
...❤❤❤❤...
Dafa menggandeng Mentari masuk ke dalam sebuah cafe yang terlihat nyaman dengan design yang artistik.
"Di sini , Bosss... " Seseorang menyapa mereka.
Ya, ini adalah cafe Rijal sahabat, teman, asisten, dan segala macam posisi dia duduki mendampingi nya dengan setia, membersamai sedari masa sekolah menengah membuat kedudukan Rijal sudah melebihi seorang saudara.
Dafa menarik pinggang sang istri untuk mendekati meja yang berada di bagian pojokan cafe itu.
Terlihat juga satu lagi sahabat dari Dafa, yakni dokter Lukman.
Tentu saja mereka bersama para pasangan nya.
"Gimana Boss, anak tiga?" tanya Rijal yang baru memiliki satu orang putra saja.
Dafa yang sedang menyesap ice cappucino nya, sedikit tersenyum menoleh pada sang istri yang juga tengah menyesap jus mangga nya.
"Rasanya luar biasa bahagia, nggak bisa di ungkapkan. Dan yang pasti jadi makin semangat nyari duit tapi semakin malas keluar dari rumah. Gimana coba? galau, tiap pagi harus keliling pake motor bawa jalan-jalan mereka dulu. Buat acc berangkat kantor tanpa tangisan."
"Pulang ngantor, di sambut dengan anak-anak yang jingkrak-jingkrak melihat kedatangan kita. Ah sungguh luar biasa bahagianya, belum lagi malam dapat jatah tanpa drama. Udah menjadi kesempurnaan hidup gue. Rumah adalah istana bener-bener kerasa." Dafa menjabarkan nya dengan sangat semangat.
"Ck, bawa-bawa jatah. Pengantin old." Lukman yang tergolong pengantin baru, yang baru menikah beberapa bulan dengan seorang wanita yang terpaut usia tujuh tahun darinya, terlihat mencibir nya.
"Justru makin lama usia pernikahan, semakin lu ngerti semuanya. Nggak ada egois dan semacamnya. Apalagi egois dengan tiga anak itu susah, pengen Ibunya tapi ibunya d repotkan dengan ketiga anak itu rasanya kita nggak etis."
"Rasanya jika ingin ada yang di sampaikan hanya dengan saling pandang seolah sudah bisa tau jawaban ataupun arah pembicaraan, ya lebih dapet kemistrinya." Terangnya lagi.
"Terus kalian gimana?" Tanya Dafa pada kedua sahabat rasa saudara itu.
"Gue pengen nambah anak, bu negara belum siap karena trauma mabok parah." Rijal berkata dengan tangan yang melingkari bahu Anita istrinya.
"Laki mana pernah tau rasanya perut di aduk-aduk selama hampir 4 bulan, terus sakit pinggang dari usia tujuh bulan kandungan. Dan dengan seenaknya tiap malem minta jatah dengan dalih 'kamu keliatan lebih seksi dari biasanya' ishh ... nggak berkepri bumil lan." Omel Anita menyindir sang suami.
"Tiap anak pembawaannya beda loh, mba. Tiap hamil aku beda-beda efek nya. Helen yang kuat mau ngapain juga kuat, Shera yang bikin badan aku payah kek mau nyerah aja dulu, ishhh kalo inget ke situ kayak mikir kok bisa ya kuat padahal setiap hari kayak yang mau meninggal hari itu juga. Nah yang hamil Aric aku lebih santai tapi aduh keboo banget." Terang Mentari dengan terkikik.
Dafa menatap istrinya dengan pandangan memuja. Demi apapun dia tidak pernah merasakan rasa cinta begitu kuat terhadap seseorang seperti yang dia rasakan pada istrinya itu.
Dia berjanji tidak akan pernah membuat luka atau kekecewaan pada Ibu dari anak-anaknya itu.
