Kisah Mentari

Kisah Mentari
Kecewanya Bintang


__ADS_3

💔💔💔


Argghhh ... " Bintang mengerang, mulutnya terbuka, kepala nya mendongak ke atas, matanya terpejam,menikmati sapuan hangat dari lidah Naya yang bermain lembut di senjatanya.


"Aghh ... Nay, iya ... uggghhhm ... enak." Bintang terus meracau, ini hal yang baru dan sungguh sensasinya luar biasa dia rasakan.


Dia jatuh cinta semakin dalam pada wanita yang tengah menunduk dan sedang menjamu nya dengan kenikmatan yang terasa dasyat itu.


Bintang menggapai dada Naya yang padat dan bulat sempurna, dia menarik Naya agar bangun dari posisi menunduk nya, sesuatu akan segera meledak.


Dan dia tidak ingin, buncahan itu meledak dalam mulut kekasihnya itu.


Bintang langsung meraup bibir Naya, dan tangan Naya bermain di gagang senjatanya yang akan segera melepaskan buncahan kenikmatannya.


"Nay ... apa ini?" tanya Bintang kaget


Bintang sedang menggenggam bulatan padat itu, namun sesuatu terjadi.


Naya pun sama kagetnya, dia menunduk memandangi dadanya yang masih dalam genggaman Bintang.


"Apaaa ... jelasin sama aku, ini apa?" raut wajah Bintang yang biasa lembut dan ceria, di malam itu terlihat berbeda, rahang yang mengeras hingga suara gemeretak terdengar jelas.


Bukan menjawab Naya malah menangis.


"Kamu, udah punya anak, Nay? kamu udah menikah?" Bentaknya.


"A_aku bisa jelasin semua ...


" Iya, memang harus di jelasin. Biar aku ngerti, kamu udah ngebohongin aku."


"Aku berencana ke jenjang lebih serius sama kamu, tapi apa ini?" Bintang bersungut-sungut sambil membenarkan letak celananya, si senjata yang akan menuju rasa enak luar biasa itu seketika layu sebelum meledak memuntahkan cairan hangat miliknya.


Bintang menggeram dan memukul-mukuli kepalanya dengan kepalan tangannya.


"Tolong, tolong dengerin aku dulu, Mas." Mohonnya di sela isak tangisan.


"Berhenti nyakitin diri sendiri, aku ...


" Iya, kamu yang udah buat aku sakit. Kenapa kamu berbohong dengan status kamu? buat apa?" Bintang masih di lingkupi rasa sakit hati.


"Kalo aja aku nggak ngeremat dada kamu, mungkin aku nggak akan tau, kalo itu sedang memproduksi asi." Bintang keluar dari mobil, udara di sana terasa menyesakkan dadanya.


Dia bersandar di bemper mobilnya. Rasa sakit mendominasi hatinya, juga dirinya yang gagal mendapatkan pelepasan malah semakin membuat dia uring-uringan.


"Mas, aku mohon. Dengerin dulu penjelasan aku." Naya mendekati Bintang, dan langsung dapat penolakan dari lelaki yang beberapa menit yang lalu tengah memuja dirinya itu.


"Kamu, sudah menikah?" Tanyanya sinis.


"I_iya, suami aku seorang ABK kapal pesiar, aku kehilangan kontak dia sebulan sebelum aku melahirkan anak aku. Dan ternyata kapalnya mengalami kebakaran dan tenggelam hampir 200 orang meninggal, 70 selamat, dan 140 hilang termasuk suami aku di dalamnya.


" Sudah hampir 8 bulan, dan aku belum mendapatkan informasi apapun. Bukankah aku berhak untuk memulai hidup baru, ada anak aku di sini yang ingin aku bahagiakan." Jelasnya panjang lebar.


Bintang terdiam, terpaku dengan tangan berada di kepalanya, berharap dengan meremat rambutnya sedikit mengurangi rasa pening.

__ADS_1


"Berapa bulan, usia anak kamu?" suara Bintang sedikit melembut.


"Ehm ... Altaf usia nya mau 6 bulan."


"Jadi, saat kita ketemu?"


"Iya, dia baru masuk tiga bulan. Dan aku baru kembali bekerja setelah hampir 3 bulan cuti." Terangnya lagi.


Hanya helaan nafas yang Naya dengar dari lelaki yang telah dia kecewakan itu.


"Maaf ... "


"Tapi nggak bisa ngerubah rasa kecewa aku." Bintang beringsut saat Naya mendekati nya.


"Kita, pulang kasian Anak kamu." Bintang berlalu masuk ke dalam mobil.


Naya menurut, dia masih merasa bersalah dan tak bisa banyak bicara. Karena memang dia yang salah menutupi semua ini pada Bintang, lelaki yang membuatnya jatuh cinta, dan melupakan kesedihan nya atas kehilangan suaminya itu.


