
🌹🌹🌹
Mentari sampai di pelataran Rumah sakit tepat menjelang Magrib.
Dia memasuki gedung rumah sakit, bermaksud ingin menemui Dafa lebih dulu, meminta penjelasan tentang tanda merah yang dia buat.
Saat berbelok menuju lorong arah kamar rawat Dafa, sebuah rangkulan dia dapatkan.
"Kak... ish, aku kaget!" Mentari kaget sekaligus gugup.
"Hehehe.. maaf, kamu mau kemana? ini kan bukan arah ke kamar Abang, mau nengok temen kamu lagi? gue ikut, pengen kenal sama temen kamu selain Cindy!" ucapnya pasti.
Lelaki tinggi tegap itu ingin segera membongkar kebohongan adiknya itu.
"Aduh.... gimana ini? Mati aku..." Mentari sungguh panik, tangannya yang berada di saku cardigan berkeringat. "Mau ngasih tau mas Dafa juga gimana!" Dia terus mengguman dalam hati.
Gelagat panik dapat Bintang lihat dengan jelas dari wajah sang adik.
"Ketangkep sekarang ku dek.." batinnya puas.
"Ini kamarnya?" tanya Bintang basa-basi.
Mentari tak berani menjawab, hanya anggukan ragu yang dia lakukan.
"Ya udah, ketok ayo!" pinta Bintang menantang.
Mentari mengarahkan kepalan tangan nya pada pintu, hendak mengetuk . Namun seorang pria berseragam keluar dari ruangan itu mendorong sebuah troli berisikan alat kebersihan. Ya sepertinya dia seorang OB.
"Eh... maaf, kami mau menjenguk pasien di dalam!" Ucap Bintang ramah.
"Oh.. udah keluar mas, soalnya saya udah di tugaskan buat bersihin ruangan ini!" Jawab pria OB tersebut.
"Pasien nya perempuan atau laki-laki ya?" tanya Bintang masih menyelidik.
"Maaf kalo soal itu saya tidak tau, saya hanya menjalankan tugas untuk membersihkan ruangan saja." Jawabnya.
Mentari memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya dengan rasa lega.
Bintang pun mengangguk, dan OB itupun berlalu pergi.
Bintang menatap Mentari dengan rasa sedikit kesal, karena gagal membongkar kebohongan adiknya. Dia yakin teman yang adiknya maksud adalah seorang laki-laki.
"A..apa kak?" Mentari mencoba tenang.
"Nggak, ayo kita ke kamar Abang!" Ajak Bintang sambil berjalan mendahului. "Sekarang kamu selamat dek, kita tunggu momen terbongkar nya siapa dia!" gerutunya dalam hati.
*
*
Memasuki ruangan rawat Langit. Terlihat seorang suster tengah mengganti cairan infus.
Bintang dan Mentari langsung mendudukkan tubuh mereka di sofa. Menatap ke arah Langit yang sedang mencuri pandang pada suster cantik itu.
"Kak..
"Dek..
Ucap keduanya bersamaan setelah mendapati tatapan langit pada suster itu.
Keduanya pun tertawa, seperti nya mereka se pemikiran.
"Akhirnya si perjaka move on juga dari si Giza tukang selingkuh." bisik Bintang.
Ya langit terakhir pacaran empat tahun lalu, saat dia memutuskan untuk mengikat sang kekasih dalam ikatan pertunangan. Dia mendapati kekasihnya yang sudah hampir dua tahun dia pacari, keluar dari hotel bersama seorang pria.
Dari situ sikap nya dingin terhadap wanita. Rasa kecewa dan sakit hati membawanya menjadi seorang workaholic.
Suster pun selesai dan keluar dari ruangan itu.
"Cie... ada yang curi pandang nih!" Bintang menggoda sang Abang.
"Apa sih lu? datang-datang langsung ngelantur!" Langit kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Jelas terlihat bahwa dia salah tingkah, ternyata adik-adiknya melihat tingkahnya.
Mentari hanya tertawa di sofa sambil memakan anggur yang dia ambil dari wadah buah yang ada di meja.