"Tuh, kan sayang. Dengerin kata pakar, tiap anak pembawaannya beda-beda, siapa tau yang ke dua nanti lebih kalem." Rijal kembali memohon
Anita hanya menggelengkan kepalanya tanda menolak.
"Nggak tahun sekarang, mungkin tahun depan."
Akhirnya Anita memberikan jawaban.
Rijal tersenyum puas akan jawaban dari sang istri.
"Lu kapan?" kini Dafa bertanya pada Lukman yang sedari tadi hanya menyaksikan curhatan kedua teman nya itu.
"Masih usaha ini, bulan kemarin periksa semua ok, tinggal lebih kerja keras aja," kekehnya yang mendapat cubitan dari sang istri.
Mereka semua larut dalam obrolan yang di selingi ledekakan, tawa canda, kadang makian.
*
*
Kini mereka hanya bertiga di tinggalkan para istri yang pergi mengunjungi sebuah Mall baru tak jauh dari sana.
"Gimana si Bintang?" tanya Rijal.
"Sekarang udah ada pawangnya, lebih kalem. Apalagi bini nya lagi hamil, kemana-mana nenteng tempat sampah kecil ama tisu. Soalnya bini nya mabok parah. Waktu itu aja tengah malem manjat mangga di rumah Ayah mertua gue, kita semua di bikin heboh tengah malem. Gara-gara dia kena ulet bulu dan badannya bentol seluruh badan. Dah lah dia bucin parah. Mulut nyebelinnya juga jadi pendiem, soalnya tiap dia buka suara istri nya langsung mual, hahahaha... kasian sekaligus bikin ngakak." Dafa menceritakan soal Bintang yang memang sekarang jauh lebih kalem dan terlihat patuh pada sang istri.
"Sukur lah, sebenarnya kasian juga sih dia. Sepeninggal Ayu, dia gonta-ganti cewek nggak jelas, terus lu cerita dulu dia di kecewain beberapa cewek ya?" tanya Rijal.
"Huum, ya ngenes lah. Hampir depresi malah, hingga dapet yang pas. Sebenarnya Tuhan memberikan jodoh itu untuk melengkapi hidup kita. Yang banyak omong dengan yang jutek pendiem, yang sumbunya pendek dengan yang dingin mampu meredam." Dafa berkata sambil memandangi kedua sahabatnya.
Dafa melihat Lukman yang hanya diam sambil mengetuk-ngetuk ponselnya.
"Napa pengantin anyar?" tanyanya dengan tawa.
Lukman menatap ke arah nya.
"Gue jadi malu, kalo inget awal gue nikah. Karena ini perjodohan, gue awalnya kepaksa nikah sama dia. Gue marah-marah, gue jutek dan nggak peduli sama dia, ya gue nggak anggap dia ada. Hingga setelah dua bulan kita nikah , dia bilang sesuatu yang nampar hati gue," ucapnya.
"Apa?" Dafa dan Rijal bersamaan bertanya dengan tubuh mereka yang mendekat, karena rasa penasaran.
Lukman tertawa saat melihat dua sahabatnya terlihat penasaran.
"Dia bilang, kalo emang gue nggak bisa cinta ya nggak apa-apa, tapi dia minta seenggaknya hamilin dulu dia karena nyokap gue berharap banget punya cucu. Dia bilang setelah melahirkan dan bisa ngasih cucu buat nyokap gue, katanya nggak apa-apa di cerai juga, toh dia punya salon yang mampu nge hidupin dia sama anak kita nanti."
"Gue tertampar lah, dia mau berkorban buat nyokap gue, dengan menekan ego nya untuk ninggalin gue yang keliatan banget bangsat nya. Lah gue malah nggak mikirin perasaan dia dan nyokap gue." Terangnya.
"Terus?" Lagi-lagi Dafa dan Rijal bertanya secara bersamaan.
