
❤❤❤
"Chaaa ... Chacha, lu di mana?" Suara menggelegar terdengar di luar ruangan itu.
Sontak Mentari dan Dafa saling pandang dengan bola mata sama-sama melotot, seakan tak percaya apa yang mereka dengar. Dafa menghentikan gerakan nya namun masih menenggelamkan miliknya di celah paha milik istrinya.
"Chaaa ... " Lagi-lagi suara itu terdengar. Dan semakin dekat ruangan itu.
Astagaaa ... Kedua orang itu langsung menggerutu.
"Gimana ... " Mentari bertanya tanpa suara.
Dafa menatap wajah istrinya yang masih ada di bawahnya.
Telunjuknya menempel di bibir, perintahnya untuk tak bersuara.
"Chaaa ... bilang ke laki lu, besok ke rumah. Temuin Ayah kalo mau ambil lu. Minta baik-baik, aneh gue mah tuh laki adaa aja ide nya." Bintang masih saja berbicara di balik pintu itu.
"Cha ... udah pada tidur bener? atau baru mulai?" Tanyanya dengan menempel kan telinganya pada daun pintu.
"Liat Helen tuh lagi ngintipin kelakuan mak bapaknya." Godanya
Reflek Dafa dan Mentari menoleh ke arah box tidur Helen, dan keduanya hanyasaling mendengus kesal, kenapa harus mendengar ucapan asal kakaknya itu.
"Dah lah gue pulang, inget besok temuin Ayah." Lalu suara langkah kaki semakin menjauh.
Pasangan itu saling memandang dan terkikik pelan.
Dafa kembali meraup bibir Mentari, sebelum bunga nya layu sebelum menumpahkan getahnya (🤣).
Mereka kembali saling memagut dengan lidah yang membelit.
"Eh, Chaaa jangan lupa pake pengaman! nggak lucu Helen segede gitu dah punya adek." Suara Bintang dari kejauhan namun masih dapat mereka dengar.
Mentari membola lalu mendorong tubuh Dafa.
"Apa sih, Sun!" Dafa kesal saat miliknya terlepas dengan sekali dorongan.
Mentari berlari ke arah meja di mana tas nya berada, di ambilnya satu streep obat kecil-kecil.
Aktifitas Mentari tak luput dari pandangan Dafa.
"Apa itu?" tanya Dafa saat melihat istrinya meminum sebutir obat itu.
"Pil KB," jawabnya
"Kapan beli?"
"Tadi pas keluar dari supermarket, pas kamu lagi bayar belanjaan. Aku ke apotek yang ada di dekat situ."
"Kok aku nggak sadar ya?" tangannya sambil mengulur meminta istrinya kembali mendekat.
Mentari yang polos semakin membuatnya gemas.
Tangannya yang sudah menaut langsung menarik Mentari ke pangkuannya. Dafa kembali melu\*mat bibir itu, dan tangannya memilin dan meremat lembut buntalan sintal itu.
"Egghhh ... " Mentari mele\*nguh kepalanya. ending akhirnya ke atas, tangannya menjuntai di punggung Dafa yang sedang fokus bermain di dadanya.
Dafa semakin tak tahan mendengar suara-suara erotis istrinya, dia mengarahkan senjatanya memasuki kembali tubuh istrinya.
Erangan kenikmatan dari keduanya saling bersautan.
Dafa menjatuhkan tubuhnya terlentang dengan posisi senjatanya masih menancap di dalam tubuh istrinya yang terduduk di pangkuannya.
"Gerak, Sun ... " Tangannya menuntun tangan Mentari.
Mentari mulai menggerakan pinggangnya.
Mereka sama-sama memejam kan matanya dengan mulut sedikit terbuka karena menikmati sensasi yang sudah lama tak mereka dapatkan.
Kedua tangan Dafa mencengkram kuat pinggang istrinya, kakinya yang menjuntai ke bawah sofa bed itu mengejankan jari-jarinya.
__ADS_1
Mentari masih bergerak tangannya bertumpu pada kedua sisian kepala Dafa.
