
...πΈπΈπΈπΈ...
"Ehhmm ... Mas, itu telpon."
Mentari yang sedang terengah menikmati permainan suaminya yang sedang berada di atas tubuhnya.
Dafa seperti biasa menulikan pendengaran nya.
"Masss ... " Suaranya setengah mengerang setengah kesal.
Dafa menunduk menatap wajah sang istri, "Bentar lagi." Katanya tanpa menghentikan pergerakan pinggulnya.
Mentari mencengkram lengan Dafa yang menahan di kedua sisi tubuhnya.
"Udah, buruan aku udah lemes." Gerutunya kesal.
"Iya .... ini udah ahhhh... " des*ahnya panjang.
Dafa berguling ke sebelah tubuh sang istri, sementara Mentari menggapai ponselnya yang kembali berbunyi.
"I-iya, Bun?"
"... "
"Aku lagi di kamar mandi, Mas Dafa? masih tidur. Iya Helen juga."
"... "
" Iya, kesini aja. Asik aku ada temen ngerujak. Iya Bun."
Perbincangan pun selesai, Mentari kembali menyimpan ponselnya. Saat dia menoleh ke arah Dafa, dirinya langsung memukul perut suaminya.
"Bangun ih, Bunda sama yang lain mau ke sini. Buruan Mandi bantuin aku nyiapin cemilan." Titahnya.
Dafa beringsut bangun mengikuti Mentari yang memasuki kamar mandi.
"Ngapain? "
"Mandi, kan tadi di suruh."
"Ya, nanti kan bisa. Gantian gitu." Omel nya.
"Lah, mandi doang bareng aja sambil saling menyabuni punggung."
Mentari mendelik ke arah suaminya itu yang melenggang ke arah di mana shower berada.
Mereka pun mandi hanya mandi saja, tanpa kegiatan aneh-aneh.
Dafa tengah menggendong Helen yang terbangun sesaat setelah mereka menyelesaikan acara mandi nya. Sedangkan Mentari tengah membuat salad buah sambil menggoreng kentang, sosis, dan nugget sebagai cemilan.
"Mas ... "
"Kenapa? perutnya kram lagi?"
"Kok, gitu nanya nya?"
"Takut, takut debay marah sama bapaknya yang nengokin dia nya nambah." Ucapnya sambil mengusap perut sang istri.
"Nggak kram, cuma lutut aku lemes."
Dafa tertawa sambil mencium gemas pipi Mentari, "berasa kopong ya lutut kamu? Aku juga sama pinggang pegel." keluhnya.
"Iya, Sama-sama capek buat bekel seminggu kedepan!" Mentari berbicara sambil menyimpan sosis yang sudah dia tiriskan di tisu masak.
"Lah, emang kuat libur? tadi aja kamu yang semangat." Godanya.
"Nggak." jawabnya sambil terkikik
Mentari tertawa memalingkan wajahnya, memang setiap dia hamil keinginan berhubungan semakin meningkat. Bahkan saat hamil Helen dulu dia sampai bermimpi. Mentari kembali menahan senyum membayangkan nya.
...***...
Tak lama terdengar suara mobil, dan Dafa yang masih menggendong Helen berjalan membuka pagar.
Pagar baru terbuka sedikit, Cindy berlari menerobos masuk di ikuti Langit yang terlihat cemas.
"Kenapa?" Tanyanya Dafa tanpa mendapatkan jawaban dari Langit yang sudah masuk ke dalam rumahnya.
Bunda yang sedang berjalan ke arahnya, langsung meraih Helen dari gendongan Ayahnya. "Biasa, bumil." Kekeh wanita yang hampir memiliki tiga orang cucu.
Kemudian Dafa menyalami Ayah dan Bunda nya.
"Personil satu lagi nggak ikut Bun?"
"Masih tidur, abis ngapel dari jakarta. Pulang jam 1 kalo nggak salah." Jawab Bunda sambil berjalan memasuki rumah anak perempuan nya.
__ADS_1
...***...
Semua sedang bercanda gurau, Helen tengah jadi bintang keluarga yang di tidurkan di karpet di ruang keluarga bayi yang sudah mulai merangkak itu menjadi hiburan tersendiri.
