
...❤❤❤❤...
Suasana malam itu, bagaikan perkumpulan anak cucu di kala Lebaran. Berjejer seperti ikan dalam keranjang.
Untungnya kamar Ayah luas di tambah dua kasur bisa besar pun masih tersisa space.
Di ranjang itu Ayah di apit tiga wanita kesayangannya, istri dan anak, Shera yang merengek ingin tidur di sebelah Ibunya.
Di kasur tambahan ada para menantu perempuan bersama cucunya AL dan Helen yang berada di tengah-tengah mereka.
Para lelaki, anak dan menantu laki-laki tidur dalam satu kasur.
Kamar itu terasa hangat, walaupun AC sudah di suhu yang seharusnya membuat menggigil.
Terkadang Ayah terbangun karena haus atau sedikit sesak.
Mentari sesekali ikut terbangun, Ayah sempat marah karena khawatir akan istirahat Putri nya yang tengah mengandung akan terganggu.
"Udah ah, tidur di luar kalo kamu terus ikut bangun," kata Ayah mengancam.
Akhirnya perempuan hamil itu menurut, kembali tertidur dengan memeluk Shera.
*
*
Tengah malam itu hening, waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
Seorang pria berjalan mengendap ke arah tempat tidur tambahan yang di isi para wanita. (kecuali AL putra Langit).
Dia berbaring di sebelah perempuan, memeluk dari belakang dengan menempelkan tubuhnya di belakang wanita itu.
"Ehm... "
"Sayang... aku pengen... " Bisiknya di telinga sang istri.
Perempuan itu menoleh dengan mata yang menyipit, karena kantuk.
"Mau apa?" tanyanya polos.
"Ck, ini. Aku mau ini, si pyton bangun." Rengeknya.
"Nggak ada, ini di mana? suka ada-ada aja," gerutu si istri.
"Iya, emang. Emang aku suka yang ada di kamu, masa iya mau nyari yang nggak ada!"
"Yuk... nggak kuat, sebentar ini."
"Nggak ah. Ngantuk," tolak si istri masih memunggunginya.
"Aku perosotin di sini ya?"
"Jangan gila!" istrinya melotot sempurna.
Bintang memasukan tangannya ke balik selimut berusaha menarik turun celana tidur istrinya. Ya lelaki yang sedang meminta jatah itu adalah Bintang si penganten anyar yang sedang giat-giatnya berusaha mencetak bayi.
"Aduhh... kenapa sih, nggak bisa libur sehariii aja?"
"Kita lagi program hamil kan, jadi aku harus rajin ganti cebong ku yg kalah sebelum nempel di tempat nya. Itu harus di isi ulang, jangan sampe para prajurit ku habis di dalam."
Mereka berbisik dengan suara sangat pelan, tanpa mereka sadari semua telinga yang ada di sana menangkap jelas pembicaraan mereka.
"Yuk... dosa loh nolak ajakan suami, mau kamu tidur nggak di jaga malaikat?" katanya menakut-nakuti.
Perempuan itu hanya berdecak sebal, lalu pandang nya mengedar ke segala sudut, takutnya ada anggota keluarga yang bangun.
"Nggak ah... besok aja,"
Bintang mendengus kesal, "ya udah balik sini, aku minta kiss aja. Masa iya atas bawah nganggur, jahat banget kamu," tangannya memutar tubuh istrinya hingga menghadap ke arah nya.
__ADS_1
Bibir itu pun menempel, saling memagut dan menyesap keras, walau lebih dominan Bintang.
"Sayang... bales dong kiss aku, kayak yang nyium boneka, kamu cinta nggak sih? aku kayak yang cinta sendiri!" terus mengomel.
Karena takut suara suaminya terdengar oleh semua orang, mau tak mau perempuan itu. Sebagai istri yang sering dan lebih banyak mengalah dengan ocehan atau omelan suaminya. Langsung memagut bibir suaminya itu, dia balas dengan liar menyesap dan membelit lidahnya di dalam mulut suaminya.
Desa*han sedikit keras keluar dari mulut Bintang, Istrinya itu langsung menarik lepas bibirnya.
Lalu mencubit perut suaminya itu.
"Aww... "
"Berisik, ngapain bersuara?"
"Terlalu menghayati, tuh si pyton juga udah berubah jadi kobra siap nyembur dia," tangannya mengambil tangan istrinya memaksanya untuk menyentuh miliknya.
"Ya, udah keras banget. Mantep pasti Yank... "
"Yuk... sebentar ini,"
"20 menit?"
"15 ?"
"10?"
Masih belum ada jawaban dari istrinya
"Ya udah, paket kilat 3 menit?"
Seperti dugaannya, istrinya langsung merespon.
"3 menit, cuma ngotorin doang,"
Bintang terkikik geli, "tuh kan mau juga,"
"Ya, udah gassskeunn yank... "
Perempuan itu menatapnya sebal, "mau di mana?"
