Kisah Mentari

Kisah Mentari
Gagal


__ADS_3

💔💔💔


Mentari menangis sepanjang jalan yang dia lalui menuju mobil sang suami. Tatapan orang-orang pun tidak dia hiraukan.


Yang sekarang dia inginkan adalah menangis di pelukan sang suami, Hatinya sakit karena ucapan Ayah, memang pantas dia di perlakukan seperti itu, semua adalah hasil dari perbuatannya yang menorehkan luka kekecewaan pada Ayah dan kakak-kakaknya.


Dari jauh terlihat Dafa sedang merokok di dekat mobilnya.


"Sun??"


tanyanya panik melihat istrinya yang menangis berlari ke arahnya.


Mentari tak menjawab dia langsung menghambur kepelukan suaminya itu.


"Sekarang aku cuma punya kamu... satu-satunya orang yang aku punya cuma kamu! mas." dia meraung menangis kencang.


Dafa tak menjawab dia hanya mengusap punggung istrinya itu dan memeluknya erat.


"Sun...I Love you!" bisiknya


Dan itu malah membuat tangis Mentari semakin pecah.


"Hey... ini parkiran, liat banyak yang liatin kita. Ntar kiranya aku ngapain kamu, padahal kan belum!" Dafa mencoba menggoda agar menghentikan kesedihan sang istri.


Mentari mendongakkan wajahnya, "sekarang aku pasrah kamu bawa aku kemana pun, aku nggak punya siapa-siapa lagi! selain kamu Mas." dirinya kembali memeluk tubuh sang suami.


"Kamu tau? aku udah lama sendiri, kita saling melengkapi ya! kamu sedih aku sedih, kamu senang aku juga senang, yang pasti aku akan berusaha membuat kamu bahagia berada di sisi aku. bahagia yang ciptakan kita sendiri, jadi kita bawa happy aja! ok."ucapnya mantap


Mentari yang masih menenggelamkan wajahnya di dada Dafa, hanya mengangguk menanggapi ucapan sang suami.


"Yuk... kita pulang!" ajaknya merangkul pundak itu menggiringnya masuk ke dalam mobil.


"Ke apartemen?" tanyanya saat Dafa mulai menjalankan mobilnya keluar dari pelataran rumah sakit.


"Iya lah, aku kan belum punya rumah! Sabar ya semoga kedepannya rejeki aku lebih lancar karena sekarang ada rejeki kamu juga!" Dafa tersenyum ke arah sang istri yang sedang menatapnya dengan mata bengkak.


"Biasa aja liatnya! kagum ya?" godanya


Mentari memukul nya gemas.


"Mas, kenapa dulu kamu lebih pilih apartemen dari pada rumah?" tanyanya memiringkan badan menghadap sang suami.


Dafa terdiam sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


"Mas..." Mentari kembali meminta jawaban.


"Kalo rumah aku kesepian, kalo apartemen kan nggak begitu sepi, mau agak ramai di bawah banyak cafe atau tempat nongkrong, mau olahraga ada tempat gym udah nge gym gerah langsung renang. Atau jalan-jalan di sekitaran apartemen." jawab Dafa sekenanya.


"Tapi aku lebih suka rumah." Gumamnya tapi masih terdengar jelas oleh Dafa.


"Kecil juga biarin asal rumah sendiri, dan kita punya privasi. pengen punya taman kecil buat kita ngobrol intim gitu!" terangnya dengan wajah berbinar.


"Kalo obrolan intim mah di kamar Sun!" Dafa menimpali.


"Mas... bisa nggak sih obrolan kita nggak menjurus ke sana terus!" Rengeknya.


Dafa hanya tertawa menggusar rambutnya.


"Udah halal Sun, bebas lah!" jawabnya.


"Tapi aku masih malu!" Mentari menangkup wajahnya.


"Hilih malu, nanti nyoba sekali jadi nagih loh!" dia menahan senyumnya , tak tahan membayangkan adegan itu yang sudah dia nanti-nanti.


Mentari tak menjawab, dia gugup. "Apa yang akan dia lakukan jika sudah tinggal bersama? apa Dafa akan meminta hak nya sekarang? gimana kalo sakit?" otaknya di penuhi pertanyaan seputar adegan yang kata orang membuat candu.


"Arggghhhh...!" Mentari menjerit.


"Kamu kenapa?" Dafa kaget saat istrinya menjerit.


"Takut, takut di aneh-aneh sama kamu, Mas!" mentari menutup wajahnya yang memerah karena membayangkan adegan-adegan aneh yang akan suaminya lakuin.


Dafa tergelak melihat kepolosan sang istri.


*


*


"Yuk turun," ajaknya.


Mentari turun dan menggandeng lengan lelaki itu.


"Mas, aku nggak bawa baju!" ucapnya.


"Pake baju aku aja!" usulnya.


"Terus yang dalemnya?" tanya Mentari malu-malu.


"Nggak usah pake!" Dafa menahan tawanya


Dan satu Capitan mendarat di pinggang lelaki itu.


"Awwww... Sun, kamu kdrt terus ishh, sakit tau!" Dafa mengerang kesakitan.


