
❤️❤️❤️
Dafa langsung mengungkungnya...
"Sekarang harus berhasil... nggak ada ntar sok ntar sok... nggak ada penolakan dan alasan, pokoknya harus berhasil!" Bisiknya sambil mengecupi telinga nya.
"Ehmm..." belum apa-apa Lenguhan indah Mentari sudah terdengar di telinga Dafa.
"Ahh... Sun, Yuk..." Dafa mengedipkan matanya.
Mentari mengangguk kecil wajahnya memanas dan pasti berubah warna seperti udang rebus
"Yes..." Dafa bersemangat.
Kemudian di persekian detik, bibir itu saling bertautan, bunyi-bunyian itu terdengar bersahutan.
Dafa memilin chococips kesukaannya yang berada di balik selembar kain tipis yang tanpa kain kacamata penutup , tanpa melepas tautan bibirnya. Tangan mentari mengusap punggung sang suami sebelum akhirnya melingkar di leher Dafa.
Dasar si kurang belayan baru di usap punggung saja darah Dafa sudah berdesir merinding.
Dafa Mende*sah memejamkan matanya saat kembali mengulum chococips itu, setelah sebelumnya dia singkapkan baju kurang bahan milik Mentari hingga menggulung di dada atasnya.
Dia melepaskan kegiatan nya, bangun dan bergerak cepat membuka kaos dan celana yang menempel pada tubuhnya, dia hanya menyisakan kain segitiga seperti biasa. Sesaat memandang wajah mentari yang sudah mulai sayu.
Seringai mesum kembali terbit dari tubuhnya, melihat keadaan sang istri yang sudah pasrah di bawah kungkungannya.
Dafa kembali menunduk namun Mentari menahan dadanya. Dafa mengerutkan keningnya. "Apalagi.. ?" dengusnya kesal.
"Kalo aku hamil gimana?" Mentari bertanya dengan polos.
"Ya biarin, kan kamu hamil sama suami kamu!" Dafa masih mengungkungnya dengan kedua tangan yang masih menahan tubuhnya.
"Ya udah di kamar itunya!" Mentari hendak bangun.
"Kamu nggak lagi ngulur waktu kan?" Dafa masih belum melepaskan tubuh sang istri.
Mentari menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku takut hamil, ntar kalo di sini jadi kenangan nya baby sofa. Nggak mau!" rengeknya
Dafa tertawa sinis antara kesal di jeda dan perkataan sang istri.
Dafa berdiri dan saat mentari bangun Dafa langsung menggendong nya sambil melu*mat kembali bibir itu.
Mentari mengalungkan tangannya di leher Dafa, sambil membalas ciuman itu. Dafa menggerak-gerakkan bok*ong sang istri pada si adik yang sudah kekar tepat berada di bawahnya.
"Udah keras banget tongkat sakti bin jamur kuncup kamu!" Kekeh Mentari saat pautan bibir itu terlepas.
Dafa mengangguk matanya sudah sangat sayu nafasnya sudah semakin berat, mendambakan kegiatan yang sudah dia nanti-nanti.
Mentari di turunkan di kasur , Dafa langsung melepaskan kain segitiga miliknya. kemudian dia meloloskan gaun tipis yang istrinya kenakan.
Saat akan meloloskan kain segitiga sang istri, lagi-lagi tangan Mentari menahan.
Dafa kembali menatapnya sekarang dengan mata yang membulat sempurna. Kesal tentu saja dia kesal, sang istri seolah-olah terus mengulur waktu.
"Janji... Pelan-pelan!"
"Iya, hadeuhh... nggak kuat. Kamu banyak iklan." Gerutunya kesal.
Lalu dengan sekali tarikan dia berhasil menarik lepas kain segitiga itu.
Tatapan takjub terpancar dari Dafa setelah melihat lokasinya untuk traveling. Dafa mengusap belahan indah itu, darahnya semakin berdesir dadanya semakin berdebar. Di kecupnya lembut, dia mendongak menatap sang istri yang tengah memandang nya juga.
Dia masih pada posisi berdiri di pinggir kasur, di usapnya lembah kenikmatan itu, tak tahan lagi ingin segera terjerembab masuk kedalamnya.
Ia langsung merangkak naik sambil menggeser posisi Mentari. Di tekuknya kaki sang istri dan dia buka lebar untuk memudahkan jalan masuknya.
Mentari malah bangun saat dia ingat laptopnya masih membuka link yang menjurus ke adegan-adegan yang akan membuatnya malu jika Dafa melihatnya. Tanpa dia tahu suaminya itu telah mengetahuinya.
Dafa berguling karena pergerakan sang istri ke arah belakang tubuhnya di mana laptopnya berada.
Kesal, benar-benar kesal Dafa di buatnya.
Mentari kembali ke posisi semula namun suaminya malah memejamkan mata dengan tangan yang di lipat di atas dada.
"CK... ngambek Mulu!" cibirnya.
"Lanjut nggak?"Mentari mengusap tangan suaminya itu.
Dafa diam tanpa menjawab nya.
"Mas... lanjut nggak?" kembali dia bertanya.
