Kisah Mentari

Kisah Mentari
kontraksi


__ADS_3

...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Seorang pria menyambut mereka di ambang pintu. Tangan nya mengalung di bahu seorang wanita cantik bertubuh mungil. Ya, Rijal sudah menanti-nanti momen double date ini.


"Akhirnya... " Dia merangkul Dafa sahabat sedari SMA nya itu.


"Gue kangen ... " ucapnya saat merangkul Dafa.


"Heh, najis. Ada bini2 kita, ntar mereka nyangka nya yang nggak-nggak." Dia mendorong tubuh Rijal.


Kedua wanita itu tertawa sambil, Anita mendekati Mentari. "Udah berapa bulan?" tanyanya sambil mengelus perut besar Mentari.


"Udah bulannya. Tinggal nunggu mules aja." Jawabnya ramah mereka masuk ke dalam cafe di ikuti para suami.


Mereka pun duduk di sebuah sofa nyaman yang saling berhadapan.


"Ayo, pesen apa?" Rijal menyodorkan buku menu sambil tangan nya bergerak mengisyaratkan agar salah satu pegawainya mendekat.


Mentari masih tekun membolak-balikkan daftar menu itu. Dafa masih mengusap-usap pinggang istrinya, perasaannya mengatakan tidak lama lagi bayi mereka akan lahir, di lihat dari gelagat istrinya itu.


"Mau roti bakar keju susu, pizza meat paprika nya, terus minumnya jus mangga tapi jangan pake gula." Ucapnya sambil tersenyum ramah pada pelayan yang memegang pulpen siap mencatat pesanan.


"Kamu, Mas?" Mentari menoleh ke arah suaminya.


"Roti bakar coklat sama ice Capuchino aja." Angguknya pada pelayan itu.


"Kamu apa sayang?" Rijal bertanya pada istrinya.


"Aku pengen mangga aja."


"Mangga? nggak ada loh sayang."


"Kan ada mangga yang buat bikin jus, itu aja potongin." Ucapnya ketus.


"Oh, iya nggak kepikiran." Rijal tertawa garing.


Semua orang menatapnya.


"Be*o lu!" Dafa terkikik melihat sahabat nya yang biasa selalu ngomel sekarang takluk dengan seorang wanita mungil yang dia jadikan istri.


Pesanan mereka pun tak lama datang..


"Mentari begitu lahap dengan makannya."


"Tari, nggak salah? udah abis lagi?" Rijal bengong saat melihat hidangan di meja itu dengan cepat lenyap begitu saja.


"Aku, laper." Mentari tertawa lucu.


Dafa yang takut istrinya itu tersinggung, langsung melotot kan matanya pada Rijal.


"Napa lu?" Rijal bertanya sok polos.


Mentari menoleh ke arah suaminya.


"Nggak, kamu kok nggak marah Rijal ngomong gitu? ke aku aja pasti langsung ngamuk!" Dafa merangkul pinggang Mentari agar lebih mendekat ke arahnya.


"Ya iya lah. Aku kan gini karena kamu, jadi marah lah kalo kamu yang bilang gitu. Kayak yang cuci tangan aja." Ucapnya ketus. Dafa menyeringai serasa di salahkan.


Lalu pandang ngan mereka terarah pada seorang wanita cantik yang berdiri di depan pintu masuk. Dan matanya menyapu ke segala arah, seperti mencari seseorang.


"Oh, itu kayaknya klien aku." Mentari hendak bangun tapi pinggang nya tiba-tiba sakit. Dia meringis memegangi pundak suaminya .


"Kan, yuk ke rumah sakit." Dafa sudah gemas karena istrinya itu seperti memaksakan kuat.


"Iya, abis ini. Kayaknya aku udah mulai pembukaan deh. Waktu Helen juga dulu gini, tapi masih lama pasti, soalnya masih dengan jeda lama." katanya santai, tangannya melambai pada sosok perempuan yang masih diam mematung di ambang pintu.


Mereka mendekat, "Mba Santi?" tanyanya seraya mengulurkan tangannya.


