
...❤❤❤...
Pagi hari mereka sedang sarapan di pinggiran privat pool. Dafa menyesap kopi nya sambil menikmati pemandangan istrinya yang lahap memakan segala jenis makanan yang di hidangkan.
"Aduh, aku laper banget." Mentari berkata sambil terus menjejalkan makanan ke dalam mulutnya.
Dafa terkekeh, "abisin semua, aku udah kenyang makan roti juga."
"Nyindir ... " Mentari mendelik.
"Nggak, sayang. Aku seneng liat kamu makan lahap gitu, jadi aku nggak ngerasa bersalah udah nguras tenaga kamu." Katanya sambil tertawa.
Mentari diam melanjutkan makannya.
Setelah selesai dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa pinggir kolam renang itu, Resort itu hanya memiliki satu kamar yang langsung terhubung dengan privat pool. Dafa sengaja memilih tipe kamar itu karena ada misi tertentu.
"Kenyang?"
"Iya, aduh makin begah perut aku." Jawab Mentari.
"Biarin, kamu kan makan buat dua orang." Kata-kata yang Dafa luncurkan sebagai tanda memaklumi.
"Mas, Jangan dulu pulang ya! aku ngantuk pengen tidur bentar lagi aja." mohon nya.
Dafa tertawa, "Siapa yang mau ngajak kamu pulang? Aku belum puas baby moon sama kamu!"
Mentari menatapnya kaget, "malem kan udah dua kali malah. Itu udah aku bonusin loh. Padahal harusnya aku nge hukum kamu gara2 janda itu."
"Di ungkit lagi?"
"Masih kesel, masih ada yang gendok nih di sini." tunjuk nya pada dadanya sendiri.
Dafa menghampiri, "Mana? sini aku obatin. Padahal malem udah aku isep kan? belum cair juga?" Dia yang berjongkok di depan Mentari terkekeh hingga kepalanya mendongak ke belakang.
Mentari memperhatikan suaminya yang kian hari terlihat makin dewasa dan tampan. Pantas saja banyak yang mendekati nya, dia juga selalu merasa kembali di buat jatuh cinta pada lelaki yang di awal pertemuan sangat menyebalkan dan konyol.
"Mas.... "
Dafa menatapnya serius, sambil tangannya mengusap pinggang Mentari yang hampir sulit dia peluk dengan tangan full karena bentuk badan dan perut yang begitu besar.
"Apa?"
"Mas masih cinta nggak sama aku, kalo ntar habis lahiran aku nggak balik lagi badannya?" tanyanya khawatir.
Dafa beringsut membuka paha istrinya dan menegakan tubuhnya yang masih berlutut hingga kini dia masuk di antara celah kedua kaki istrinya.
"Mau kamu kayak apa pun, aku nggak akan berubah. Cinta aku udah full sesak buat kamu."
"Gombal ... " Mentari meraup wajah Dafa dengan tangannya.
Dafa menggenggam tangan itu lalu mengecupnya.
"Aku serius, kalo kamu nggak percaya. Aku hamilin lagi pas kamu udah 40 hari. Biar kamu percaya cinta aku nggak akan berubah." Ucapnya serius.
"Enak aja, kawin sama kucing sana, emang aku kucing yang kamu hamililin tiap tahun." Mentari mencubit perut suaminya.
Dafa meringis mengelus perutnya yang mendapatkan capitan jemari sang istri.
\*
\*
"Terus, aku harus gimana? biar kamu percaya cinta aku nggak akan berubah? aku kan bukan orang yang puitis kamu tau itu dari awal hubungan kita kan? aku lebih suka pembuktian dengan tindakan bukan kata-kata manis."
Mentari diam kini dia mengelus wajah Dafa, hatinya merasa seperti ada yang menggelitik geli, senang juga. Dia kembali merasakan jatuh cinta dengan lelaki di depannya itu.
"Katakan aku harus gimana sama kamu, biar kamu percaya dan ngerasa tenang kalo cinta aku nggak akan pernah berkurang malah semakin hari semakin bertambah sama kamu udah luber-luber ini." Goda nya.