"Ya, udah gitu gue minta maaf dan cinta itu tumbuh dari hari ke hari. Dan dia semakin nunjukin baktinya sama suami. Dia sayang banget sama nyokap gue, ampir tiap hari sebelum dia ngecek salonnya dia pasti mampir dulu ke rumah nyokap gue. Dia tumbuh tanpa sosok Ibu, jadi dia mengagungkan banget nyokap gue," tambah nya lagi.
Obrolan para lelaki itu terus terjadi mulai dari rumah tangga, cita-cita mereka yang belum terwujud bahkan pertemuan mereka yang harus terus di agendakan untuk mempererat tali persaudaraan.
Hingga ide lama mereka yang hanya wacana kini siap di realisasi kan. Anita memiliki tanah cukup luas di pinggiran Kota Bandung. Yang akan Dafa bangun untuk tempat rekreasi keluarga, akan ada restoran yang akan di kelola Rijal dengan pemandangan bukit-bukit kebun teh, dan akan terdapat halaman luas untuk arena bermain anak-anak tak lupa beberapa jenis hewan, yang akan semakin membuat pengunjung yang membawa anak-anak semakin betah, di depannya akan di isi dengan butik yang tentu saja anak cabang milik Mentari, sedangkan di sisi lainnya akan di bangun juga salon yang istri Lukman kelola.
"Gimana pembangunan usaha kita?" tanya Rijal pada Dafa.
"Udah 40% lah, tiga atau empat bulanan lagi selesai kayaknya." Dafa menerangkan pada dua sahabat nya itu.
"Bakal makin nggak terpisahkan kita!" ujar Lukman.
"Iya, emang itu tujuan awal kita kan? kalaupun kita udah nggak sanggup. Itu bakal di urus sama anak-anak kita nantinya," ujar Dafa.
Saat mereka berbincang, dan sedikit menggerutu karena sudah hampir dua jam istri-istri mereka belum kembali juga. Hingga ponsel Lukman berdering.
"Ya, sayang?" jawabnya
__ADS_1
"Kenapa? oh ok. Aku jemput kamu sekarang!"
"Kenapa?" tanya Dafa yang melihat Lukman bangun dan terlihat cemas.
"Bini gue tiba-tiba pusing di sana. Gue jemput langsung, mau liat keadaan dia," ujarnya sambil memasukan ponselnya dan menyambar kunci mobil yang berada di atas meja.
"Sekalian pamit deh," Dafa ikut bangun dengan Rijal yang mengikuti.
"Mau kemana lu?" tanya Dafa yang melihat Rijal juga berjalan ke parkiran.
"Bini gue ntar pulang sendiri, kasian. Tapi gue lebih ke takut dia ngambek dan malem gue kagak dapet jatah," kekehnya sambil masuk ke dalam mobilnya.
Dafa hanya menggelengkan kepala nya melihat kebucinan para sahabatnya.
❤
❤
Di mobil
"Kayaknya, istrinya hamil," ucap Mentari setelah berada di dalam mobil suaminya.
"Oh, ya?" Dafa yang tengah fokus mengemudi sedikit menoleh pada sang istri.
"Iya, keliatan pucet. Terus masa tadi dia bilang AC Mall bikin mual. Dia juga cerita udah telat dua minggu tapi belum berani bilang sama Mas Lukman, takut ngecewain."
"Tapi aku yakin dia hamil," tambah nya lagi.
"Amin, memang itu harapan mereka." Dafa mengaminkan ucapan sang istri.
Mentari yang menyandarkan kepalanya seketika menegakan tubuhnya.
"Mau kemana ini?" saat menyadari itu bukan arah ke rumah mereka.
"Mau, honeymoon." jawab Dafa dengan seringai.
"Jangan ngaco, Aric nungguin. Ini dada ku udah penuh sama asi nya Aric," ucapnya seolah menolak.
Dafa menunjuk bangku penumpang di belakangnya, dengan ekor matanya agar sang istri paham.
Mentari yang menoleh ke belakang, tersenyum sinis.
"Terencana banget, ampe udah bawa alat pumping aku!"