"Iya, aduh maaf saya ngerepotin ya? ternyata hamilnya udah gede banget." Katanya sambil mengusap perut Mentari.


"Nggak apa-apa, sekalian nongkrong sama suami." Tunjuk nya pada arah Dafa yang tengah tersenyum ke arah mereka.


Mentari duduk tak jauh dari meja tempat suaminya duduk.


Saat sedang berbicara soal tema gaun, bahan yang di inginkan, dan lainnya. Seorang pria masuk ke dalam cafe itu.


Dafa membulat kan matanya saat melihat lelaki yang dulu dia tau memiliki rasa terhadap istrinya.


"Anj*ng, mau ngapain dia?" Dafa menegakkan tubuhnya.


Lelaki itu terus mendekat ke arah istrinya.


"Sabar, bro. Liat dulu mungkin cuma nyapa." Rijal mencoba menenangkan nya.


***


"Eh, kak... " Ucap perempuan bernama Santi itu.


"Kak Beni?" Mentari membulatkan matanya tak percaya.


"Apa kabar, Tari?" Dia menunduk untuk menjabat tangan dan tersenyum.


"Nggak bisa ... " Dafa hendak menghampiri namun Rijal menahan tubuhnya.


"Diem dulu, liat pergerakan selanjutnya."


"Ini, calon suami saya." Santi mengenalkan, ternyata sudah saling kenal.


"Mami Nina?" tanyanya.


"Lagi di Paris udah dua bulan,"katanya seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Mentari.


" Keren... " Mentari tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Hamil lagi?" Beni berkata tangannya terulur ke arah perut Mentari.


Mentari tersadar dan segera beringsut, apalagi melihat mata suaminya menatap nya langsung bagaikan ada kembang api yang menyala dalam bola matanya.

__ADS_1


"Eh, iya. Kak." Lalu dia berdiri menghindari Beni.


Mendekat ke meja dimana suaminya sedang menatapnya galak.


"Nggak usah gitu mukanya, ayo ikut aku buat bantuin nyatet ukuran badan calon pengantin." Katanya sambil mengambil tas nya di sofa panjang itu.


Dafa mengekor di belakang nya, tangannya dengan sengaja melingkar di pinggang nya. Menandakan hak milik paten terhadap Mentari.


"Hai ... ini suami saya, Mba belum kenal, tapi kak Beni udah tau." Ujarnya.


Mentari mulai mengukur tubuh Santi, dan dafa siap dengan tablet dan pen nya.


Mentari mengukur dan menyebutkan angka yang langsung di tuliskan Dafa di layar tablet milik istrinya.


Mentari terhenti ketika pinggang nya terasa di remat kuat.


"Kan.. " Dafa berdiri mengusap pinggang istrinya.


"Duh, gimana? saya jadi nggak enak." Santi juga terlihat cemas.


"Pake cream yang dulu aku beliin waktu kamu hamil Helen, Tari." katanya dengan wajah cemas.


Seketika Dafa dan Santi memandang mereka bergantian. Dafa terlihat sangat murka, harga dirinya sebagai seorang suami seakan di langkahi begitu saja oleh Beni.


Mentari yang menyadari situasi itu agak memanas langsung memulai kembali acara ukur mengukur nya, Dia berbisik pada suaminya, "cepet, atau Mas, mau aku lahiran di sini?" ancam nya saat Dafa seolah akan menyerang Beni yang masih memperlihatkan raut kecemasan pada istri orang.


*


*


Rijal terkikik geli melihat perseteruan sengit namun halus di depan matanya.


"Kenapa sih?" Anita yang menatap wajah suaminya yang terus tertawa-tawa kecil lihat ke arah meja Mentari.


"Liat asisten designer seorang advokat galak dan jutek, taluk dan bucin sama istrinya." Dia terkikik saat melihat Dafa mengukur tubuh mantan rivalnya dulu.


"Rival gimana? laki-laki itu pernah suka sama Mentari?" Tanyanya penasaran.


Rijal mengangguk dan mencium pipi istrinya.


"Sana ih, kamu bau karet." Anita mendorong tubuh suaminya.


"Karet...? " Rijal membeo.


