
🥀🥀🥀
Abang... "
Mentari berlari ke arah dimana kakak tertuanya berdiri terpaku dengan raut wajah yang belum bisa Mentari artikan.
Yang jelas dia ingin memeluk tubuh yang selama tiga bulan ini tak dia jumpai, dan hanya membayang di pelupuk mata.
Langit menatap nya dengan tatapan sendu...
"Dek...
Gumamnya.
Mentari menabrakkan tubuhnya pada dada Langit.
" Aku kangen, abanggggg... " jerit nya terendam di dalam dada sang kakak.
Pelukan itu semakin erat dan isak tangis wanita berlesung pipi itu semakin kencang.
Langit yang kaget mematung akhirnya membalas dan mengusap punggung itu dengan lembut.
Kepalanya menunduk mengecup puncak kepala sang adik kesayangannya.
"Kamu, Sehat dek?" akhirnya sebuah kalimat terlontar dari bibirnya, setelah terakhir berkomunikasi setelah Ayah masuk rumah sakit, sesaat setelah menjadi wali di pernikahan yang memalukan menurut mereka.
Mentari mendongak dan menatap wajah sang kakak. "Aku sehat, Bang... kalian? " Mentari berbalik bertanya.
Langit menggiring nya untuk duduk di deretan kursi yang berada di sekitar mereka.
"Abang dan Bintang sehat, Ayah baru menjalankan operasi jantung yang ke dua, karena yang pertama hasilnya kurang memuaskan. Ayah terlalu kecewa dek, sedih pisah dari kamu. Membuat kondisinya semakin buruk." Langit menjelaskan.
Mentari yang duduk masih dengan memeluk tubuh kakak nya, hanya mampu terisak dan rasa bersalah semakin terasa menyakitkan.
Kenapa sakit seperti ini? apa aku menyesal?gumamnya.
"Maafin Chaca, Bang... " ucapnya masih terisak.
"Kata ayah kamu adalah berlian, kamu adalah cahaya di keluarga kita. Betul itu Cha, setelah kamu tidak ada keluarga kita hanya menyisakan tiga laki-laki yang kaku, dingin tanpa ada canda tawa dari kamu rasanya ada yang kurang, ada yang tertinggal, di hati kami ada yang kosong." Langit terus membeo.
Mentari tak bisa berkata apa-apa, demi apapun dia ingin kembali ke pada keluarga nya, tapi dia juga tetap ingin bersama Dafa suaminya.
"Kami selalu menanti kepulangan kamu, dek. Tapi tanpa lelaki itu."
Kalimat itu serasa mencengkram kuat hati Mentari, sakit...terus mendapatkan penolakan terhadap suaminya.
"Bang...
Mentari ingin menjelaskan semuanya, semua tentang Dafa suaminya, rasanya tidak adil jika semuanya mengira Dafa lelaki brengsek. Padahal tidak seperti itu, malah di balik itu suaminya lelaki baik sangat baik.
" Abang harus segera masuk pesawat, sebentar lagi
take off." Langit bangkit seolah menghindari pembelaan dan alasan Mentari.
"Sebentar, abang... apa boleh aku jenguk Ayah?" tanyanya ragu.
"Seperti yang abang katakan tadi, kami selalu menantikan kepulangan kamu. Tanpa dia." Lagi-lagi kalimat penolakan yang Langit ucapkan.
"Kami sayang kamu, kami tempat pulang kamu." Langit mencium puncak kepala adiknya sebelum melangkah menjauh.
Mentari mematung, tubuhnya lemas. Kini dirinya seolah memegang pisau yang kedua sisinya tajam.
Jadi bagian mana pun yang dia pilih sama-sama melukai.
Mentari menangis terduduk di tempat nya tadi.
Cindy yang sedari tadi menyaksikan pertemuan adik kakak itu, langsung berlari mendekat saat melihat Mentari menangis semakin kencang.
Wanita berambut sebahu itu langsung memeluknya, menenangkan sahabatnya itu. "Kita pulang ya.. " Ajaknya.
