Kisah Mentari

Kisah Mentari
Sebuah pelukan


__ADS_3

...❤❤❤❤...


Sebulan berlalu


Kondisi Mentari semakin memburuk, tubuhnya sama sekali tidak bisa masuk makanan, minum air pun pasti akan kembali dia keluarkan.


Dia hanya bertahan tiga hari di rumah Bunda, dia tidak kuat melihat atau mendengar suara Bintang.


Alhasil dia ngotot ingin kembali ke rumah mereka.


Dengan satu sarat dari Dafa, dia tidak boleh beraktivitas sampai keadaannya membaik. Dan juga mereka kini mempekerjakan seorang pengasuh untuk membantu istrinya itu. Itu rekomendasi dari Langit yang saat itu menerima lowongan pekerjaan untuk di market namun sedang tidak menerima karyawan, dan dia teringat Dafa yang sedang mencari seseorang untuk menemani istrinya di rumah.


Lelaki itu menolak Mbok yang akan ikut ke rumahnya, alasannya takut terjadi sesuatu dan wanita yang sudah sepuh itu tidak bisa berbuat banyak.


Dafa yang tengah sibuk, antara perusahaan Papanya, kasus-kasus yang dia Terima, hingga membuatnya hilir mudik antara, kantor Papa, pengadilan, dan kantor firma hukumnya.


Dia tidak mungkin terus menerus menemani Istrinya, dia hanya cuti satu minggu lamanya, itu pun pekerjaan dia bawa ke rumahnya dan dia sering bergadang.


*


*


"Sun, aku berangkat ya!" Pamitnya saat istrinya itu keluar dari kamar mandi setelah beberapa kali memuntahkan isi perutnya.


"Pake baju sayang!" Dafa meringis melihat tubuh istrinya setengah polos seperti biasa.


"Nggak kuat, sesek. Kalau aku pake baju kayak yang kecekik." rengeknya kembali merangkak ke atas tempat tidur. Posisinya membuat sesuatu dalam diri Dafa seolah terpancing.


"Sun, astaga. Aku nggak kuat nih lama-lama liat kamu gini, cepet sehat sayang. Aku udah kangen banget." Dafa menutupi tubuh yang begitu menggodanya dengan selimut hingga ke batas leher istrinya, lalu mengecup kening Mentari dan berpamitan.


Dafa keluar dari kamar dan melihat Helen tengah di suapi di teras rumah, Perempuan muda itu langsung akrab dengan putrinya, sesekali Dafa mengecek CCTV-nya memastikan semua baik-baik saja.


"Helen, Ayah berangkat kerja ya!" Dia menunduk menciumi putrinya.


"Mbak, titip Helen sama Ibu nya ya." ucapnya lalu mendapatkan sebuah anggukkan sebagai jawaban.


"Masss ... " Sebuah teriakan dari dalam kamar terdengar saat dia akan memasuki mobil.


"Iya, ... " Dafa kembali masuk ke dalam rumah.


"Apa, Sayang?" saat dia membuka pintu kamar.


"Pulangnya jangan malem-malem. Nanti aku kasih bonus deh." Mentari mengedipkan matanya menggoda.


Dafa menyeringai senang, lalu jalan mendekat.


"DP, Sun. Aku udah kangen banget. Sebulan lebih nih nganggur, ampe suka sakit Kepala."


"Aku, nggak usah ke kantor aja lah." Dia duduk di sebelah istrinya yang sedang meringkuk.


"Enak aja, kayak anak abg bolos sekolah. Dah sana kerja dulu, ntar aku kasih hadiah kalo kamu pulang masih sore." Mentari mengusap paha suaminya.


"Mancing-mancing, ah. Aku berangkat mana dp nya?' pintanya.


Mentari menarik lengan suaminya itu hingga menunduk.

__ADS_1


Lalu bibir mereka bertemu, hanya menempel sesaat saja.


Dafa memandang wajah istrinya yang terlihat sangat pucat, " Mau di bawain apa sayang?"


"Cepet pulang aja, temenin aku." Ucapnya lemah, dengan membuat tangan kirinya menjadi bantalan kepalanya.


Dafa terenyuh, perjuangan istrinya baru dua bulan. Masih panjang perjuangan nya, tapi badannya semakin ringkih, bahkan tiga hari sekali seorang dokter dan perawat dari rumah sakit mengecek keadaannya.


"Iya, aku usahain sore pulang. Mau aku bawain apa?" tanyanya lagi.


Mentari mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir, "Bawa pelukan, aku pengen di peluk lamaaa." Mohon nya.


"Sabar ya, sayang. Cepet sembuh, maafin aku bikin kamu kayak gini."


Mentari mengangguk lalu Dafa kembali mencium puncak kepalanya.