Cemilan yang di sediakan Mentari bertambah banyak dengan yang di bawa sang Bunda, dari mulai donat, risoles, dan jajanan kampung lainnya. Tak ketinggalan rujak untuk dua bumil.
Makanan yang berlimpah itu langsung di serbu oleh semuanya. Karena mereka memang sengaja belum sarapan.
"Jadi ya, kita makan siang di luar." Ujar Ayah.
Semua orang mengangguk setuju.
"Cin, masih mual muntah ya?" Mentari bertanya pada sahabat sekaligus iparnya itu.
"Iya, tapi nggak parah. Cuma harus bawa-bawa botol minyak kayu putih kemana-mana." kekehnya.
"kalo makanan?"
"Masuk semua," bibirnya nyengir seperti biasa.
Langit yang sedang menyimak ikut mengusak dan membawa kepala istrinya mendekat dan menciumi nya.
"Ih, Abang romantis banget. Si jutek ku. Mas mau yang romantis kek Abang." Rengeknya pada suaminya yang tengah membalas e-mail di ponselnya.
"Kalo aku nggak romantis kamu nggak mungkin hamil lagi, Sun." Ucapnya datar.
Mentari memajukan bibirnya tak suka mendengar jawaban dari suaminya.
"Itu mah doyan."
Ucap Bintang dari ambang pintu.
Semua orang langsung menoleh ke arah suara.
Terlihat Bintang yang berjalan gontai langsung ikut berbaring di atas karpet dan menciumi Helen yang memandangnya aneh.
"Lah, doyan juga kalo nggak ada rasa nggak enak!" Timpal Ayah.
Lalu Bunda menatapnya, "Ayah pernah emang ke bukan selain Bunda?" Mata Bunda hampir keluar menatap suaminya itu.
"Eh, bukan gitu maksud Ayah Bun!"
"Lah, pernah jajan kali Bun si Ayah." Timpal Bintang sambil terkikik-kikik melihat raut cemas sang Ayah.
"Diem, semprul." Sentak Ayah menatapnya geram.
Bunda bangun dari duduknya, Ayah menahan tangannya.
"Apa sih?" Bunda menghempas kan tangannya.
Ayah panik wajahnya seketika memucat.
"Bun, mau kemana?"
"Mau, jajan." Jawabnya asal.
"Astaga, Bun. Ayah nggak pernah jajan sumpah. Setia banget." Lelaki paruh baya itu mengikuti istrinya ke luar menuju teras sambil membawa Helen.
"Seru banget ya, liat drama ikan terbang." Dafa masih berbaring di karpet dengan berbantalkan sebelah tangan nya.
"Husss ... nggak sopan lu, kita yang udah keluar rumah Ayah mah tenang, lu yang masih serumah selamat menikmati cepretan kemarahan Ayah." Langit mengingatkan sambil tertawa.
Bintang hanya melengos malas.
πΈπΈ
Sepasang suami-istri old member itu masuk ke dalam rumah sambil berbisik dan terkikik-kikik, ntah apa yang mereka bicarakan tapi dari raut wajah Ayah dan Bunda terlihat mereka senang.
"Sayang, Helen tidur. Bunda simpan langsung ke kamar ya!" Lalu berjalan memasuki kamar anaknya.
Bintang beringsut bangun, sedikit merangkak ke arah Ayahnya.
"Yah, di bujuk apaan Bunda?" tanyanya kepo.
"Liburan ke Turki, Bunda lagi terobsesi sama layang- layang terbang." Jawab sang Ayah.
"Hilih korban film si Bunda, memanfaatkan situasi." Bintang mencebik kesal.
plakk
Ayah memukul punggung putra nya itu.
"Sakit, Yah." Rengeknya.
"Budak semprul, emangnya kita pergi pake duit kamu? kan nggak."
__ADS_1
"Iya, ini demi kemaslahatan malam-malam Ayah, tau aku."
"Sirik aja, nikah sana." Sindir Ayah.
"Dia nya belum mau, Yah."