Mentari merasa matanya perih dan berembun dan akhirnya dia menangis , Lalu dengan sigap Dafa memeluk nya.
"Aku takut, kamu bakal berubah."
"Nggak akan pernah, buang pikiran negatif kamu itu. itu toxic buat badan kamu. Berpikir positif, keluarga ku bahagia, keluarga ku selalu sehat. Coba taneman kata-kata itu di pikiran kamu." Dafa berkata sambil mengusap punggungnya yang masih bergetar.
Mentari mengangguk, "iya ... "
"Janji ya nggak akan mikirin sesuatu dengan asal, jangan bikin penyakit buat kamu sendiri." ucapnya lagi.
"Janji kamu juga, Mas." Mentari kembali merengek.
Dafa mengerutkan keningnya melonggarkan pelukannya agar dapat menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Aku harus janji apalagi? anak kita udah mau dua. Masih kurang pembuktian aku?" Mata itu memandang tegas namun penuh kasih.
"Aku masih takut, kamu... " Belum selesai Mentari berkata, Dafa langsung memotongnya.
"Sun, perjuangan kita sampai di titik ini nggak mudah. Kita sama-sama pernah sakit dan hancur, pernah merasa mustahil untuk kembali bersama, namun rencana Tuhan indah dan pasti untuk hambanya yang bersungguh-sungguh dan yakin akan mimpinya, mimpi aku cuma hidup bahagia sama kamu dan anak-anak. Maaf jika selama ini aku belum menjadi suami yang baik malah terbilang brengsek buat kamu, tapi untuk kembali mengecewakan kamu terlalu to\*ol buat aku. Dampingi aku untuk sedikit demi sedikit berubah lebih baik, aku masih gampang marah, gampang ke pancing emosi, tapi ya aku emang nggak bisa nyembuyiin rasa kecewa itu." Cicitnya panjang lebar.
"Aku juga belum jadi istri yang baik buat kamu, sering ngambek, sering nyangka yang aneh-aneh sama kamu. Bahkan aku yakin kamu sering aku bikin kesel iyakan?"
"It's Ok, kita saling perbaiki diri lebih baik lagi, saling memupuk rasa demi masa depan kita dan anak-anak." Dafa tersenyum saat menerima anggukan dari sang Istri.
\*
\*
"Udah ah, nggak usah nangis lagi. Jadi jelek nanti bumil ku sayang." Dafa mengusap sisa-sisa air mata Mentari.
Mentari terkekeh di balik isakan nya.
"Tuh kan, kalo gini makin cantik. Jadi pengen ... "
"Apa?"
"Pengen ini ... " Dafa menempelkan bibir mereka,
sedikit melu\*mat dan menyesap nya dengan lembut.
Dafa yang masih berlutut di depan sofa yang di duduki sang istri menuntun nya untuk turun ke lantai.
"Sini, duduk di pangkuan aku." Dafa menarik tangan istrinya itu agar duduk di atas paha nya.
"Nggak ah, aku gendut kayak dugong." Mentari menolak dan lebih memilih duduk di pinggiran kolam dengan kaki yang dia masukan dalam air.
"Siapa yang bilang kamu kayak dugong? aku pidanain dia pelecehan verbal." katanya bersungut-sungut, "Kamu kayak Ariel mermaid, cantik seksi." Bisik Dafa yang kini sudah duduk di sebelah nya dengan menyilangkan kalinya menghadap sang istri, bahkan tangannya sudah mengusap-usap pinggang dan perut istrinya itu.
"Kalo aku tengokin lagi debay, ngambek nggak ya dia?" Dafa menumpukan dagu nya di pundak Mentari sambil mengendus-endus wangi parfum manis istrinya.
Mentari menoleh, "Nggak puas-puas." dengusnya kesal.
"Dulu, kuat berbulan-bulan!"
"Itu, lain cerita. Lagian aku sering bocor sendiri, dengan kehaluan sama kamu yang kebawa mimpi." Cicitnya.
Mentari sedikit tertawa, lalu kemudian mengangguk.
Entah siapa yang memulai...
