
❤❤❤
"Appaa? "
"Mas... 501 apaan?"
Mentari semakin menatap penasaran pada suaminya itu.
"Hahaha... asli kamu mau tau?"
coleknya gemas pada dagu Mentari.
Mentari mengangguk antusias, Lelaki itu mendekati telinga Mentari dan membisikkan sesuatu. Lalu mereka berdua saking pandang dan akhirnya tertawa bersama.
"Ck... Dasar, aku kira no togel!" Mentari memukul paha Dafa kesal.
"Ayo... Sun, lanjutin yang tadi. Kita kan mau ke panti!" Ajaknya rusuh.
"Ke kamar mandi dulu gih Mas. Aku tungguin!" Mentari mendorong tubuh sang suami agar berdiri.
Dafa pun berlalu ke arah kamarnya. Mentari mengikuti dan duduk di pinggir kasur.
"Sun... pake sabun jangan?" teriaknya dari kamar mandi.
"Nggak usah, cuci bersih aja!" jawabnya sambil memainkan ponselnya.
Tanpa dia ketahui Dafa berjalan ke arah nya, dan berdiri tepat di hadapannya.
"Sun... Mas mu datang,"
"Kekar siapa Sun?" tanyanya tanpa rasa malu.
Mentari melongo melihat tampilan suaminya.
"Ngapain di buka semuanya?"
"Ck... biar menjiwai, feel enaknya dapet. Kamu belum jawab kekar siapa?" Dafa berkacak pinggang dengan sesuatu yang tegak sempurna.
"Ihhh.... hahaha bisa gitu ya? dia nggak tidur2 dari sofa tadi?" tanyanya masih dengan tawa yang memperlihatkan lesung pipi nya.
"Barusan lagi di mandiin ampir aja dia tidur lagi, pas aku bayangin kamu dia mempertahankan ke gagahannya." jawabnya bangga.
"Dasar mesum, Mas jadiin aku objek fantasi?" Mentari pura-pura merajuk.
"Iya lah, kamu kan istri aku. Masa Mas harus bayangin cewek lain?" Dengusnya kesal.
"Buruan Sun, dah pegel." rengeknya kembali.
Mentari mendekat ke arah Dafa, suaminya yang posisi berdiri dan dia yang duduk malah membuat mempermudah gerakan itu.
Dafa membuka kancing dress milik Mentari tangannya merogoh benda buat nan lembut yang pas di genggaman nya.
Mentari terus menggerakan kepala nya, sesekali mata nya mengintip menatap wajah Dafa yang sesekali terpejam dan mendongak ke arah langit-langit kamar.
"Ehmm... Sun... " Dia terus meracau tangannya sibuk meremas benda lembut yang pas di genggaman nya sebelah tangannya lagi menahan rambut Mentari yang terburai ke mana-mana. Sesekali juga dia ikut menggerakan kepala sang istri mengatur tempo yang dia inginkan.
"Sun... Bentar!" Ucapnya dengan nafas yang semakin memburu. Dia menarik si tongkat kasti yang sedang di manjakan kehangatan gua kw itu.
Mentari terperanjat saat bajunya di tarik lepas, dan kacamatanya juga ikut di lepas.
"Mas...
Dia menahan tangan Dafa.
"Apa... ?" Dafa menunduk menatap dengan wajah yang semakin sayu.
Dia kemudian merangkak naik, dan terlentang di sebelah Mentari. Dia berbaring dengan kedua tangan yang menjadi bantalan kepala.
"Lanjut... " pintanya mengedipkan matanya.
"Dih... banyak gaya kamu, Mas!" cibir nya.
Lalu Mentari kembali melanjutkan aktifitas nya yang tadi, tangan Dafa pun kembali berkelana kesana kemari. Meremas dan mengelus apa yang bisa dia jangkau dari tubuh sang istri.
"Sun... Naik sini, aku pengen cium kamu." pintanya menepuk sisi sebelah nya.
Mentari menuruti keinginan Dafa. Kemudian ikut berbaring di sebelah Dafa.
Dafa langsung memiringkan tubuhnya dan langsung melahap chococips kesukaannya yang sebelah dia pilin yang satu dia hisap kuat seperti bayi yang kehausan.
"Emmm... Mas... " Mentari mele*nguh merasakan hisapan kuat itu, tangannya meremas rambut dafa kuat-kuat."
"Aww... Sun, sakit rambut aku rontok entar."
__ADS_1
Dafa melepaskan kegiatannya sambil mengaduh.
Mentari hanya tersenyum malu, Saat dafa memandangi nya.
