Kisah Mentari

Kisah Mentari
Bunda... mau ayam bakar


__ADS_3

💕💕


"Sayang sini kenalin sahabat Mami!" Bu Nina merangkul pundak Mentari agar berhadapan langsung dengan sang sahabat.


Mentari menatapnya... dan lelehan air mata turun dengan derasnya membasahi pipi nya yang sudah terlihat tembam.


"Hai, kenapa... ?" Bu Nina menyadari ketegangan di antara kedua wanita itu.


Mentari tak bersuara, begitu pun wanita di hadapannya.


"Rim... Rima, ada apa ini?" Bu Nina terlihat bingung dan penasaran saat sahabatnya itu ikut menangis.


"Bu-bunda..." Akhirnya Mentari mengeluarkan suaranya.


Rima mengangguk dan tersenyum namun dengan lelehan air mata yang semakin deras, "iya, iya ini Bunda" jawabnya.


Akhirnya mereka saling menabrakan diri untuk saling memeluk, meluapkan kerinduan yang sangat mendalam.


"Ya... Tuhan, pantesan awal ketemu kamu, Mami ngerasa kayak familiar gitu. Tatapan kamu mirip seseorang, ternyata kalian bener-bener punya mata yang sama." Bu Nina mengatup mulutnya dengan kedua tangan dan ikut menangis haru, melihat pertemuan tali kasih itu.


*


*


Mereka kini duduk di sofa ruang kerja Mami Nina.


"Maafin bunda, bunda nggak mendampingi perjalanan hidup kalian. Karena rasa kecewa Bunda sama ayah kalian. Bunda egois, mementingkan perasaan sendiri, sedangkan ke tiga buah hati bunda yang paling di rugikan di sini." Ucapnya penuh penyesalan.


Mentari mengeratkan pelukannya dan menggeleng lemah, "Nggak Bunda, bukan sepenuhnya salah Bunda. Aku bisa ngerasain semua yang Bunda rasakan, karena Ayah, Abang, dan kak Bintang ngelakuin hal sama sama chaca, hingga akhirnya chaca ketemu sama.... " Dia menghentikan ucapannya dan kembali menangis sambil mengelus lembut perutnya yang sudah lima bulan.


"Iya-iya, Bunda udah tau semua ceritanya dari Mami, bunda nggak nyangka kepiluan itu cerita anak Bunda sendiri. Kamu harus kuat ya. Sekarang ada Bunda, jadikan Bunda tempat berlindung dan tempat berkeluh kesah."


"Bunda kangen sama kakak-kakak kamu, Terakhir bunda ke rumah Ayah, bunda berantem di depan Abang, jadi Bunda nggak mau bikin anak-anak Bunda menjadi trauma." Lanjutnya lagi.


"Iya, kami memikirkan apa masalah di antara Bunda sama Ayah sampai seperti ini. Apa Bunda sama Ayah udah pisah, Cerai secara resmi?" Selidik Mentari


Perempuan cantik bermata sama persis dengannya menunduk dan menggeleng lemah.


"Jadi, Bunda belum pisah sama Ayah?"


"Bun, di meja kerja Ayah masih ada foto Bunda. Pasti Ayah masih sayang dan cinta sama Bunda."


Mentari tersenyum mengharapkan keluarganya kembali utuh.


"Nggak mungkin, Sayang. Pasti Ayah udah ngucapin talak saat Bunda keluar dari rumah." Ucapnya mengusap air mata.


"Udah... udah, nggak usah melow terus. Yuk kita rayakan pertemuan ini. Kita makan2 di luar." Mami Nina memotong percakapan ibu dan anak itu yang lagi-lagi akan berurai air mata.


"Aku lagi pengen ayam bakar deket Sentul, Mih. Boleh?" ucap Mentari dengan wajah memelas.


"Let's goooo... " teriaknya antusias.


Mereka pun berempat keluar dari butik menuju mobil SUV hitam milik Bunda.


"Eh, Iya Bun. itu siapa?" Mentari berucap setengah berbisik pada sangat ibu yang duduk di sebelah nya.


"Oh, itu anak Bunda. Anak angkat Bunda tapi udah Bunda anggap anak kandung Bunda sendiri." terangnya.