"Ya, mana mau sama laki-laki setengah edyan kayak kamu." Ayah terbahak puas meledek putranya.
Bintang melengos sebal, dia kembali merebahkan tubuhnya di karpet.
Semua orang seperti biasa menertawakan nya dengan tak berperasaan.
*
*
"Eh, mana pengasuh Helen?" Bintang membalikan tubuhnya menghadap sofa yang berisikan dua pasang suami istri itu.
"Tiap sabtu minggu kan dia ijin, pulang ke rumahnya." Mentari yang tengah memakan rujak yang di pegang Cindy menjawab pertanyaan sang kakak.
"Ngapain tanya-tanya? dia sebel tau sama kakak. Katanya dia sering di marahin nggak jelas." Tambahnya lagi.
"Dih, kalo di marahin tandanya dia salah. Lagian nggak tau ketemu di mana tapi pokoknya gue pernah ketemu sama dia." Cicitnya.
"Jangan terlalu benci, nanti cinta." Timpal Cindy.
Bintang menatapnya, "Nggak mungkin lah Naya mau di kemanain? Si gitar Spanyol ku!" Tangan Bintang bergerak membuat bentuk body goals Naya.
"Si pengasuh Helen, yang cungkring nggak banget."
Ejeknya.
Ayah yang sedari tadi menyimak percakapan anak-anak nya seketika bersuara, "Udah di ukur belum senjata air kamu? jangan sok2an ngehina body orang kalo yang kamu belum tentu muasin."
Lalu pria paruh baya itu tertawa di ikuti anak dan menantunya.
"Asem, aku kayak anak pungut Ayah, nggak adil banget selalu aja jadi orang paling teraniaya." Bintang berguling-guling kesal.
Semua orang masih terbahak-bahak di sana,
"Lah, emang punya kalian gede panjang?" Tanyanya sambil memandang Dafa dan Langit bergantian.
"Kita mah nggak usah di ragukan, Gue dah mau menghasilkan dua, Abang langsung tokcer. Lah lu, masih di ragukan." Dafa terbahak merasa berhasil membuat si banyak omong itu terdiam mematung.
"Adik ipar nggak punya akhlak, kita liat aja ya entar kembar langsung anak gue." Jawabnya jumawa.
"Aduh berisik, Helen tidur!" Bunda keluar dari kamar.
Ayah merentangkan tangannya pada sang istri, lalu Bunda berjalan mendekat.
"Anak perempuan pada asik ngerujak, anak cowok pada main HP, kita ngapain Bun? sambil nunggu jam makan siang!" Ayahnya berbisik namun masih dapat di dengar anak-anak nya.
"Ngamar sono, biasanya juga suka ngamar." Ucap Bintang.
"Ide, bagus. Cha kamar kosong bersih?" Ayah bertanya pada sang putri,
"Bersih Yah, tapi cuma ada karpet doang. Nggak apa-apa?"
"Biarin, yuk Bunda. Kita sambil ngobrol tentang Cappadocia di sana sambil tiduran." Ayah bangkit menggandeng tangan istri nya berjalan ke arah kamar yang di tunjukkan sang putri.
"Bunda marahnya serem ya, harus nebus perjalanan ke Turki. Semoga nanti bini gie kalo marah cukup dengan cilok." Bintang bergumam seperti berbicara ke dirinya sendiri.
"Ciloknya segerobak." Timpal Langit.
"Kagak lah, ciloknya dua doang tapi nggak akan abis-abis soalnya alot." Dai terkekeh sendiri.
"Dasar Sedeng...
" Dasar gila ...
"Semprul ..
" Nggak waras ...
Ke empat orang itu memakinya bersamaan.
Bintang hanya tertawa puas sambil sesekali mendapatkan pukulan atau lemparan bantal dari arah sodara-sodaranya.
Bersambung β€β€β€
terimakasih yah buat kalian yang masih setia sama cerita receh iniπ₯°π₯°πππ, like komen nya jangan ketinggalan okeeehhh ππ
Maaf nggak up, saya lagi lemes tak bertulang kemarin π€π€.
Semoga suka πππ
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaπ€π€