
π₯π₯π₯
Dua bulan sudah semenjak kejadian itu.
Mentari semakin di batasi ruang geraknya, dari mulai Mang Unang yang standby menunggu nya di kampus, sampai Bintang berkata kalo dia punya beberapa orang mata-mata, yang siap melapor jika dirinya melakukan hal-hal aneh.
"Gila... rasanya melebihi anak TK, kagak bisa bergerak sama sekali!" Ucapnya kesal ketika dirinya dan Cindy duduk di taman kampus.
"Sabar, mungkin mereka ingin yang terbaik buat lu!" Cindy menyemangati.
Mentari memutar bola matanya jengah.
"Ampun, pengen kabur yang jauhhh gitu. Pengen bebas dan merasakan jadi aku seutuhnya."Mentari kembali menghela nafasnya kasar.
Cindy hanya dapat tersenyum mendengar cita-cita aneh sang sahabat.
"Aku pengen nge kost kayak kamu, masak-masak bareng , nongkrong malem!" Ucapnya dengan wajah berbinar membayangkan seolah itu bisa dia rasakan.
"Pengen nge kost pasti bukan buat nongkrong sama gue, tapi biar lu bebas ketemuan sama Mas mu itu, iya kan? yakin gue mah!" cibirnya.
"Kamu emang sahabat sejati, tanpa aku kasih tau, dah bisa kamu tebak!" Mentari terbahak.
Mereka pun tertawa bersama.
"Mas mu nggak ngehubungi?" tanya Cindy.
"Tiap hari juga kita nggak pernah absen telponan, kadang chat Ampe tengah malem. Tapi nggak puas aja kalo dia nggak ada di depan kita!" Ucapnya sedih.
"Video call dong!" Saran Cindy.
"Aduh... dia mah mesum kalo video call, setan mesum ama raja gombalnya naik level langsung!" Terangnya sambil menahan tawa.
"Kenapa ketawa? dih yakin lu dah ketularan." tebaknya.
"Nggak lah, aku masih Sholehah."jawabnya menekankan kata akhir
"Ada bagusnya lu di kekang kayak gini!" ucap nya.
Mentari menatap sahabatnya itu, matanya melotot dan bibirnya mengerucut sempurna mendengar kata-kata sahabat nya itu.
"kenapa emang?" tanyanya dengan nada kesal.
"Lu dah pasti tekdung!" jawab Cindy sambil berlari menjauh. "gue kerja dulu, mau ketemu Abang lu yang cool!" teriaknya pamit di sela-sela dia berlari.
Mentari menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
Iya juga, pastinya nggak tahan godaan kalo nggak ada yang menyetir hidupnya. Batinnya
Mentari melihat jam nya masih jam satu, dia mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi novel online, dan mulai membacanya.
Satu notif pesan masuk. Mentari tersenyum lebar pipinya merona, saat tau siapa yang mengirimkan pesan itu.
π±π§: cantiknya my sunshine pake kemeja bunga-bunga, rambut di ikat asal, tolong lehernya di kondisikan. Nanti di hisap drakula.
Mentari tertawa membaca isi pesan yang Dafa kirimkan. Namun sesaat kemudian dia menyadari bahwa Dafa ada di sekitarnya, karena tahu baju yang dia pakai.
π±π©: Mas di mana? balasnya.
π±π§: Lagi liatin calon istri.
π±π©: Iya, di mana? Kangennnn...
π±π§: Aku tunggu di lorong arah kamar mandi dekat perpustakaan.
Mentari langsung berjalan menuju tempat yang Dafa sebutkan tadi. Saat sampai mentari tidak menemukan Dafa di sekitar situ. Suasana sepi bahkan mengarah ke seram. Karena daerah itu di pojokan dan jarang di lalui orang, mungkin hanya di masuki orang yang berada di perpustakaan.
π±π§: Masuk ke kamar mandi cewek, Mas ada di pintu ke tiga!
Mentari pun masuk ke dalam kamar Mandi, ada seorang wanita sedang berdandan di depan kaca wastafel.
Dia pura-pura mencuci tangan dan mengeluarkan sebuah lipstik. Wanita sebelahnya pun telah selesai dan melenggang ke luar dari kamar mandi itu.
Mentari melangkah ke arah pintu yang ke tiga.
tok...tok...
"Mas..." bisiknya di daun pintu itu.
Dafa yang mendengar pun membuka pintu dan Langsung menarik tangan Mentari masuk.
Mereka saling berpelukan meluapkan rasa rindu yang terus menumpuk tiap harinya.
Dafa merenggangkan pelukannya, Mentari mendongak menatap wajah sang kekasih.
"Kangen..." ucapnya manja.
"Kangenan aku lah!" Timpal Dafa.
"Iya... iya yang dua kali lipat dari aku, karena dial kali in sama si adik!" Mentari mencebik.
Dafa kemudian meraup bibir itu, menahan tengkuk Mentari agar tak terlepas.
