
💔💔💔
Langit berlari masuk ke dalam rumah.
"Ayah di mana mbok?" tanyanya pada si mbok yang berada di ruang tengah.
"Di kamarnya den!" jawab si mbok ikut panik melihat mimik wajah dari anak sulung majikannya itu.
Langit mengetuk pintu kamar ayahnya sebelum masuk ke dalam, keluarga ini di didik sopan santun yang begitu kental oleh ayah Gunawan, hanya Bintang yang sedikit slengean namun kesopanan tetap no1.
"Ayah..." langit masuk saat melihat ayahnya sedang meminum obat.
"Ada kabar?" tanya beliau.
Langit sedikit bingung menjelaskan keberadaan Adik perempuan nya itu.
"Bang... ada kabar di mana adik kamu sekarang?" Ayah mengulang pertanyaan nya.
"Ada di daerah Lembang yah, barusan baru saja aktif!" Jawabnya pelan.
"Lembang...? mau apa dia di sana?" Tanya Ayah heran.
Langit hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita kesana, ayah ganti baju dulu!" Titahnya.
Saat hendak berjalan melangkahkan kaki menuju lemari, ponselnya bunyi.
"Adik kamu!" ucap ayah sebelum mengangkat.
"Hallo... dik?" panggilnya
"Hiks...hiks....
hanya suara Isak tangis yang dapat di dengar Ayah Gunawan.
"Cha...? ada apa?" Tanyanya lagi
"Maaf ini dengan bapaknya pemilik ponsel ini?" tanya seorang lelaki di seberang sana.
"Iya, betul. Saya ayahnya! putri saya kenapa?" tanya ayah panik.
"Bisa bapak datang ke sini? putri anda menghawatirkan, biar saya kirimkan alamatnya." ucap pria di sebrang sana
"Iya baik, saya segera ke sana." panggilan pun terputus.
Ayah Gunawan menatap wajah putra sulungnya.
"Kenapa yah? ada apa dengan Chaca yah?" Langit memberondong ayahnya bertanya tentang sang adik.
"Kita ke sana, entah apa yang di lakukan adik kamu!" ayah berjalan cepat mengganti bajunya.
...-----------...
Ayah Gunawan mematung di teras rumah seorang warga sesuai dengan alamat yang tadi dia terima.
Dia mendengar Isak tangis seorang wanita yang begitu dia hapal, suara sang anak gadis.
Sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari rumah itu, dia menatap sosok pria yang begitu dia benci keluar dari mobil itu.
"Sial... kenapa dia ada di sini juga?" batinnya.
"Silahkan masuk pak!" ucap seorang pria berkepala botak di ambang pintu.
Ayah Gunawan pun mengikuti arahan itu.
__ADS_1
deg...
Ayah Gunawan mematung melihat keadaan anaknya yang sembab juga di sebelah nya duduk seorang pria muda. Siapa lagi kalo bukan Dafa.
"Ayah..." suara mentari lirih kembali menangis.
"Ada apa ini?" suara bariton seorang pria di belakang tubuh Ayah Gunawan.
"Papa..." kini Dafa yang bersuara.
Semua orang yang ada di ruangan tamu rumah itu saling diam dengan pemikiran mereka yang menerka-nerka.
Seorang pria tinggi besar mulai mengungkapkan apa yang terjadi.
"Nggak mungkin, pasti anak itu yang menjebak putri saya!" Geram Ayah Gunawan.
Papa Harun hanya diam menyaksikan perdebatan di depannya yang memang menyudutkan putra satu-satunya itu.
"Maaf ya pak, kalo memang jebakan tidak akna ada banyak tanda di leher dan dada putri bapak!" terang seorang wanita paruh baya.
"A... apa?" teriak ayah Gunawan kaget.
"Apa yang kamu lakukan dek?" tanya nya pada sang putri yang terus tertunduk menangis.
Langit hanya memejamkan matanya, saat lagi-lagi adiknya itu melakukan hal yang memalukan.
"Maaf... ayah!" ucap Mentari di iringi Isak tangis.
"Kenapa dek?" tanya ayah dengan memegang dadanya yang sakit dan sesak.
"Ayah..." Langit langsung menahan punggung ayah saat limbung ke belakang.
Mentari histeris hendak mendekati ayah Gunawan namun Langit menjulurkan tangannya pertanda dia tak mengijinkan Mentari mendekat.
Mentari kembali duduk di sebelah Dafa, tangannya di genggam Dafa, mencoba menenangkan namun Mentari langsung menepisnya. Dafa menatap ke arahnya matanya bertanya-tanya.
Papa Harun, ayah Gunawan dan Langit menatap bingung.
"Bertanggung jawab bagaimana pak?" tanya Langit.
"Ya menikah, ini aib zinah. Jika para warga lain tahu putra-putri bapak bakalan di arak keliling kampung tanpa busana!" terangnya lagi
Mentari menangis takut dan malu dia menundukkan wajahnya yang dia tangkup dengan kedua tangannya.
"Adik saya pasti di jebak pa!" Langit bersungut-sungut.
