Kisah Mentari

Kisah Mentari
Bahagia mereka


__ADS_3

...❤❤❤❤...


"Sabar sayang... kamu kuat... " Dafa setengah ikut berlari menyeimbangi brangkar yang di dorong dua suster.


"Nggak... ini udah nggak kuat... "


Mentari meremat kuat lengan suaminya.


Benar-benar Dafa merasakan panik, dan tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa rasa sakit istrinya segera berakhir.


Saat masuk ke ruang bersalin, dengan sigap dirinya memindahkan Mentari ke ranjang khusus persalinan.


"Dokter Mila?" tanyanya pada suster yang sibuk mempersiapkan alat-alat medis.


"Sebentar pak, baru sampai di parkiran sedang menuju ke sini," jawab seorang suster yang baru masuk.


"Maaaassss.... " Jerit sang istri.


"Iya, iya sayang... "


Dafa kembali mengusap puncak kepala istrinya, mencoba menenangkan dan memberi semangat.


"Aduhhh... " Erangan semakin kuat.


Pintu terbuka muncul lah dokter Mila langsung yang sudah dengan seragam hijau nya, langsung menyambar sarung tangan steril.


"Sabar ya Bu, Ayah nya boleh bantu membenahi posisi ibu," ucapnya sambil menarik turun celana Mentari.


"Dok... "


"Iya, aduh udah ngintip dedek nya. Sekali ngeden langsung keluar pasti," katanya menyemangati.


Dafa mengintip dan benar saja kepala anaknya sudah terlihat mengintip. Meringis sekaligus takjub, matanya memanas, selalu seperti itu. Hatinya langsung mencelos, padahal ini sudah ke dua kalinya dia menyaksikan momen kelahiran anak-anaknya namun selalu membuatnya haru.


"Sakiit... " Rintihan istrinya semakin menyayat hati, tak kuasa berbuat apa-apa.


Namun saat pandangan nya bertemu mata istrinya yang terlihat sayu, akhirnya dia menyerah air mata pun jatuh, "sayang... aku tau ini sakit, tapi Mas mohon berjuang untuk anak kita. Kamu pasti kuat kamu selalu menjadi ibu dan istri yang hebat," katanya sambil mengecupi wajah sang istri.


"Nggak kuat... sakitt... " Mentari melenguh menahan gelombang rasa sakit.


"Ayo... Bu, atur nafas. Hembuskan ... iya, begitu.."


Dokter Mila terus membimbingnya.


Hingga tak lama jeritan tangis bayi itu menggema di ruangan itu. Dokter yang sigap langsung menangkap bayi itu.


"It's a boy... " Ucap sang dokter sambil mengangkat bayi itu dan menaruhnya di atas dada Mentari.


Air mata kebahagiaan dan lega meluncur begitu saja dari pasangan suami istri itu.


"Heyy... boy." Bisik Dafa sambil menyaksikan anaknya yang bergerak mencari sumber makanannya.


"Mau bikin kejutan ya, buat Ayah sama Ibu tiap di USG suka ngumpet. Mau jadi jagoan buat jagain kakak-kakaknya ya?" Dokter Mila berkata sambil merawat Mentari.


"Mau langsung pasang kb Bu?" tanyanya saat sedang menyelesaikan tahap akhir pada bagian intim Mentari.


Seperti pembicaraan mereka dulu, tentang kb pasang yang akan Mentari lakukan setelah melahirkan.


Mentari yang masih terlihat pucat sambil memeluk putranya yang telah menekuni dadanya. Dia menoleh pada sang suami.


"Iya...


" Enggak...


Jawab mereka bersamaan namun dengan kata yang berbeda.


"Sayang," Dafa mengerutkan keningnya.


"Jangan dulu, nanti aja!" Mentari merengek pada sang suami.


"Sekarang, aku nggak mau kamu hamil lagi dalam waktu dekat ini. Karena aku takut cebong tangguh itu bakalan bobol lagi." Dafa seperti ketakutan melihat perjuangan istrinya untuk anak-anak mereka, rasanya tak tega jika harus kembali menyaksikan itu semua dalam waktu dekat.


Mentari terdiam, sakit memang tapi entah kenapa saat dia berhasil dan memeluk bayi yang baru dia lahirkan rasanya ingin dan ingin lagi hamil. Tidak ada trauma, itu semua malah menjadi kebahagiaan yang luar biasa untuk dirinya.


"Ya, nggak sekarang mungkin tiga atau empat tahun lagi kita buka KB nya." Dafa meyakinkan.


*


*


Mentari sudah berada di kamar rawatnya.


Dafa sedang menimang jagoan kecilnya yang baru saja selesai menyusu.


"Tidur aja sayang," ucap Dafa.


Mentari mengangguk dan membenahi posisi tidurnya.

__ADS_1


Sebuah ketukan terdengar.