Lalu Dafa menarik posisi Mentari agar miring ke arahnya. Dan dia menghisap sebelahnya.
"Sun.. sambil 501!" Pintanya
Mereka saling memuaskan satu sama lain, suara decapan dan suara desa*han menggema di kamar itu.
Dafa merasakan akan segera mencapai puncaknya dan dia langsung bangun dari posisinya menarik si kain segitiga Mentari. Mengusap sedikit yang ternyata sudah lembab.
Lalu dia meregangkan kaki istrinya itu, dan selanjutnya... ya si tongkat kasti menancap sempurna. Gerakan lembut, slow motion sampai gerakan yang membuat seolah ada gempa pun dia lakukan.
Tangannya menahan dua buah bulatan yang terguncang hebat karena ulahnya. "aku pegangin, takut copot!" ucapnya di tengah-tengah kegiatan nya yang bikin rusuh.
"Dih.. omongannya!" mentari mendengus kesal
"Duh... Sun enak banget...
" Ehmm...
Akhirnya setelah gaya gempa lokal yang semakin cepat, mereka berhasil mencapai puncak hampir bersamaan. Dafa mennggulingkan badannya di sebelah Mentari.
nafas mereka masih memburu, dengan detak jantung yang bertalu-talu sperti genderang yang mau perang. Perang kenikmatan tentunya.
"Aku kira mau Mas doang!" Mentari merangsek masuk ke pelukan Dafa.
"Nggak lah, selagi kamu lagi nggak PMI aku ya nggak akan tega enak sendiri." ucapnya
"Aduh, pinggang aku sakit lagi Sun!" dia meringis memegang pinggang nya.
"Hihihi... lagian main rusuh amat." Mentari tertawa kecil mendengar rengekkan sang suami.
"Dih kan dari pelan pasti ke cepet lah, gerakan pasti itu." Dafa berucap sambil tangannya kembali memilin si chococips kesukaannya.
"Mas.. Udah, ayo mandi. Katanya mau ajak aku ke panti?" Mentari bangun dari tidurnya
Langsung melenggang ke kamar mandi.
"I love you Sunnnnnn!" Dafa berteriak.
Mentari terkekeh masuk ke dalam kamar mandi.
🌼
🌻
Mereka tengah berada di mobil, menuju panti yang biasa Dafa kunjungi.
Mentari menahan tawa melihat kelakuan Dafa yang bersenandung tak jelas sambil tangannya bertalu memukul-mukul kemudian seperti seorang kang kendang.
"Kamu happy banget, Mas?" tanyanya.
'Iya dong... perut kenyang, rambut basah, di temenin wanita gemesin. Mengalahkan pinggang encok." Dafa mengedipkan matanya ke arah sang istri.
"Dasar udah kayak aki-aki aja!" Mentari menutup mulutnya saat Dafa memelototkan matanya.
"Awas kamu ya, nanti malem aku liatin keperkasaan aki-aki ini! " Ancam nya sambil mencubit hidung Mentari.
Mereka pun tertawa bersama.
...---------...
Mentari turun dari mobil setelah Dafa memerintahkan nya turun, sedangkan suaminya itu tengah mengeluarkan belanjaan yang tadi mereka beli di jalan sebagai oleh-oleh untuk anak-anak dan keperluan dapur Panti.
Seorang wanita paruh baya menyambut mereka dengan sebuah senyum teduh.
Setelah saking bertukar kabar, Rombongan anak-anak berlarian ke arah Dafa. Mereka histeris senang menyambut Dafa.
"Kakak Dafa.... "
teriak mereka bersamaan.
Dafa memeluk satu persatu anak-anak panti itu.
Mereka langsung menarik Dafa untuk bermain.
Mentari di ajak duduk di sebuah sofa panjang oleh ibu panti yang baru dia kenal bernama ibu Aisyah.
"Ibu kaget, saat Dafa memberi tahu sudah menikah. Dan ternyata istrinya cantik kayak neng Mentari."
Ibu Aisyah mengelus lembut tangan Mentari.
__ADS_1
"Ibu sudah kenal Dafa dari dia masih SMP, kalo dia murung karena bertengkar sama papa nya atau dia kayak gitu tuh babak belur berantem sama temen-temen nya, pasti pulangnya ke sini minta di obatin." Ujarnya menatap Dafa penuh kasih.
"Dia anak yang haus kasih sayang, keras namun hatinya jangan di tanya baiknya, dulu waktu rumah panti ini mau ibu jual karena ibu kelilit hutang. Dia menjual mobilnya untuk membayar hutang ibu." sungguh baiknya anak itu, tertutup baiknya sama nakal dan tingkah slengean nya. Kalo yang belum kenal pasti nggak akan nyangka." Bu Aisyah masih antusias bercerita.