"Mang Unang, pulang aja. Saya mau ke suatu tempat dulu. Makasih udah anterin kita." ucapnya masih terisak di pundak Cindy.
Mang Unang mengangguk sebenarnya dia masih ingin menjaga neng kecilnya, tapi melihat kondisi Mentari, tidak mungkin dia memaksakan kehendaknya.
"Mau di sini dulu." Rengeknya pada Cindy.
__ADS_1
Cindy mengangguk dan masih mengusap punggung sahabatnya itu.
"Kita ngopi di sana yuk? biasanya kamu kalau mumet suka ngopi." tunjuk nya pada sebuah cafe tak jauh dari mereka duduk.
*
*
Sudah hampir tiga jam mereka duduk di cafe itu, hari sudah menunjukan pukul tiga sore.
Mentari hanya memesan secangkir kopi kesukaannya, sementara Cindy yang merasa malu jika hanya memesan minum dan memang dia juga lapar memesan beberapa menu makan dan cemilan yang cukup berat.
Menunggu sahabatnya yang terus menangis, melamun, dan menelungkupkan wajahnya di atas meja cafe, cukup melelahkan tapi tidak mungkin juga dia tinggalkan.
Mentari merasakan tubuhnya makin terasa tidak enak, perutnya seolah di aduk-aduk dan kepala nya semakin berat.
"Mau kemana?" tanya Cindy saat melihat Mentari berdiri dan menutup mulutnya.
Mentari berlari ke arah toilet.
"Huwekk.. huwekk.. " Dia memuntahkan isi perutnya yang tak seberapa karena memang dia hanya memakan roti dan kopi yang dia pesan tadi.
Mentari meringis, seketika jongkok karena tubuhnya semakin lemas, perut dan kepala nya sakit.
*
*
Di meja Cindy sedang duduk menunggu Mentari yang sudah hampir sepuluh menit tapi belum juga keluar dari kamar mandi.
Saat dirinya hendak menyusul ke toilet,
Ponsel Cindy berbunyi, dia melihat siapa panggilan yang masuk itu.
"Mampus... Kak Dafa, gue harus jawab apa?" dia bermonolog.
"Ya... kak!" jawabnya takut.
"Kamu, sama Mentari?" tanya Dafa di sebrang sana.
"Hah.. kalian di Bandara? ngapain?" tanyanya panik.
"Ceritanya panjang kak, kalo bisa aku minta kakak jemput, kasian Mentari dari tadi nangis terus." ucapnya.
"Sekarang dia di dekat kamu?" Dafa semakin panik.
"Lagi di toilet kak, tapi sudah sepuluh menit belum juga keluar, tadi wajahnya pucat sekali." terangnya.
"Kita tunggu di cafe xxx." tambahnya lagi.
Panggilan pun berakhir, Cindy yang akan melihat Mentari namun keburu sahabatnya itu keluar dan berjalan lemas ke arahnya.
"Tar, lu pucet banget? mau pulang?" Tanyanya cemas saat mentari sudah duduk di depannya.
Mentari menggeleng dan tangannya terangkat memanggil seorang pelayan.
"Mba, saya pesen jus mangga ya tapi jangan pake gula." Pesannya pada seorang pelayan.
Cindy hanya memperhatikan tingkah sahabatnya itu.
Mentari menyesap jus mangganya itu dengan wajah berbinar, "Seger..." wajahnya memaksakan senyum walaupun mata sembab nya tak bisa di tutupi.
Cindy yang penasaran dengan rasa mangga tanpa gula itu mencicipi sedikit, dan matanya menjengit.
"Asemmm... " Lidahnya menjulur.
"Seger tau," kemudian menyeruput nya dengan kuat sampai sedotan nya berbunyi nyaring menandakan si juss di dalam gelas sudah habis.
Mentari kembali terdiam,dirinya kembali di liputi rasa galau cemas dan serba salah. Seketika perutnya kembali bergejolak dia bangun dan langsung berlari ke arah kamar mandi lagi.
