Kisah Mentari

Kisah Mentari
menyelesaikan masalah


__ADS_3

❤❤❤


"Hei ... "


"Abang? kok kesini?" Cindy yang baru menuruni tangga kostan nya kaget melihat Langit yang ada di anak tangga terbawah.


"Iya. Kita berangkat bareng, yuk! kamu masuk kerja pagi kan?" Langit tersenyum dengan wajah teduhnya.


Pria itu seperti biasa tampan dan casual.


Cindy mengangguk, "tapi, aku ada sedikit urusan. Jadi harus bawa motor deh!" tolak nya dengan halus.


"Aku, anter. Mau kemana?"mereka masih mematung di bawah tangga.


" Sore aku mau ke kampus, mau ketemu dosen pembimbing. Bentar lagi aku mau sidang, Bang." Wajah mereka saling menatap.


Entah apa yang mereka rasakan. Hanya saja, sepertinya ada sesuatu yang menggelitik di masing-masing hati mereka.


Cindy memang sudah mengagumi Langit sejak lama, dia juga sering beberapa kali melontarkan kekagumannya langsung kepada Mentari.


"Iya, nggak apa-apa aku anter," lelaki itu bersikukuh.


"Bener ...?" Cindy meyakinkan.


Karena tidak pandai berbasa-basi dan menggombal, Langit langsung menarik tangan Cindy.


"Eh ....


"Kelamaan, nanti kita kesiangan." Langit berkata seraya tangannya yang masih menggenggam tangan Cindy, berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan gang itu.


**


"Udah sarapan?" tanyanya sambil mulai mengemudikan mobilnya.


"Udah ... "


"Uhm, sarapan apa?" Langit benar-benar merutuki dirinya yang tidak pandai berbasa-basi.


Sial, bego banget sih, gue. Hatinya menggerutu.


"Minuman sereal, aku kesiangan jadi belum bikin nasi." Dia terkikik sendiri.


"Itu bukan sarapan, nggak akan kuat kalau kamu kerja, perut hanya diisi dengan minuman sereal." Kata Langit mengomelinya.


Cindy hanya diam mematung, memandang lelaki di sebelah nya yang melontarkan kalimat ke khawatiran.


"Eh ... "


Cindy tertawa saat melihat Lelaki yang tak lain bos sekaligus kakak dari sahabatnya itu salah tingkah, namun hatinya bergetar serasa ada sesuatu yang menggelitik dadanya. Dia senang bukan main, lelaki di sebelah nya itu adalah lelaki yang dia kagumi sudah sejak lama.


"Sarapan dulu yang bener kalau mau kerja, apalagi habis kerja kamu langsung kuliah." Langit masih meneruskan omelan nya bak emak-emak.


Cindy masih diam menahan senyum, sesekali dia melirik wajah Langit yang terlihat selalu serius itu.


"Di depan sana ada tukang bubur enak, mau nyoba nggak, Bang?" tawarnya.


Langit Langsung menoleh, "Di mana?" tanyanya.


"Tuh, gerobak pinggir jalan." Cindy menunjukkan satu gerobak berwarna hijau yang sudah terlihat di depan.


"Bersih nggak?"


"Bersih, enak, murah." Jawabnya sambil cekikikan, "paket komplit kan?" Cindy menatap wajah Langit.


Mobil pun berhenti di pinggir jalan, mereka berdua turun.


"Mang, buburnya dua." Cindy memesan sambil mengangkat jarinya menunjukkan angka dua.


"Eh, nggak. Kamu aja, saya udah makan di rumah!" tolak langit.


"Satu atau dua ini?" tanya si Mang bubur bingung.


"Satu aja, Mang." Cindy menjawab dengan cengiran.


Mereka pun duduk saling bersisian. Di depan mereka terdapat baki-baki berisikan beragam sate. Mulai dari sate hati, usus, kulit ayam, tak ketinggalan sate telor puyuh.


"Apa ini?" sambil membuka plastik penutup hamparan sate itu.


"Sate, Bang. Yang di tusuk itu sate." Cindy tertawa melihat raut bingung Langit.

__ADS_1


"Baru tau saya, Bubur ayam ada yang beginian nya." Jawabnya polos lalu mengambil satu tusuk sate telur puyuh, lalu memakannya. "Enak ... " Katanya sambil mengunyah.


Bubur Cindy pun datang, dan dia mulai mengaduknya.


"Ih, kok gitu makan kamu?" Langit sedikit mengernyit kan alisnya. Merasa aneh dengan cara Cindy makan bubur dengan cara mengaduk bubur itu hingga terlihat acak-acakan.


"Enak gini, Bang." Lalu menyuapkan satu sendok ke mulutnya. Cindy mengunyah nya dengan wajah yang mengekspresikan kelezatan.


Langit yang sedang memakan berbagai jenis sate pun penasaran.


"Se enak itu?" tanyanya.


Cindy mengangguk, dan tak sadar menyodorkan satu sendok berisi bubur pada langit.


Langit membuka mulutnya karena memang penasaran dengan rasa yang sedang di nikmati gadis di depannya.


"Ehm ... iya, enak banget. Apalagi di tambah ini." Langit mengambil satu tusuk sate hati ayam.


Tak sadar Cindy terus menyuapi nya. Hingga akhirnya satu mangkuk bubur ayam habis dengan Langit yang mendominasi memakan bubur itu, dengan tusuk sate yang berserakan di dekat mangkuk itu.


"Kenyang?" tanya Cindy pada Langit.


"Kenyang banget, Eh ...." Langit baru tersadar dia memakan bubur ayam milik Cindy dengan lahapnya, belum lagi banyaknya sate yang dia makan.


"Maaf, malah aku yang makan! kamu mau pesen lagi? Langit bertanya dengan wajah yang malu.


" Nggak usah, Bang. Kita nanti kesiangan." Lalu bangkit dari duduknya, diikuti Langit yang mengekor.


"Jadi berapa, Mang?" Dia membuka tas nya mengambil dompet.


"Eh, aku aja." Langit menahan tangan Cindy.


"Jadi berapa, Pak?" dia ikut bertanya.


"Sate nya apa aja?" tanya si penjual bubur ayam itu.


Langit bingung, karena dia memang tidak menghitung sate apa saja dan berapa tusuk yang dia makan.


"Aduh saya lupa, pak. Gini aja, cukup nggak?" Langit mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.


Si Mamang bubur hanya melongo melihat uang yang terlalu banyak untuk semangkuk bubur dan tak sampai sepuluh tusuk satenya.


"Nggak apa-apa, bubur Bapak enak. Saya pasti jadi langganan di sini." Sebuah senyuman ramah terpancar dari bibirnya.


Cindy masih terpaku melihat wajah kalem dan tampan di depannya, "cakep, baik, ramah ... duh makin suka, gue." Gumamnya.


"Yukk!"


"Hey ... Cin ... " Langit menepuk pundak Cindy.


"I love you to, Bang." Cindy berkata spontanitas karena kaget.


"Apa?" Langit mengerutkan keningnya.


"Eh, Astaga. Ayo kita kesiangan!" Cindy mengalihkan keadaan.


Langit tersenyum, jelas dia mendengar apa yang gadis itu ucapkan. Sepertinya dia tidak bertepuk sebelah tangan pikirnya, tapi bagaimana caranya dia mengungkapkan perasaan nya? dia harus minta bantuan sang adik. Pikirannya melayang dengan segala pemikirannya tentang cara mengutarakan isi hatinya. Dia mengakui jika dirinya tidak pandai berbasa-basi, dan pemalu.


"Abang ... " Cindy yang sudah di dekat mobilnya pun memanggil.


Langit tersadar dari lamunannya, dan segera menghampiri. Mobil pun melesat menuju tempat kerja mereka.


*❤


*❤


Seorang pria masih berdiri di ambang pintu.


Mentari mematung hingga menjatuhkan tablet berisi gambar rancangannya.


"Eh, udah nyampe! macet ya Daf?" ucap perempuan yang duduk di sofa.


Ya lelaki yang baru saja datang adalah Dafa.


Rijal sedang pulang kampung karena ayahnya mengalami kecelakaan sepeda motor. Kebetulan tubuhnya dan Dafa memiliki postur yang sama, jadi dia meminta Dafa untuk melakukan fiiting baju mewakilkan dirinya.


"Thanks, Jal. Lu sobat terbaik gue." Dafa tersenyum senang.


Tentu saja Mentari tidak mengetahui itu semua. Bahkan Rijal pun tidak tau kalau butik pilihan calon istrinya adalah butik milik Mentari.

__ADS_1


Dasar cowok gila, kurang ajar, bukannya nyari aku, malah mau nikah lagi. Aku nggak akan pernah maafin kamu, kamu akan nyesel. Dan aku nggak biarin kamu ketemu Helen. Makinya dalam hati.