"Aku pergi ya! biar bisa cepet pulang." Dafa beringsut bangun, mengusap sesaat pipi tanpa rona merah seperti biasa, istrinya seperti orang yang sakit bertahun-tahun, terlihat sangat pucat dan tanpa ga*rah.


Wanita hamil itu memejamkan matanya, tangan kanannya mengusap perutnya yang masih rata.


"Sehat ya bayi Ibu." Ucapnya lirih. Sebelum memaksakan diri untuk tidur.


...****...


Dafa berkutat dalam pekerjaannya, menghadiri agenda sidang , meeting dengan para klien perusahaan Papanya. Dia benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya.


Sebuah ketukan di pintu terdengar.


"Masuk." jawabnya cepat.


"Siapa?"


Belum terdengar Bu Dini menjawab, seorang lelaki memasuki ruangan nya.


"Gue, orang paling ganteng." Rijal nyelonong masuk dengan sebuah paperback di tangannya.


"Ciehhh ... tumben lu kesini?" Dafa menyeringai menggoda nya.


"Lu, sibuk. Gue kangen." Di simpan nya bungkusan itu di atas meja kerja Dafa.


Dafa bergidik jijik melihat ke arah sahabatnya itu. "Najis, gue masih normal." Dafa mencebik kesal.


Rijal tertawa puas, ketika berhasil menggoda sahabatnya itu.


"Sibuk banget nih sekarang, bapak Dafa." Sindirnya.


"Iya, nih. Lagian bini gue lagi masa rentan, nggak enak di tinggal lama-lama."


"Kenapa? sakit?" Rijal duduk dengan mengeluarkan isi paperback nya, mengeluarkan satu cup kopi dengan satu wadah roti bakar kesukaan sahabatnya itu.


"Bini gue, bunting lagi. Tapi yang ini riskan banget, lemah banget."


"Anjir, jiwa pengantin anyar ku terkoyak." Rijal menepuk keningnya keras.


"Jangan lu raguin keperkasaan gue, padahal pake KB juga bisa jebol." Dafa tergelak sambil membereskan beberapa map di atas mejanya dan memanggil Bu Dini dari telepon yang terhubung langsung dengan meja sekertaris nya itu.

__ADS_1


Rijal memperhatikan sahabatnya dengan teliti, terselip rasa bangga melihat ke luwesan sahabat sengklek dan urakan nya itu yang sudah bertransformasi menjadi seorang pemimpin.


"Tau, aja lu gue belum makan!" Dafa membuka wadah berisikan roti bakar dari cafe sahabatnya itu


Rijal melihat ke arah jam yang melingkari tangannya, "serius lu belum makan?" tanyanya.


Dafa hanya mengangguk dengan mulut yang sibuk mengunyah.


"Bini, gue minta pulang cepet, Duh nggak tega liat dia." Ujarnya.


"Jaraknya terlalu deket ya?"


"Iya, sama pendarahan yang dulu makin memperparah keadaan, dia kayak orang nggak bertenaga, minum air juga keluar lagi. Ah miris banget gue liatnya. Perasaan bikinnya enak banget, proses nya gini amat." Dafa menghela nafasnya yang terasa sesak jika membayangkan keadaan Mentari sekarang.


"Dah lah, gue mau pulang." Dafa membuang tempat roti yang isinya langsung ludes pindah ke perut. Dan dengan entengnya membawa tas dan kopi yang belum dia minum, melenggang keluar dari ruangan nya di ikuti Rijal di belakangnya.


"Bu Dini, saya pulang ya! kalo ada apa-apa telpon saja." Ucapnya saat keluar dari ruangnya dan melewati meja Bu Dini.


"Baik, pak." Angguknya.


Dafa pun memasuki lift sambil menyeruput kopinya.


"Gimana bini lu dah isi?" Dafa menatap pantulan sahabatnya di dalam lift.


"Belum, malah sekarang dia lagi PMS kayaknya, uring-uringan nggak jelas." Jawabnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


...~~~~...


Mereka berdiri di teras lobby saling berpamitan.


"Makasih ya, kopi sama rotinya. Ntar kalo bini gue dah lebih sehat, gue main ke cafe."


"Siap, salam buat Tari." mereka pun berpisah masuk ke mobil masing-masing.


Dafa hendak menjalankan mobilnya saat ponselnya berdering kencang.


"Ya? "


"... "


"Apa? kok bisa?"


"... "


"Iya, saya kesana sekarang!" Dafa melajukan mobilnya dengan cepat, jantungnya berdebar tak karuan, badannya lemas namun dia lebih memfokuskan diri nya yang sedang mengemudi.


"Ya Tuhan, apalagi ini." Dia mengusak rambut kasar dan memukul-mukul setir mobil.


Bersambung 💋💋💋


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰

__ADS_1


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn 🤲🤲.


__ADS_2