
...~~~~...
Seorang dokter wanita paruh baya keluar dari ruangan di mana Mentari tergolek lemas di dalamnya.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Dafa menghampiri dokter wanita itu.
Dokter itu tersenyum ramah, "bisa ikut ke ruangan saya, Pak?" tanyanya.
Dafa mengangguk lalu pamit pada Ayah, dan berlalu mengikuti dokter itu menuju ruangannya.
Dafa masuk dan langsung di persilahkan duduk di kurang yang saling berhadapan dengan sang dokter.
"Jadi begini pak, sebelumnya saya ucapkan selamat istri anda tengah mengandung usia 5 minggu, tapi saya lihat sangat lemah. Apa sebelum nya istri anda pernah mengalami pendarahan ataupun keguguran?" tanyanya ramah.
"Pendarahan dok, saat anak pertama kami. Di usia kehamilan 5 bulan, istri saya pendarahan hebat. Dan kami hampir kehilangan putri kami!" jelasnya.
Dokter itu mengangguk paham, lalu tangannya menulis di atas sebuah kertas.
"Kira-kira sudah berapa lama kejadian itu?" tanyanya lagi.
Dafa sedikit berpikir, dia menghitung sudah berada lama kejadian itu, "Mungkin belum satu tahun dok, anak pertama kami baru berusia 7 bulan." jawabnya.
"Jaraknya terlalu dekat, Rahimnya ibu belum pulih sepenuhnya."
"Akan sangat riskan, tapi kita usahakan yang terbaik ya! saya coba kasih penguat kandungan dan vitamin lainnya."
"Ibu, kerja?" wajah berkacamata nya menatap kearah Dafa.
"Istri saya punya butik, dok."
"Uhm, kalo begitu tidak akan terganggu."
"Maksudnya, dok?" Dafa mencondongkan tubuhnya menatap serius dokter yang menangani istrinya itu.
"Ibu harus Bedrest, saya mau observasi selama satu bulan ini. Bagaimana keadaan ibu kedepannya." terangnya.
Dafa mengangguk paham, "baik dok, berarti untuk memberi asi pada anak pertama kami?"
"Iya, harus berhenti. Tapi kalo nggak langsung juga nggak apa-apa, pasti bertahap apalagi anaknya baru setahun udah ngerti perbedaan nya menyesap langsung di Ibu nya atau dari botol dot!" terang sang dokter.
*
*
Dafa masuk ke ruangan di mana istrinya di rawat.
Dilihatnya Mentari sudah terbangun, tengah di elus-elus oleh Ayah Gunawan.
"Sayang ... " Dafa mengecup puncak kepalanya saat mertuanya itu menggeser memberi ruang.
"Aku kenapa?" tanya Mentari dengan suara masih sangat lemas, wajahnya sangat terlihat pucat.
"Kamu hamil sayang, udah 5 minggu. Tapi kamu harus bedrest." Ucapnya.
Ayah menjengit, " kenapa? bermasalah?" tanyanya penasaran dengan keadaan putri semata wayangnya.
"Iya, Yah. Ada kaitannya dengan pendarahan nya Tari dulu." Dafa menjawab dengan lirih, jika mengingat ke masa itu, dia masih selalu di hantui rasa bersalah.
Dafa kembali mengelus kepala istrinya.
"Yah, Helen ngamuk terus kata Bunda." Langit menghampiri ke arah tempat tidur Mentari.
"Aduh, aku mau pulang. Kasian Helen!" cemasnya.
"Iya, abisin cairan infus udah boleh pulang kok, asal harus istirahat total." Dafa kembali mengingat kan.
Mentari pun mengangguk.
...****...
Cairan infus itu habis hampir 7 jam, sekarang Dafa tengah mendorong kursi roda istrinya menuju lobby di mana Abang sudah menunggunya, setelah sebelumnya mengantarkan Ayah pulang terlebih dahulu.
Dengan sigapnya Dafa menyelipkan tangannya di lipatan ketiak dan lipatan paha, mengangkat istrinya menuju mobil yang sudah siap Langit kendarai.
Mentari menutup hidungnya, dia mencium bau tidak sedap di dalam mobil itu.
Dia menempel kan wajahnya di dada Dafa, aroma suaminya begitu menenangkan menurut ibu hamil itu.
"Mauu ... mau itu!" Mentari menunjuk sebuah gerobak bertuliskan batagor kuah. Langit pun langsung memberhentikan mobilnya, saat adiknya menjerit-jerit ingin memakan batagor pinggir jalan itu.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh, Sun. Jangan sembarangan jajan, kamu lagi hamil itu." Dafa memperingatkan.
