Kisah Mentari

Kisah Mentari
Double VS Single


__ADS_3

❀❀❀


Pasangan suami istri itu masih terkikik di depan pintu, mendengar gerutuan kakak nya yang bermulut extra.


"Mas, Udah. Aku sakit perut." Mentari sedikit menunduk karena terpingkal dan memegangi perutnya yang terasa pegal.


Dafa masih terkikik dan tangannya masih memegangi tangan sang istri nyang bertumpu padanya.


"Udah, sana beresin pake cream nya. Kita kan mau perayaan!" titahnya.


Mentari mencebik kesal, namun tak ayal dia berjalan ke arah meja rias. Dan Dafa kembali ke tepi kasur sambil mencari referensi gaya untuk dia pakai di acara perayaan bersatu nya kembali mereka.


(Padahal kan udah beronde-ronde di butikπŸ™„πŸ™„)


"Sayang ... lamaa ishhh, buruan keburu Helen bangun," Dafa menggedor pintu kamar mandi, sudah hampir setengah jam Mentari di dalam sana.


"Bentar, aku sakit perut." Jawabnya dari dalam kamar mandi.


Ngomel mulu, kayak yang belum dapet aja. Semalem berapa kali coba nggak puas-puas. Gerutu Mentari pada tingkah tak sabaran nya Dafa.


"Kamu makan apa? Perasaan tadi makan malem kamu makan sop ayam doang." Dafa kembali bersuara di balik pintu, tangannya sudah mulai mengusap-usap adik kesayangannya.


"Sun, duh udah mulai ada ser2 gimana ini." Rengeknya lagi.


Mentari yang memang nyeri di bagian perutnya, mendengus kesal dan bergegas menyelesaikan semua, membuka pintu lalu melihat Suaminya itu bersandar di pinggir pintu.


Mentari menatap dengan mata yang menyipit tanda dua sedang menahan marah, lalu tangannya masih meremat perut bawahnya. "Asli, perut aku mules banget. Mas, mau balesin badan aku nggak?masuk angin kayaknya." Dia berjalan menuju tempat tidur.


Dafa yang sudah gelisah tak karuan, menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil mengikuti istrinya naik ke tempat tidur.


"Tapi, yang belakang aja ya? yang depan kasian Helen nanti pas ngisep kebauan." Usul Dafa.


Mentari membuka tanktop nya yang sudah tak memakai kacamata kain lagi. Membalikan tubuh dan langsung tengkurap di hadapan sang suami.


Dafa malah memandang penuh kegelisahan, melihat Mentari tanpa penutup bagian atasnya, menyisakan celana tidur se paha yang dia kenakan.


Sesuatu semakin mengeratkan di bawah sana, Dafa dengan yakinnya ikut membuka kaos oblong nya.


Menyisakan boxer ketat yang semakin menyesakkan, karena penghuninya sudah berubah wujud dari belut menjadi tongkat kasti. (πŸ™„πŸ€£)


Dafa mulai menggosokkan minyak beraroma mint itu pada tubuh sang istri, menggosok nya perlahan penuh penghayatan namun semakin menyiksanya.


Sudah hampir sepuluh menit, bahkan peluh sudah berjatuhan karena menahan hawa panas dari apa yang dia tahan sejak tadi.


Dia mengusap keningnya dengan kaos yang dia lepas tadi. "Belum main, Sun. Udah banjir keringet gini." Tak ada jawaban dari istrinya itu, dia membuka helaian rambut yang menutupi wajah istrinya itu.


"Astaga ... bukan iklan lagi ini, tapi Zonk ini." Ucapnya sambil menepuk keningnya keras.


Mencoba membangunkan dengan segala cara, dari mulai berbisik, mengguncang, mengusap, bahkan si adik ikut dia gesekan agar istrinya itu tau, dia sudah sangat menginginkan. Namun Mentari sungguh terlelap dengan nyenyak nya.


Dafa berbaring di dekatnya, memandang wajah ibu dari anaknya itu, tersenyum dan berbisik, "Capek banget kayaknya, untuk sekarang aku biarin kamu istirahat, nggak tau kalo subuh. Jangan kaget kalo aku tiba-tiba nyelonong masuk sendiri ya." Lalu dia membetulkan tubuh istrinya dan menarik selimut hingga menutup tubuh mereka.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu pun terlelap tidur dengan Sang suami yang mendominasi memeluk tubuh istrinya itu.


*


*


Di kamar lain...


Bintang sedang serius membaca artikel di ponselnya, sambil tersenyum dan sesekali mengangguk kecil. Tak lama dia menghubungi Naya, Menggunakan video call.


Tak lama panggilan video nya pun Naya angkat.


Matanya berbinar saat melihat sang kekasih di depan mata dengan begitu cantik dan uhuyyy nya.



"Apa? " Tanya Naya sambil tersenyum kecil.


