Kisah Mentari

Kisah Mentari
Tak mau kalah


__ADS_3

❤❤❤


Ayah masuk dengan suaranya yang masih terbahak-bahak. Pandangan nya bertemu dengan mata indah istrinya yang sedang menimang sang cucu, sambil mengobrol dengan anak sulungnya.


"Mana Bubun nya?" Tanya Ayah sambil mengecupi pipi merah cucu nya yang tengah menggeliat dalam dekapan sangat istri.


" Ibu nya pengen mandi katanya, dari kemarin kan nggak mandi." Bunda masih menggoyangkan tubuh cucunya yang sepertinya sebentar lagi akan merengek.


"Bubun atau Ibu sih?" Tanya Ayah.


"Ibu aja katanya, dia takut di ledekkin." Bunda sedikit terkikik. Suaminya itu malah ikut tersenyum sambil mengelus punggungnya.


"Ayah kenapa masuk ketawa-tawa?" tanya nya pada suami yang sedang mengeluh pipi cucunya.


"Anak semprul kena karma instan." Kekehnya lagi.


Bunda mengerutkan keningnya, merasa tidak mengerti namun malas untuk bertanya. Paling obrolan nyeleneh antara dua lelaki yang berperangai sama, pikirnya.


"Ayah, Bun kayaknya Abang harus ke Bandung. Mau ada yang harus di luruskan di market." pamitnya sambil menghampiri kedua orang tuanya yang tengah berdiri dekat pintu menuju balkon.


"Nggak capek Bang?"


"Nggak lah Bun, cuma dua setengah jam perjalanan. lagian cuma rapat doang abis itu aku langsung pulang ke rumah." Jawab lelaki tinggi dengan sedikit jambang membayang di sekitar wajahnya.


"Papa pergi dulu ya!' ciumnya pada sangat ponakan.


" Kok, Papa?" Tanya pasangan old mem itu.


"Semalem waktu nangis, aku ajak ngobrol sambil gendong, Abang perkenalan diri sebagai om, wawa masih nangis. Tapi pas aku bilang papa dia diem."


Jelasnya sambil menciumi wajah bayi merah itu.


"Kasian, mungkin dia rindu Papa nya." Bunda mengusap lembut kepala Helen.


*


*


"Bun... " Mentari teriak dari arah pintu.


"Ya... " Bunda meng estafet kan tubuh mungil cucunya pada sang suami.


"Apa?" sautnya saat sudah ada di depan pintu kamar mandi.


"Udah mandinya?" saat melihat putrinya sudah segar dengan kemeja tunik berkancing dan rambut tergulung handuk.


"Udah, tapi aku pengen pup . Tapi takut, ngedennya ngeri." Rengeknya meringismeringis, "dari kemarin makan terus tapi nggak ada yang di keluarin, begah Bun." Ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih menyisakan buncit.


"Pelan-pelan aja jangan terlalu ngeden. Emang pasti ngilu, tapi ntar juga biasa." Bunda coba menenangkan.


"Aku coba deh, Helen nggak ngerengek kan? enen aku udah kerasa penuh."


"Nggak, tidur di gendong Kakeknya." jawabnya "Udah buruan, keburu bangun Helen nya." Bunda menyuruh nya sambil sedikit mendorong putrinya agar masuk kembali ke dalam kamar mandi.


"Yah...


" Di balkon," jawab Ayah "Sini, Bun." Panggilnya balik


Dia tersenyum, suaminya itu sedang duduk memangku cucunya nyang sudah tertidur pulas.


"Aku, masih penasaran soal obrolan Ayah sama Bintang, apaan sih?" Dia ikut duduk di sebelah suaminya.


"Ayah, di tawarin obat kuat dan tahan lama sama anak semprul itu." Dia masih bersungut-sungut kesal, mengingat kejadian tadi.


"Hah, terus ayah pesan?" Bunda membolak matanya tak percaya dengan obrolan Ayah anak itu.

__ADS_1


"Mahal, Bun dia ngelipet-lipet untungnya, katanya buat ngebeli harga diri Senjata nya. Padahal belum tentu dia sejago Ayah." Katanya membanggakan diri.


"Hilih, narsis... Aku suka kok Ayah apa adanya, nggak minta yang durasi lama, karena emang Ayah dari dulu kan emang gitu, udah terbiasa." Terangnya.


"Kenapa kata-kata kamu gitu Bun? Aku jadi minder. Apa kita beli online aja?" Tawarnya.


"Inget, Ayah ada riwayat Jantung. Ngapain sih mau pake yang kayak gitu segala, Bunda lebih suka yang alami aja ah... ngeri, Umur kita udah beresiko Yah. Nggak usah aneh-aneh." Bunda berucap serius.


"Kamu, selalu lebih dewasa. Aku makin gemes, pulang yuk?" Godanya.


"Pulang-pulang, ini anak cucu kita mau sama siapa?" Bunda memukul paha sang suami.


"Ada Bintang Bun, Nanti tinggal kita sogok aja dua ratus rebu, itung-itung nyewa kamar."


"Astaga... otak Ayah sama persis Bintang." Bunda mencibir.


Mereka pun tertawa cekikikan, sampai sang cucu menggeliat kaget.


"Shhhhttt...." Bunda menempelkan telunjuknya di bibir sang suami, Walaupun dia sendiri masih tertawa.


*


*


Di lain tempat...


"Sebentar, saya siapkan dulu obatnya." suster itu beranjak menuju sebuah rak yang di penuhi berbagai macam obat.


Seragamnya yang selutut itu terangkat karena tangannya yang terulur meraih obat di hambalan rak teratas.