"Tapi mauuu, mau banget ... " rengeknya.
"Tunggu di sini, aku yang beli." Dafa menuruni mobil lalu mendekati gerobak itu. Dia mengalah.
Tak lama Dafa datang dengan satu kantung kresek berisikan batagor kuah.
"Kenapa pake plastik, mau makan di mangkuk nya langsung." Mentari merajuk.
Dafa mendengus sesaat. Sabar bro, ini juga ulah lu sendiri pake buntingin lagi bini lu. Ucapnya dalam hati.
"Iya, aku beliin lagi." Dafa kembali menuju gerobak itu, dan datang dengan semangkuk batagor kuah yang nampak segar.
"Kenapa nggak pake saos, sambel?" Lagi-lagi ada yang kurang.
Dafa kembali turun dan kembali dengan wadah saos dan sambel di tangannya.
"Nggak usah pedes-pedes." Dafa kembali merecoki dirinya yang baru akan menyuapkan sendok berisikan batagor yang sudah sangat dia inginkan segera masuk ke dalam tenggorokan nya.
"Berisik." Jawabnya ketus.
Sedangkan yang di dalam plastik Langit yang memakannya.
Dafa dengan sabar menunggu istrinya selesai makan, "Kenyang ... Abisin, sama kamu. Mas." Mangkuk yang masih tersisa banyak batagor itu, mentari sodorkan pada suaminya. Saat tengah menyuapkan sendok berisikan batagor dengan seriusnya Mentari membubuhkan saos dan sambal yang cukup banyak.
"Sun, aduh ... " Matanya membelalak saat melihat kuah di mangkuk yang dia pegang seketika berubah warna menjadi merah dan menguarkan bau pedas yang menyengat.
"Kamu larang aku makan pedes, jadi kamu wakilin aku ya, Mas." Ucapnya sambil menyeringai puas.
Langit ynag masih setia di balik kemudian mendengus kesal menyaksikan pasangan di bangku belakang.
"Buruan, Abang ngantuk." Katanya dengan menoleh ke belakang di mana iparnya tengah kelimpungan akibat rasa pedas yang menjalar di mulut dan tenggorokannya.
...^^^^^^^...
Mobil berhenti di depan rumah, Bunda sudah menyambut nya di teras rumah dengan Helen yang wajahnya masih menyisakan kesedihan, bayi itu masih setia menanti Ibu nya pulang.
"Nggak mau di gendong!" tangannya menahan lengan Dafa yang akan meraup tubuhnya kembali.
"Ishh ... Kamu harus bedrest, kandungan kamu lemah sayang." Kesalnya karena menerima penolakan dari istrinya.
Mentari pun pasrah saat dirinya di pangku keluar dari mobil.
"Nggak apa-apa, Bun." dia tersenyum ke arah Ibu nya yang dia lewati.
"Ngobrol nya, di kamar ya Bun." Dafa berpamitan.
"Eh, iya. Berat ya?" Bunda terkekeh sambil mengikuti anak dan menantunya.
Helen merengek di pangkuan neneknya, saat dia melihat Ibu nya.
Mentari yang melirik ke arah belakang di mana Bunda nya mengikuti nya menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ini, sayang nya Ibu." Mentari tersenyum ke arah Helen yang mengulurkan tangannya ingin di gendong.
Benar saja, saat Mentari sampai di tempat tidur. Helen dengan semangat nya merangkak mendekat dan langsung menuju dada Ibu nya, memegang kancing bajunya, meminta asi.
"Gimana Bun?" tanyanya.
"Pelan-pelan, kasian jangan langsung kamu berhentiin. kalau nggak salah sampe tiga atau empat bulan nanti berhenti sendiri deh." Bunda menerangkan apa yang dia ketahui tentang Ibu hamil yang masih memberikan asi.
Mentari membuka kancing bajunya, dan dengan semangat nya Helen langsung menyesapnya dengan tekun.
"Kasian, " Mentari mengusap kepala putrinya yang dengan semangat nya menyesap minumannya.
Dafa datang dengan sebuah baju tidur beserta **********.
"Nanti, masih kuat ini. Dia kangen." Mentari menunjuk Helen yang menunduk mengecap asi nya.
"Posisinya, sayang masa sambil duduk gitu?" Dafa mendekat melihat putri nya yang dengan tekun menunduk di atas dada Ibu nya.
*
"Kenapa lu? " Bintang datang bersama Naya.
Mentari langsung menutupi bagian dadanya dengan kain selimut Helen.
"Eh, ada Mba Naya?" Mentari menyapa kekasih dari kakaknya itu.