"Udah tidur?" Pertanyaan yang bego. Bintang merutuki ucapannya sendiri.


"Terus kalo udah tidur, nggak akan jawab video call kamu dong, Mas." kekehnya lucu.


Bintang tertawa canggung, lalu tatapannya terjurus pada Naya yang seperti tak memakai pakaian.


"Kenapa?" Naya bertanya heran saat melihat Bintang mengerutkan alisnya seperti sedang memikirkan isi jawaban kertas ujian.


"Ehm ... kamu nggak pake baju?" tanyanya ragu.


"Pake lah, masa iya nerima panggilan dari kamu nggak pake penutup. Aku pake crop top tapi talinya aku lepas, biar pas malem Altaf bangun pengen mimi lebih gampang.


Bintang mengangguk kecil dengan wajah merona, malu akan pertanyaan dan otak nya yang dangkal juga kotor.


" Aku, kira ... "


"Otak ngeres, satuan sana." Naya meledaknya.


Bintang tertawa, "Ini semua gegara pasangan yang lagi honeymoon ke dua, masa iya suaranya kedengeran ampe keluar kamar." Rengeknya seolah merasa teraniaya.


"Mau kemana?" Bintang bertanya saat Naya terlihat berjalan dengan ponsel yang masih memperlihatkan wajahnya.


"Ke kamar, takut Altaf bangun." Naya berkata sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur nya.


Posisinya menyamping malah membuat buntalan kembar itu saling bertindih.


Bintang sampai menelan ludahnya berkali-kali, seolah terus mengalir dan takut menetes, melihat sesuatu yang membuatnya ingin memegangnya, mengusap, dan mencicipi nya.


"Astaga ... " Gumamnya.


Naya semakin terlihat sayu, sepertinya dia sudah mengantuk dan akan segera terlelap.


Bintang mengusap senjatanya yang mulai menggeliat dapat pancingan sebuah pemandangan indah luar biasa.

__ADS_1


"Nay ... " Bintang memanggilnya dengan lembut.


Namun si ponsel malah terjatuh dari pegangan tangan Naya dan terjatuh tepat di depan dadanya.


"Anugrah ... " Bintang semakin membola.


Sebenarnya ini sesuai rencana awal, hanya untuk membangunkan senjatanya, dia ingin mengukur senjatanya jika sedang mencapai puncak maksimal nya, dan ingin mengukurnya. Itu tekat awalnya, agar dia bisa mengetahui dia ada di golongan, mini, standar, atau wowwww.


Setelah merasa dia sudah maximal kerasnya, panggilan pada Naya dia matikan. Tak tega juga dia melihat Naya yang sudah tertidur nyenyak, namun sebelum itu di Ss untuk menjadi bahan imajinasinya.


*


*


Bintang langsung berlari mencari pengukur, sambil tangannya tetap mengusap menjaga senjatanya di posisi on terus.


Dan dia mengukur nya, Bintang menatap angka di penggaris itu, setelah dia tempelkan untuk mengukur panjang senjatanya.


Lelaki yang minim pengalaman itu, termenung di sebuah kertas setelah mencatat hasil angka yang dia dapatkan.


"Waduh ... masa iya, gue harus ngukur punya Ayah, Abang, ama si kunyuk. Buat ngakurin, atau seenggaknya gue punya patokan lah." Dia berpikir cara apa agar dia mengetahui ukuran orang sekitar nya.


Dia berjalan kembali ke tempat tidur. Berbaring kembali.


"Woyyy ... udahan, masih tegak grak aja lu, Boy. Istirahat di tempat grak." Ucapnya.


"Nambah-nambahin kerjaan gue aja, lu." Lelaki itu berjalan ke arah kamar mandi.


Lalu mencuci tangannya, karena tangannya habis memakan peyek teri. Nggak asik rasanya sosis bau ikan, nanti bukan sosis malah jadi otak-otak ikan, dia terkikik geli dengan pikirannya.


Kembali ke atas ranjang dan sudah memegang body lotion dan kotak tisu.


Menatap gambar Naya yang begitu uhuyyy.


Saat menurunkan celana rumahanya. Dia malah di buat geram, karena dia sudah mulai tertunduk layu kembali.


"Lah, lu ngerjain gue." Lalu dia kembali menyimpan body lotion dan kotak tisu itu yang sudah tak di perlukan lagi.


Dia meringkuk, dengan memandang foto Naya.


"Good night, bohay ku. Dateng nyamperin mimpi aku, kita uhuyyy uhuyyy boleh lah." lalu dia mencium foto itu dan tertawa dengan matanya mulai memejam.


Bersambung πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Terimakasih yang sudah mampirπŸ™πŸ™, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi πŸ™πŸ™, cuma buat rame2 ajaπŸ₯°πŸ₯°


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❀


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir πŸ™πŸ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lainπŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🀲🀲


__ADS_2