Kisah Mentari

Kisah Mentari
Kejutan manis


__ADS_3

❤❤❤


Mentari terbangun dan terlonjak kaget, seingat dia semalam dia duduk di sofa depan TV.


Lalu melihat ke sebelahnya, rasa panik semakin terasa saat menyadari tak ada suaminya di sisinya seperti biasa.


Dia menurunkan kakinya sembari menjepit rambutnya asal, ada selembar kertas terselip di bawah gelas susu coklat kesukaannya.


*Maafin aku soal yang kemarin...


Kita sama-sama belajar untuk rumah tangga yang lebih baik, mungkin aku masih terlalu egois dan belum bisa mengatur emosi.


Malem aku pulang kamu udah tidur, kamu nggak sadar ya aku pindahin ke kamar, nggak sadar juga aku bikin tato macan di dada kamu...


Hehehe... pasti kamu lagi ngedumel.


Maaf .... kalo tega aku udah ngapain kamu. Aku nggak bisa nahan kalo udah main tusuk-tusukan kamu. bikin nagih.


Maaf juga nggak bangunin kamu tadi, Aku hari ini jadwal balap jadi mau test mesin dulu. Nggak tega juga liat kamu pulas banget, princess kebo ku..


Kok banyak kata maaf ya kayak lebaran.. yang utama do'ain aku ya...


Di minum susunya sebelum mandi...


love you Sun... *


Mentari tersenyum membaca surat dari dafa itu, walaupun singkat tapi penuh makna, dia juga sadar bahwa dirinya lah yang memancing kemarahan Dafa kemarin, tapi suaminya itu yang meminta maaf duluan. Dia juga bertekad akan melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan pendamping yang lebih baik lagi untuk Dafa suaminya.


Dengan patuhnya dia meminum segelas susu yang sudah hangat menuju dingin, sepertinya sudah agak lama itu di hidangkan.


Setelah meminum sampai habis susu coklat buatan suaminya itu. Mentari membereskan tempat tidur dan membuka pintu menuju balkon agar udara pagi yang masih segar masuk kedalam kamar.


Lalu tiba-tiba perutnya bergejolak kembali, dia berlari ke arah kamar mandi dan menunduk di atas Wastafel. Dia memuntahkan kembali susu coklat yang baru saja di minum.


Mentari melap mulutnya dengan lap kecil yang menggantung di dekat wastafel. Setelah di rasa tidak ada lagi yang bisa dia muntah kan, karena memang terakhir dia makan kemarin sore.


Dia segera membuka bajunya dan segera berdiri di bawah shower dan menyetel airnya agar sedikit hangat.


*


*


Selesai Dengan acara mandinya.


Mentari berjalan ke arah lemari masih dengan bathrobe nya dan kepala yang masih terbalut handuk kecil.


Dia terpaku melihat sebuah note lagi di pintu lemari.


*Mau kuliah ya????


Aku sediain baju cantik buat kamu, pakai ya!


Setelah selesai balap aku langsung pulang.


Nanti pulang kuliah aku jemput kamu, kita makan di luar.


Mau kuliah jangan lupa sarapan, aku udah bikinin sarapan penuh cinta.


Love you Sun*


Lagi-lagi Mentari tersenyum, suaminya memang penuh kejutan-kejutan manis. Pikirnya.


Ada getaran-getaran yang menggelitik dadanya, hatinya menghangat, antara senang, rasa di cintai dan rasa haru atas semua perjuangan suaminya itu untuk membahagiakan nya menjadi satu dalam letupan-letupan kecil dalam hati.


"Makasih, Mas... " ucapnya sambil mencium kertas yang berisikan tulisan tangan sangat suami dan memeluk sebuah dress putih cantik dengan bergambarkan bunga kecil di bagian bawahnya.


Tanpa pikir panjang dia langsung mengenakannya. Kemudian sedikit memoles wajahnya.


Mentari tersenyum melihat sebuah hidangan di meja makan. Sebuah pancake buah yang sangat cantik.



"Mas... kamu sweet banget... Makasih." Dia tersenyum namun matanya memanas dan setetes air mata jatuh begitu saja tanpa bisa dia tahan.


Malu... dia merasa malu, setelah pertengkaran kemarin yang dia sendiri yang menyebabkan Dafa kesal dan tak bisa menahan emosinya, namun bukan dia yang meminta maaf. Malah suaminya itu yang meminta maaf dan menyediakan serangkaian kejutan manis seperti ini.


Secarik kertas kembali dia lihat, kini tertempel di sebuah gelas berisikan satu tangkai bunga mawar merah gradasi pink.

__ADS_1


*Makan ya...


Aku bikinin pancake soalnya kamu lagi nggak mau makan yang asin, maaf agak sedikit gosong.


Tapi aku coba tadi enak kok..


Jangan di liat tempat cuci piring kita, yang kayak kapal pecah. Nanti aja pulang aku yang cuciin.


Nanti kita ketemu sore


Love you Sun*


Mentari dengan lahap memakan pancake yang sangat cantik itu. Hari ini benar-benar penuh kejutan manis untuknya.


Mentari mencoba menghubungi suaminya itu, namun nihil , ponselnya tidak aktif. Sepertinya dia sedang fokus pada balapannya.