Paha padat nan mulus itu terlihat nyata, Bintang tak merasakan dahi nya yang tadi berdenyut di sertai pusing. Kini hilang begitu saja di gantikan oleh saliva yang tetiba memenuhi mulutnya, Bintang masih melongo melihat pemandangan wow di depan sana.


"Perlu bantuan?" kini dia merangsek ke depan suster itu lalu tangannya terjulur ke rak paling atas, "yang ini?" tanyanya setelah berhasil menggenggam sebotol obat. lalu melirik ke belakang wajah mereka bertemu.


Suster cantik itu tersenyum sambil mengangguk, "iya... " Jawabnya dengan suara halus.


"Ayo duduk." Pintanya lalu mulai menyiapkan beberapa obat dalam satu baki stainless.


"Belum kenalan, nama ku Bintang. Kamu?"


"Uhm... Saya Naya." Jawabnya tersipu malu.


Mereka duduk saling berhadapan bahkan lutut mereka pun saling menempel. "Duh susah," Ucapnya saat melihat Naya terlihat kesusahan.


"Aku, majuan nggak apa-apa?" Bintang membuka lebar paha nya dan menarik kursi yang dia duduki semakin maju ke depan, kedua kaki Naya masuk di celah kaki Bintang yang terbuka lebar, Bahkan sedikit lagi bakal menyentuh area ser... ser... nya.


"Suster cantik," Godanya.


"Apa sih, Mas Bintang ini." Dia tersipu malu, tanganya yang sedang mengoleskan obat anti lebam dan meminimalisir benjol yang akan timbul karena benturan tadi.


Bintang menelan ludahnya yang tiba-tiba banyak dalam mulutnya, saat melihat dua gunung kembar mengintip dari seragam putih itu, penuh dan berwarna putih.


"Duh, empuk, menul, lembut, kenyal pasti." Otaknya sudah membayangkan yang nggak-nggak.


"Selesai, Sudah Mas." ujarnya sambil membereskan obat-obat uang ada di pangkuannya.


"Ini, ruangan apa?" Tanya Bintang mengulur waktu rasanya dia tak rela keluar dari ruangan itu sekarang-sekarang.


"Ini, tempat persediaan obat. Aku lagi kebagian tugas jaga di sini. Nanti ada yang membutuhkan obat dateng atau meminta di anterin melalui sambungan telepon." katanya menjelaskan.


Bintang mengangguk, "Udah lama kerja di sini?' tanyanya.


" Udah mau lima tahun." jawabnya, kini mereka duduk berhadap-hadapan.


"Lumayan lama, ya!"

__ADS_1


"Ya udah, makasih ya udah ngobatin saya." Bintang bermaksud bangun namun bersamaan dengan Naya yang juga hendak berdiri.


Mereka beradu dan Naya yang hampir terjengkak ke belakang, dengan sigap nya Bintang menahan Tubuh Naya dan dada mereka saling menempel.


"Kan bener, Menul empuk." Hatinya menggumam.


Ada yang aneh dari tampilan Naya, menurutnya dia terlihat sedang menahan gai*rah, dengan cara menggigit bibir bawahnya.


Dengan sedikit sengaja, Dia pura-pura menyenggol Dada Naya, bukannya marah dia malah melenguh.


"Sial... suaranya doang udah bikin ser... ser.. an." Gerutunya.


"Pulang jam berapa?" Tanya Bintang.


"Sebenarnya udah bukan jam kerja, aku masuk malam kan, jadi tadi jam 7 harusnya udah pulang, cuma kelamaan ngobrol sama temen, terus ngobatin Mas." Jawabnya.


"Ehmmm... Mau aku anter pulang? Kalo mau, Aku tunggu di parkiran. Sedan hitam no platnya D xxxx BH."


Naya tertawa dengan menutup mulutnya.


"Kenapa?" Bintang mengernyitkan keningnya tak mengerti apa yang perempuan di depannya itu tertawakan.


"Plat nya lucu, BH." Dia kembali terkikik.


"Asem... BH Inisial aku."


"Bintang handsome" Lalu terbahak karena melihat wajah Naya yang menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Narsis sekali Anda," Naya tertawa kembali.


"Aku duluan ya, aku tunggu di parkiran." Bintang pun keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Naya sendiri.


*


*


Bintang masuk terburu-buru ke kamar rawat adiknya.


"Ayah... pinjem kunci mobil, Buruan." Dia tergesa menengadahkan tangannya meminta kunci mobil pada Ayah nya yang sedang duduk di sofa menghadap TV.


"Mau kemana? Ayah mau pulang dulu sama Bunda." Tolak nya.


"Sebentar doang, Ayah mah ngamar mulu sama Bunda, kasih kesempatan anak muda nan handsome ini dong Yah... " Bintang merengek di hadapan ayahnya.


"Semprul... " Lalu memberikan kunci mobilnya.


"Bentar doang, Aku pergi." Dia berlari ke arah luar.


"Mau kemana dia Yah?" Tanya Bunda yang baru keluar dari kamar mandi.


"Tau, mau servis otak kayaknya ada yang konslet." Jawabnya asal sambil tertawa dan kembali memindahkan chanel TV.


"Ibu anak tidur, lucu nya." Bunda memandang Mentari dan baby Helen yang tertidur pulas.


"Biarin, kita pacaran aja. Sini Bun!" Ayah menepuk sisi sofa sebelahnya.


"Modus... " Bunda tertawa sambil menurut duduk di sebelah suaminya dan langsung sebuah rangkulan dia terima.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤

__ADS_1


"Lupa yang kemarin belum komen, karena nt eror aku masih tunggu loh, soalnya yang komen masih itu2 aja🤭, yang lain belum munchul on cam🤭"


__ADS_2