__ADS_1
Namun saat Bintang mendekati, Mentari langsung menutup mulutnya, dan seketika dia bangun hendak turun dari tempat tidur, Dafa menahan nya.
"mau kemana?"
"Tiba-tiba mual, mau muntah." Lalu dengan sigap kembali menutup mulutnya, Helen yang menangis karena aktivitas nya terhenti langsung di ambil Bunda.
Mentari mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel, Dafa dengan setianya memijat tengkuk dan mengusap-usap punggung istrinya itu. Ada rasa kasian melihat penderitaan istrinya, namun mau bagaimana lagi. Pikirnya, sudah rencana Tuhan. Karena istrinya memang memakai KB namun buktinya Tuhan punya rencana lain.
Setelah membasuh wajahnya, dan Dafa memberikan handuk kecil untuk melap wajah basah istrinya.
Mereka keluar dari kamar mandi bersamaan, dengan Dafa yang menuntun istrinya dengan perlahan.
.
Lagi-lagi Mentari menatap ke arah kakanya itu, dan perutnya kembali bergejolak.
"Huweekk ... huwekk ... " Dia kembali memutar tubuhnya kembali masuk ke kamar mandi.
Tangisan Helen mereda, bayi cantik itu tertidur di bahu neneknya. Karena lelah menangis dan sudah sedikit kenyang dengan asi ibunya yang baru saja dia minum.
"Kakakkk ... "
teriaknya dari kamar mandi.
"Oyyyy ... " Bintang menimpali dari luar.
"Keluar dari kamar aku, Chaca mual liat muka Kakak." Teriaknya lagi.
Bunda, Bintang dan Naya yang berada di kamar saling tatap dan mengerutkan kening mereka masing-masing.
"Apa?" Bintang terdengar heran.
"Keluar, aku eneg liat Kakak." Mentari kembali berteriak dari dalam kamar mandi.
Dafa tak mampu menahan gelinya, dia terbahak melihat kalakuan istrinya.
"Adek, semprul. Kurang asemmm ... " Bintang mendengus kesal.
"Jangan terlalu benci, ntar anak lu kayak gue."
"Oh, atau sengaja ya? biar anak lu handsome kek gue!" dengan pd nya dia berkata.
"Iya lah, terserah. Pokoknya buruan ke luar." teriaknya lagi.
Di kamar mandi dia mendengus menenggelamkan wajahnya di dada Dafa yang aromanya terasa enak untuk nya.
"Awas lu!" Bintang mencebik saat Bunda menginstruksikan agar dia cepat keluar dari kamar adiknya.
"Udah, sayang." Bunda mengetuk pintu kamar mandi itu.
Mentari keluar dari kamar mandi. Dengan Dafa yang tersenyum lebar membayangkan kekesalan Bintang di usir oleh istrinya dari kamar karena merasa mual melihat wajah pria dengan tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi levelnya.
"Istirahat, Helen udah Bunda tidurin." Bunda pamit keluar.
Mentari mengangguk dan kembali menduduki sisi tempat tidur.
"Ganti baju dulu, mau aku ambilin makanan?" tawar lelaki itu.
Mentari menggelengkan kepalanya, "Aku nggak mau pake baju ah, pengen gini aja!" tunjuk nya pada bagian kacamata dan kain segitiga miliknya.
Dafa hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar, malam-malam nya sebulan ke depan pasti akan penuh dengan siksaan. Mengingat ucapan dokter tadi melarangnya untuk berhubungan sampai di rasa kondisi kandungan Mentari lebih stabil.
"Iya, terserah kamu aja, senyamannya gimana!" ucapnya menarik selimut menutupi tubuh setelah polos milik istrinya.
Mentari mulai memejamkan mata, Dafa sedang berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek tidur.
Saat baru merebahkan tubuhnya hendak memeluk istrinya dari belakang , istrinya itu menoleh ke arahnya, "Mau susu coklat anget." Pintanya dengan wajah yang di buat memohon.
Dafa hanya tersenyum lalu mengangguk, "ok, siap laksanakan Ibu Ratu." Dia membungkukkan dadanya seolah pengabdi setia istrinya.
Mentari hanya terkikik tertahan.
"Makasih Yayah Dafa ganteng." Pujinya sambil memberikan sebuah kecupan jarak jauh pada suaminya yang sudah berada di pintu.
Bersambung ๐๐๐
Terimakasih yang sudah mampir๐๐, semoga suka๐๐, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐๐, cuma buat rame2 aja๐ฅฐ๐ฅฐ
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค
__ADS_1
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐๐, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐ฅฐ๐ฅฐ
semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐คฒ๐คฒ.