
💔💔💔
"Itu Daf ... BMW X5 putih, iya... kayaknya itu." Rijal berucap sambil menunjuk sebuah mobil yang terhalang oleh empat mobil di depannya.
"Anjirr... tuh mobil depan lelet banget." Dafa mendengus kesal.
"Nggak usah nyalip, di sini daerah mobil gede semua_"
"Gue harus bisa jelasin semua, pengen meluk dia dan sujud minta maaf." lirihnya air mata menetes mengiringi rasa penyesalan dan rasa rindu yang memenuhi jiwa raganya.
"Daf... Awas, trukkkk..... " Rijal histeris
Chhhhhhhhhiiiiiiittttttttt.....
"Astagaaa.... " Mereka berucap bersamaan, Saat Dafa menginjak rem di waktu yang tepat, dan truk yang berada di arah berlawanan juga ikut berhenti secara bersamaan.
Bahkan Rijal sudah memejamkan mata dengan tangan menelungkup melindungi kepalanya.
"Ahhh... selamet." Rijal mengelus dadanya yang jantung di dalamnya seakan jatuh ke dasar perut.
klakson keras memekakkan telinga terdengar sangat jelas, jendela truk itu terbuka, seorang supir dengan hanya memakai kaos singlet memaki Dafa yang duduk di balik kemudi.
"Hati-hati, lu nyari mati? kalo mau mati jangan ngajak-ngajak. Anak gue empat, lu mau ngasih makan emang kalo gue ampe mati." makinya dari balik jendela.
"Lah, dia yang demen bikin anak kita yang di suruh ngempanin." Dafa mendengus kasar.
Rijal menurunkan jendela di sebelah Dafa, lalu berteriak. "Maaf ya Bang! silahkan jalan kembali." Angguknya sopan.
"Ngapain lu minta maaf? kan bukan salah kita sepenuhnya." Dafa menatap sahabatnya itu.
Dafa kembali melakukan mobilnya kembali , setelah dia rasa mobilnya siap kembali di kemudikan.
"Sambil liat-liat, Jal... kemana tuh mobil beloknya." Dafa mengemudi dengan kepala yang bergerak ke kiri kanan secara bergantian.
"Dia udah sama cowok bule loh... " Rijal berucap menunggu reaksi sahabatnya itu.
"Kagak peduli gue, yang penting ketemu dulu ama bini gue, baru gue tonjok si bule itu. Beraninya main rangkul istri orang." Sungutnya.
Rijal menahan tawanya dia sudah hapal benar dengan tingkat emosi sahabatnya yang di luar batas normal.
...~~~...
Mentari tengah tersenyum menatap ponselnya.
"Sayang... Kenapa?" Tanya Bunda Rima pada Putri nya.
Senyum semakin kentara terlihat di bibir sang putri.
"Bun, aku baru nyalain lagi ponsel setelah sekian lama. Aku ngehubungin Cindy sahabat aku sekaligus dia karyawan di market Ayah."
"Lalu?" wanita paruh baya itu ikut mendudukan tubuhnya di dekat sang putri.
"Dia nangis, katanya nggak bisa tidur nggak enak makan mikirin aku yang kabur. Emangnya aku pacarnya apa." Mentari terkikik-kikik membayangkan raut wajah Cindy yang tadi merengek di sambungan telepon.
"Artinya dia memang sahabat sejati, menghawatirkan keadaan kita, merasa cemas dan tak tenang. Beruntung kamu punya sahabat seperti itu." Di elusnya perut Mentari, "Udah ketauan jenis kelamin calon cucu Bunda?" Tanyanya penasaran.
Mentari mengangguk, "Kata dokter kemungkinan perempuan, Bun." Mentari ikut mengelus perut yang dia rasakan ada pergerakan kecil di sana.
"Kamu, Mau ikut Bunda ke Australia?"
"Hah...! Aku ikut Bunda pindah ke sana?" Tanyanya
Bunda Rima mengangguk pasti.
Mentari bingung, di lain sisi dia ingin menghindari Dafa sekaligus dia ingin Dafa berhasil menemukannya. Pikiran yang gila menurut nya.
Terlalu kecewa tapi terlalu kuat juga cinta yang dia rasakan untuk Dafa. Dia ingin Dafa datang membujuknya, meminta maaf dan berjanji tidak akan membuatnya kecewa lagi. Ingin hidup bahagia bersama calon buah hati mereka.
"Kamu masih berat dengan suami kamu?"
"Bukan... bukan gitu Bun, aku ingin kembali ngasih kesempatan tapi ingin ngasih dia sedikit pelajaran tentang arti sebuah cinta." Jelasnya.
__ADS_1
"Lalu, sekarang kamu?" Bunda memindai wajah cantik putri nya itu.
"Aku ikut Bunda, tapi kita ketemu dulu sama Abang dan kakak ya Bun. Aku udah titip pesan sama Cindy katanya besok jadwal Abang ke market. Dan dia udah kirim pesan ke Abang supaya dateng bersama kakak. Kita bakal ketemu di sana, sebuah keluarga lengkap." Ujarnya dengan sangat antusias.
"Ayah? Bunda nggak yakin Ayah bakal mau ketemu sama Bunda lagi." Ujarnya lirih.
Mentari menepuk kening nya keras, "Aku lupa bilang sama Bunda, Ayah lagi menjalani pengobatan jantung di Singapura." kemudian dia menunduk, "Dan itu semua gara-gara aku Bun!" ucap mentari menyesal.