"Males, kamu banyak iklan. Udah nggak na*fsu." jawabnya ketus.
Mentari menutup mulutnya untuk tidak tertawa.
"Nggak na*fsu tapi si gagang kasti masih tegak berdiri." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Mentari ingat dengan adegan video dan artikel yang tadi dia lihat.
Dia turun dari kasur dan berlari ke arah lemari mengambil sebuah handuk kecil dan membasahi nya.
Dafa mengintip dari celah matanya yang sedikit terbuka. "Dia ngapain sih? bukannya ngebujuk malah...Aargghh!" batinnya kesal.
Mentari kembali merangkak ke atas kasur.
Dia kembali berbisik, " Lanjut nggak?"
Dafa masih diam, lalu dengan jahilnya Mentari menggenggam si tongkat kasti itu.
Mata Dafa melotot sempurna saat adik kebanggaannya di cengkram jari jemari sang istri.
Tanpa dia sadar dia mengerang kecil tangannya yang asalnya terlipat di dada kini berpindah menjadi bantal di bawah kepalanya.
Menteri tersenyum lucu saat melihat reaksi suami mesumnya itu.
"Mas...
"Heummm...
Mentari melepaskan kegiatan nya yang sedang mengusap-usap si tongkat kasti itu.
Dafa langsung menunduk menatap nya yang berada di bagian bawah tubuhnya.
"Terusin..." Rengeknya
"Apanya ? katanya udah nggak naf*su!" Mentari menggodanya.
"Sun... tega kamu!" Dafa merengek seperti anak kecil.
Mentari sesaat tertawa, lalu dia kembali menggenggam dan menggerakkan tangannya memberi pijatan kecil. Dafa begitu menikmati sampai matanya terpejam dan kepalanya mendongak menahan naf*su yang semakin mendekat.
"Cium... dong Sun!" pintanya dengan suara parau.
"Ntar muntah lagi di aku!" Jawabnya.
"Nggak akan, janji!" Mohonnya.
Mentari mengelap tongkat itu dengan lap basah yang dia bawa tadi.
"Ishhh... dingin, kamu mau ngapain sih Sun?" Dafa heran dengan apa yang istrinya kerjakan di bawah sana.
"Diem deh, jangan banyak tanya!" Gertaknya sambil mengelap adik kesayangan suaminya itu.
Setelah di rasa cukup dia menyimpan lap basah itu di atas nakas. Kemudian dia menundukkan kepalanya lalu dengan sekali hap.. tongkat itu masuk ke dalam mulutnya.
Dia mengemut , mengulum dan menghisap seakan itu permen kesukaannya.
"Aghhhh.... i--ya Sun, ughhh... ishhh..." Dafa meracau tak karuan merasakan kenikmatan yang istrinya berikan.
Dafa semakin menggila dengan rasa nikmat yang dia rasakan, Dafa memegangi rambut Mentari yang menutupi wajahnya. Sesekali dia ikut menekan dan menggerakkan kepala sang istri , lagi enak-enak nya Mentari memukul pahanya keras.
"Kenapa?" Ucapnya dengan suara semakin parau.
"Jangan terlalu dalem di tekennya, aku kesodok pengen muntah!" Marahnya.
"Maaf... abis enak banget!" Dafa sedikit terkekeh.
"Pindah posisi Sun, aku udah nggak kuat." pinta Dafa.
lagi-lagi istrinya bergerak tidak sesuai aturannya. Dia malah merangkak ke arah nakas, ada segelas air yang biasa tersedia di meja nakas, tapi ada obat kumur juga. Dafa memperhatikan yang di lakukan istrinya itu.
Mentari berkumur dengan obat kumur dan memuntahkannya ke ember kecil yang dia simpan di pinggir tempat tidur.
"Buat apaan sih?" Dafa kebingungan.
"Kamu nggak bau mulut kok, kenapa pake obat kumur!" Tanyanya masih penasaran.
"Mau lanjut nggak? banyak nanya deh!" Ucapnya.
"Lanjut lah, masa nggak?" Dafa kembali menindih nya.
Tangan Mentari sigap mengambil lap basah di Atas nakas tadi kemudian kembali melap tongkat kasti itu.
"Dih... ribet deh kamu, Sun!" Dafa mendengus kesal.
"Bodo... ah!" Dia melempar kembali lap itu.
Dafa kembali menggerayangi tubuh itu, bibir mereka kembali saling memagut decapan demi decapan menggema di kamar itu. Dafa kembali menghisap chococips itu, sebelah tangannya meremat sebelahnya, tangan satunya lagi mengusap-usap bagian gua yang sudah lembab.
"Ehhhmmm... Mas.. aku mau pipis!" ucapnya.
Dafa mendongak, "Apa?" dia memastikan pendengaran nya.
"Mau, pipis... rasanya kayak mau pipis" Kembali Mentari berucap.
"Tahan... itu bukan pipis biasa, itu pipis enak!" Dafa mengarahkan tongkatnya memasuki gua yang dia dambakan. Dia yakin istrinya akan segera orgasm*.