Mereka saling mencurahkan rasa rindu itu saling memagut, menghisap dan saling bertukar saliva.
"Euummm..." Mentari melenguh lembut saat Dafa mere*mat area belakang nya.
Di tepuknya tangan Dafa saat semakin menjadi.
"Mas... sakit," Mentari melepas pautan itu.
Dafa hanya tersenyum.
__ADS_1
"Gemes..." jawabnya tanpa tau malu.
Kemudian kembali menyatukan bibir itu yang belum selesai melepas rindunya.
Dafa menarik tubuh Mentari semakin menempel pada tubuhnya, tanpa melepas tautan kedua bibir itu.
Saat si adik di bawah sana mulai bangun, Dafa duduk di atas kloset yang tertutup, menarik Mentari sehingga duduk di atas pangkuannya.
"Ngapain?" Mentari menahan tangan Dafa yang sedang melepaskan kancing kemejanya.
"Si adik bangun!" Cengirnya tanpa dosa.
Mentari segera bangun dari atas lahunan Dafa.
"Aku kira Mas ngerasain kangen yang sama kayak yang aku rasain, tapi kayaknya Mas cuma kangen ingin melampiaskan naf*su aja!" Ucapnya kesal dan segera keluar dari kamar mandi.
"Sun..." Dafa memanggil sambil membenarkan penampilan nya yang sudah acak-acakan karena tergulung bira*hi, dia mengatur nafasnya yang memburu saat akan keluar melihat keadaan sekitar, karena dia berada di kamar mandi wanita.
Dafa mendengus kesal saat panggilan nya tak Mentari jawab. Pesan yang dia kirimkan pun hanya di baca tanpa di balas kekasih nya itu.
*
*
Mentari menghempaskan tubuhnya di atas sofa, sesampainya dia rumah.
Hatinya masih kesal, dia berpikir jika Dafa hanya memanfaatkan tubuhnya saja. Bukan rasa kangen yang seperti dia rasakan.
"Dasar, otak mesum." gerutunya kesal.
"Siapa neng?" tanya mbok Tini dari arah belakangnya membawa segelas es teh manis seperti biasa.
"ehm... itu mbok sinetron di tv." tunjuknya pada layar tv di depannya.
Mbok Tini hanya ber oh ria, lalu kembali ke dapur.
Mentari bangun dari duduknya ketika melihat Bintang masuk ke dalam rumah.
"Dek..." Bintang memanggilnya.
Mentari terus berlari menaiki tangga tanpa berniat untuk menanggapi Bintang yang memanggilnya. Dari kejadian Dafa entah kenapa dia menjaga jarak dari ayah dan kedua kakaknya, dia merasa muak dan kesal akan semua peraturan yang dia dapatkan.
"Chacaaa!" Bintang akhirnya berteriak memanggilnya.
Mentari Terpaku dia anak tangga tertinggi.
Kemudian dia menoleh ke bawah melihat Kakak nya itu.
"Apa sih?" Tanyanya sinis.
"Kenapa kamu jaga jarak dari Ayah, Abang sama gue!" Tanyanya sambil berjalan menaiki tangga mendekati Mentari.
"Kalo nggak berurusan sama kita, mau sama siapa kamu? sama si breng*sek iya?" Bintang sudah kembali tersulut emosi.
Mentari tersenyum sinis.
"Entah, apa yang kalian rencana kan untuk hidup aku yang sungguh indah ini!"Mentari berlalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu itu.
Bintang mengepalkan tangannya, hatinya sakit.
Kenapa niatnya yang ingin melindungi sang adik malah berakhir seperti ini.
Dia pun masuk ke dalam kamarnya.
π₯π₯π₯
Di lain tempat.
"Kenapa muka lu? nggak asik banget." Ledek Rijal yang melihat kedatangan Dafa ke cafe milik nya.
"Gue abis ketemu Mentari!" Dengusnya kasar.
"Cie...cie... lepas kangen!" Goda Rijal.
"Lepas kangen apaan, dia marah-marah!" Dafa merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.
"Marah gimana? kenapa?" Selidik Rijal.
Dafa memukul-mukul kepala nya yang hampir meledak.
"Kita lagi ngeluapin rasa kangen, isshh awalnya dia responsif, lahh gue kek di bukain pintu dong!"
"Pas gue mau minta temu kangen, dia ngamuk. Katanya rasa Rindu gue cuma di naf*su doang."
Rijal tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Dafa.
"Terus lu bilang apa?" tanyanya sambil mengusap air di ujung matanya karena menertawakan kesialan sang sahabat.
"Telpon sama pesan gue kagak ada yg dia respon!"
"Dia kagak tau, kalo laki tuh mau nggak ada rasa aja si gagang bisa ngerespon, apalagi yang punya rasa kek gue ke dia. Emang, sumpah gue kangen berat dan dia juga kangen lah!" tunjuknya ke bagian bawahnya.
