
❤❤
Dafa turun dari mobilnya berjalan dengan tubuh yang menahan lelah dan sakit. Tapi dia tak menghiraukannya di depan sang istri, dia tau Mentari sedang tidak baik-baik saja. Walaupun dia belum mencari tahu ataupun bertanya langsung.
"Mas.. "
"Ya? jangan sekarang Sun, badan aku lagi nggak bisa di ajak kompromi, besok ya!" Seolah tau Mentari akan menceritakan sesuatu. Dia langsung mencegahnya, menahan hingga kondisi badannya lebih enak agar kepala nya bisa berpikir dengan tenang tanpa emosi.
Mentari menatapnya dan mengangguk, walaupun sebenarnya dia ingin langsung berkeluh kesah. Tapi dia harus memahami kondisi suaminya saat ini.
Dafa memijit pas code pintu apartemen nya, dia menatap ruangan yang kosong.
"Si Lukman kemana?" tanyanya sambil menyimpan kunci mobil di meja TV.
"Tapi tas sama jas dokter nya masih ada, Mas!" tunjuk nya pada benda asing yang teronggok di atas sofa.
"Ada bekas mie cup yang level dower punya kamu, Sun." Dafa memegang cup mie instan bekas di atas meja makan.
Dafa dan Mentari langsung saling tatap. lalu mendekati pintu kamar mandi yang ada di sebelah dapur.
"dugg... dugg.. man? Lukman? " panggil Dafa sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Oyyy... gue mules. Bentar belum beres, belum keluar semua." jawab dokter muda itu dari dalam kamar mandi.
"Si anjin* pake di perjelas." Dafa menggerutu.
Mentari tertawa kemudian berjalan masuk ke dalam kamar.
"Sun.. " Dafa merengek.
"Aku, ganti baju dulu Mas!" Jawabnya dari dalam kamar.
Dafa mengikuti ke arah kamar, "Tunggu. Aku ikut!" lelaki itu mengekor sang Istri.
Mentari mengambil baju dari lemari sebuah tanktop dan celana pantai pendek.
Dafa menatapnya berganti baju di pinggir Lemari.
"Aduh, Sun... Aku mau." Rengeknya.
"Besok, Mas sekarang istirahat dulu. Aku juga masih lemes tadi di cafe muntah kayaknya asam lambung aku naik." Ujarnya.
"Yahhh... penggemar kecewa." Dafa mengerucutkan bibirnya yang kedua sisinya memar dan sedikit sobek.
"Kamu nggak boleh keluar." tegasnya sambil memeluk tubuh tinggi sang istri.
Mentari mendongak ke belakang. "Kenapa?" tanyanya heran.
"Aku nggak mau, si Lukman liat kamu dalam keadaan gini. Takutnya dia tegang kayak aku nih." Dafa menekankan si adik yang sudah mengetat di balik celana chinos nya.
"Aghh... " Mentari menjerit saat dafa dengan sengaja menekankan si adik yang sudah keras menjelma menjadi tongkat kasti.
Mentari berbalik menghadapnya. "Mas... Aku mau tidurr.. kamu juga harus istirahat. Biar besok kita berdua fresh dan tenaganya maksimal jadi bisa double." Mentari menggodanya dengan senyum manisnya.
"Pake jaminan dong, apa gitu?" Dafa meremat benda padat sintal di depannya. "Dih, makin hari dia makin bagus ya? Beneran keren hasil kreasi , Mas mu ini." Ujarnya bangga memandang ke buah kembar milik Mentari yang semakin indah di matanya.
Mentari tersenyum kemudian memajukan wajahnya, dan mengecup bibir suaminya itu sebagai jaminan.
Dafa menahan tengkuknya agar Mentari tak cepat melepaskan pautan itu.
Namun.... Sebuah teriakan berasal dari luar nyaring terdengar di telinga pasangan yang sedang bertukar saliva itu.
"Daffff... Buruan gue mau ke rumah sakit lagi nih." Lukman berkata sedikit kesal.
"Ck... Ganggu..." Dafa menggerutu saat Mentari mendorong dadanya, hingga pautan itu terlepas.
*
*
"Jadi apa yang lu rasain sekarang?"
__ADS_1
Lukman sedang mengecek tensi dan luka-luka Dafa.
"Kepala gue sakit, tapi. sebelah sini aja. Mendengung gitu kena telinga." Tunjuk nya pada bagian kepala sebelah kanan.