"Setelah dua tahun Bunda keluar dari rumah Ayah, Bunda kesepian dan Bunda ketemu sama dia yang juga sama-sama sendiri karena orang tuanya baru meninggal karena kecelakaan. Dia seumur sama kak Bintang." Jelasnya panjang lebar.


Pria tampan itu hanya diam sesekali tersenyum, mendengar pembicaraan antara ibu dan anak yang baru bertemu itu.


*


*


"Ada rencana indah, yang Tuhan berikan di balik kesedihan kamu sayang," Mami Nina yang duduk di bangku depan berucap sambil menoleh memandangi ibu dan anak itu yang saling menautkan tangannya seakan takut kehilangan lagi.


"Iya, Mi. Pasti ada hikmah di setiap kejadian yang aku alami. Aku nggak pernah menyesal apalagi sekarang Aku kembali ngerasain kasih sayang Bunda, sama beberapa bulan lagi aku juga bakal jadi Bunda." Mentari menyandarkan kepala nya di pundak Bunda Rima.


Ibu itu mengelus sayang kepala anaknya, anak perempuan nya yang ia tinggalkan dulu, ketika masih berusia satu tahun lebih, usia di mana masih sangat butuh kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Menyesal... sudah pasti, namun waktu tidak bisa terulang dan dia bersyukur anaknya itu tidak membenci dirinya, dirinya yang sudah meninggalkan nya dulu hanya karena jenuh dengan semua aturan yang di buat suaminya.

__ADS_1


"Bunda janji, akan mengganti semua waktu, kasih sayang dan perhatian yang dulu kamu nggak dapet dari Bunda." janjinya dalam hati.


"Kamu nggak ngalamin mual muntah?" Tanyanya pada Mentari yang masih setia bergelayut manja di lengannya.


"Awal-awal, iya Bun. Tapi setelah insiden pendarahan itu, dan aku di bawa Mami. Tiba-tiba ilang aja semua keluhan aku pas awal hamil."


"Mungkin pindah ke ayahnya, waktu Bunda hamil Kak Bintang dulu, Ayah kamu yang ngidam dan ngalamin semua proses menyiksa itu." Kekehnya membayangkan suaminya dulu kepayahan setiap pagi sampai menjelang siang.


"Hah- Masa Bunda, emang bisa pindah gitu?"


Mentari menghadap nya menunggu jawaban sang Bunda


Rima hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Semoga... semoga Mas Dafa ngerasain apa yg aku rasain, kalo perlu sampai melahirkan dia juga ngerasain semuanya...


" Amin... " Ucap nya dan Mami Nina bersamaan.


"Husss... nggak boleh gitu, sayang. Kasian kan suami kamu." Rima mengingatkan.


Mami Nina dan Mentari terkikik-kikik menertawakan yang mereka pikirkan.


"Aww... " Mentari meringis memegang perutnya.


"Kenapa? ada yang sakit?" cemas Rima.


"Dia nendang nya keras banget." Mentari masih mengelus perutnya.


"Berarti dia ngebela Ayah nya." Sahut Rima.


"Ck... doyan bikin nya doang, tapi nyia-nyiain." Mami Nina menimpali.


"Kamu, jangan ngehasut anak ku Nin... "


"Hahahaha... ok, ok."


*


*


"Ayoo, Sayang... " Rima membuyarkan lamunannya.


"Eumm... Iya Bun." Mentari pun berjalan menghampiri Bunda nya yang sudah di depan pintu resto.


"Pesan apa?" Mami Nina memegang buku menu.


"Aku, ayam bakar sama es kelapa. Mih!" Mentari antusias tak sabar, rasanya rasa ayam bakar sudah terasa di tenggorokannya.


"Beneran ngidam nih, anakku." Mami Nina tertawa melihat Mentari yang sangat tak sabar.


"Anakku itu, Nin... "


"Anak, bersama aja. Asik aku punya ibu dua." Mentari menengahi ke dua wanita yang begitu menyayangi nya.


Mereka pun tertawa, pria bule di depannya hanya diam dan sesekali tersenyum.


"Evan, mau pesan apa?"


"Aku, Ayam goreng sama pete goreng!" ucap pria berwajah bule itu.


"Astaga... muka bule, doyan nya pete!" Mami Nina terkikik-kikik dengan kelakuan Evan, anak angkat Bunda Rima.


