Kisah Mentari

Kisah Mentari
Happy pluss.. plus..


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Dafa menghampiri istrinya yang sedang duduk di teras kamar itu, menghadap pemandangan kebun teh yang membentang.


"Sun ... "


"Iya?" Mentari menoleh tersenyum pada sang suami yang baru terbangun dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan.


Dafa duduk di sebelah nya, melihat sudah ada dua kantung asi yang sudah penuh, tapi alat itu masih menghisap kuat dada istrinya.


"Banyak?" tanyanya.


Mentari mengangguk, "dari malem sakit tapi aku males bangun buat pumping."


"Kenapa nggak bangunin aku?" tanya nya.


"Buat ambilin alat pumping?" Mentari malah balik bertanya.


"Nggak, buat aku bantuin isep."


Mentari memukul paha suaminya, Dafa tertawa sambil meraih tangan itu dan dia kecup lembut.


Mentari tersenyum, di pikir lagi dia tidak pernah menyangka sifat suaminya akan semanis dan sedewasa ini. Perjalanan rumah tangga mereka yang berliku dan beberapa kali hampir di ujung tanduk, juga cobaan silih berganti. Seolah mengikis kerasnya hati Dafa suaminya.


"Kenapa senyum-senyum? makin cinta ya?" Dafa tertawa menggoda.


Mentari menggeleng, "nggak, biasa aja!" jawabnya asal.


Dafa tertawa, "masa biasa aja anaknya tiga?"


"Ya, yang nggak cinta aja banyak yang punya anak, yang di per*osa aja banyak yang hamil...


" Shhhttt ... Ngomong apa sih? asal banget!" Dafa membungkam mulut istrinya dengan telapak tangannya.


Mentari melepaskan tangan suaminya, lalu kepalanya menunduk ke alat yang sedang memeras asi nya.


"Udah abis," Dafa berkata saat sang istri membereskan alat pumping nya.


"Udah abis kayaknya," jawabnya.


Mentari hendak bangkit dari duduknya untuk menyimpan asi ke lemari pendingin saat tangannya di cekal Dafa.


"Biar aku yang nyimpen, kamu duduk di sini."


Dafa pun berlalu masuk ke dalam kamar untuk menyimpan asi itu di kulkas kecil tempat berbagai jenis minuman tersusun rapi di dalamnya.


Dia kembali saat sang istri tengah meminum coklat panasnya, yang cepat terasa dingin karena suhu daerah itu yang dingin menusuk tulang.


"Mau sarapan? biar aku bikinin ke bawah," tawarnya saat Dafa duduk di sebelah nya.


"Sarapan kamu boleh?" Dafa berbisik seraya mengecup leher istrinya.


"Kamu anget, wangi lagi!"


"Jangan ngeledek deh, aku kan belum mandi. Tadi bangun minum langsung pumping udah nggak kuat penuh banget, sakit." Mentari menjauhkan kepala suaminya dari leher.


Dafa malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Serius, wangi kamu selalu enak. Apalagi keringet kamu setelah kita melakukan kegiatan paling bermanfaat!" ucapnya dengan suara yang sudah terdengar berat.


"Kegiatan bermanfaat?" Mentari membeo berbalik menatap wajah suaminya.


Dafa mengecup lembut bibir itu sekilas.


"Iya, kegiatan yang menghadirkan anak-anak kita yang lucu-lucu." Dafa terkikik melihat wajah istrinya yang melongo serius.


"Yuk... kita coba di alam terbuka!"


Mentari melihat ke sekelilingnya.


"Nggak ah, takut ada yang liat!" tolak nya.


"Ini si bukit, hamparan kebun teh juga ada di bawah!" terangnya.


Mentari masih menggeleng ragu.


"Kamu selalu banyak alasan kalo aku ajak di suasana berbeda," Dafa menarik istrinya ke atas pangkuannya dengan gemas.


"Fantasi kamu terlalu liar buat aku, ngeri!" Ucapnya dengan tangan yang melingkari leher suaminya.