"Kena hantaman keras nggak tadi?" Lukman menatapnya serius.
Dafa langsung mengangguk keras dan yakin.
"Kalau berlanjut, apalagi ada muntah. Lu langsung ke rumah sakit. Eh lusa deng ke rumah sakit. Kita periksa menyeluruh." Dokter muda itu menatap penuh kecemasan. Apalagi melihat mata dafa yang memang bengkak dan memar di sekitar pelipis nya.
"Nggak bisa, lusa gue ada turnamen di Sentul, atau mungkin pulang nya gue mampir." tolak nya langsung.
"Gue nggak bisa ngasih lu ijin buat ikut balap dengan keadaan lu yang kayak gini." Lukman terhenyak mendengar penolakan Dafa, seolah dia menyepelekan lukanya.
"Hahaha... gue nggak perlu ijin lu, dari pada gue kena pinalty? Tabungan gue ke kuras semua. Gue janji abis turnamen gue langsung ke rumah sakit." katanya sambil menyeringai seperti biasa.
Lukman hanya menatapnya dengan raut wajah khawatir. Namun tidak ada yang bisa dia perbuat selain mendoakan yang terbaik untuk sahabatnya itu.
Lukman memberikan suntikan dan beberapa obat untuk berjaga-jaga dengan kondisi Dafa.
"Mana bini lu?" Tanyanya saat membereskan peralatannya.
"Di kamar, mau apa lu?" Bentaknya.
"Dih, sensi nanya doang." kesalnya.
"Dia dah pake baju halal buat gue, tapi haram buat lu." ucapnya bangga.
"Lu kagak mau anu kan?" Lukman menyatukan kedua telunjuknya saling mengetuk-ngetukan.
"Kagak lah, gue dah lu suntik obat tidur bentar lagi juga reaksi nih pasti, lagian bini gue juga lagi ada sedikit masalah. Kita bener-bener capek mau istirahat. Ucapnya lirih.
Dafa memperhatikan Lukman yang meminum sebutir obat.
"Lu sakit?" Tanya nya
"Perut gue mules, gegara makan mie itu." Tunjuk nya pada mie cup yang berada di atas meja makan.
"S*al, abis nggak ada mie kuah, Mie goreng semua. Lu kan tau gue kagak suka mie goreng." protesnya.
"Dih, lu yang protes. Lu lupa ni apartemen sapa? lagian gue sama bini gue emang paling demen mie goreng. Ya kita beli emang apa yang kita suka lah. Ngapain mikirin orang lain." gerutunya kesal.
Lukman berdiri hendak meninggalkan apartemen sahabat juga pasien nya itu.
"Inget kalo ada apa-apa, langsung hubungi gue." ucapnya di ambang pintu.
"Iyaa... lusa gue pastiin bakal datengin lu ke rumah sakit." Dafa menggerakan tangannya mengusir sahabatnya itu, yang terus cerewet melebihi emak-emak rempong.
*
*
Dafa semakin lemah, badanya ingin segera dia hempaskan di atas kasur.
Dia, masuk kamar dengan keadaan lampu utama sudah mati. Menyisakan lampu tidur berwarna kuning redup di kedua sisi tempat tidur mereka.
Dafa membuka celana chinos nya menyisakan boxer ketatnya, seperti kebiasaan dia ketika tidur.
Merangkak menaiki tempat tidur, masuk ke dalam selimut dan menatap wajah sang istri yang sudah terlelap menyisakan mata sembab nya.
"Besok, kita bahas semua ya! sekarang kita istirahat dulu." Gumamnya sambil mengelus lembut pipi Mentari yang sudah terlelap dalam mimpi.
Dafa merangsek mendekap hangat tubuh perempuan paling dia cintai itu. Sebelum obat tidur benar-benar mengambil kesadarannya.
🥀
🥀
Dini hari...
Mentari terbangun dengan rasa perih di ulu hatinya,Perutnya seperti di aduk-aduk. Dia berlari ke arah kamar mandi. Dia mencoba memuntahkan isi perutnya, namun jangan cairan pahit yang keluar.
__ADS_1
Dia mengingat hanya meminum jus mangga saja setelah dia dua kali muntah di cafe.
