Kisah Mentari

Kisah Mentari
Sakit perut dan drama Bintang


__ADS_3

...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Tiga bulan kemudian.


Setelah acara pesta Evan anak angkat Bunda, yang tinggal di Australia. Mereka langsung melamar Cindy dan langsung mendapatkan sebuah tanggal yang cocok.


Keluarga Ayah Gunawan tengah di sibukkan dengan acara pernikahan Langit dan Cindy esok hari, rumah itu riuh dengan sanak keluarga.


"Bun,"


"Ya?"


"Kamu, kenapa pucet banget?" Bunda cemas berjalan mendekati Mentari yang sedang meremat perutnya sambil menggendong Helen yang semakin gemuk.


"Perut, aku sakit. Mau dateng bulan kayaknya, dari semalem udah nggak enak banget." Dia menyerahkan Helen pada Bunda nya.


"Udah istirahat, nanti Bunda suruh mbok bikin teh panas." Titahnya pada anak perempuan nya itu.


Mentari manaiki anak tangga dengan perlahan, entah kenapa perutnya sering terasa sakit, apalagi ketika mendekati jadwalnya menstruasi.


Dia langsung membaringkan tubuhnya meringkuk menahan sakit.


Tak lama ketukan di pintu terdengar, suara mbok memanggilnya dari luar.


"Masuk, Mbok." jawabnya.


Perempuan tua bertubuh gemuk itu, berjalan ke. arahnya membawa satu gelas besar teh manis panas.


"Kenapa, neng?" tanyanya.


"Perut, chaca melilit mbok mau dateng bulan kyaknya." ucapnya meringis sambil meminum teh yang baru di sodorkan padanya.


"Kenapa, dulu nggak pernah kayak gini. Neng." Tanyanya heran.


Mentari menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, lalu dia kembali merebahkan tubuh.


Hanya sesekali Helen di antarkan pada Ibu nya itu, hanya di saat bayi itu haus dan mengantuk saja.


...~...


"Gimana, Bun? masih sakit?" Ayah bertanya saat istrinya itu menuruni tangga setelah melihat keadaan anak bungsu nya itu.


"Nggak tau, tidur soalnya." Bunda duduk di sebelah suaminya.


Di sofa rumah itu terdapat beberapa sanak keluarga. Bintang dan tak lupa Langit yang akan menjadi Raja sehari besok pun ada, tengah berbalas pesan dengan sang calon istri.


"Haaaahhh ... " Bintang menghela nafasnya keras.


"Kenceng amat buang nafas bau jigong." Timpal sang Ayah yang duduk di sofa sebrang nya.


"Masa ... " Sahut Bintang melengos malas.


"Kenapa sih? di liatin dari tadi muka nya gitu, nggak enak di liat!" Bunda yang tengah ikut merangkai bunga untuk hiasan rumah pun menatap putranya.


Bintang malah merebahkan tubuhnya di atas sofa, hingga kakinya menyentuh paha Langit yang duduk di sebelah nya.


"Kenapa sih, Lu. Nggak diem banget kek cacing." Langit menjauh sambil menggeplak kaki adiknya itu.


"Hayanggg ... kawin ...." teriaknya.


Semua orang yang di sana menatap ke arahnya dan tertawa terbahak-bahak.


Bintang semakin cemberut dan mengambil sebuah bantal untuk menutup wajahnya.


"Mau kawin, nikah ... " Bentak Ayah.


"Aku kawin juga belum, Yah."


"Nikah dulu, semprul !" Ayah mengacungkan kepalan tangannya ke arah Bintang.


"Bang, Lu udah kawin belum? udah nyicil kallii .. " Godanya pada Langit.


"Belum lah, biar ada gereget nya."


"Halahhh ... bokis lu. Ayah, pasti abang Udah icip-icip." Adunya pada sang Ayah.


Sebuah tendangan Bintang terima dari Abangnya itu.


"Bibir lu, minta di sumpel." Langit masih menatapnya kesal.

__ADS_1


"Njir ... Bang KDRT, Perasaan gue anak teraniaya di rumah ini."


"Lagian, ngomong nggak pernah di tata."Bunda masih santai menggunting tangkai Mawar berwarna-warni.