Lalu perlahan pintu terbuka, sesosok perempuan cantik masuk sambil tersenyum mendekat ke arah Mentari yang di sebelah nya tepat terdapat box bayi berisikan bayi tampan mereka.


"Selamat ya, ughhh lucu... " ucapnya.


"Eh... laki-laki?" tanyanya pada Mentari.


Mentari menganggukan kepalanya pelan.


"Aghh... lengkap, Alhamdulillah."


"Gemoy, berapa kilo ini?"


Dafa yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri mereka dan duduk di ujung ranjang bagian kaki istrinya.


"Beratnya 3,4 kg panjang 53," jawab Dafa sambil tangannya memijat kaki sang istri.


"Gede ya! tapi cepet keluar, do'a in aku cepet punya yang kayak gini," kalimat itu terdengar lirih pasalnya sudah berbagai terapi mereka lakukan demi garis dua itu, namun belum terlihat hasilnya.


"Sabar, pasti sebentar lagi punya yang gemoy kayak gini. Berdo'a dan usaha terus," Mentari mengusap lengan kakak iparnya.


Wanita cantik itu mengangguk, berdoa terus usaha apalagi ampe kayaknya tiap gerak dia minta," katanya polos.


Dafa dan Mentari terkikik geli mendengar ucapan Istri kakaknya itu.


Saat mereka sedang berbincang pintu kembali di ketuk dan muncul lah Bunda, Ayah , Langit dan juga Cindy yang menuntun AL putra mereka.


Mereka hanya diam saat rombongan itu masuk.


"Kenapa nggak nelpon Bunda? jangan bilang pengen hening tapi malah ke rumah sakit," gerutu wanita paling sepuh di rumah itu.


Mentari sedikit membenahi posisinya.


"Iya, maaf tadi kita semua panik. Waktu Bunda pulang ketuban aku pecah, dan bikin seremnya langsung sakit dan kayak ada yang neken mau terjun. Ihh... serem," Mentari mengingat proses yang dia lewati tadi.


Bunda mengusap kening putrinya lalu mengecupnya, "anak Bunda hebat," ucapnya lalu semua orang memusatkan perhatian pada box bayi kecil yang terdapat bayi tampan berselimut kan kain berwarna biru.


"Boy?" Ayah bertanya.


Mentari mengangguk, mulutnya tak hentinya memancarkan senyum kebahagiaan.


"Akhirnya, ada yang bisa di ajak ngotak-ngatik motor," ucap Ayah menepuk punggung menantunya.


Dafa hanya tersenyum menanggapi perkataan Ayah mertuanya itu.


*


*


"Tadi muntah-muntah di mobil, Yah. Kebayang kan baunya kayak apa? aku ngerasa berdosa tapi pas liat ke parkiran nggak ada kayaknya dia marah. Aku pulang dulu. Mau liat keadaannya takutnya berlarut-larut," pamitnya pada semua orang.


Ayah tiba-tiba tertawa saat menantunya keluar dari ruangan itu.


"Ayah?" Bunda yang tengah menggendong cucu barunya, heran melihat suaminya tiba-tiba tertawa.


"Iya, Ayah cuma bayangin tuh budak semprul muntah abis makan dua papan pete, di tinggalin istri nya lagi," lagi ia terbahak.


Semua orang ikut tertawa tak kecuali Bunda.


"Tapi kasian, Yah... kayaknya dia trauma juga liat darah aku, inget dulu waktu lahiran Helen kakak ampe pingsan kan!"Mentari mengingatkan kembali kejadian beberapa tahun lalu.


Mereka semua mengangguk sambil menerawang ke masa itu.


" Namanya?" Langit kini bersuara


Mentari menoleh ke arah suaminya, "siapa Mas?" tanyanya pada sang suami.


"Arric Fatar Putra" Jawabnya pasti.


"Artinya?" kini Bunda yang bertanya.


"Arric artinya pemimpin dengan kasih, Fatar Putra ya putra Dafa Mentari. " jelasnya.


"Bagus. Nama adalah sebuah doa di masa depan," Bunda menciumi pipi bayi merah itu.


*


*


Di lain tempat.


"Sayang?" Bintang menyapa sang istri saat baru sampai di rumah.


Istrinya terlihat mondar-mandir di teras rumah, dengan pikiran bahwa suaminya itu marah.


"Aku kira kamu marah!" Perempuan itu menghambur memeluk suaminya.

__ADS_1


"Hah? nggak lah. Aku nyari tukang cuci mobil yang mau nyuciin bekas muntah sama darah di mobil. Mereka takut bekas apa2, aku ngeluarin dua ratus ribu buat yg mau nyuciin. Baru pada lomba-lomba rebutan mau nyuci tuh mobil."


"Kenapa nggak kamu aja?"


"Kamu mau, aku muntah lagi?"


Mereka tertawa sambil masuk ke dalam rumah.