"Kak.. aku laper!" Mentari merengek.
"Ya udah Sono beli , gue nitip nasi Padang ya! yang di sebrang!" Bintang merogoh dompetnya.
"Nih.." mengulurkan uang seratus ribu.
Mentari pun bangkit dan segera menerima uang itu, berlalu menuju rumah makan Padang yang terletak di sebrang rumah sakit itu.
*
*
"Udah keluar bang.. cowok itu udah pulang, tadi gue ke kamarnya."
"Yakin dia cowok?" tanya Langit.
"Lah masa cewek kaosnya, kayak buat club motor." Terangnya, dia melihat sendiri kaos2 yang ada di lemari itu. Kaos anak motor.
"Ayah pulang sekarang, udah di jalan. Jangan sampai dia tau ulah Chaca." Langit sangat takut adiknya itu akan dapat masalah.
Bintang pun mengangguk paham.
*
*
Mentari sedang berjalan di melewati parkiran mobil yang berjejer rapi. Sebuah tangan menariknya.
"Aww..." Mentari teriak karena kaget, namun saat tau siapa orang yang menariknya dia langsung memukuli nya.
"Mas.. ishh, seneng bener bikin jantung aku olahraga." gerutunya kesal.
Dafa hanya tersenyum dan membuka pintu mobilnya menyuruh kekasihnya itu untuk masuk, kemudian dia memutari mobil dan ikut masuk.
"Kok, di jok belakang?" tanya Mentari polos.
"Mas, kapan keluar? bukannya besok ya?" Mentari kembali bertanya.
"Iya, kamu tau nggak pagi waktu aku ke kafetaria buat ngopi. Bintang ke kamar aku!"
"Untung aku nggak ada di sana, pas aku mau balik ke kamar. aku liat dia keluar dari kamar rawat aku!" Timpalnya lagi.
Mentari semakin panik, berarti kakaknya memang sudah menaruh curiga. Dan bermaksud mengorek informasi.
"Barusan juga, pas aku mau ke kamar Mas, dia sengaja ngikutin aku. Untung OB yang keluar bilang Mas udah keluar." Terangnya.
"Aku takut ketahuan, pacaran pertama tapi malah backstreet!" Gumamnya menghela nafas sembari merebahkan punggungnya di jok mobil milik sang kekasih.
"Terang-terangan juga aku Ok!" tantang Dafa.
Mentari menatap dengan jengah "Itu mah aku cari mati sama Ayah!" ucapnya kesal.
Dafa hanya tertawa terbahak-bahak, dia pun sebenarnya tidak siap untuk berhadapan langsung dengan ayah dari kekasihnya itu.
"Eh iya kamu mau apa tadi? nyamperin ke kamar aku? kangen ya?" godanya.
Mentari merasa malu kemudian dia memukul dada Dafa.
Dengan refleks Dafa memegang tangan itu. pandangan mereka bertemu saling mengunci.
"Duh.. perasaan ini, dateng lagi!" Batin Mentari.
Dafa mendekatkan wajahnya, tangannya yang memegang tangan Mentari berpindah ke leher gadis cantik di depannya. Meraih tengkuknya supaya mendekat.
Pautan pun kembali terjadi, saling menyesap dan me*lu*mat. sekarang Mentari semakin mahir untuk membalas cum*bu*an yang Dafa berikan.
"Sebel.. kenapa sih nih otak Ama badan aku nggak bisa sinkron, menolak tapi menikmati!" Batinnya di sela cum*bu*an Dafa yang semakin liar dan menuntut.
Pautan itu terlepas mata keduanya sudah sama-sama berkabut gai*rah. Dafa kembali menyesap benda kenyal milik Mentari.
__ADS_1
Dua insan itu begitu menikmati kegiatan mereka. Hingga tangan Dafa masuk ke dalam kaos Mentari, mengusap perutnya dengan lembut. Dan sialnya Mentari menikmati itu semu.
grep tangan Dafa menemukan dua gunung kembar milik Mentari. Tangan mentari menahan namun Dafa segera menyingkirkan nya.
"Mas..." Mentari menggelengkan kepalanya.