*


*


Dalam perjalanan hening, hanya sesekali isakan dari Naya atau helaan nafas kasar dari Bintang.


"Pantas, selama ini kalo mau mampir ke rumahnya dia selalu beralasan tidak mau mengganggu ibunya yang sakit. Terus kalo lagi bercumbu dia tidak mau dadanya aku jamah." Bintang terus menggerutu kesal dalam hatinya.


Di suasana hening itu, Naya beberapa kali menoleh pada Bintang. Jujur dia takut kehilangan lelaki yang juga dia cintai, lelaki yang dia harapkan akan menjadi pengganti suaminya itu.


"Sejak, awal aku kenal kamu, aku udah ngerasa kamu baik banget, ceria dan membuat hati aku ngerasa adem dan ikut ceria."


"Kamu, sering nanya kenapa tas kerja aku besar, di dalamnya ada pumping asi. Aku berjuang kuat untuk Altaf, dan kamu memberi aku semangat itu, Mas." Naya kembali terisak.


"Dan, kamu juga sering liat aku meremat dada! itu karena dada ku bengkak belum di pumping asi nya. Atau kadang jika Altaf rewel akan berakibat nyeri di area dada aku. Itu semua kontak batin, tanyain sama Mentari yang seorang ibu menyusui pasti mengalami juga apa yang aku alami." Tambahnya lagi, dia ingin menjelaskan semua tanpa terkecuali dan agar Bintang dapat memahami kondisinya.


"Diem, aku lagi sakit kepala. Aku butuh waktu buat nyerna semua ini." Sautnya dengan datar.


Naya kembali diam, menunduk tangannya saling bertautan dan lelehan air mata makin deras mengaliri pipi nya.


*


*


Mereka sampai di depan rumah Naya hampir pukul 11 malam.


Lelaki itu tak berbicara sedikit pun, bahkan saat Naya pamit dan akan mencium pipinya seperti biasa, Bintang mengernyit menjauhkan tubuhnya dari Naya.


"Aku pulang, Mas." Naya akan membuka pintu saat sebuah kalimat menyesakkan terdengar dari mulut kekasihnya itu.


"Jangan hubungi aku dulu, aku butuh waktu." Ucapnya sinis.


Naya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar, sebelum tangisannya pecah.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Naya yang masih termenung di depan pagar rumah nya.

__ADS_1


"Aku nggak yakin kamu akan nerima aku kembali, tapi seenggaknya kamu maafin aku, Mas." Gumam Naya sebelum memasuki pekarangan rumah nya.


*


*


TING... TONG... (suara bell cerita nya ya🤭🤣)


Mentari terseok-seok saat mendengar suara bell di apartemen nya di jam menunjukkan pukul 2 dinihari.


"Siapa?" teriak nya dari balik pintu, saat dia mengintip dari balik kaca intip namun tidak terlihat ada orang. Mentari mulai takut di jam segini ada suara bell.


Dia berlari ke arah kamarnya namun bell itu kembali terdengar.


"Arghhhh ... Helen, ibu takut di luar ada siapa ya?" Dia menggendong Helen yang terbangun karena suara pintu yang dia tutup agak keras.


"Helen, Ibu takut ... " Mentari berniat mengambil ponselnya di atas nakas sebelah tempat tidur, untuk menghubungi Abang nya. Namun belum dia pegang


suara dering ponselnya terdengar, di situ tertulis kan nama Papi Bintang.


"Iya, kak ... "


"Buka pintu, gue ada di depan kamar lu. Numpang tidur gue capek banget." Ucapnya lemah.


Mentari segera berlari ke arah pintu, membuka nya.


Dan pandangan nya tertuju pada Bintang yang duduk di lantai dengan wajah murung dan rambut acak-acakan.


"Kak ...


Bintang bangun mengecup pipi Helen dan langsung masuk ke dalam apartemen adiknya itu tanpa berbicara apa-apa.


" Kakak, tidur di kamar tamu aja." Saat Mentari melihat Bintang berbaring di sofa.


"Kak ...


" Berisik, gue capek sakit kepala." Gerutunya.


Mentari hapal, jika Bintang diam berarti dia sedang ada masalah, kalau dia banyak omong dan nyebelin dia sedang happy.


Dia pun masuk kembali ke dalam kamar saat Helen mulai merengek ingin asi nya.


"Papi, kenapa ya?" Dia mengajak bicara Helen yang tengah menyesap asi sambil memandangi nya.


"Besok, Helen hibur Papi ya!" ucapnya membelai lembut punggung putrinya.


Helen tersenyum dan mata nya mulai menutup sedikit demi sedikit kembali tertidur.


Ibu dan anak itu terlelap nyenyak.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰

__ADS_1


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤


__ADS_2