"Iya, dong. Ini moment yang aku tunggu-tunggu," ujar Dafa dengan senyuman khas nya.
Mentari segera membersihkan dada nya sebelum memulai aktivitas pumping nya.
Saat sedang membersihkannya Dafa terus curi pandang, "duh ... baru liat udah pengen ini." ucapnya merengek.
"Ishhh ... sensitif, " Mentari terkikik geli, soalnya dia tau suaminya tak kuat menahan.
Dafa melajukan mobilnya lebih cepat menuju tempat yang akan dia tuju.
*
*
"Inget tempat ini nggak?" Dafa bertanya saat melewati bukit kebun teh.
Mentari mengangguk cepat, "pertama kita jalan bareng kamu peluk aku terus kita kehujanan!" jawabnya dengan yakin.
Dafa menarik nya dalam pelukannya, "dan sekarang kita ke sini udah dengan status 3 anak." Dafa mengecup puncak kepala istrinya.
"Makasih, makasih udah ngasih anak-anak yang cakep-cakep, makasih juga udah ngerawat kita dengan tulus." Dafa berkata sambil memasukan mobilnya pada sebuah villa yang asri.
"Kamu nyewa villa, Mas?"
"Nggak, ayo turun... " ajaknya.
Mentari merapikan kembali bajunya setelah dia membereskan alat pumping dan memasukan asi nya ke dalam cooler.
Dia turun dan memandangi villa itu, indah, nyaman dan tentunya asri.
Melihat suaminya berbicara dengan seorang penjaga di gerbang tadi. Mentari berjalan ke sisi villa itu terdapat banyak bunga mawar kesukaan nya.
"Sun!" Dafa memanggilnya
Mentari menoleh pada suaminya yang sudah berada di undakan tangga teras.
"Yuk, masuk!" ajaknya dengan mengulurkan tangan.
Mentari menghampiri nya dan menautkan tangannya, mereka masuk ke dalam villa itu dan lagi-lagi Mentari di buat terpana akan keindahannya.
"Keren banget, Yah ... "
Tiba-tiba Dafa memangku nya.
"Happy anniversary. Bu," kemudian dia mengecup pelan bibir istrinya itu.
"Aghh, asalnya aku mau ngasih surprise sama Ayah," ucapnya setelah pautan bibir itu terlepas.
Dafa terus berjalan dengan Mentari berada di gendong nya.
"Apa?" tanya Dafa.
"Nggak jadi," ucapnya.
Dafa dengan gemas menciumi wajah istrinya.
"Buka bu!" titahnya saat mereka sudah di depan sebuah pintu.
Mentari membuka pintu itu, dan matanya membola saat melihat kamar itu, dengan ranjang besar dan sebuah kaca besar memisahkan kamar dan sebuah jacuzzi di luar sana. Dengan hamparan kebun teh yang indah terpisah hanya dengan pagar kaca.
"Indah banget... " Mentari memekik histeris dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
Berdiri di pinggiran pagar kaca menatap hamparan kebun teh yang rapi.
Dafa memeluknya dari belakang, menciumi pundak dan pipi mentari dari sisi.
"Makasih." Bisik Mentari.
"Aku yang harusnya bilang makasih, makasih buat anak-anak yang lucu dan sehat, makasih kamu mau bertahan sama aku yang brengsek, makasih karena kamu ngasih aku kesempatan ke dua!" Dafa memutar tubuh istrinya.
Ternyata istrinya itu sudah berkaca-kaca.
"Ayah pengen Ibu happy, bukannya nangis!"
"Ini nangis haru, Ayah ... " rengek nya.
Mereka kembali saling memagut, Dafa merapat kan tubuhnya hingga tak ada jarak antara tubuh mereka.
"Sun?"
"Heum?"
Pandangan mereka bertemu setelah bibir itu terlepas.
"Suasana ini kamu inget nggak?"
Mentari mengedarkan pandangan nya.