"Bun, nggak usah di hias rumah kita, kan nikahannya juga di cafe istrinya kak Iqbal." Bintang menatap ke sekeliling rumah yang di hias begitu cantik.


"Ini pesta pertama di rumah ini, dulu waktu adik kamu kan nggak."


"Dia, mah paket hemat. Pinter banget tuh dua manusia." Kelakar nya.


"Eh, kemana Chaca? dari siang nggak liat?" Tanyanya.


"Sakit perut," Jawab Bunda


"Manja," Ledek Bintang.


Ayah yang mendengar anaknya itu terus mengomel dan terus berkomentar, merasa geram sendiri. Di lihat nya sebuah lakban bening, tak jauh darinya.


Dia bangun dan berjalan ke arah anaknya, Lalu duduk di tepi sofa.


"Mau ngapain, Yah? mau ngasih modal kawin ... eh nikah?" ucapnya tersenyum lebar.


Ayah yang memasang wajah ramah langsung menarik lakban itu dan menutup mulut lemes anaknya itu. Bintang meronta-ronta menghentikan apa yang Ayah nya lakukan.


Semua orang tertawa, Bunda berjalan ke arah suaminya. Menghentikan pertengkaran Ayah dan anak itu. "Ayah, udah ... kalian kayak anak kecil kalo udah deketan. Malu banyak yang kerja, ada sodara juga." Bunda menarik tangan suaminya yang masih berusaha merekatkan lakban itu.


Bintang bangun dari posisi tidurnya terduduk dengan tangan sibuk melepaskan lakban dari wajahnya.


"Ayah, ke anak gini amat. Bun ... liat."


"Tau, ah. Bunda pusing sama kalian."


"Eh, pembayaran udah selesai semua?" Ayah bertanya sambil kembali duduk di kursinya.


"Udah, Yah. Beres." jawab Langit.


"Ayah, aku mau pesta gede nanti kalo nikah!" Bintang menggerakkan kedua alisnya.


"Boleh, punya uang berapa kamu?" Ayah menangkup kan kedua tangannya di dada.


"Hah ... "


"Iya, emang aku kira Ayah bayarin ya seenggaknya nambahin gitu!" Bintang sedikit menegakkan tubuhnya.


"Nggak, semua uang tabungan Abang kamu. Sampai hotel buat keluarga Cindy semua Abang kamu yang tanggung. Makanya jangan gaya di gedein, ada yang narik nikah kamu nggak punya tabungan." sindir Ayah.


Bintang mengusak rambutnya kasar.


"Kenapa lu?" Langit terkekeh melihat adiknya.


"Takut, jadi bujang lapuk. Nungguin ampe tabungan cukup buat biaya pesta nikah." Dia merebahkan kepalanya di punggung sofa.


Ayah tertawa jumawa.


"Yah, seenggaknya tambahin gitu. Pelit banget." Kembali lelaki itu memohon.


"Ayah ngasih pilihan kan, mau pesta atau rumah. dan Abang kamu berpikir cerdas untuk masa depannya dia pilih rumah, jadi pesta nya dia biayain sendiri."


"Aku, ya rumah mau. Pesta mau." Bintang tertawa sendiri.


Ayah kembali melemparkan koran-koran pembungkus bunga mawar yang sedang di rangkai istrinya.


"Adik kamu, aja nggak banyak minta. Ayah akan memberi apa yang ayah ingin berikan. Apa yang Ayah pikir kalian butuh, kalo minta malah males Ayah ngasihnya."


"Jadi, Ayah akan kasih kalo ayah mau, tanpa kalian minta." Tambahnya lagi.


Semua orang di sana tetiba diam menyimak apa yang di bicarakan kepala keluarga mereka.


"Tapi, aku diem nggak minta, Ayah bakal lebih acuh." Bintang kembali berwajah cemberut.


Ayah hanya tertawa mengangguk. "Kamu bener," ucapnya lagi.


*


*


Malam semakin merangkak. Bunda masih menimang Helen yang hampir tertidur, Ayah sedang menonton pertandingan bola dengan Bintang. Sedangkan Langit sudah Bunda suruh istirahat, agar esok saat ijab akan segar dan mantap.