"Lagian mulut kamu nggak pake filter, lolos aja kayak jalan tol!" Mentari mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Abis, aku bingung. Udah malem juga, store nya pada udah tutup. Emang kamu mau beli yang ada merek indoapril nya? kalo mau ayo kita beli tuh masih buka." tunjuknya pada sebuah minimarket yang menjamur seantero Indonesia.


"Biarin deh, daripada nggak pake. Keenakan di kamu, Mas!" ujarnya.


"Dih... fitnah ya pasti kamu juga ikut enak, masa iya kamu nggak ikut enak." Dafa kembali menggoda.


"Astaga... Mas, stop ... aku mohon berhenti, mulut sama otak ngomong yang menjurus ke arah itu terus!" Rengeknya kesal, dia tak kuat lagi meladeni ucapan ambigu sang suami.


"Ok, kita praktek ya nggak usah materi terus!" ujar Dafa.


Mentari berlalu ke arah minimarket itu tanpa menjawab perkataan Dafa . dan di buntuti Dafa tentunya.


*


*


Akhirnya mereka tiba di apartemen Dafa, mentari menyimpan barang belanjaan yang tadi dia beli.


Dafa langsung mandi, karena dia tidak mandi dari kemarin.


Mentari membereskan telur, nuget, sosis dan susu ke dalam kulkas. Sedangkan roti dan mie instan dia simpan ke dalam kitchen set di dapur.


Dia tersenyum sekaligus terharu, setelah menyelesaikan tugas pertamanya sebagai seorang istri.


"Sun..." Dafa memeluknya dari belakang.


Aroma mint segar khas dari suaminya itu menguar di Indra penciuman nya.


"Mas, aku masih bau. Aku mandi dulu ya!" ujarnya malu.


Dafa membalikan tubuh istrinya itu.


Menyelipkan poni panjang sang istri kebelakang telinganya.


Dafa mendekat kemudian memagut bibir istrinya itu dengan penuh kelembutan. Tapi lama-lama menjadi lebih liar dan menuntut. tangan nya seperti biasa bergerak kemana-mana mengusap kelembutan kulit milik istrinya itu.


"Mas, aku mandi dulu. Please.. ya!" Mentari memohon.


Dafa mencebik kesal.


"Biarin, mandi nya abis itu aja. aku nggak kuat!" dia merengek untuk kesekian kalinya.


"Nggak kuat terus... tahan sebentar, aku mandi nggak akan lama!" Mentari berlari masuk ke kamar mandi.


Dafa menggerutu kesal lalu berjalan ke arah tv menonton acara pertandingan bola. Kebetulan club favorit nya yang bertanding, mengobati sedikit rasa kesalnya.


...------...


Mentari selesai mandi, dia berjalan ke arah lemari. Dia melihat isi lemari itu, ya standar nya pakaian cowok kaos dan kemeja namun semua kemeja milik suaminya itu kemeja berbahan flanel.


Dia mengintip ke luar, suaminya sedang serius menonton pertandingan bola.


Lalu dia meraih ponselnya, dia mencari di aplikasi pencarian apa saja yang harus di siapkan seorang istri di saat akan melaksanakan malam pertama.


"Luluran, minyak wangi, dandan yang di sukai pasangan, memakai baju yang kurang bahan." dia menggumam membaca artikel itu.


"Aduh, barusan aku hanya mandi ulet singkat banget!" Padahal dia membeli beberapa skincare urgent di minimarket tadi.


Mentari kembali masuk ke kamar mandi berniat mengulang kembali ritual mandinya.


tok..tok..tok...


"Sun... lama banget sih mandinya, katanya tadi sebentar!" Dafa mengetuk pintu untuk ke dua kalinya.


"Bentar Mas, mau yg spesial nggak sih? sabar dong!" jawabnya dengan nada kesal.


"Nggak perlu lah, lama!" Dafa masih setia di depan pintu kamar mandi.


"Mana pake di kunci segala lagi!" protesnya.


Mentari tak menjawab dia masih membalur tubuhnya dengan lulur yang tadi dia beli.


"Sun...ishhh, buka!" pintu itu dia gedor lagi.


"Mas... berisik, bentar lagi !" mentari berucap kesal dari dalam.


Seketika hening....


Dafa kembali ke ruang TV, dan mentari melanjutkan acara perawatan tubuhnya.


Saat dia keluar kamar, sudah semerbak wangi, dia memakai kembali kaos yang baru saja dia pakai lalu memakai kain segitiga nya yang kata sang suami bermerek minimarket itu. Memakai sedikit lipstik dan minyak wangi yang setia selalu ada di dalam tasnya.


"Mas..." dia memanggil suaminya itu yang ada di sofa ruang TV.


tidak ada sahutan, dia pun mendekat.


Dia kecewa, suaminya itu malah tidur.


"Issshhh... aku belain perawatan Ampe tangan aku keriput dingin." gerutunya.


Dia beranjak membuat sesuatu yang hangat.


Tak lama dia membawa sepiring mie instan goreng dengan toping sosis juga segelas susu hangat.