"Bahkan ada bukti, adanya sebuah kon*dom, adanya tanda-tanda noda merah di putri bapak dengan pakaian yang sudah tidak beraturan, bahkan Nak Dafa sudah tidak memakai pakaian bagian atasnya." jelasnya
Ayah Gunawan memegang dadanya yang semakin sakit, sementara Papa Harun memijit pangkal hidungnya merasakan pening.
"Jadi saya sudah memanggil penghulu untuk menikahkan putra-putri bapak di sore hari ini."
Terangnya lantang.
"Apa...
Semua orang kaget tak terkecuali Mentari, hanya Dafa yang terlihat biasa bahkan menjurus ke seringai puas.
"Tidak bisa begitu pak, ini bisa kita selesaikan dengan kekeluargaan." Langit menolak mentah-mentah.
"Hanya ada dua pilihan antara di arak atau di nikahkan!" ucapnya memberikan pilihan.
Semua orang di sana terdiam, ini pilihan sulit antara nama baik ke dua belah pihak.
"Baiklah saya setuju, nikahkan saja mereka." Papa Harun mengangguk.
__ADS_1
Helaan nafas tersengal dari ayah Gunawan, menatap ke arah anak gadisnya itu. Mentari masih setia dengan air matanya yang seakan tak habis-habis. Wajahnya mengiba penuh pengampunan pada sang ayah.
Lalu tatapan Ayah Gunawan beralih pada Dafa sosok pemuda yang terlihat urakan apakah bisa menjaga putri satu-satunya itu, menyayangi dia sebagai mana dia sangat menyayangi putrinya itu.
Haaahhhh....
Ayah Gunawan kembali menghela nafasnya.
"Baik, saya setuju. Saya akan menikahkan mereka!" ucapnya lemah.
Mentari menatap wajah sang ayah yang terlihat penuh kekecewaan. Lalu dia melihat wajah langit yang terlihat menyalang menahan emosi.
"Pak, pengulu dari KUA nya sudah datang!" ujar salah seorang wanita dari luar rumah.
"Bajunya?" tanya Si pemilik rumah.
"Ada salon di ujung jalan jika kalian mau, saya bisa panggil ke sini!" ujaranya lagi
Tak ada pilihan lain untuk mereka, selain menyetujui semua.
*
*
Tak lama mereka telah siap, dengan Mentari menggunakan kebaya putih dan riasan dan sanggul yang sangat sederhana namun tetap sangat cantik dan Dafa menggunakan kemeja putih dan jas hitam.
Semua berkumpul saksi dari Mentari tak lain Ayah dan abangnya, sedang kan dari pihak Dafa ada Papa Harun dan Rijal yang baru saja datang.
Ayah mengulurkan tangannya dan langsung Dafa genggam. Melafalkan sebuah ijab yang sakral, menyerahkan putri satu-satunya dengan cara seperti ini. Bukan cita-cita seorang ayah menikahkan putrinya dengan situasi memalukan juga rasa kecewa yang memuncak.
Ayah Gunawan menangis setelah selesai menjadi wali untuk putri satu-satunya itu.
Dafa yang sudah mengikrarkan kata-kata sakral , dan sudah menggema kata-kata SAH dari orang-orang yang berada di sana.
Senyumnya tak pernah lepas dari mulutnya.
kini sang kekasih hati telah menjadi miliknya, sah secara agama dan negara dengan mas kawin satu buah kartu ATM bersaldokan
Rp 81.409.000,00.
Mentari menyalami sang Ayah mereka saling memeluk dan menangis. "Maafin Chaca, Ayah.."
ucapnya sambil menciumi tangan dan kemudian sungkem di kaki sang Ayah.
lalu beranjak pada Langit, Mentari mencium punggung tangan kakak pertama nya itu.
"Abang kecewa sama kamu!" busuknya tepat di telinga Mentari. Mentari hanya bisa memejamkan mata menahan hatinya yang kembali mendapat hujaman, sungguh sakit. batinnya.
Lalu bergantian dengan Dafa menyalami Ayah Gunawan kemudian mendapatkan sebuah kalimat yang menohok, "jika kamu sampai menyakiti putri saya, saya akan ambil kembali dia dan tak akan pernah mempertahankan kalian lagi!" Ucapnya.
Lalu beralih ke langit
"Tunggu perhitungan dari gue dan dari Bintang, dia belum tau, kalau sampai dia tau masalah ini abis lu!" ancamnya.
Dafa hanya tersenyum membalas ancaman dari Langit.
Begitu pun Papa Harun, bukannya sebuah pelukan yang Dafa terima malah tamparan keras dan kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut lelaki rifal Ayah Gunawan itu.
Papa Harun dan Rijal telah pulang terlebih dahulu. Saat Ayah melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu tiba-tiba penglihatan nya gelap dan dadanya semakin sesak dia jatuh pingsan di ambang pintu.
"Ayah..."
Langit dan Mentari langsung histeris melihat Ayah mereka tak sadarkan diri.
bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1
terimakasih yang sudah mau mampir baca 🙏semoga suka 🤗 di tunggu laike dan komentarnya 🙏🙏 saran kritik juga aku terima.
Sehat dan bahagia selalu ❤️❤️❤️