Mentari yang tadi terpaku menatap Dafa dengan raut wajah kaget bercampur rindu. Kini menatapnya sinis dan penuh kebencian.


"Mba ... yang mana dulu yang harus saya coba?" perempuan calon pengantin perempuan itu bertanya.


"Oh, I_iya. Mau untuk akad dulu atau yang untuk resepsinya?" Mentari menarik dua manekin di depannya.


Dafa hanya duduk memperhatikan istrinya yang sudah lama kabut itu. Jika saja hanya mereka berdua di sini sudah habis perempuan di depannya itu.


"Ruang pass nya dimana?"


"Di ujung situ, mari saya bantu!" Tawarnya.


"Ada asisten nya nggak mba? biar, Mba yang ngurusin jas buat calon suami saya." Katanya di depan tirai riang ganti.


Sakit, hati Mentari sungguh sakit. Saat dia membayangkan Dafa menghianatinya.


"Uhm ... baik, sebentar." Lalu dia keluar dari ruangannya hendak memanggil karyawan nya.


Tak lama Mentari masuk dengan seorang wanita bertubuh kurus.


"Ini, Ayu. yang akan membantu mba mencoba gaun nya." Lalu Ayu dan si calon pengantin itu masuk ke dalam ruang ganti.


*


*


Kini kedua orang yang masih saling cinta itu hanya diam dengan pemikirannya masing-masing. Mentari yang di lingkupi rasa marah dan kesal. Sedangkan Dafa yang bahagia dan lega akhirnya bisa menemukan istrinya itu.


Dafa bangun dari duduknya, berjalan mendekat ke arah Mentari yang tengah pura-pura sibuk mengusap jas yang ada di depannya.


"Kenapa nggak orang nya sekalian yang di usap." Dafa berkata tepat di belakang Mentari.


Mentari menoleh dengan wajah sinis nya.


"Ngapain, aku harus ngusap orang yang brengsek." ketusnya.


"Karena kamu masih istri aku, dan aku masih berhak atas diri kamu." Dafa sudah mulai menekankan ucapannya.


"Nggak, mulai besok aku bukan istri kamu lagi. Karena setelah ini aku mau mendaftarkan perceraian kita ke Pengadilan Agama." Bentaknya.


Dafa mengeratkan rahang nya, saat mendengar kata perceraian keluar dari mulut istrinya itu.


"Seenaknya aja kamu bilang gitu, setelah perjuangan aku mencari kamu sekian bulan, dengan aku yang selalu di hantui rasa bersalah sama kamu, juga sama calon anak kita yang gugur. Kamu anggap aku apa?" Dia ikut membentak tak terima.


"Laki-laki brengsek , pengecut, bajingan." Katanya dengan suara bergetar sambil menahan air matanya yang siap mengalir kapan saja.


"Terserah, kamu mau bilang apa aja. Aku Terima, sekarang kamu ikut aku." Dafa menarik tangan Mentari menyeretnya keluar dari ruangan itu.


"Lepas, dasar kurang ajar. Itu calon istri kamu di dalem, dan kamu seenaknya bawa aku!" kata Mentari dengan terus berusaha melepaskan cengkraman Dafa.


Dafa tersenyum, Mentari menyangka calon istri Rijal adalah calon istrinya. "Pasti cemburu kamu!" hatinya bersorak gembira mendengar kekesalan sangat istri.


"Ada banyak pertanyaan yang mau aku tanyain sama kamu!" Dafa menarik tangan Mentari keluar dari butik, menuju mobilnya.


Mentari terseok-seok mengimbangi langkah Dafa yang masih menariknya.


Matanya menatap Helen yang sedang merengek di gendongan salah satu karyawan nya itu.


Mentari menempel kan telunjuknya saat karyawan nya itu akan menghampiri nya, karena Helen yang terus merengek.


"Ya ampun, Nak. Maafin ibu, belum rela rasanya Ayah kamu tau soal kamu sekarang." Matanya menatap Helen yang juga sedang menatap nya di sertai rengekan kecil berharap Ibu nya akan menghampiri nya.


"Masuk ... " Dafa membuka pintu mobil.


"Mau kemana?"


"Lebih cepat kamu masuk, lebih cepat selesai masalah kita." Dafa berujar, sambil menuntun Mentari agar segera masuk ke dalam mobilnya.


Mentari menatap Helen yang semakin menjerit histeris saat melihat Ibu nya semakin menjauh.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰


__ADS_2