
...❤❤❤...
Dafa sedang makan di atas kasur dengan pemandangan Mentari yang tengah menyusui Shera.
"Mas.. "
"Ya?" Jawabnya dengan suara mulut penuh makanan.
"Makasih... "
Dafa yang sedang mengunyah makanannya, menoleh ke arah istrinya.
"Makasih buat apa? aku yang harus nya makasih dan minta maaf sama kamu. " Lalu bangkit menyimpan piring yang sudah habis isinya.
Dia kembali duduk di pinggir kasur setelah menenggak habis air putih nya. "Kenapa harus terus bilang makasih?" di elus nya pipi yang masih terlihat sedikit pucat itu, namun tidak mengurangi pesona cantik alaminya.
"Iya, makasih karena udah jadi suami dan Ayah yang baik buat aku sama anak-anak." Mentari memandang haru pada suaminya itu.
"Belum, aku belum jadi yang terbaik, masih belajar. Kita baru mulai dan harus saling berpegangan tangan, saling mengingatkan, saking menguatkan, suami istri yang saling bantu, berbagi susah dan senang." Katanya.
Mentari mengangguk , lalu meringis saat Shera mengisap puncak dadanya kuat.
"Kenapa?" Dafa bertanya cemas.
"Ngisep nya kenceng banget. " Jawabnya masih dengan meringis.
"Haus sayang? enak ya punya Ibu?" Dafa menciumi pipi Shera yang selembut sutra.
"Kenapa di isep anak sakit, tapi kalo aku malah.. " Dafa terkikik melihat raut wajah Mentari.
Mentari mendelik sebal mendengar perkataan absurd suaminya. "Nggak usah di omongin, ahhh... " rengeknya.
Dafa tertawa lalu menciumi gemas wajah istrinya.
*
*
Bunda masuk dengan Helen yang tertidur di pangkuannya, Dafa langsung menyambutnya dan membaringkan di box.
"Mas,"
"Ya?"
"Di sini aja, kasian." Mentari yang masih memberikan asi pada Shera, menepuk bagian kosong tempat tidur mereka.
Dafa menurut dan menidurkan Helen di sebelah Ibu nya.
__ADS_1
"Kasian, di belum kenyang kasih sayang kita." Mentari mengelus kepala Helen.
"Kenapa? bukan karena dia punya adik kita akan berkurang kasih sayang nya, nggak akan berubah." Dafa ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Helen.
"Tapi, seenggaknya sekarang fokus aku terpecah." Mentari menidurkan Shera di sebelah Helen.
Di pandanginya kedua anaknya.
"Fokus kamu terbagi? aku lengkapi, kalo kamu lagi fokus sama Shera, aku yang jagain Helen. Pokoknya tidak ada yang berubah mereka akan menjadi prioritas kita berdua." Dafa ikut menatapi anak-anaknya.
"Lucu ya? hahhh... " Mentari membuang kasar nafasnya.
"Kenapa?"
"Kenapa mereka mirip kamu semua?" Mentari mendengus kesal.
Dafa tertawa melihat raut kecewa istrinya, "Makanya pupuk rasa cinta kamu sama aku, ini kan karena aku rasa cinta nya lebih besar sama kamu!" Dafa menjawil hidung istrinya yang susah terjangkau karena terhalang oleh kedua anak mereka.
"Iya, lebih besar semoga nggak bisa nyempillin jendes atau cewek-cewek seksayy di luar sana." Cibir nya.
Dafa menepuk keningnya. "Halah, topik jebakan. Males ... ah." Dia menekukkan tangannya di atas wajah nya.
Mentari terkikik geli, lalu bergerak perlahan menuruni tempat tidur.
Dafa mendongak, "mau kemana?" tanyanya.
"Biarin, kamu abis lahiran loh jangan turun dulu." Dafa turun memutari tempat tidur, setelah menghalangkan guling di sebelah Helen.
Mentari kaget saat Dafa menahan pergerakannya.
"Iya, aku habis lahiran. Tapi bukan orang lumpuh. Makannya aku sukanya lahiran normal ya gini beberapa jam udah lahiran udah biasa lagi, coba kalo cesar katanya kan ngilu nya juga kan berhari-hari." Jelasnya.
"Iya, di luar kamu sehat. Tapi kan di dalemnya habis melalui proses menyakitkan yang panjang." Dafa masih menahan tubuhnya.
"Shera tergolong cepet, dulu Helen hampir 3 hari aku kontraksi pembukaan dari 1 sampai lahiran." Terangnya lagi.
"Iya, kan Helen nggak aku bantuin buka jalan lahirnya, kalo Shera kan malemnya juga kita sempet! " Dafa tertawa namun dengan cepat Mentari mencubit perutnya.
"Astaga, omongan suamiku." Mentari menjawil bibir Dafa.
Dafa masih terkekeh, lalu mencium kening istrinya. "Makasih, buat semua kebahagiaan ini. Aku janji akan menjadi suami dan ayah yang baik buat kalian. Tegur aku jika melenceng dari jalan hidup kita." kening mereka menyatu, dengan rasa bahagia yang membuncah.
*
*
Mentari berjalan perlahan ke kamar mandi dengan di awasi suaminya.
__ADS_1
"Kemana lagi?" Dafa menggeram kesal, istrinya bukan istirahat malah berjalan ke arah pintu.
"Bentar liat dulu di luar kok sepi." Ucapnya.
Lalu pemandangan yang terlihat, Cindy tertidur dengan kepala di pangkuan Langit suaminya, Bintang dan Ayah Gunawan tertidur di karpet depan TV.
Terlihat Bunda dan Intan sedang di depan kompor.
"Bun... " Panggilnya sambil mendekat.
"Ishh, bukannya tidur." Bunda berkata sambil mengocek panci sup.
"Iya, nanti."
"Bandel, Bun." Dafa menimpali di belakang.
"Aduh, udah mau maghrib. Anak-anak jangan di tinggalin." Ucapnya panik pada Dafa.
Dafa pun langsung berlari kembali ke kamar.
"Bunda bikinin sup ayam kampung buat pemulihan tenaga kamu, ada risoles juga di kulkas tinggal goreng, ada brownies tuh di meja makan. Kamu pasti laper terus kayak waktu nyusuin Helen."
Mentari memeluk bermanja pada Bundanya. "Makasih, bun. Pulang aja, kasian Ayah." katanya.
"Iya, abis ini selesai Bunda mau ngajak Ayah pulang. Tadi ngeluh pusing katanya. Biasa kalo cemas Ayah pasti tensi nya naik." Masih mengelus tangan putrinya yang melingkari perutnya.
"Bunda nggak cemas, ada Dafa sama Intan yang pasti bantuin kamu," tambahnya lagi.
*
*
Tepat pukul 8 malam semua keluarga pulang.
Rumah itu langsung sepi, Mentari sudah tertidur di tempat tidur, dua box itu di dekatkan ke tempat tidur mereka agar memudahkan jika salah satunya menangis.
Dafa habis membersihkan dirinya memandang bahagia sekaligus haru istrinya yang begitu dia cintai dan kedua putrinya yang sehat. Nikmat mana lagi yang dia cari.
Dafa ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Mentari dan merangsek memeluk tubuh istrinya.
"Sehat selalu jantung hidup ku, terimakasih buat semuanya." Dia mencium kepala bagian belakang Mentari dan tak lama ikut terlelap.
...🌸🌸🌸...
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.
__ADS_1
Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