"Di mana aja lah yang penting bisa masuk!"
"Ck, dasar gila," sungutnya.
Bintang makin terkikik di ceruk leher istrinya, "dan kamu mau sama orang gila ini."
"Kepaksa.. " Dia langsung menutup wajahnya takut suaminya murka.
"Apa? kamu bilang apa? enak aja. Aku tau kok kamu tergila-gila sama cowok gila ini!" katanya menggeram.
"Udah yuk.. nggak kuat ini, cobra mau nyembur." Rengeknya lagi.
"Di mana?"
"Di kamar mandi?"
"Ogah, kamu suaranya berisik banget." Istrinya langsung menolak.
"Itu, tandanya kamu enak banget sayang... kalo nggak enak nggak akan mungkin aku mende*ah keras."
"Kapan aku nggak enak nya ya?"
"Ya nanti kalo kamu udah nggak nafas!" jawab Bintang polos.
"Astaga.... kamu mau aku meninggal?"
"Ish, amit-amit. Kapan aku ngomong gitu?"
"Tau ah... " Wanita cantik itu bangun dan di ikuti Bintang di belakangnya.
__ADS_1
Kedua pasangan itu berjalan mengendap keluar kamar.
*
*
"Bangun lah, Ayah tau kalian semua ngedenger obrolan si semprul," Ayah mengeluarkan suaranya.
Semua orang bangun, termasuk Mentari yang terkikik di sebelah Ayah nya.
"Obrolan mereka berat... " Mentari kembali tertawa.
"Budak semprul beraninya dia mau begituan di kamar orang tuanya, mana formasi lengkap begini." Ayah kembali menggerutu.
"Aduh, mba Helen kasian Mas. Semoga telinganya nggak ngedenger perkataan Papi nya yang bikin merinding." Mentari menatap Dafa suaminya yang terduduk di kasur bawah sambil tertawa.
"Udah lah, anak mu itu Ayah... sebenarnya sebelas dua belas sama kamu." Bunda kembali merebahkan tubuhnya.
"Tapi kan aku ngomong gitu sama kamu aja, Bun."
"Lah, dia juga kan sama istrinya. Cuma apesnya kita semua ngedenger."
Semua orang kembali tertawa, bahkan Cindy yang kocak pun tak mampu menahan tawanya sampai anaknya AL, menggeliat karena suara tawa mama nya.
Langit hanya tersenyum di sebrang nya.
"Kalo sampai kejadian gimana, Yah?" Mentari yang sedang menepuk paha Shera bertanya pada sang Ayah.
"Ya, terpaksa kita tonton. Itung-itung lagi muter kaset." Ayah berkata dengan datarnya.
"Astaga... Ayah, wkwkwkkw!" Mentari terbahak.
*
*
Pagi hari
Semua sedang memakan sarapan mereka, berupa nasi goreng special buatan Bunda.
Bintang terlihat ceria seperti biasa, bahkan dengan tidak tau malunya dia terus saja bermanja pada istrinya.
"Heh... nggak cukup yang malem?" Ayah berkata namun matanya memandang ke piring berisikan nasi goreng.
Bintang dan sang istri seketika menoleh padanya, "Kurang apa an Yah?" Bintang bertanya dengan wajah polosnya.
Semua orang di sana malah terbahak-bahak.
"Udah lah, nggak akan ngerti pengantin baru mah." Langit menimpali.
Bintang hanya mengerutkan dahi tak mengerti, lalu kembali lagi menekuni nasi goreng yang ada di hadapannya.
Setelah nya, mereka semua bersiap untuk berangkat menuju Bandara melepas kepergian Ayah dan Bunda yang akan menjalankan serangkaian pengobatan Ayah, ke Australia.
"Ayah yang sehat ya! aku mau hamil ini di manja Ayah, pengen lahiran nanti di tungguin Ayah."
Mentari memeluk Ayah nya sebelum memasuki mobil, dirinya di larang ikut.
Ayah mengecupi puncak kepala putri nya bertubi-tubi, lalu kepada para cucu nya.
Haru jelas terasa, namun ini sebagai ikhtiar pengobatan Ayah nya. Mereka melepas Ayah nya dengan hati yang optimistis Ayah nya akan segera sehat kembali.
❤❤❤
Sedikit lagi ini end kok aku nggak mau ya🤭🤣🤣
tapi harus di akhiri udah kepanjangan, dan aku nggak bisa fokus ngerjain dua judul nama karakter nya suka belibet ketuker sana sini🤭🤣🤣, maafkan🙏🙏🤭🤭. Like komennya jangan lupa ya di detik-detik terakhir kisah mereka🤭🤭.
Salam cium dari Bandung 💋💋💋💋
__ADS_1