"Ck... " Cindy tersenyum ke arah Mentari yang sedang berlari ke arah toilet dengan menangkup mulutnya.
*
*
__ADS_1
Tak lama Dafa tiba dengan tergesa-gesa, masuk ke cafe itu dengan celingukan.
"Cindy?" panggilnya
Cindy menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Matanya membola sempurna mulutnya ternganga melihat penampilan Dafa yang jauh berbeda dari yang dia lihat pagi tadi.
Dafa datang dengan plester di pelipis dan hidung, matanya sebelah bengkak sebelah lagi memar membiru.
"Mana Mentari?" Tanyanya yang kini sudah berdiri di samping meja mereka.
"Di toilet kak?"Cindy masih menatap takut dan ngilu sendiri melihat wajah Dafa yang babak belur.
" Dari tadi?" setengah berteriak.
"Baru aja kak!"
"Masss... " Mentari memanggilnya dari arah belakang dirinya.
Dafa menoleh kebelakang.
"Astaga.... Kenapa kesini? bukannya istirahat." mentari berlari ke arahnya dan mengusap luka-luka di wajahnya.
"Nggak apa-apa, aku malah cemas sama kamu." dafa mengelus wajah istrinya yang sembab.
Mentari menutup matanya saat dafa mengecup keningnya. Banyak pasang mata memandang ke arah mereka, bagaimana tidak sepasang manusia yang satu babak belur yang satu berwajah sembab sedang bermesraan di ruang publik .
"Ekhmmm... ruang umum nih, asemmm. Mata ku terus nonton live drama romantis." Cindy menyindir mereka.
Mereka tertawa bersamaan dan melihat ke sekeliling yang memang beberapa orang tengah tersenyum melihat ke uwuw an mereka.
"Sakit?" tanya Mentari setelah mereka duduk.
"Aduh... si ibu satu ini, masa iya babak belur nggak sakit. Pertanyaan bu tolong di benahi... " Cindy kembali merecoki percakapan mereka.
Mentari menoleh dan menatap jengah sahabatnya.
"Aku menang Sun!" ucap Dafa sambil membenahi rambut Mentari yang terurai ke belakang telinganya.
Mentari mengangguk dan tersenyum "Hebat... Suamiku keren." Mentari mengecup pipi Dafa dan berbisik "Nanti malem aku kasih hadiah." Ucapnya sambil terkekeh geli dengan ucapanya sendiri.
"Ahhh... kamu Sun, tuh si Lukman dah nungguin aku buat menyuntik obat tidur. Kamu mau prasmanan aja?"
Cindy yang mendengar kata prasmanan di dalam otaknya langsung tertuju makanan.
"Prasmanan di mana? aku ikut, tar.. " Ucapnya antusias.
Dafa dan Mentari saling pandang dan tertawa terbahak-bahak.
"Lah... ada yang salah?" Cindy bingung.
"Dah, kita pulang aja. Dia mah nggak akan ngerti." Dengan wajah sombongnya Mentari berdiri menarik lengan Dafa.
"Pulang Sendiri, nggak apa-apa? " Dafa berkata.
"Nggak apa-apa kak! kalian butuh istirahat cukup." Jawabnya seraya mengibaskan tangannya pada pasangan itu.
"Buat bayar makan, sama ongkos kamu pulang." Dafa memberikan berlembar-lembar uang pecahan seratus ribu.
"Banyak banget kak, nggak apa-apa. Makasih udah mau jagain mentari." Dafa berucap sambil mengejar Mentari yang sudah berjalan keluar cafe.
*
*
Mentari mengusap air matanya berkali-kali di dalam mobil, tanpa dia sadar sedari tadi suaminya itu memperhatikan dirinya.
Dafa tidak tau apa yang terjadi, rasanya kurang pas kalau sekarang dia bertanya. Rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya membuat dia takut terpancing emosi.
Mereka saling diam di dalam mobil itu, saling tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏, semoga suka 🥰🥰, like komen nya di tunggu ya😘😘.
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤❤