
❤❤❤
"Mas... "
Panggilan itu membuyarkan lamunan Dafa akan sebuah kecemasan.
"Mas... kamu, nggak seneng aku hamil?"Mentari sudah berucap dengan nada sedikit bergetar , menahan air mata yang akan jatuh.
Mentari merasakan jika suaminya tidak se exited dirinya. Di lihat dari raut wajah pun terlihat kosong dan tanpa reaksi. Siapa saja pun pasti mengira Dafa tidak begitu antusias akan kabar kehamilan istrinya itu.
" A... aku seneng, Sun. Kita memang sudah menunggu nya bukan?" Jawabnya gugup.
"Tapi, aku lihat nggak gitu!" Ketusnya lalu meninggalkan Dafa yang masih diam terpaku.
Mentari keluar ruangan itu, dengan raut wajah kecewa dan hati yang seperti tercabik.
"Kamu, kenapa?" Rijal yang sedang duduk di kursi besi seketika berdiri.
"Ada apa?" Tanyanya lagi.
Mentari hanya menggeleng dan berlalu pergi. Baru beberapa langkah dia berbalik.
"Kak... aku mau lihat rumah." Pintanya
Rijal mengangguk, "boleh, aku pamit ke Dafa dulu." ujarnya.
"Aku, nunggu di lobby ya kak!" Mentari pun kembali melangkahkan kakinya.
*
*
"Kenapa bini lu?" tanya Rijal saat sudah berada di dalam kamar Dafa.
Dafa masih diam, bukan karena luka nya, tapi karena rasa bingung yang membuat kepalanya terasa mau pecah.
"Woy... " Rijal menjentikkan jarinya di hadapan wajah Dafa.
"Anji** lu." Gertaknya marah.
"Wessss... sabar, Bos. Nape lu? berantem?" tanyanya lagi masih mode detektif.
helaan nafas terdengar berat Dafa hembuskan.
"Bini gue hamil!" lirihnya.
"Wow... selamat, usaha dan keringat lu, membuahkan hasil." Rijal menepuki pundak Dafa.
Dafa masih terdiam.
"Lu, kayak yang nggak seneng?" Tanyanya
"Moment nya nggak pas, gue bingung!" Ujarnya lirih.
"Jangan jadi cowok brengsek, Daf..."
"Iya, tapi. . .
Ketukan pintu menjeda obrolan kedua pria itu.
" Kak... Ayo!" Mentari menyembul dari balik pintu.
__ADS_1
"Mau kemana?" Dafa kini bertanya
Mentari tak menjawab, dia menunduk menatap pada layar ponsel.
"Sun...?" Dia mengiba
"Ayo, kak... " Mentari malah kembali mengajak Rijal pergi.
Merasakan suasana canggung, Rijal menatap ke arah Dafa. Dafa hanya mengangguk dengan wajah pasrah.
"I... iya, ayo!" Rijal pun menghampiri Mentari.
Dafa memandang ke arah sahabat dan sang istri, memandang punggung ke duanya yang hilang di balik pintu.
"Selamat sayang, kita akan menjadi orang tua. Aku seneng, seneng banget malah."Lirihnya
Setetes air mata jatuh di pipinya, Dafa langsung mengusapnya kasar. Lalu sebuah senyum miris tercipta dari bibirnya.
" Orang tua.. . " Kekehnya.
*
*
Mentari kini sedang berada di mobil Rijal, mereka akan melihat rumah yang akan Mentari dan Dafa tinggali.
Hening... Kedua orang itu tak ada yang mengeluarkan suara.
Hingga akhirnya Rijal memberanikan diri bertanya.
"Kamu? berantem sama si bebel? eh.. Dafa maksud aku!" Rijal tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
Mentari yang sedang memandang ke luar jendela seketika menoleh ke arah Rijal.
"Tapi... tadi yang aku lihat kalian?
" Kita nggak apa-apa kok, kak." Mentari memotong kalimat Rijal yang belum selesai.
Rijal pun hanya ber O ria, tanpa mau bertanya lebih jauh lagi.
Mobil pun masuk ke dalam sebuah komplek perumahan. "Nyaman ya?" Mentari membuka kaca jendela dan menatap rumah-rumah yang mereka lewati.
Rijal tersenyum, "Iya, kamu suka? ini sesuai permintaan Dafa . Yang katanya impian kamu." Rijal memberhentikan mobilnya di sebuah rumah berpagar hitam setinggi perut orang dewasa.
"Yuk... ini rumah kalian!" Rijal mengajaknya turun.
Mentari sudah jatuh cinta saat baru membuka pagar, Sebuah taman kecil dengan hiasan air terjun mini di ujungnya. Dan sebuah pohon mangga yang berada di dalam pot besar (tabulampot) namun berbuah lebat berada di tengah-tengah taman.
Sepanjang pagar terdapat jejeran bunga mawar warna-warni. "Indah... " kagumnya penuh senyum.
Mereka masuk ke dalam rumah itu, Mentari masih menatapnya takjub. Semua sesuai harapan nya.
Selintas dia ingin memeluk tubuh suaminya namun sisi lain hatinya masih kesal padanya.
"Udah jam 10 malem, kamu mau ikut balik ke rumah sakit atau masih mau di sini?" Tanya Rijal.
Mentari berpikir sejenak, dia ingin sekali tinggal di rumah itu tapi merasa takut jika hanya sendiri di sana tanpa Dafa.
"Aku, ikut aja kak. Lagian di belakang masih banyak alat-alat tukang, apa masih di renovasi?" tanyanya Pada Rijal.
"Iya, Dafa ingin lahan di belakang di jadikan taman dan kolam ikan." Jawabnya sambil kembali mengunci rumah itu.
__ADS_1
Mereka pun berjalan kembali ke arah mobil. Namun sebelum sampai mobil, Mentari lagi-lagi limbung dan hampir terjatuh.
"Kamu sakit?" Rijal terlihat panik dan memapah nya masuk ke dalam mobil.
Mentari hanya menggelengkan kepalanya, dan langsung memejamkan matanya dan bersandar di jok mobil.
*
Sesampainya di rumah sakit, Mentari langsung merebahkan tubuhnya di extra bed yang berada di sebelah ranjang Dafa.
Mentari berbaring setelah sebelumnya memeriksa keadaan Dafa yang sudah tertidur pulas.
Dia pun memejamkan matanya yang lelah dan tubuhnya yang lemas luar biasa.
...~...
Pagi-pagi, kembali Mentari merasakan gejolak di perutnya. Dia terbangun dengan rasa mual dan sesuatu seakan mendesak di tenggorokannya.
Mentari berjalan setengah berlari ke arah kamar mandi. Dan memuntahkan isi perutnya yang tak seberapa isinya.
Dafa terbangun dengan suara ribut dari arah kamar mandi, dia langsung menggapai ponselnya yang berada di atas nakas, menghubungi Rijal agar membelikan sesuatu untuk sarapan sang istri.
Mentari keluar dari kamar mandi, saat di lihatnya Dafa sedang tersenyum memandang nya.
"Mual? muntah lagi?" tanyanya dengan lembut.
Mentari mengangguk, sebenarnya dia masih kesal namun entah mengapa dia ingin memeluk tubuh suaminya itu.
"Sini.. sayang!" Dafa merentangkan tangannya.
Mentari pun mendekat.
"Kamu, masih marah?" Dafa membelai pipi itu, Mentari memejamkan matanya, namun air mata kembali lolos di pipinya.
Mentari mengangguk, " Seolah, kehamilan ku ini tidak di harapkan." Ucaonya ucapnya terisak.
"Bukan gitu...
Belum selesai menjawab Rijal masuk ke ruangan itu.
" Eh... ganggu nggak?" tanyanya kikuk saat melihat Dafa dan Mentari berada di jarak dekat dan seperti nya sedang membahas serius.
"Nggak kak! masuk aja." Mentari mempersilahkan masuk sahabat suaminya itu, yang datang dengan dua kantong plastik di tangannya.
Mentari bangun akan menghampiri Rijal yang sedang menata makanan yang dia beli.
Namun saat bangun dari arah ranjang Dafa yang dia duduki tadi tubuhnya kembali limbung, dan dia langsung terjatuh tak sadarkan diri.
"Sun... Dafa Menjerit namun tidak bisa berbuat apa-apa, karena gips tangan dan kakinya yang membuat tubuhnya tidak leluasa bergerak.
Rijal langsung bangkit dan berlari ke arah Mentari.
" Bawa dia ke tempat periksa, buruan jal. Anji** gue kagak bisa apa-apa di saat bini gue sangat butuh gue." Gerutunya kesal. Dafa menendang Tak karuan ke segala arah, kaki yang bebas dari gips itu dia gerakan kasar, melampiaskan rasa marahnya yang terasa menjadi manusia tidak berguna.
Rijal langsung berlari menggendong tubuh mentari, agar segera menerima tindakan dari dokter yang akan memeriksa nya.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏, semoga suka🥰, like komennya ya aku tunggu😘.
oh.. iya, maaf cuma sedikit, aku masih sakit kepala udah seminggu lebih🥴😭.
__ADS_1
Pokoknya sehat dan bahagia selalu untuk kita semua ya❤❤