nama yang dia sematkan dulu princess kebo.


...~...


Pagi hari menjadi jam-jam sibuk, Mentari sudah memandikan Helen sambil menyusui bayi cantik itu, sebelahnya dia peras dengan mesin pumping. Keputusan nya akhirnya bulat dia akan menitipkan Helen di rumah orang tuanya, namun sore harinya Bunda nya bilang akan melakukan checkup jantung Ayah. Jadi Mentari mengusahakan fokus di butik, agar cepat selesai dan bisa membawa Helen sebelum orang tuanya pergi.


"Mas, titip Helen dulu. Aku mau mandi." Mentari meletakan Helen di sebelah dafa yang masih pulas. Hanya gumaman kecil sebagai jawaban dari Dafa, namun tangannya memeluk Helen dengan erat, sambil menciumi anaknya yang sudah sangat wangi khas bayi itu.


Mentari keluar kamar mandi, tapi tidak menemukan anak dan suaminya. Dia pun segera memakai bajunya berupa kemeja maron tangan pendek dengan celana kulot. Rambutnya dia kepang pinggir lalu membubuhkan cream wajah dan sedikit lipstik berwarna nude.


"Mas ... "Panggilnya saat keluar dari kamar, pandangan nya ke arah dapur saat mencium bau wangi. Lalu di meja makan sudah tersusun roti bakar masing-masing dua lembar di tiap piringnya.


Mentari tersenyum, suaminya itu telah menyiapkan sarapan. Sungguh keromantisan sederhana jika suami mau membantu pekerjaan istrinya. Sebenarnya sesederhana itu, keinginan istri namun banyak lelaki yang terlalu cuek dan tidak peka. 😩


Terlihat pintu ke luar terbuka, dia berjalan ke luar mencari di mana anak dan suaminya itu. Ternyata mereka sedang berjemur di halaman.


Seperti biasa, jika Helen melihat ibunya dia akan langsung merengek seakan melihat sumber makanannya.


Dafa tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu, " Cakep banget sih, nggak usah dandan kamu masih kayak abg aja." Gerutunya kesal.


"Kenapa?" Dafa panik.


"Biasa, mau dateng bulan. Setelah lahirin Helen, dateng bulan aku sering sakit." jawabnya masih meringis.


"Ya udah, sarapan dulu. Aku buatin teh panas." Dafa merangkul Mentari masuk ke dalam rumah, Helen masih dalam pangkuannya.


*


*


Di perjalanan menuju rumah Ayah.


"Periksain, takut aja." Dafa menoleh ke arah Mentari.


"Muka kamu langsung pucet tadi, berarti sakit banget." Tambahnya lagi.


Mentari hanya diam, memang akhir-akhir ini perutnya sering terasa keram. Dia pun takut namun tidak berani bercerita pada siapapun. Namun pagi tadi dia terpergok langsung oleh Dafa.


"Sun, Ya ... periksa nanti, aku anter!" Dafa mengusulkan.


"Iya, ini cuma mau datang bulan biasa aja. Nggak apa-apa kok!" tolak nya.


"Kamu, keras kepala banget. Pokoknya aku mau bawa kamu periksa."

__ADS_1


"Eh, Mas. Jadi kan ke Bogor, aku pengen jalan-jalan!" katanya mengalihkan pembicaraan.


"Jadi, Jumat sore paling!" Dafa menjawabnya.


Mentari mengangguk antusias.


"Pengen, ayam bakar yang di sentul. Aku waktu hamil Helen, juga ngidam itu. Terus ketemu kamu, tapi kamu malah berantem sama Mami Nina dan Bunda!" Kekehnya.


"Oh, waktu itu kamu ngidam Ayam bakar itu? berarti sama dong, aku juga makan di sana sama Rijal ya karena tetiba aku pengen banget ayam bakar itu." Dafa mengangguk-angguk mencoba mengerti, sedikit demi sedikit puzzle ke anehan beberapa bulan lalu sekarang mulai terkuak.


"Ngidam apalagi kamu, yang belum kesampaian? siapa tau ada yang berbau dengan aku?" Tanyanya.


"Kok, tau?" Mentari langsung mengatupkan mulutnya merasa dia hampir keceplosan.


"Mau, apa? Ayo bilang!" Dafa memandang ke arahnya.


"Dulu, aku sampe reka adegan sama guling Sun, saking kangennya sama kamu!" Dafa berkata jujur, walaupun memalukan.


"Kok, sama. Aku juga sampe mimpi Mas, ngejar-ngejar aku tapi itu nya gede banget!" Mentari menutup mulutnya dan terkikik malu, namun berusaha jujur.


"Aku kan emang gede!"


"Ini nggak normal, gedenya pake banget. Aku ampe lari-lari kamu kejar dengan belut listrik yang gede banget! kamu ngajak anu, tapi aku takut. Karena tau itu mimpi."


"Kamu, Ngidam anu sama aku, Sun?" Tanyanya dengan wajah berbinar.


"Tau, ah!" Mentari yang menyadari mobil sudah berhenti di depan rumah orang tuanya langsung turun, dengan wajah memerah.


"Sun, kenapa nggak bilang dari awal? kayaknya minta gaya aneh deh, soalnya kita udah beberapa kali kan sejak ketemu?" Dafa sedikit menyamai langkah istrinya memasuki halaman rumah Mertuanya.


Mentari berhenti melangkah.


Mereka saling berhadapan, "Apa? posisi apa yang kamu idam kan dari aku?" Dafa menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut istrinya.


"Posisi ...


Belum selesai suara Ayah Gunawan terdengar, memotong ucapan Mentari.


" Eh , Inces kakek. Udah dateng!" Ayah Gunawan yang baru keluar dari dalam rumah berjalan ke menghampiri ke arah cucu kesayangannya.


Bersambung πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Terimakasih yang sudah mampirπŸ™πŸ™, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi πŸ™πŸ™, cuma buat rame2 ajaπŸ₯°πŸ₯°


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❀


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir πŸ™πŸ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lainπŸ₯°πŸ₯°


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🀲🀲

__ADS_1


__ADS_2