"Kayak villa, waktu kita baby moon dulu kan?"
Dafa mengangguk sembari tersenyum puas.
"Iya, biar kita bisa nyoba di pinggir jacuzzi atau di dalemnya . Kayak waktu itu," Dafa membenarkan ucapan istrinya.
Mentari kembali memeluk Dafa, "untung rahim aku masih di iket kb ya, kalo nggak udah hamil lagi kayaknya," ucapnya sembari terkikik geli.
Dafa langsung menarik kaos yang dia pake,
"Yuk!"
"Nggak ah," Mentari menggodanya dan berlari ke dalam kamar.
Dafa yang sudah menunggu momen itu langsung berlari mengejar sangat istri.
Mereka saling kejar di dalam kamar luas itu. "Udah, aku capek, nyerah. Yah... " Mentari menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang besar itu.
Dan seringai mesum Dafa kembali terbingkai di wajahnya yang tampan.
Dia merangkak naik ke atas tempat tidur , mengunkung tubuh istrinya yang semakin membuatnya menggila.
Satu persatu kain yang melapisi tubuh itu terlepas dan di lemparkan begitu saja.
"Ugghh, "
"Sayang .... "
Suara keduanya saling bersautan saat Dafa mulai menciumi tubuh itu, memuja nya, mengusap dan merema*t apa saja yang di lalui telapak tangannya.
"Ahhhh ... Mas," Mentari terlihat frustasi karena menginginkan sesuatu yang lebih.
Di dorong nya tubuh sang suami hingga terjerembab. Lalu dia membalikan posisi itu, dia menaiki tubuh suaminya.
"Nakal kamu," Dafa tertawa dengan kelakuan istrinya.
Mentari mencium bibir suaminya, sedikit memag*t, Dafa meram*s bulatan besar yang sedang menind*h nya itu.
Dengan jahilnya Mentari menggesekkan bagian tubuhnya pada jamur kuncup yang sudah mengganjal itu.
"Agghhh ... sayang, sekarang... " Dafa menggeram gemas.
Mentari turun dari tubuh suaminya itu. Membuka pembungkus jamur kuncup itu, lalu dia mencengkram nya kuat.
"Sayang ... " Dafa semakin tak kuat untuk segera memasuki tubuh istrinya itu.
Dafa sedikit menunduk melihat apa yang akan di lakukan istrinya.
Mentari tersenyum namun sedetik kemudian, Dafa sudah mengerang saat merasakan kehangatan itu sudah menyelimuti jamurnya.
Bahkan permainan lidah sang istri sudah menari-nari melingkari jamurnya.
"Argghhh ... Sun ... sayang .... bu ... udah cukup, aku nggak kuat!" Dafa menarik tubuh istrinya saat dia merasakan puncaknya akan segera sampai.
Mentari tersenyum puas lalu dia langsung kembali duduk di atas memposisikan tubuh nya, agar jamur itu masuk dengan sempurna...
Mentari mendongakkan kepalanya kebelakang saat tubuh nya di buat sesak oleh si jamur kuncup itu. Dafa pun demikian, mengerang dengan tangan mencengkram pinggang sang istri yang tengah bergerak lincah. Bahkan Dafa tak sadar mengejankan kedua kakinya menahan gai*ah yang akan segera dia capai.
"Mas ... a-aku," mentari hampir sampai.
"Aku juga, se-sebentar lagi." Dafa sedikit bangkit dia ikut bergerak sambil meng*lum chococips itu.
Dan akhirnya mereka mengerang dan mele*guh saat sama-sama mencapai puncaknya.
Mereka tersenyum, saling menautkan bibir.
"Happy anniversary Mas ...
"Happy anniversary my Sun...
Ucap mereka bersamaan, dengan tubuh yang masih menyatu...
Bersambung
Satu partai lagi yaaa😘😘😘😘
like, komen nya pleaseee di banyakin.
Makasih buat semua😘😘😘😘
__ADS_1