Baru juga duduk di sebelah sang suami membawa piring berisikan mie yang dia buat.

__ADS_1


Dafa terbangun, "Sun... kenapa nggak bangunin aku?" tanyanya sambil menggeliatkan badannya.


Mentari diam sambil mengocek mie yang ada di tangannya.


Dafa melihat bibir mengerucut meniupi mie yang dia pegang.


Lalu dengan sigap mengambil piring itu dan menyimpan nya di meja.


"Mas... aku lapar!" Mentari merengek ketika mie nya di ambil Dafa.


"Aku jauh lebih lapar dari kamu, tapi aku pengen makan kamu!" Dafa kini menarik Mentari ke pangkuannya.


Memagut bibir itu lembut, Mereka saling berbalas, mengecap, berbagi saliva. Mentari mengalungkan tangannya di leher Dafa, sedangkan lelaki itu menahan tengkuk istrinya.


paha putih itu di elusnya, saat mencapai dada. Dafa melepaskan pagutan itu dan menatap sang istri. "Nggak pake kacamata?" tanyanya sambil mere*mat lembut bulatan empuk di depan nya.


Mentari hanya menggeleng malu-malu.


"Kan nggak ada gantinya!" jawabnya lemah karena sudah mulai masuk ke permainan sang suami.


Dafa menyeringai senang, "Asik... enak banget di pegang nya!" Ucapnya kembali mesum.


Dafa menidurkan mentari di sofa itu, mengungkungnya sambil tak melepaskan pautan dan tangan yang semakin liar.


"Mas, nggak di kamar aja?" tanyanya dengan suara semakin seksi di pendengaran Dafa.


"Foreplay di sini dulu, bentar lagi kita ke kamar!" Jawab Dafa dengan suara tak kalah parau.


Saat mereka semakin memperdalam dan semakin terbakar. Suara tombol pascode pintu terdengar.


Mentari dan Dafa sama-sama membola, belum sempat dirinya bangun, seseorang sudah berteriak di ambang pintu.


"Sory... sorry...gue nggak tau lu pulang ke sini!"


Ucap lelaki yang baru datang itu.


Dafa mendengus kesal lalu berbalik menatap sahabatnya dengan kesal.


"Balik badan lu!" perintahnya pada Rijal sang sahabat.


Setelah Rijal membalikkan badannya, seketika Mentari yang tadi bersembunyi di balik tubuh sang suami karena memakai baju yang minim, langsung berlari ke arah kamar.


Dafa mendengus kesal.


"Ngapain lu kesini?" bentaknya .


"Sorry, gue kira lu nggak bakal pulang ke sini! Masa nggak lu bawa ke hotel bintang tujuh gitu." Rijal tertawa melihat raut wajah kesal sang sahabat.


"Cuma mau nyimpen berkas ini, sama mau ngasih tau lu, besok turnamen jam 10 lu udah di Sentul!" ucapnya lagi.


"Anj*ing lu, bisa kali lu kirim pesan!" Gerutunya masih kesal.


"Kan mau nyimpen dokumen-dokumen pernikahan lu yang tadi ketinggalan di rumah pak Aep." ujarnya lagi memberikan buku nikah miliknya yang tertinggal.


"Oh, iya gue sampai lupa!" Dia mengambilnya dan tersenyum melihat buku nikah miliki dan milik Mentari.


"Dah kan? sana lu balik, gue mau traveling! bang*ke lu ganggu aja!" dengusnya kesal sambil mendorong Rijal ke arah Pintu keluar.


Rijal hanya tertawa melihat kegusaran sang sahabat yang terganggu oleh kedatangan nya.


*


*


Saat menutup pintunya, dia langsung mengganti pascode pintu apartemennya.


"Beres, tuh makhluk nggak akan bisa asal masuk ke sini!" ucapnya puas.


"Sun..."


Panggilnya saat masuk ke dalam kamar yang lampunya sudah gelap, menyisakan lampu tidur di meja nakas kiri dan kanan.


"Sun... ayo kita lanjut!" bisiknya kembali menciumi tubuh sang istri yang begitu wangi.


Iyalah lulurannya Ampe keriput tuh mas saking lamanya diem di kamar mandi.


"Astaga... malah tidur!" dia mengusap wajahnya kesal.


Dia coba membangunkan hampir satu jam sampai waktu menunjukkan pukul 12 tapi istrinya itu tetap nyenyak.


"Aduh... lupa gue, dia kan kebo. nggak akan gampang banguninnya!" Ujarnya kesal


Dia ikut masuk ke dalam selimut, memeluk tubuh sang istri dari belakang, membuat tubuh mereka menyatu seperti potongan puzzle yang menemukan pasangan yang klop.


"Malam pertama Gagal...nih!" gerutunya sebelum matanya terpejam sempurna.


Bersambung ❤️❤️❤️


terimakasih yang masih setia baca🙏🙏


semoga suka ya 😘😘🤗🤗


jangan lupa like dan komennya, biar aku bisa ngobrol sama kalian yang komen 🤭🤭


sehat dan bahagia selalu buat kita semua

__ADS_1


__ADS_2