Dafa masuk ke dalam rumah, melihat keluarga istrinya sedang berkumpul.

__ADS_1


"Malam, semua." Sapa nya.


Kemudian mencium punggung tangan Ayah dan Bunda bergantian.


Helen yang mendengar suara Ayah nya kembali terlihat segar dan merengek ingin di pangku Ayahnya


"Mentari di mana?" Tanya Dafa yang terlihat lelah.


"Dari siang di kamar, sakit perut katanya." Sahut Bunda


"Hah? tapi nggak ada ngasih kabar saya."


"Lu, jangan kesibukan. Ampe lupa anak istri."


"Lah, gue nyari duit kan buat mereka juga."


"Lu, lupa bini lu juga bisa nyari duit. Tuh baju2 yang dia jual mahal-mahal." Bintang masih membalas ucapan adik iparnya.


"Harga diri suami dari nafkah yang dia berikan." Dafa yang memang sedang lelah sedikit terpancing dengan ucapan iparnya sekaligus mantan musuhnya.


"Saya, liat dulu ibunya Helen." Pamitnya lalu menaiki tangga.


"Nggak makan dulu?" Bunda menawari menantu nya.


"Udah terlalu capek Bun, udah males." Jawabnya dengan memandang iparnya yang dia rasa terlalu banyak omong.


Entah karena terlalu lelah, dia menjadi malas meladeni cibiran iparnya itu.


Ayah yang sedari tadi seperti tak menyimak adu mulut anak dan mantunya, seketika tersenyum dan memukul pundak anaknya.


"Tuh, lelaki yang dulu kamu sebut brengsek lebih punya pegangan yang kuat dalam menyetir rumah tangga nya." Ayah sedikit tertawa.


Bintang hanya mencebik kesal.


"Aku, mau liburan ah seminggu." Bintang berucap.


"Ngapain?"


"Aku di rumah pasti kesiksa, trio kwek2 pada duel, lah aku single sendiri, entar pada tanding barengan. Lah aku sama siapa?"


"Sama, lubang Botol." Ayah menjawab sekenanya sambil tertawa memegangi perut nya, merasa berhasil meledek anaknya.


"Halah, mending ngukur jalan." Bintang bangkit dari duduknya berniat melakukan VC dengan Naya.


"Ukuran, terus dipikiran kamu. Kayaknya kemana-mana harus bawa penggaris." Kini Bunda ikut menimpali.


Bintang menatap dengan wajah memelas, "teroooss kalian bully aku, udah biasa. Aku anak pungut di rumah ini." Dia menaiki tangga sambil menggerutu kesal.


Sepasang suami istri itu hanya tertawa, "Bun, yuk ke kamar. Main ukur-ukuran." Ayah mengalungkan tangannya di pundak istrinya.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


"Sun..."


Dafa masuk ke kamar, lalu dengan Helen yang masih dia timang-timang mendekat ke arah Mentari yang meringkuk di bawah selimut, bahkan jendela kamar belum di tutup, tirai tipis itu bergoyang-goyang tertiup angin.


Setelah di rasa Helen pulas dalam gendongan nya, dia menidurkan Helen di boxnya.


Pria itu mengambil sebuah kaos dan celana boxer dari dalam lemari istrinya yang sekarang tersimpan beberapa potong pakaiannya.


Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Dafa keluar dari sana sudah sangat segar, berjalan ke arah nakas, dan meminum air teh milik istrinya yang masih terasa hangat, sepertinya masih baru.


"Sun, kamu sakit?" tanyanya, walau dia meyakini tidak akan mendapatkan jawaban dari orang yang sudah tertidur pulas.


Dia melihat Mentari tidur dengan menggenggam sebotol minyak gosok, ada juga kompresan karet berisikan air panas di perutnya.


Ikut membaringkan tubuh lelahnya, memeluk istrinya dari belakang, tubuh mereka bersatu seperti sebuah puzzle. Kemudian dia ikut memejamkan matanya, sambil memeluk tubuh Mentari yang dia elus-elus perut nya. "Cepet sembuh sayang," bisiknya sambil menciumi kepala belakang istrinya itu.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.

__ADS_1


__ADS_2