"Eh, tadi yang kasih tau Ayah sama Bunda siapa?" tanya sang istri.


"Aku, kenapa?" Bintang menuntun sang istri menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Tau kamu nggak marah, aku masih betah di sana. Bayi nya laki-laki, lucu banget. Akhirnya Mas Dafa punya temen main bola," ucapnya dengan wajah berbinar.


"Lah, si borokokok mah. Main bolanya sama si chaca lah!"


Istri nya itu menoleh tak mengerti dengan ucapan suaminya itu.


"Emang bisa?" tanya nya polos.


Bintang yang membuka pintu kamar nya itu tertawa.


"Seneng aku, kamu masih polos padahal udah aku kontaminasi tetep aja polos," Bintang menciumi gemas wajah sang istri.


"Se-sebentar, lepas dulu ih... " Wanita itu meronta dari pelukan Bintang.


"Jelasin, emang Tari bisa main bola?"


Lagi-lagi suaminya itu malah tertawa sambil berjalan ke arah lemari mengambil kaos rumah dan sebuah celana pendek jersey club Persib kesayangan nya.


"Bentar aku ganti baju dulu," Bintang berlalu ke arah kamar mandi meninggalkan istrinya yang mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur mereka.


Tak lama Bintang keluar dengan wajah yang segar.


"Apa?"


"Nggak sabar banget kalo soal bola," ucapnya sambil mendekat.


Bintang duduk di sebelah istrinya, "Dafa kalo main bola pasti sama si chaca, tapi bola nya dua. Nih bola ini." Dia raih tangan si istrinya dan dia sentuh kan ke bagian bawah tubuhnya.


Istrinya itu menjengit namun tak melepaskan itu, dia malah meremat gemas karena kesal atas tingkah sang suami.


"Adaaawwww... Sayang, ini pabrik anak-anak kita, kamu obok-obok seenaknya," Dia mengejar sang istri yang berlari sambil tertawa masuk ke kamar mandi.


"Awas ya... keluar, aku abisin kamu," gumamnya pelan sambil mengusap telor kembar miliknya.


Tak lama dia keluar melihat istrinya yang berbalut handuk di badan dan juga kepalanya.


"Sayang... bikin yang gemoy yuk, mumpung nggak ada orang, jadi kita lebih bebas berekspresi, dan bereksperimen," Bintang menyeringai mesum.


Istrinya hanya melewati nya tanpa menghiraukan bujuk rayu sang suami.


"Yang... " Bintang menarik tangan istrinya.


"Ayok... jarang loh kita siang main? biasanya kita sibuk, ada di rumah tapi kamu suka di sita Bunda Suri, dan aku sering di ledek baginda Raja kalo mau berduaan sama kamu," wajahnya memelas.


Akhirnya istrinya mengalah, dan menerima ajakan suaminya itu.


"Mau mainin bola aku dulu nggak?"


Tangannya mengambil tangan istrinya lalu matanya memejam, "Enak ya?" ucapnya dengan suara parau.


"Kamu kali yang enak, aku mah B aja!" Bintang membuka matanya yang tadi terpejam menikmati.


Namun saat sesuatu semakin mengetahui, si pyton yang telah berubah menjadi kobra. Bibirnya mendekat hendak mencium bibir sensual istrinya.


Tiba-tiba, "huewwweekk... huweekk.. " istrinya menutup hidung dan mulutnya.


"Bauu, bau pete. Di bilangin jangan makan pete," Dia memundurkan tubuhnya menjauh.


"Terus ini?" tunjuk nya pada si kobra.


"Nanti-nanti aja, kalo baunya udah ilang," ucapnya datar sambil berjalan ke arah lemari.


Bintang langsung berlari ke kamar mandi, menggosok giginya berkali-kali sampai terasa gusinya ngilu, terus di lanjutkan memakai obat kumur. Tapi masih bau, berjalan ke arah dapur membuat kopi hitam dan dia kumur-kumur dengan kopi itu.


"Masih... bau," Sang istri masih bersikeras menyatakan dirinya masih bau.


Bintang frustasi, dia terlihat layu saat makan malam bersama Ayah dan Bunda nya.


❤❤❤


Masih ada yang nungguin?? maaf nggak up beberapa hari, mikirin cerita mereka yang di akhir harus bahagia semua dan memberi kesan itu "susyaaahhh" 🤭😩


Sedikit lagi ini end kok aku nggak mau ya🤭🤣🤣


tapi harus di akhiri udah kepanjangan, dan aku nggak bisa fokus ngerjain dua judul nama karakter nya suka belibet ketuker sana sini🤭🤣🤣, maafkan🙏🙏🤭🤭. Like komennya jangan lupa ya di detik-detik terakhir kisah mereka🤭🤭.

__ADS_1


Salam cium dari Bandung 💋💋💋💋


__ADS_2