Mentari tersenyum mendengar semua perkataan yang bu Aisyah ceritakan memang dia merasakan jelas apa yang di ceritakan tentang sifat suaminya itu.
"Eh... maaf, ibu lupa kamu istrinya. Pasti udah tau semua ya. Nggak perlu di perjelas." Bu Aisyah tersenyum canggung.
"Nggak apa-apa bu, makasih sudah memberi kasih yang Mas Dafa butuhkan." Mentari menggenggam tangan Bu Aisyah.
Seorang anak perempuan berlari ke arah Bu Aisyah.
"Bu, adik bayi menangis lagi!" Ucapnya panik.
"Sebentar ya, Nak. Ibu tinggal atau mau ikut?" ajaknya seraya bangun dari duduknya.
"Kalo boleh saya ikut Bu," Mentari mengikuti langkah Bu Aisyah ke sebuah kamar.
Terdengar suara tangis bayi nyaring di sebuah kamar.
Bu Aisyah menggendong bayi itu, lalu memerintahkan seorang anak panti yang sudah agak besar untuk membuatkan susu.
"Bu, bayi nya masih merah." Mentari mendekat dan mengusap pipi bayi yang tengah menangis itu.
"Iya, baru seminggu ada di sini. Ibu nya meninggal saat melahirkan dia, bapaknya kerja jadi TKW. Dia sebatang kara," jawab bu Aisyah.
"Kasian, Bu boleh saya menggendong nya...?" Mentari menatap haru bayi perempuan itu.
Bu Aisyah tersenyum lalu menyodorkan bayi merah itu.
Mentari duduk di pinggir Kasur memangku bayi itu, seorang anak memberikan dot susu padanya.
"Ugh... Sayang, haus?" Mentari tersenyum melihat bayi itu menghisap dot dengan rakus hingga pipinya yang gembul terlihat kembang kempis.
Dafa menatapnya dari Ambang pintu. Sambil mendengar cerita dari bu Aisyah tentang bayi baru penghuni panti itu. "Senasib kayak aku ya bu?" ucap Dafa lirih. Bu Aisyah mengusap lembut bahu Dafa sebelum dirinya meninggalkan ruangan itu.
Dafa mendekat ke arah Mentari yang tengah duduk memangku bayi itu.
"Lucu ya, Sun?"
"Hemm... gemes, tapi aku sedih ngebayanginnya. kasian sekecil ini di tinggal ibu." Ucapnya sambil mengelus pipi lembut si bayi.
"Dia pasti kuat." jawab dafa yang kini jongkok menghadap Mentari.
"Sun, aku mau yang kayak gitu. Dafa mini atau Sunny mini." ucapnya manja.
Pandangan mereka bertemu dan saling melemparkan senyum.
"Aku se dikasihnya aja, tapi aku tetep kuliah ya? sayang setahun lagi." Pinta nya.
Dafa tersenyum bahagia sambil mengangguk.
"Ekkhmm... " Bu Aisyah kembali lagi.
"Kalian punya usul nama nggak? soalnya masih di panggil adek bayi." Ujarnya lagi sambil duduk di sebelah Mentari.
"Safa atau Dafania bagus tuh, ya kan Mas? perpaduan nama kita!" Mentari antusias.
"Nggak... nggak itu mending buat anak kita sendiri Sun!" Tolak nya.
Mentari mencebik kesal. "Terus apa?" tanyanya.
Dafa menatap wajah bayi itu.
"Mutiara gimana? matanya bulat dan bercahaya seperti mutiara." Ujarnya sambil mencium lembut pipi bayi montok itu.
"Bagus, namanya cantik!" Sahut Bu Aisyah.
"Hai Mutiara, sehat terus ya, jadi anak yang cantik rupa dan hati seperti nama kamu!" Mentari ikut menciumi bayi itu yang baru saja melepaskan mulutnya dari dot yang isinya telah habis masuk ke perut.
"Semoga kalian Cepet dapet momongan ya!" Doa dari Bu Aisyah.
"Amin bu, ini lagi giat-giatnya ngadon." Dafa berkata dengan khas tak tau malunya.
"Mas, astaga mulut kamu!" Mentari mencubit lengan Dafa yang sedang bertumpu di lahunannya.
Bu Aisyah tertawa mendengar pertengkaran pasangan muda itu.
...*****...
Bersambung ❤❤❤
makasih yang sudah mampir baca🙏🙏 semoga suka😘😘,like komen jangan lupa ya🥰🥰
__ADS_1
sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