Dafa menatap takjub pandangan indah di atas tubuhnya, matanya berbinar saat melihat dua bulatan itu menggantung dan bergerak indah di atasnya.
Mentari masih memejamkan matanya sesekali menikmati gerakannya. Saat pandangan mereka bertemu, keduanya saling melempar senyum.
Dafa sesekali mengusap pinggang Mentari, "Aghhh ... Sun, kamu enak banget. Saa\_yangg ... " Dafa terus meracau.
Mentari semakin intens bergerak, si buah kembar pun seakan menari-nari di depan wajah Dafa.
Tanpa aba-aba dia langsung meraup nya dan lidahnya langsung memainkannya. Memberi sensasi hisapan dan gigitan kecil-kecil.
"Masss ... " Mentari hampir mencapai puncaknya, dia sudah tidak kuat.
Dafa masih terus memainkan benda yang bergelantungan itu.
"Egghhh ... Mas,"
Dafa menatapnya dengan mulut di penuhi buah miliknya, tepatnya milik Helen.
Dafa ikut memacu dari bawah, dia ikut menggerakan pinggangnya.
Saat desa\*han dan erangan dari mulut pasangan yang sedang melepas rindu itu saling bersautan, sebuah *petir* menggelegar di langit. Cuaca yang memang hujan sejak tadi itu makin lebat.
Suara petir yang keras, membuat Helen seketika menjerit karena kaget.
\*\*\*
Mentari yang juga kaget akan tangisan Helen, melompat dan meloloskan tubuhnya dari Dafa.
"Sun ... " Dafa mengerang kesal.
"Bentar, ini anaknya nangis." Mentari yang langsung berlari ke arah box dengan cekatan mengambil putrinya.
Bayi tiga bulan itu menggagalkan acara silaturahmi dan tali kasih yang sedang di lakukan kedua orang tuanya.
"Sun, padahal aku sebentar lagi." Dafa terduduk dengan wajah frustasi sambil tangannya memegang senjatanya yang di campakkan begitu saja.
"Sama, terus kita mau terus lanjut saat anak nangis kejer?" Mentari mendekati dengan Helen yang menempel di dadanya.
Mentari ikut duduk di sofa yang telah di jadikan seperti kasur itu.
"Aduhh, ngilu ... pegel." Dafa merengek menumpukan kepalanya pada pundak polos istrinya.
"Sabar, bentar lagi tidur lagi nih." Mentari mengusap kepala Helen.
Dafa memandang anaknya yang sedang lahap meminum Asi Ibunya. "Nak, itu bekas Ayah loh barusan." Dafa menjawil pipi merona Helen.
Seolah mengerti apa yang di ucapkan Ayahnya, Helen mendelikkan matanya. "Ampun dia sinis banget." Dafa terkekeh melihat kelakuan putri kecilnya.
"Itu, punya Ayah tau." Godanya lagi.
"Mas, ishhh ... kalo ngomong."
Helen malah menangis seolah dia baru saja di marahi Dafa.
"Ehh ... sayang Ibu, Ayah bohong ini mimi punya Helen. Bukan punya Ayah tapi punya Helen cantik Ibu." Mentari menggoyangkan tubuhnya menenangkan putrinya itu.
Dafa tertawa dengan tinkahnya dan Helen yang memperebutkan kepemilikan bulatan kembar itu.
\*
\*
__ADS_1
"Sun, ishhh liat nggak tidur-tidur. Kayaknya beberapa celupan lagi si adik udah muntah nih." Rengeknya.
"Bentaran, Ayah. Nggak sabaran banget." Mentari merebahkan tubuhnya dan Helen, Bayi itu masih menggantung mengisap asi ibunya yang sebelahnya. Ada pepatah jika memberi asi harus bulak balik ibarat ada makannya dan ada minum nya. Jadi kedua bulatan adil memberikan susu nya.
Dafa yang semakin frustasi ikut merebahkan tubuhnya, ikut tidur memeluk istrinya, tangannya meraup bulatan satunya lagi yang selesai Helen hisap.