Dafa yang gemas kemudian mengecupi seluruh wajah istrinya, semakin turun menyusuri leher jenjang. Tangannya mengusap punggung Mentari dengan lembut lalu pindah ke depan di mana bulatan indah itu berada, istrinya yang tidak mengenakan penutup dada otomatis dengan mudahnya dia meraup isinya yang masih tetap sama saat dulu dia pertama mengenal istrinya.


"Lembutnya dan Kekenyalan nya masih sama kayak lima tahun lalu!" bisiknya saat pautan kedua bibir itu terlepas, tangannya masih bermain-main di sana.


"Gombal, ini udah di isep 3 anak kamu. Mas," mentari mengerucutkan mulutnya mendengar pujian sang suami.


Dafa menunduk, dan menarik kaos tidur istrinya hingga isinya tampak terlihat sungguh menggoda.


Mulutnya dengan segera menghisap nya, decakan itu terdengar nyaring dan ber*nafsu. Mentari menengadahkan kepalanya ke atas, mereka larut dalam kegiatan pagi hari yang memabukkan. Di bawah hamparan langit yang sedikit mendung menambah syahdu kegiatan pemanasan mereka.


Dafa menggerakan pinggul istrinya agar sedikit bergerak menggesek sesuatu miliknya yang sudah siap memasukinya.


Mentari yang masih menikmati permainan lidah hangat Dafa di puncak dadanya. Hanya mampu memejamkan mata dengan tangan yang menjambak rambut suaminya. "Ehmmm, Mas.. " Dia men*sah saat Dafa menggigit kecil chococips miliknya.

__ADS_1


Dafa sedikit mendongak menatap wajah Mentari di atasnya.


"Mau?" Dafa bertanya setelah melepaskan mulut nya.


"Pake nanya, udah sejauh ini." gerutunya.


Dafa tertawa kemudian bibir keduanya kembali saking mema*gut, kini mereka semakin terburu-buru, nafasnya pun sudah berat dan terengah.


Cekungan hangat itu sudah lembab, begitu pun dengan jamur kuncup seolah siap menyemburkan getahnya kapan saja.


Di tariknya lepas kaos miliknya dan milik sang istri. Kini tubuh bagian atas mereka sudah polos, dan kegiatan itu kembali mereka mulai.


Saat Dafa menidurkan istrinya di sofa itu dan siap membuka boxer nya. Mentari menahan tubuh suaminya.


"Di dalem, nanti ada pesawat lewat kita lagi begituan. Malu, " tolak nya.


Dafa mendengus, "nggak akan ada yang liat. Dari pesawat itu kecil sayang nggak akan mungkin keliatan,"


"Gimana kalo ada yang bawa drone terus ada kameranya nge zoom kita?" tanyanya lagi.


Lelaki itu mendengus mendengar perkataan istrinya, lima tahun menikah tampaknya dirinya sudah biasa dengan iklan yang selalu istrinya tayangkan sebelum mereka melakukan hubungan.


"Ya udah mau di mana? kamar? atau pinggir jacuzzi? atau mau di kebun tehnya sekalian! kamu selalu ribet, nggak aneh aku mah dapet jeda iklan dari kamu, terlalu parno!" keluhnya


"Makanya yang normal permintaannya," sungut nya tak kalah kesal,


Dafa yang sudah tidak tahan langsung meraup tubuh itu dan loncat ke atas jacuzzi.


Mereka berdua basah kuyup, Mentari memukulinya kesal. Pasalnya air dalam jacuzzi itu dingin karena pengaturan panasnya belum di nyalakan.


Dafa dengan santainya melepaskan penutup si jamur lalu melemparkan nya begitu saja.


Mentari yang mencoba melarikan diri langsung berdiri dan berjalan ke luar dari jacuzzi yang hanya berukuran 2x2 meter itu. Saat kakinya baru melangkah, Dafa sudah sigap menahan tubuhnya.


"Mau kemana wahai istriku?" tanyanya sambil tangannya mere*mas kuat bulatan kembar yang berhasil dia tangkup tadi.


"Mau naik," jawab perempuan itu sambil tertawa karena suaminya berhasil menangkapnya.


"Nggak bakal aku biarin kamu keluar dari sini sebelum kita selesai dengan urusan kenik*matan itu." gumamnya dari belakang telinga Mentari.