Bunda Rima mengusap lembut bahu Mentari.
"Kita doakan semoga Ayah cepat sembuh, nggak ada yang harus di salahkan. Semua Bunda yakin, ini udah takdir yang harus keluarga kita lalui." kata-kata Bunda seperti angin segar di hati Mentari.
Mentari menghamburkan pelukannya, "Aku mau ikut Bunda ke Australia, tapi hanya untuk liburan dan memenangkan hati. Menjelang lahiran aku mau di sini ya Bun?" Ucapnya.
"Ok, apapun mau kamu sayang, Bunda turutin selama Bunda bisa." kemudian mengecup puncak kepala anak gadisnya yang sudah tidak gadis lagi🤭.
"Istirahat sana... Bunda mau ngobrol sama Mami kamu." Titahnya.
"Iya, Bun mau bersih-bersih dulu."
"Hati-hati di kamar mandi nya. Bunda keluar ya." Pamitnya.
*
*
Malam pun semakin larut, Mentari selesai berseluncur di dunia Maya, hanya mengecek pesan-pesan yang masuk dan melihat beberapa upload orang-orang yang dia kenal, termaksud Dafa suaminya.
Mentari tersenyum miris ketika melihat beberapa kalimat yang suaminya itu ketik dan di upload di akun media sosial nya.
"Bener gitu kamu kangen aku? Kamu bahkan belum berhasil nemuin aku, usaha kamu belum maksimal kalo belum bisa nemuin aku. Aku udah maafin kamu tapi aku mau kamu merasa kesiksa dulu sama rasa bersalah kamu. Mas, itupun kalo kamu bener-bener masih ada niat untuk balik lagi sama aku." Gumamnya.
Walaupun dia mendengar dari cerita Cindy kalau Dafa sempat mencarinya, tepat di hari dia pendarahan dan kabur bersama Mami Nina. Tapi dia merasa Dafa belum benar-benar mencarinya.
"Usaha kamu belum maksimal, Mas." Katanya sambil perlahan memejamkan mata.
"Mas...
Terlihat di depannya Dafa tengah mematung berdiri menatap nya.
" Kamu... kenapa? kenapa kamu pergi ninggalin aku? mau nge hukum aku gitu? kalo itu tujuan kamu. Selamat aku acungin jempol, kamu berhasil buat aku terpuruk hancur." ucapnya sambil jalan mendekati nya.
Mentari hanya terdiam melihat sorot mata Dafa yang di penuhi amarah, dia hanya memegang perut nya, takut... sudah pasti, dia tau betul jika Dafa meluapkan amarah nya akan selalu mengerikan apa.
"Mas...
" Apa? kamu mau pembelaan apa lagi?"
Ucapnya sinis.
"Bukan... a.. aku cuma mau bilang...
__ADS_1
***Cup***... bibir hangat itu menempel di bibir nya.
"Aku kangen kamu, Sun... please jangan tinggalin aku. Kembali... maafin aku, aku bakal berubah." Lirihnya saat kecupan itu terlepas dan kening mereka saling menempel.
"Jangan, jauhkan aku dari anak kita. Aku ayahnya kan? kamu mau misahin kita gitu?" tanyanya setengah berbisik.
Tangannya mengusap perutnya, lalu sebelah lagi mengusap punggung nya.
Mentari memejamkan mata, sungguh tidak munafik dia sangat Rindu sentuhan suaminya itu.
Hormon kehamilan membuatnya selalu ingin melakukan adegan *itu* bersama Dafa. Namun di awal-awal kehamilannya justru suaminya itu sering menghindari nya dan terkesan ketus.
"Aku juga, kangen kamu. Mas." Ucapnya saat tatapan itu kembali saling mengunci.
"See... kamu juga kan? terus kenapa kamu mau menjauh, kalau kamu juga sama besarnya menginginkan aku." Dafa berkata sedikit menyindir nya.
Mentari menunduk, malu tapi juga kesal. Suaminya itu masih dengan gaya frontal dan sok menang sendiri. "Kamu, Mas nggak pernah peka." Ucapnya ketus, lalu memukul-mukul dada Dafa dan setetes air mata lolos mewakilkan rasa rindu dan kesal yang akhirnya bisa dia ungkapan.
"Maaf, Maafin aku... " kemudian bibir itu saling menempel deru nafas hangat saling menyapu di wajah mereka.
"Aku kangen... pengen!" Dafa tersenyum dengan seringai mesum seperti biasa.
Mentari hanya terkekeh lucu melihat kelakuan Dafa yang akhir-akhir ini dia rindukan.
"Ya, boleh kan." Lelaki itu kembali menyusupkan tangannya pada tengkuk istrinya, menarik nya perlahan dan kembali mengecupi setiap inci wajahnya.
"Kangen banget... " lirihnya
Mentari hanya mengangguk pelan sambil mengatupkan mulutnya menahan tawa, akan pembicaraan konyol antara mereka.
"Yuk...
Lalu Dafa mengusap perut Mentari yang terdapat calon buah hati mereka, " Ayah kangen... pengen nengok kamu."Lalu mengecup perut buncit itu.
**Bersambung ❤❤❤**
**terimakasih yang sudah mampir baca🙏🙏, semoga suka🥰🥰 like komen ya jangan lupa😘😘**
__ADS_1
**Semoga kita selalu sehat dan bahagia terus ❤❤**