"Iya, badan kamu bau karet." Ulang nya sambil menutup hidung.


...***...


Perdebatan itu berlangsung hingga tak sadar Mentari dan Dafa telah kembali duduk di sofa depan mereka.


"Kenapa?" Mentari bertanya.


Rijal bangun dan mendekat ke arah Dafa menarik Kepala sahabatnya itu ke arah lipatan ketiaknya.


"Setan luuu... " Dafa mendorong tubuh sahabatnya itu.


"Nggak ... "


"Tuh, Sayang nggak!"


"Bau, bang*ke." Dafa terbahak.


"Tari ... " Anita menunjuk Mentari.


Dafa menoleh, melihat istrinya memejamkan mata dengan keringat yang bercucuran.


"Sayang ... " Dia panik.


"Udah mulai sakit banget ini, Mas." Dia meringis.


"Ayoo langsung ke dokter." Dafa bangkit dan mengulurkan tangannya.


Mentari masih memejamkan matanya tangannya beralih dari bantal sofa ke tangan suaminya, mencengkram kuat tangan suaminya itu.


"Sebentar, kalo lagi sakit aku nggak bisa gerak." Katanya. Dafa langsung berjongkok di depannya.


"Mana kunci mobil lu? sini gue setirin ke rumah sakit." Rijal meminta kunci mobil Dafa.


"Udah ... ilang sakitnya," Mentari tersenyum ke arah orang-orang di depannya. "Aku mau pipis dulu." Dia berdiri di bantu suaminya, berjalan perlahan ke kamar mandi.


"Aku nggak mau banyak orang, kita aja berdua." terangnya mengingatkan.


Dafa mengangguk sesaat sebelum pintu kamar mandi di tutup tepat di depan wajahnya.


"Ampun, bumil galak." Dia menggelengkan kepalanya.


"Mas ... " Mentari memekik


"Ya ... " Jawabnya panik namun pintu itu terkunci, "pake di kunci segala sih... " Dia mendengus kesal.


Mentari membuka kunci itu, lalu dengan segera Dafa menerobos masuk.


"Udah ada flek nya." Mentari menunjukkan noda kecoklatan di celananya.


"Aduh, ayo cepet. Ke rumah sakit." Dafa ikut meringis dengan sejuta rasa panik dan ketakutan dalam kepalanya.


Dafa yang keluar


Seorang ibu masuk ke dalam kamar mandi yang notabene nya adalah toilet wanita.


"Eh, Mas. Ngapain di sini? ini toilet wanita." Sambar ibu itu.


"Maaf, saya nunggu istri saya." Dafa berkata, mentari melongokan kepalanya ke luar pintu.


"Istri saya, lagi hamil besar Bu. Saya cuma khawatir, takut kenapa-kenapa." Katanya lagi.


Si ibu itu mengangguk seraya masuk, ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Dafa memapah Mentari dengan perlahan, saat melewati wastafel Mentari seketika berhenti, dia menundukkan kepalanya, dia memuntahkan semua isi perutnya. Dafa yang panik mengelus punggung mentari.


"Aduhh ... Sakit lagi " Mentari meringis setelah melap wajahnya sesaat setelah memuntahkan semua isi perutnya. Meremat kuat baju bagian depan suaminya.


"Mas, gendong ya?"


Mentari menunduk menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.


Si ibu tadi keluar dari kamar mandi, dan melihat keadaan Mentari.


"Bawa langsung, Mas. Itu udah muntah-muntah pasti bukan pembukaan itu." omel nya.


"Istri saya nggak bisa gerak Bu!"


"Rangkul dong keluar pelan-pelan, masa gitu aja nggak ngerti!" Si ibu itu mengusap pinggang Mentari dan langsung memapah nya keluar dari kamar mandi tentu saja di bantu oleh Dafa.


...***...


Rijal yang melihat langsung terlonjak berlari ke arah Dafa yang tengah memapah istrinya berjalan.


"Gimana?"


"Udah ada flek, sakitnya juga udah sering. Gue langsung pulang. Tas bini gue tolong Jal." pintanya.


Anita datang dengan tas Mentari di tangannya.


"Ini .... " Dia menyodorkan tas itu.