"Asli, serius... Aku yang ngajarin dia, dan akhirnya dia ketagihan." Bunda Rima ikut tertawa.


"Dia asli mana Bun? Australia juga?" Mentari sedikit berbisik pada Bunda nya.


"Bukan... kewarganegaraan orang tuanya Turki, cuma Bunda urus jadi kewarganegaraan Indonesia." Jawabnya.


"Masih ada keluarga sebenarnya, tapi dia memutuskan ikut Bunda, tujuh bulan lagi dia mau menikah, sekarang lagi LDR calonnya masih kuliah." Jawabnya.


"Dan, aku seneng karena punya adik sebagai pendamping ku di pernikahan nanti." Ucap lelaki tampan itu.

__ADS_1


Mentari yang mendengar nya pun tersipu malu.




Di lain tempat...


"Buruan... "


"Bentar, nyet... buru-buru amat." Rijal setengah berlari menghampiri Dafa yang sudah berada di depan mobilnya.


"Gue nggak kuat, dari malem pengen Ayam bakar itu." serunya.


"Ck... nggak perlu ke Sentul juga kali, di sini juga banyak." Rijal mengambil kunci mobil yang Dafa lempar padanya.


"Sial, lu yang ngebet gue yang repot." Ujarnya kesal tapi tak ayal menurut.


"Kaki gue masih suka ngilu tiba-tiba, kalo buat jarak jauh belum sanggup lah masih males." Dafa menggerakan alisnya.


"Alesan lu aja, Males bilang."


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan Rijal mengendarai nya dengan segera.


"Semalem gue mimpi Bini gue, cuma pake baju tipis. Duduk di depan gue sambil marah-marah, tapi gue ***** dia diem aja. Ampir aja gue mau itu sama dia eh gue bangun dan celana gue udah basah."


Dafa memijit keningnya membayangkan mimpi yang dia alami semalam.


Rijal terbahak-bahak mendengar cerita Dafa.


"Jangan sampe lu anu sama guling, lagian guling lu pakein baju bini lu, awas bernyawa ntar lu jadi cinta lagi sama tuh guling." Ledek nya.


"Si anjirr... lu malah ngeledek gue." Dafa menonjok lengan Rijal yang sedang mengemudi.


"Asli tapi, bini gue malem cakep bener, apa mungkin dia juga kangen sama gue."


"Ngimpi lu... mana mungkin dia yang udah gedeg banget sama lu, pasti kagak sudi lah... " Rijal terus saja menggoda sahabatnya itu.


"Brengsek lu... "


Rijal terus saja tertawa, senang berhasil menggoda sahabatnya yang tengah di landa mala rindu.


"Dah lah buruan, gue pengen makan ayam bakar Sentul, nggak kuat rasanya udah kerasa di tenggorokan." kelakarnya.


"Lah... kayak yang ngidam aja lu." Rijal mendengus aneh melihat kelakuan sahabatnya.


"Lah... bini gue juga nggak pernah ngidam, waktu hamil kemaren."


"Nggak pernah, atau nggak ngomong? mungkin aja dia pendem sendiri soalnya lu kan lagi brengsek banget waktu itu, gue juga kesel liatnya apalagi dia yang ngalaminnya." Sungut nya kesal.


Dafa hanya diam merenungi apa yang baru saja Rijal ucapkan.


"Gue janji... kalo nanti dia hamil lagi, gue bakal manjain dia abis-abisan."


"Halah... laga lu, emang Mentari masih mau lu buntingin? kepedean lu." Rijal mengatupkan mulutnya menahan tawa, setelah dia lihat Dafa yang kembali menatap nya.


"Bacot... lu, buruan gue pengen makan." dengusnya kesal.


Mobil pun melaju semakin kencang menuju satu restoran ayam bakar di daerah Sentul.


(Evan)



❤❤❤


Bersambung ❤❤


Terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰,like komennya jangan lupa ya🤭😘😘Makasih buat yang setia nungguin cerita ini, sampai nanyain kapan up, di komen,pc, sama WA, aku terhura🥺🥺😢😢, tapi jadi semangat ngetik😘😘


Sehat dan bahagia selalu ya buat kita semua😘

__ADS_1


__ADS_2