"Its ok, nggak akan apa-apa, santai aja nikmati kegiatan ini!" Rayu nya.
Pautan itu kembali kini tangan Dafa sudah mulai memijat dan mer*mat benda empuk dan lembut itu.
Suara leng*han saling menyaut dari keduanya.
Aktivitas itu terhenti, deru nafas keduanya semakin cepat.
"Aku minta tolong ya! bantuin aku!" pinta Dafa dengan memelas
"Bantuin apa?" Mentari bertanya.
Dafa menarik tangan Mentari menyentuhkan pada benda miliknya yang sudah mengeras sempurna.
Mentari membola, untuk pertama kalinya dia menyentuh area milik pria.
"Kamu gila mas? a...aku nggak bisa!" mentari terlihat gugup wajahnya panas dan merona karena malu.
"Ya.. dan kamu yang udah bikin aku gila, kamu nggak tau aku dari semalam nahan ini, dan rasanya asli kesiksa banget!" Dafa masih merengek.
Mentari menatap kekasihnya itu. "A..aku harus apa?" tanyanya kikuk.
"Akhirnya." batin Dafa.
"Terserah mau pake tangan atau mulut juga terserah!" Ucap Dafa semangat.
"Apa mulut?" Mentari menjengit dan matanya membola sempurna.
Dafa hanya tersenyum, "terserah kamu." ucapnya kembali.
"Aku, di suruh beli makan sama kak Bintang!" dia mencoba menghindar.
Dafa terlihat marah, matanya yang tajam menatap tak suka pada ucapan Mentari.
"Ya udah sana, aku mau pulang . seharian nunggu kamu di parkiran, bukannya di senengin malah arrrggghh..." jeritnya frustasi.
"Dah sana beli makan, aku mau pulang!" tambahnya lagi.
Mentari yang baru pertama kali melihat Dafa marah menjadi takut. Sebelum Dafa membuka pintu tangannya Mentari tarik hingga dia berbalik.
Kecupan Mentari daratkan pada bibir Dafa sekilas. Dafa tak menyia-nyiakan itu, dia tahan tengkuk Mentari agar tidak melepaskan pautan mereka.
Tangan Dafa kembali menjelajahi gunung kenyal milik Mentari. Malah sekarang kaos coklat berkerah tinggi itu sudah tergulung di dada. Menampilkan pemandangan yang sangat indah, dadanya yang cukup berisi juga putih mulus. Membuat Dafa menelan saliva nya dengan susah payah.
Kecupannya pindah semakin turun ke bawah, memberi sengatan luar biasa indah pada tubuh Mentari.
Dafa menarik tangan mentari untuk menyentuh benda miliknya yang semakin keras dan membuatnya tak tahan.
"Ini nggak akan lama!" bisiknya dengan suara parau.
Mentari hanya memejamkan mata dengan apa yang kini sedang dia rasakan dan lakukan.
kain renda yang menutupi benda kenyal dan padat itu tertarik, menyembulkan sesuatu yang indah. Dafa dengan tak tau malunya dengan cepat menghisapnya seperti bayi yang kehausan.
Mentari menegang, dia merasa tak karuan rasa ini terlalu nikmat. Pengalaman gilanya yang baru dia rasakan membuatnya seperti ingin berteriak kencang dia seperti terbawa terbang ke langit, begitu indah pikirnya.
Dafa menghentikan aktivitas nya, menatap Mentari yang juga sudah terlihat sayu terbawa suasana panas itu.
"Giliran kamu sun, aku udah nggak tahan!" Dafa merebahkan punggungnya dan mengeluarkan miliknya.
lagi-lagi mentari menatap kaget. Untuk pertama kalinya dia melihat milik lelaki dewasa.
Dengan ragu Mentari mendekat ke arah Benda yang sudah tegak itu.
"Gila... lu udah gila !" batinnya berteriak kencang namun tubuhnya semakin mendekat
**bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1
makasih yang sudah mampir 🙏, tinggalkan jejak kalian, like komen dan saran aku tunggu ya😘😘😘.
terimakasih banyak sehat dan bahagai selalu untuk kita semua❤️❤️❤️**