"Makasih, Mba periksa deh kayaknya Mba Anita hamil." Mentari berkata sambil meringis kecil.


Dan mereka keluar dari cafe.


Rijal dan Anita masih saling pandang tak percaya.


"Cobain test, Yank!" Rijal menyeringai antusias.


"Iya, sana ah. Bau karet." Rijal kembali di dorong menjauh dari istrinya itu.


"Asli, ini mah kamu hamil. Yakin aku, " Rijal berjingkrak mengejar istrinya yang kembali duduk menekuni buah mangga di piring ke dua nya.


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


Di perjalanan.


"Aduhhh .... Nggak kuat, sakit ... "


"Sabar sayang, kita ke dokter langsung."


"Jangan, ke rumah. Dokter Mila telpon dulu suruh dateng ke rumah. Aku nggak kuat... " Mentari meremat tangan Dafa yang sedang mengelus perutnya.


"Kita mastiin dulu."


"Udah pasti ini, aku nggak kuat. Sakitttt ... buruan, aku suruh nelpon doang, bukan aku suruh aneh-aneh." Emosi ibu hamil itu seketika memuncak kalau rasa sakit memacu amarahnya pada sang suami yang dia rasa lelet.


Setelah Dafa menelpon dokter Mila dari ponselnya dan mengirimkan alamat rumah mereka, dia menelpon Intan, menyuruh wanita itu memompa kolam balon itu, lalu mengisinya dengan air hangat.


"Sabar, ya sayang ... bentar lagi nyampe rumah, dokter Mila juga udah otw ke rumah. Aku telpon Bunda ya ?"


"Jangan ... "


Dafa pun mengurungkan niatnya untuk menelpon mertuanya.


Mobil pun tiba di depan rumah mereka, terlihat sebuah mobil sedan merah terparkir di depan rumah mereka.


Dafa memapah Mentari memasuki rumah, yang sudah di sambut Intan, dokter Mila dan seorang wanita berseragam putih, dan kata Dokter Mila dia adalah seorang Bidan.


Mentari masuk ke kamar nya, terlihat kolam karet itu sudah terisi air dan dia langsung di minta menaiki tempat tidur.


"Sudah pembukan 6, hebat masih bisa keluar rumah," Dokter Mila tersenyum ramah menggodanya.


"Dari kapan terasa kontraksi nya?"


"Dari subuh, Dok. Udah sakit cuma nggak intens. Nggak kayak waktu anak pertama." Mentari meringis saat Dokter itu selesai mengecek pembukaan itu,


"Masuk cepet juga ya, jam 10 udah pembukaan 6 aja. Nggak akan lama ini. Bisa masuk ke kolamnya langsung."


"Buka aja semua, nggak akan lama pasti keluar dede nya." titahnya.


Mentari duduk di pinggir tempat tidur Dafa membantu dirinya membuka pakaiannya.


"Mas, ... "


"Iya?"


"Aku, malu kalo lahiran siang. Pengen malem."


"Apaan sih kamu? emang bisa di tahan?" Dafa mendengus kesal. Tak habis pikir dengan ucapan istrinya. " Melahirkan malu kalo siang, pikiran kamu. Astaga ngaco."


Dia memapah Mentari menuju kolam karet di tengah kamar nya menuju kamar mandi.


Baru beberapa langkah saja, mentari merasakan sesuatu mengalir deras di bawah tubuhnya.


"Mas ... "


Dafa mengikuti arah pandang istrinya, "Aduh ... dok ... dokter ... " teriaknya memanggil dokter yang masih di luar memberikan waktu bagi pasangan itu untuk mempersiapkan semua menyambut kelahiran anak mereka.


Dokter Mila masuk ke dalam, "Kenapa? kontraksi lagi?" tanyanya


"Ini dok, " Dafa menunjuk cairan yang menggenang di bawah kaki istrinya.


"Udah pecah ketuban, ayok masuk sebentar lagi ini." Titahnya


Bersambung โคโคโค


Terimakasih๐Ÿ™๐Ÿ™, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.

__ADS_1


Sehat dan bahagia buat semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2