"Nggak di air, di situ aja di atasnya." wanita itu mencoba bernegosiasi.


Lalu Dafa yang memang sudah tak tahan, akhirnya mengangguk setuju.


Mereka naik ke pinggiran dan Mentari tertawa saat melihat jamur kuncup itu sudah mengeras dengan sempurna.


Lalu Istrinya itu kembali turun ke dalam jacuzzi, belum mengeluarkan kata-kata nya Dafa mulai mengerti kemana arah pikiran istrinya itu.


Kakinya yang masih menjuntai di kolam jacuzzi Mentari buka perlahan agar tubuhnya bisa masuk di antara sela kaki suaminya.


"Argghhh ... Sun," desa*han parau terdengar dari mulut Dafa, saat tangan istrinya memainkan bagian paling sensitif di tubuhnya.


Mentari tersenyum puas, lalu sedetik kemudian mulutnya sudah bergerak maju mundur di batang jamur itu. Terlihat Dafa memejamkan matanya sambil mengerang penuh keni*matan.


"Sayang ... nggak usah lama-lama, aku nggak tahan," gumamnya.


Mentari masih bermain di bawah sana, kini lidahnya bermain dengan bergerak kesana kemari melingkari jamurnya yang semakin mengetat di dalam mulutnya.


"Sayang ... " Dafa mengerang tangannya memi*lin chococips milik istrinya.


Mentari sedikit menggeliat karena dirinya pun sudah sama terpancing dan berharap lebih.


Tangannya yang berada di bawah air bergerak melepas celana tidur pendek nya.


Gerakan yang semakin cepat malah membuat suaminya mengerang dan seketika meraup tubuhnya hingga naik ke pinggiran jacuzzi dengan sekali tarikan tangan Dafa.


Wanita itu terduduk di atas pangkuan sang suami.


Dafa tersenyum puas saat mengetahui istrinya sudah melepaskan celananya.


Lalu tanpa aba-aba miliknya dia benamkan sekaligus, sampai Mentari memekik sedikit keras karet kaget dengan Dafa yang memasukinya tanpa aba-aba.


Mereka saling mele*nguh dan desa*han itu terdengar saling bersahutan.


"Mas ... "


"Gerak sayang," Dafa membantu istrinya agar menggerakan pinggang nya.


"Oghhh .... "


"Iya, gitu ... lebih cepat," pintanya saat istrinya sedang bergerak di atas pangkuannya. Memanjakan sesuatu yang sedang tertanam di dalam sana.


Dirinya kembali menunduk untuk mengecap kembali puncak bulatan coklat itu. Menye*sap dan menghisap nya kuat, sebelah tangannya memi*lin yang satunya.


"Argghhh ... Mas, a-aku mau sekarang!" Mentari menegang, tangannya menancapkan kukunya pada bahu sang suami.


Dengan sekali gerakan dirinya merubah posisi hingga istrinya terlentang di bawahnya.


Dafa menggerakan tubuhnya semakin kencang ingin menyusul istrinya, dia ingin sampai pada puncaknya bersamaan dengan sang istri.


"Tunggu, Sun. Bentar lagi!" Dia masih bergerak dengan sangat fokus.


Bahkan irama tubuh yang saling bertabrakan itu seolah menjadi musik yang sangat indah untuk keduanya.

__ADS_1


Ritme semakin tidak kondusif dan Istrinya itu sudah berdenyut sedari tadi.


Bahkan kini kukunya kembali menancap di kedua lengan atas Dafa yang sedang mengungkung tubuhnya di kedua sisi.


"Mass .... " Mentari kembali menge*rang.


Dafa semakin keras meng*hetak, dan akhirnya getaran itu dia capai bagian bawah tubuhnya berdenyut dan kakinya yang menekuk mengejan.


Dia merasakan muntahannya beberapa kali menghangatkan bagian dalam istrinya.


Lalu setelah di rasa selesai dia menjatuhkan tubuhnya di sebelah sang istri. Mereka mengatur nafas yang terengah-engah dan menggebu-gebu.


Dafa memeluk tubuh istrinya yang polos lalu menarik handuk yang ada di kursi pinggiran jacuzzi itu.