__ADS_1
"AW.. aw...Sakit , Mas!" Mentari merintih sembari mencakar lengan atas Dafa yang tengah mengungkungnya.
"Tahan... nggak akan masuk-masuk kalo kamu terus gitu, ntar keburu pipis kamu duluan keluar, kita bareng2 pipis nya!" Dafa terus berucap sambil tangannya mengarahkan si tongkat yang kesusahan nyari jalan.
"Ishh... pelan-pelan," Mentari sudah sangat memerah matanya menahan rasa sakit dan perih yang dia rasakan.
"Kalo pelan sakitnya malah tambah lama!" Dafa kembali menimpali ucapan sang istri.
"Arrgghh...."
Mentari menjerit saat merasakan robekan di intinya.
"Aggghhhh..."
Dafa pun melenguh nikmat, dia langsung melu*mat kembali bibir Mentari agar meminimalisir rasa sakit di bawahnya.
Setelah Dafa merasa istrinya sudah sedikit tenang, dia melepaskan pautan itu.
"Sakit?" tanyanya
Mentari mengangguk dengan sedikit meringis.
"Aku gerakin sekarang ya, biar nggak terlalu lama si tongkat di tanem!" Ujarnya meminta ijin.
Mentari hanya pasrah merasakan sakit yang selama ini dia takutkan ternyata tidak sesakit yang dia bayangkan.
Dafa menggerakkan pinggulnya perlahan karena takut sang istri masih merasakan sakitnya. Namun saat semakin lama dia bergerak dia yang malah semakin tidak kuat.
"Emmm...Ahhh...ughh..." Kamar itu penuh dengan suara-suara racau pasangan suami istri yang sedang menjalankan tugas malam pertama yang baru mereka lakukan di malam ke dua puluh dua usia pernikahan mereka.
"Mas... aku mau pipis..." Mentari semakin mengejan.
"Tunggu... aku juga sebentar lagi." Dafa kembali Menghisap chococips sedikit rakus, lalu lenguhan keduanya menggema saat mereka mencapai puncak kenikmatan bersama. Mereka merasakan terbang serasa tak menapak meninggalkan dunia sesaat, saking nikmatnya pelepasan itu
Dafa terengah-engah masih di atas tubuh sang istri, dia mengecup bibir dan kening Mentari bergantian.
"Makasih, kamu udah mau memberikan hak dan kewajiban seorang istri!" Ucapnya.
Dia berkata-kata romantis, namun bukan dapat pujian juga dia malah mendapatkan dorongan.
"Mas... awas, ishhh kamu berat!" Mentari mendorong tubuh Dafa hingga terguling ke sisi sebelah nya.
Si tongkat tercabut dengan sekali dorong Ngan.
"Aww.. " jeritnya merasakan sesuatu tercabut dengan cepat.
"Sakit..." rengeknya
"Habis kamu dorong aku, ya lepasnya bikin kaget ya?" Dafa terkekeh melihat reaksi sang istri.
Dafa menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Gimana, enak?" tanyanya.
"Perih, sakit lagi. tapi nggak sesakit yang aku bayangin!" jawabnya polos.
"Harus sering, biar cepet ilang sakitnya!"
"Lagi... yuk!" Dafa mengedikan alisnya.
"Dih kamu mah doyan, Mas?" Mentari memukul dada polos Dafa yang tengah memeluknya.
Dafa tergelak. dan menciumnya gemas.
"Tapi kok nggak kayak di novel-novel yang aku baca ampe semaleman! kita cuma satu jam!" Mentari menatap wajah Dafa.
"Ngapain, kamu mau semaleman emang? barusan aja nyerah nggak kuat pengen pipis. Denger di novel itu cuma kehaluan mana ada yang kuat semaleman, nggak normal itu! sini ngobrol sama aku, mau sekalian minta resepnya kuat semaleman nggak muntah-munth si adik, gimana caranya!"ledek Dafa.
" Dasar gila, Terus kamu ngikutin pipis juga kan?" dia balik mencibir Dafa.
"Ya, kan enak barengan!" Dafa membela diri.
"Ya udah, yuk lagi! kita habisin malam ini buat begadang!" Dafa kembali memilin chococips kesukaannya.
"Ngantuk... minta istirahat sebentar boleh kali!" Mentari memelaskan wajahnya.
"Ck... katanya mau kayak di novel-novel semaleman!" Cibirnya.
Mentari tidak menjawab dia malah menelusupkan kepalanya di dada polos Dafa, Dafa tersenyum sesekali mengecup kepala istrinya yang seperti biasa langsung tertidur pulas.
"Kamu enak banget, Sun. Istirahat dulu, nanti aku bangunin. nggak bangun juga aku prasmanan sendiri aja lah!" gumamnya sambil membenahi selimut yang menutupi tubuh mereka.
Bersambung 🙈🙈🙈
Maaf kalo nggak dapet feel haredangnya, aku malah ngakak🤭🤭🤭.
Makasih yang masih ngikutin cerita Dafa dan Sunny 🙏🙏, semoga suka. kalo ada komplain dan saran langsung komen ya😘😘, eh like komen jangan lupa😘😘
sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤️
__ADS_1