Kini mereka sudah tergeletak di lantai persis pinggir kolam renang, mereka yang hanya menggunakan bathrobe dengan mudahnya saling menarik tali pengikat kimono handuk itu.
Dafa mengukung tubuh sang istri yang berada di bawahnya, perut yang sudah sangat besar membuatnya lebih berhati-hati namun tetap memaksimalkan gerakannya.
"Mas ... " Mentari meringis saat suaminya terus menghisap dan memilin dada nya.
"Issshhh, dari malem kamu mainin itu mulu!" omel nya tapi sambil mengerang menikmati.
"Aku tau, itu kelemahan kamu." Dafa melepaskan sapuan lidahnya dan tertawa menatap ke arah Mentari yang tengah menggigit.
Tangan Mentari yang sedari terbebas, turun menyelinap di antara tubuh mereka. Lalu menemukan benda yang sudah mengeras sempurna, Dafa mele\*nguh dengan mulut setengah terbuka dan matanya memejam menikmati usapan dan genggaman dari tangan hangat Mentari.
Namun tidak lama istrinya malah melepaskan nya.
Dafa dengan raut kecewa menunduk dan mengerutkan keningnya, "Lanjutin, kenapa berhenti?"
"Bentar, ini. anaknya gerak heboh, aku jadi pengen pipis." Keluhnya.
Dafa berdecak lalu membuka kungkungan tangannya.
Mentari bangun dengan bertumpu pada lengan suaminya itu.
Namun yang membuat Dafa kesal, istrinya itu bukan ke kamar mandi seperti ucapannya tadi, dia malah turun ke kolam renang sambil terkikik-kikik menertawakan suaminya.
Merasa di ledek Dafa yang sekarang kakinya sudah menjuntai di kolam menyirami istrinya dengan air yang di gerak-gerak kan oleh tangannya.
"Ampun, Mas."Mentari terkikik-kikik mendapatkan serangan air dari suaminya.
__ADS_1
Mentari beringsut mendekat, lalu masuk ke dalam celah paha suaminya, dia melihat benda yang masih tegak itu, lalu pandangan mereka bertemu.
Tak membutuhkan perintah, Mentari sudah tau keinginan suaminya dari tatapan yang sudah sayu tertutup kabut gai\*rah. Dia langsung membenamkan inti Dafa ke dalam mulutnya, Dafa mengerang dengan kepala yang mendongak memejamkan matanya merasakan hangat mulut dan sapuan lembut lidah istrinya di puncak miliknya.
" Aghhh, Sun. Aduh ... enak banget. Iya... lebih cepet ..." Seperti biasa dia akan meracau saat mendapatkan perlakuan itu dari istrinya. Tangannya yang terbebas memegangi kepala istrinya yang ber gerak-gerak di bawah tubuhnya, sementara sebelas tangannya memilin puncak dada Mentari yang berada di bawah air.
"Udah, Sun. Aku udah mau nyampe... Ayo naik ke atas. Yang bener posisinya." Dafa menarik benda kekar miliknya terlepas dari mulut istrinya.
"Ayo... " Dafa mengulurkan tangannya, namun Mentari malah berenang menjauh.
"Ishhh ... Sun." Dafa menceburkan diri mengejar Mentari.
Tubuh wanita hamil itu pun dia dapatkan, Mentari langsung menaikan kakinya melingkari pinggang suaminya, dengan tangan yang menahan di pundak Dafa.
"Nakal kamu," Dafa mencubit gemas puncak dada yang sudah mencuat itu.
"Aww ... " pekik Mentari di sertai tawa.
Dafa menyesap nya dengan gemas puncak itu yang sebentar lagi akan kembali di kuasai anaknya. Dia ingin berpuas-puas dulu sebelum kembali di pinjam oleh anak mereka.
"Ehmmm ... " Mentari melenguh saat Dafa menghisap kuat, dan menggerak-gerakkan tubuhnya menggesek benda miliknya yang masih setia dengan kerasnya. Mentari di tidurkan di atas balon air berbentuk kasur kecil yang mengapung di pinggir kolam, Dafa masih menciumi nya sambil mengarahkan balon itu ke ujung kolam, saat berhasil, Dia menariknya ke pinggir dan dia segera naik ke permukaan membantu istrinya yang juga sudah sangat mendamba.