Rijal kembali terpingkal-pingkal mendengar celotehan Dafa.
"Lu jelasin se detail mungkin sama dia, bersyukur lah berarti dia itu emang cewek polos sampai nggak tau karakter cowok mesum apa sayang!"godanya kembali.
"Tau lah... kagak bisa mikir gue, di tinggal lagi tegang-tegannya, ni pala atas bawah mau pecah!"
"Gue numpang tidur lah di ruangan lu, siapa tau ketemu Mentari di mimpi gue mau paksa yang tadi biar tuntas!" gerutunya sambil melenggang masuk ke ruangan Rijal.
Rijal hanya tertawa melihat kelakuan sahabat nya itu.
__ADS_1
"Daf, jangan lupa lusa lu ada turnamen balap di Sentul!" Teriaknya.
Dafa hanya mengacungkan jempolnya sambil menaiki tangga menuju ruangan Rijal.
*
*
Sialnya Dafa yang berniat ingin tidur malah tidak bisa memejamkan matanya.
Bayangan Mentari yang marah padanya, berputar-putar di kepalanya.
"Sun, please dong!" Lirihnya menatap ponselnya yang terus berusaha menghubungi gadis itu.
"Gue ancem aja lah!" seringai licik terbit dari bibirnya.
"Lusa aku mau turnamen balap di Sentul, kalo kamu masih gini aku takut jadi kepikiran malah celaka!" Pesan yang dikirimkan pada Mentari.
"kalo sampai hitungan ke sepuluh jamu nggak bales berarti aku nggak penting di hati kamu."
" satu... dua... tiga...empat... " Dafa sudah mulai tegang
"Lima...
Bunyi notifikasi ponselnya terdengar.
Dafa langsung menyambar ponsel itu, senyum puas tersungging di bibirnya saat pesan dari Mentari muncul.
"Aku nggak marah, cuma kesel kamu mesum terus kalo ketemu!" jawab Mentari.
Dafa langsung menghubungi nya...
Menceritakan semuanya, bahwa hal itu lumrah di alami laki-laki, hanya ada yang bisa menahan dan tidak. Dan Dafa mengakui dirinya tidak bisa menahan jika bertemu dengannya.
Mentari tertawa mendengar pengakuan itu.
"Kapan kita ketemu? tapi jangan marah kayak tadi..." rengek Dafa
"Sun, kamu nggak tau kepala aku mau pecah tadi. Di tinggal marah sama kamu di saat aku lagi tegang-tegangnya."
"Ya, mood aku lagi benar-benar ancur banget." Mentari mendengus kesal.
"Aku pengen kaburr, terus kost. Seru kayaknya."
Terangnya.
"Jangan... kamu mau aku di siksa lagi sama kakak kamu?" Ujarnya.
"Kenapa?" tanya Mentari heran.
"Iyalah, kan aku yang bawa kabur kamu, emang mau kabur sama siapa lagi?" dengusnya kesal akan kepolosan sang kekasih.
"Oh, iya ya pasti aku kabur sama kamu!"
tawanya tertahan.
"kapan kamu turnamen?"Tanya Mentari.
"Lusa, kenapa mau ikut?" ajak Dafa.
"Bawa aku kabur..." bisiknya lirih
Jederrrr....
"Hah... kamu serius?"Dafa melonjak kaget
"Aku udah nggak kuat Mas, mereka makin memperlakukan aku kayak boneka yang harus nurut ini itu!" terdengar suaranya serak menahan tangis.
Dafa termenung menggenggam ponselnya, jarinya memijit batang hidungnya.
"Kamu serius? nggak akan nyesel?" Dafa meyakinkan.
"Nggak kuat Mas..." akhirnya tangisan nya pun pecah.
Dafa merasa tersayat mendengar Isak tangis itu.
"Sabar ya... aku akan pikirin semuanya, demi kebaikan kamu dan kita!" ujarnya menenangkan.
Panggilan pun terputus, saat Rijal masuk ke ruangan itu.
Dafa menceriakan semuanya pada sahabat satu-satunya itu.
Dan sebuah rencana terbesit di kepala nya.
"Jangan gila lu, beresiko banget itu. Kedepannya takutnya malah jadi bumerang buat lu!" Rijal mengingatkan Dafa setelah mendengar niatan rencana yang akan dia lakukan.
"Demi kebaikan Mentari ini, kasian kagak tega gue!" ujarnya.
"Lu pikirin baik-baik deh, bakal bener nggak hidup lu setelah ini!" Rijal menepuk pundak Dafa.
" Gue nggak kuat pengen ngehalalin cewek cantik bin polos itu, biar nggak polos lagi." Gumamnya.
"Otak lu Daf... pasti lari ke sono, mesum lu!"
Bersambung β€οΈβ€οΈβ€οΈ
terimakasih banyak yang sudah mampirππ
jangan lupa jejaknya like juga komenππ
sehat dan bahagia terus ya kitaβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1