"Mas ... " Mentari mele\*nguh menahan tangan suaminya yang sedang memilin choki chips miliknya.
lalu berhenti dan membuka paha Mentari sedikit ke atas, lalu Dafa memasukan kembali intinya dan mulai menghujami kembali inti sang istri. Tangannya kembali ke choki chips dan meremat dan memilinnya.
Gerakan itu tidak membuat Helen terganggu. Walaupun tubuh ibunya bergoyang, Helen masih asik dengan aktivitas nya.
Dafa sedikit mengangkat kepalanya hingga bersandar di bahu Mentari, menatap anaknya sebentar lalu menciumi bagian wajah Mentari, mulai dari telinga, mata, pipi dan terakhir saat mentari ikut mendongak bibir nya langsung Dafa sambar.
Tangannya terulur ke bagian kecil di bagian inti tubuh istrinya memberi sentuhan memutar di bulatan kecil itu, dengan tubuhnya yang lain masih asik menghentak goa milik istrinya itu.
"Mas ... " Mentari menegang dia mencapai puncaknya, saat itu juga Dafa semakin keras berpacu di bawah sana. Hingga akhirnya dia menghisap kuat bibir itu saat ledakan kenikmatan dia dapatkan di bawah sana.
Erangan panjang terdengar dari keduanya, Dafa melepaskan kelebihan tubuhnya yang menempel di bagian tubuh Mentari yang kekurangan. Merebahkan tubuhnya masih dengan nafas yang memburu.
"Akhirnya ... buka puasa." katanya masih dengan debaran jantung dan deru nafas yang melelahkan.
"Sun?" Dafa menoleh pada istrinya
"Hemm." Jawab Mentari singkat.
"Astaga ... saking enaknya ya? aku kira kamu pingsan." godanya.
Mentari tak menjawab dia lelah dalam kenikmatan itu.
Dafa bangkit mencari tisu, lalu duduk kembali dan membuka lipatan paha itu dan mulai membersihkan cairan yang berceceran di celah paha istrinya.
Mentari memejamkan mata, sesekali melirik Helen dan mengusap nya. Bayi itu sangat kooperatif di tengah kegiatan Ayah Ibu nya.
Dafa mengambil selimut yang memang ada di situ, menyelimuti tubuh polos istrinya sekaligus putrinya.
Dia juga ikut masuk ke dalam selimut itu.
"Ighhh, pakein dulu aku baju."Mentari kaget saat Dafa hanya menutupnya dengan selimut.
" Gini dulu, aku pasti nambah soalnya." Dafa mengeratkan pelukan pada perut Mentari.
Mentari hanya pasrah, tau ini momen yang di rindukan suaminya, tak munafik dia juga merindukan adegan ini sama besarnya dengan sang suami.
Ketiganya tertidur tepat di pukul 12 malam. Saat hujan semakin reda dan hawa dingin Bandung atas semakin menusuk tulang.
**Bersambung ❤❤❤**
**Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰**
**Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘**
**Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤**
**Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰**
Katanya cerita ini bagus lain dari pada yang lain, (dih geer🙄🙄) tapi katanya kenapa masih sepi🤔. (nggak percaya ya ada yg muji gitu? gih scroll kolom komentar 🤭).
Maka dari itu, **semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong segera meledak dan banyak yang tersesat baca Aminnnn** 🤲🤲dan menemukan kegilaan yang bikin keram anu eh... keram perut gitu, yuk kuyyyy pada share dong, bilang ada cerita lucu, imut, gemesin di sini🤣🤣😜😜
Eh banyak yang mampir baca ke cerita aku yg satu lagi. Please jangan ya🙏🙏🙏 mau aku revisi ulang. mau di hapus itu, Ampun amburadul nya pake banget. ( sok iye kayak ini rapi aja🙄) tapi asli yang sebelah bikin sakit mata dan sesak nafas. kagak usah ya. nanti aku mau buat yang versi rapi dikit lah. yg ono mau di hapus 🙏🤭🤭.
__ADS_1
Wkwkwk panjang bener curhat ku melebihi curhat nya Bintang 🤣🤣🤣🤣