💋
💋
"Mau di mana?" Mentari bertanya tempat mereka akan melakukan permainan itu.
"Disini." Dafa membentangkan bathrobe mereka berdua, agar istrinya tidak kedinginan terlentang di lantai.
Di pagutnya kembali bibir itu sambil merem\*at dada yang sekarang sudah sangat besar. Dan merebahkan tubuh Mentari di atas bathrobe.
Mereka mengerang dan mende\*sah di sela kegiatan itu, "Mas... ini di luar loh. kalo ada orang yang liat? atau pesawat yang lewat?" tanyanya polos.
"Siapa yang mau liat? Benteng tinggi gitu. Lagian belakang benteng itu tebing, kita ada di puncak ini! Lagian pesawat juga nggak akan bisa liat kita, pertanyaan kamu ngaco." Dafa tertawa gemas dan melanjutkan kembali aktivitas yang terjeda.
Dia menunduk dan mencium perut besar itu, "Ayah masuk ya, adik jangan kaget." Ucapnya pada sang anak yang masih berada di perut. Seperti mengerti dengan ucapan Ayahnya, ada pergerakan yang terlihat dan perut bagian kanan Mentari menonjol entah tangan atau kaki dari anak mereka.
"Tuh, ok katanya." Dafa terkekeh sambil mengarahkan intinya memasuki tubuh istrinya. Mereka pun mengerang nikmat, gerakan yang di awali tempo yang lembut makin lama makin keras menghujam, Mentari sudah mencapai puncaknya beberapa saat lalu, tapi Dafa belum. Dia terus memacu tubuhnya dengan sangat menggebu hingga akhirnya dia mengejan menekankan kuat seolah ingin memasukan semua miliknya. Dia mengecup kening Mentari yang matanya memejam menikmati pelepasan keduanya, kemudian dia ambruk di atas tubuh Istrinya dan melu\*mat bibir itu tanpa melepaskan inti tubuhnya.
"Cabut ... "
"Apanya?" Dafa bertanya seolah tak mengerti.
"Singkong?" godanya.
"Ck, nama baru lagi." Mentari mendorong pelan tubuh suaminya yang masih menempeli nya.
"Eh, Sun. Masih tegak. Sekali lagi... " Dia menggerakkan alisnya.
Mentari melengos pasrah saat Dafa kembali memasukinya.
"Nggak, minum jamu kan?" tanyanya sambil mencengkram kedua tangan Dafa yang berada di kedua sisi tubuhnya.
"Nggak ... Ah ..." Jawab Dafa tak jelas karena sedang menikmati gerakannya.
Mereka pun larut dalam pagi yang menjelang siang di lantai pinggir kolam dengan langit sebagai pemandangan nya. Terengah penuh kenikmatan, Mentari memeluk tubuh Dafa, setelah lelaki itu selesai menyalurkan segala kekerasan yang berakhir dengan kelemasan. Keringat yang bercucuran, terasa dingin karena tiupan angin pagi.
Jam 9 pagi, sudah membuat dua manusia itu lemas dengan kepuasan dan kenikmatan yang mereka dapatkan.
"Pindah ke kasur, Sun. Kalau mau tidur." Dafa mengguncang tubuh istrinya, tidak mungkin dia biarkan istrinya yang sudah hampir mendekati hari kelahiran tidur di lantai.
Dengan gontai Mentari berjalan lemas ke kasur, dengan tubuhnya yang polos. Dafa terkekeh sambil membereskan tepian kolam yang berantakan.
"Pokoknya, aku bangun. Kita langsung pulang, jemput Helen kasian." Ucapnya lirih, dari balik selimut tebal kamar resort itu.
"Iya, Tadi udah aku telpon kok." Dafa menjawab dari teras. Dia kembali memakai bathrobe nya dan berjalan ke. arah tempat tidur dan ikut masuk dalam selimut, dan memeluk tubuh istrinya. Mereka pun tertidur kelelahan.
**Bersambung ❤❤❤**
**Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik**.
**Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘**
__ADS_1