"Semangat sayang... Semoga turnamen nya berhasil, aku tunggu kamu jemput." isi pesan yang dia kirim pada sangat suami.


Lalu dia melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dia ada jam kuliah pukul sebelas.


Dia pun bergegas menghabiskan sarapannya kemudian segera pergi meninggalkan apartemen menuju kampusnya.


*


*


Selesai jam mata kuliahnya, Seperti biasa dia dan Cindy duduk di taman kampus.


"Lu cakep banget, tumben ngampus pake dress." Tanya Cindy seraya memberikan jus mangga kweni tanpa gula seperti request sahabatnya itu.


"Mau kencan dong, nanti aku tunggu Mas Dafa jemput, abis turnamen selesai katanya." Jawabnya sambil menyedot sedotan jus mangga nya dengan rasa haus yang menyerangnya sedari tadi.


Cindy hanya bergidik membayangkan rasa asam jus mangga itu.


Mentari menutup mulutnya lalu berdiri dan berlari tergesa menuju toilet tak jauh dari taman.


Cindy mengikutinya dengan tergesa-gesa, menenteng tas Mentari yang tergeletak begitu saja juga jus yang dia pegang.


"Huwekk.... huwekk.. "


Mentari kembali muntah-muntah.


Saat kembali dia melihat Mentari tengah duduk menyandarkan Kepalanya di tembok.


"Nih.. "


Cindy memberikan sebuah bungkusan.


"Apaan?"


Tanya Mentari sambil mengintip isi bungkusan kresek itu.


"Hah...


Dia menjengit kaget.


" Napa lu? kaget ampe segitunya?"


"Apa mungkin?" Mentari menggumam


"Lah... lu tiap malem ngadon. Yakin gue mah, lu hamidun." Cindy berasumsi.


"Iya, sih. Udah telat seminggu jadwal dateng bulan aku."


"Kok, takut ya?"


Mentari meremat perutnya.


"Dih... kek yang nggak punya laki aja!"


Cindy menjentikkan jarinya di kepala sahabatnya itu.


"Buruan... periksa, gue penasaran." Cindy mendorong tubuh sahabatnya itu untuk bergegas mencoba alat test kehamilan itu.


~~


Mentari memejamkan matanya saat menunggu hasil test itu, dan saat membuka matanya. Mentari mengatupkan mulutnya. Saat melihat Garis dua tergambar jelas.

__ADS_1


Cindy memang membelikan dua alat test dengan merk yang berbeda, untuk memastikan nya Mentari mencoba satu alat lagi yang belum terpakai.


Dan... hasilnya tetap sama, tergambar jelas dua garis di test itu.


"Aku... hamil, Mas... kita akan menjadi orang tua." Ucapnya dengan tangis bahagia.


Dia keluar dan menghampiri Cindy yang masih setia menunggu nya duduk di bangku tak jauh dari toilet.


"Gimana... gimana???"


Cindy antusias menjurus kemal(kepo maksimal).


Mentari menunduk dengan wajah yang dia buat sedih.


"Nggak apa-apa, kalian masih muda. Badan masih seger, ngadon nya makin gaskeuuunn lah. Hajar selagi ada waktu." Ucapnya menghibur.


"Hahahaha.... "


"Njir... malah ketawa, lu mah kagak mau punya anak ya? tapi ngadon demen banget." Ujarnya memukul pundak Mentari.


"Aduh... Hati-hati tante, nanti dedek nya sakit." mentari berkata dengan nada di buat menyerupai anak kecil.


"Tante.. tante.. "


"Hah... apa? tante? "


"Lu... lu Hamil tar?" Cindy mengguncang tubuh Sahabatnya itu.


Mentari mengangguk "Iya, tante. di sini ada adek bayi." ujarnya manja.


"Wah... gue mau jadi tance... " Teriaknya riang.


"Tance? tante dodol!" Mentari meralat ucapan Cindy.


"Tance gue mah, TANte keCE." ujarnya bangga


Mentari hanya memutar matanya jijik.


"Njir, mata lu gitu amat. ntar anaknya kek gue lagi." godanya.


"Enak aja, ya kayak bapaknya lah. Kamu nyumbang apaan coba?" Mentari mencebik kesal.


"Lah, gue nyumbang waktu, tenaga, dan keringet. dalam arti sesungguhnya tapi ya." Ucapnya terkekeh.


Mentari pun ikut tertawa.


Mereka larut dalam candaan dengan rasa haru dan bahagia bersatu.


Sebuah notif panggilan masuk ke ponsel Mentari.


"Ya.. Mas...


"...


" Oh, kak Rijal? "


"...


" Iya, saya ke depan sekarang."


panggilan pun berakhir.


Aku duluan ya! Kak Rijal ngajak aku pergi ketemu Mas Dafa.


Mereka pun berpisah.


"Ayo, naik." ajak Rijal


"Kok, bukan Mas Dafa yang jemput?" Mentari mulai curiga.


Rijal tidak menjawab dia fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dengan raut wajah sedikit tegang.


Mentari semakin resah, hatinya merasa ada yang aneh.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah baca🙏, semoga suka🥰

__ADS_1


jangan lupa Like komen nya😘😘


Sehat-sehat ya untuk kalian, bahagia selalu ❤


__ADS_2