Dia berjalan ke luar kamar mandi, menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dengan wajah bengkak nya, dia dekati di usap halus dan di kecupi wajah penuh luka itu. Miris pasti, namun mau apalagi itu cita-cita suaminya. Mungkin perlahan dia akan mencoba membujuk Dafa agar terlepas dari pekerjaan yang ekstrim menurut nya.
Mentari sedang mengoleskan selain strawberry pada selembar roti dan segelas susu coklat hangat mengepul di hadapannya.
"Uhmm... nggak enak gini perut." Dia kembali menekan perutnya.
Lalu dia membawa roti dan susu hangat itu, ke dalam kamar, terlihat Dafa yang masih bergelung di bawah selimut. Mentari memakan roti nya dengan lamunan soal ucapan abang nya kemarin.
Setelah selesai makan dan meminum susu hangat itu, Mentari melihat jam digital di tembok, "masih jam tiga, aku tidur lagi ah." Gumamnya.
Dia kembali masuk ke dalam selimut, lalu memeluk tubuh kekar Dafa. Tak lama dia pun tertidur kembali.
...🥀🥀🥀...
Dafa terbangun dengan rasa sakit di sekujur badannya, matanya tidak dapat membuka sempurna karena bengkak.
Dia menoleh ke arah Mentari yang melingkarkan tangannya di atas perutnya, bahkan lututnya menimpa si adik yang mengetat sempurna.
"Ck... kamu mancing-mancing, aku sakit juga ini masih siap tempur." Terangnya bangga dengan seringai mesumnya.
Dia menarik tanktop nya sampai menggulung di dada atasnya. Lalu dengan sekali hap mulutnya sudah penuh dengan benda lembut kesukaannya.
"Mass... "
Mentari melenguh setengah sadar saat Dafa tengah menghisap chococips nya.
"Heumm... Aku mau , Sun. Sesuai janji semalem." Dafa mendongakkan wajahnya yang posisi nya di dada Mentari.
"Masih pagi, emang kamu udah enakkan?" Mentari menjambak rambut Dafa yang menghisap nya kuat.
"Udah jam delapan, di luar mendung pas banget buat kita... " Ujar Dafa kini sebelah tangannya sudah mulai memilin chococips sebelahnya. Di bawah sana Si tongkat kasti sudah bergerak menekan-nekan mencari jalan yang masih di tutup oleh kain segitiga.
Dafa masih bermain dengan tubuh Mentari.
"Mas... " Mentari merengek tak tahan, badannya sudah gelii mengharapkan adegan selanjutnya.
"Sekarang?" Dafa bertanya
Mentari mengangguk kecil merasa malu tapi mau.
Dafa langsung menarik kaos dan kain terakhir miliknya dan Mentari.
Tak lama si tongkat Kasti menancap sempurna.
Mata keduanya terpejam dengan Mentari menggigit bibirnya menahan gejolak rasa yang luar biasa nikmat.
Sedangkan Dafa Kepala nya mendongak ke atas merasakan penyatuannya yang begitu dalam, sesuatu di dalam sana mencengkram si jamur kuncup miliknya.
Erangan saling bersahutan, gerakan dengan ritme yang mulai tak beraturan dan semakin cepat, membuat mereka seakan terbang meninggalkan bumi.
Dan satu hentakan yang cukup keras dan terasa dalam mengakhiri kegiatan pembukaan hari untuk mereka...
Keduanya masih terpejam menikmati rasa yang meledak nikmat. Nafas dan detak jantung pun belum stabil masih seperti orang. yang sudah marathon.
Tangan Mentari merayap di atas nakas mencari tisu yang kini selalu tersedia di sekitar tempat tidur mereka. Untuk berjaga-jaga untuk melap sisa-sisa cairan kental itu.
Saat Mentari akan membersihkan milik sang suami seperti biasa. Tangannya kaget merasakan milik Suaminya itu kembali mengeras.
Dia menatap ke arah Dafa, Dafa hanya menyeringai "Mau... Lagi, Sun. Sesuai perjanjian ya." Kembali menyesap Chococips kesayangannya.
"Emmmhh...
Mentari hanya pasrah dengan perlakuan Dafa, toh menyenangkan suami adalah tugasnya. Dan entah kenapa akhir-akhir ini dia merasakan rasa lain saat berhubungan. Terasa berbeda, lebih enak dan lebih menggebu saja.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏, semoga suka 🥰🥰, like komen nya di tunggu ya😘😘.
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤❤
__ADS_1