Menutupi tubuh istrinya yang masih terengah.


"Capek?" tanyanya.


Mentari hanya mendelik sebal.


"Pake nanya," gerutunya.


Dafa hanya tertawa.


"Makasih sayang, makasih untuk semua, I Love You forever."


Mentari memiringkan tubuhnya menghadap sang suami, memeluk nya erat.


"Makasih juga udah sabar sama sikap manja dan moody-an aku. Yang pasti bikin kamu pusing," ucapnya.


"Yang bikin aku pusing kalo kamu banyak iklan, gemesss pengen nusukin si jamur saat itu juga," keluhnya.


Lalu mereka tertawa bersama. Saling mencium dan mengungkapkan rasa terimakasih dan kekaguman satu sama lain.


*


...❤❤❤❤...


*


Empat tahun berlalu.


Di Bandara sepasang suami istri tua duduk dengan cemas.


"Mereka kemana sih?" gerutu sang suami.


"Sabar, masih setengah jam lagi," Sang istri mencoba menenangkan sang suami.


Terlihat tiga pasang suami istri bersama anak-anak mereka berlari menghampiri pasangan tua itu.


"Kakek .... Nenek ... " para anak kecil berlarian berlomba-lomba menghampiri.


"Ughhh ... cucu-cucu kakek yang cantik yang ganteng," pria tua itu merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut delapan cucu yang berlarian ke arah nya.


"Kenapa lama banget?" nada bicaranya dan sorot mata nya berubah seketika saat menghadapi anak dan para pasangan nya.


"Nggak lah, ini kan masih jam 9 lewat dikit," jawab Bintang.


Langit menuntun istrinya yang tengah hamil besar duduk di sebelah Bunda mereka.


Dafa dan Mentari berjalan paling terakhir.


"Kamu kenapa?" tanyanya pada sang putri yang memberengut.


"Isi lagi, Yah. Udah mau dua bulan!" Dafa menjawab dengan cengiran serba salahnya.


Ayah menggelengkan Kepala nya, "Jadi semua hamil ini?" tanyanya memastikan .


Para anak dan menantu mengangguk membenarkan.


"Untung dulu Bunda kabur, kalo nggak anaknya selosin kayaknya!" gumam sang istri namun malah membuat semua orang di sana tertawa.


Panggilan dari maskapai penerbangan yang akan mereka tumpangi terdengar menggema di raung tunggu itu, mereka pun segera bersiap.


Sepasang suami-istri istri tua menuntun dan menggiring 8 cucu-cucu mereka yang terlihat ceria. Di belakangnya tiga pasangan anak dan menantunya berjalan mendorong koper2 bawaan dengan para istri yang sedang hamil.


Mereka menuju pulau Lombok untuk berlibur. Acara yang rutin setiap tahun mereka lakukan. Selama seminggu dalam satu tahun keluarga mereka akan ber destinasi ke suatu tempat di Indonesia. Mengagumi negri tercinta yang keindahannya tak kalah dengan negara lain.


...----The End----...


Terimakasih sudah mengawal cerita mereka sampai tamat 🤧🤧🤧


Melow tapi ada pertemuan bakal ada perpisahan 🤧🤧


Sekali lagi terimakasih sudah menyemangati Itti, author bubuk gorengan ini, maaf masih sangat jauh dari kata apik, terimakasih like, komen, gift dan vote yang kalian kasih ke aku. Hanya mampu membalas dengan sebuah doa tulus semoga di mana pun kalian berasa selalu sehat dan bahagia 🥰🥰😘😘


Maaf sering ada typo atau kata2 yang kurang berkenan, semoga kalian memaklumi🤭


Salam cinta dari Bandung buat kalian😘😘😘


Nggak janji kalo suatu hari dapet ilham buat Bonchap ya🤭🐒 ke pedean siapa yang nunggu coba 🤭🤭.


Pokoknya Terima kasih banyak buat kalian🙏🙏

__ADS_1


Cium peluk online ya buat kalian😘😘😘


Bye semoga kita bertemu lagi di cerita ku yang lain😘😘😘😘


__ADS_2