
❤❤❤
Siang itu ...
Dafa yang baru selesai mandi kemudian makan makanan yang dia pesan tadi.
Sendiri menikmati kwetiau goreng di meja makan. Sunyi sepi keadaan rumah itu, hanya terdengar suara kucuran air kolam ikan.
"Sepi... bener." Kemudian dia menyalakan TV dari ponsel yang dia set menjadi remot TV. Mode mager.
Dafa menonton TV dari arah meja makan, sebuah ftv percintaan di salah satu chanel.
Dia tertawa geli melihat pemerannya yang alay.
"Dih, lebay... " Cibir nya sambil berjalan ke arah bak cuci piring menyimpan gelas dan piring yang telah selesai dia pakai.
Lalu terdengar soundtrack ftv itu mengumandangkan lagu yang serasa menyindir nya.
Mamamamama mau makan mau minum bikin sendiri
Cuci baju celana nyetrika pun sendiri
Apalagi bila tanggal tua mendekati
Aku bagai bujangan yang tak punya istri
Nasib memang nasib jadi begini
Semuanya apa-apa ku lakukan sendiri
Lama-lama mumet juga eh kalo begini
Bisa talak tilu talak tilu
"Asemmm... tuh lagu. Nyindir gue banget." Gerutunya sambil menyimpan piring yang baru saja dia bilas, bersih dari sabun.
Dafa berjalan ke arah TV, langsung memindahkan chanel ftv yang sedang mendendangkan lagu ynag merasa menyindir keadaannya.
"Nah, Berita aja." Dia tersenyum lalu kembali ke dapur rencana ingin membuat kopi.
Pemirsa satu kasus terjadi,
Seorang istri di Bandung, melaporkan suaminya karena kasus KDRT dan menyebabkan kandungan nya keguguran.
Hal yang sama terjadi. Di daerah Bekasi seorang istri meninggalkan suaminya karena kasus yang sama yakni KDRT.
Dafa berdecak, lalu menghampiri remot. "Lu gibahin rumah tangga orang." Sungut nya pada pembawa acara berita tersebut. TV pun Dafa matikan.
Dia menyesap kopinya duduk di sofa menghadap sebuah TV besar yang dia matikan tadi karena dia selalu merasa tersindir dengan acara TV maupun berita di hari itu.
Dafa membuka media sosial miliknya, mencari akun milik istrinya namun nihil terakhir di buka tiga bulan lalu. Lalu dia menemukan akun Langit yang tak lain adalah kakak iparnya.
Langit memposting foto bayi, bertuliskan
Welcome my Princess ❤❤❤.
"Bayi siapa ini? kapan dia nikah?" Gumamnya mengernyitkan dahi nya sambil menatap lekat foto bayi itu.
"Ughh... Sun, kalo saja itu tidak terjadi mungkin beberapa minggu lagi kita akan menjadi orang tua." lirihnya lagi.
Dafa yang lelah juga kenyang merebahkan tubuhnya di sofa, tangan nya masih memegang ponsel. Kopi yang dia minum pun tak ber efek apapun. Dia pun tertidur di atas sofa.
*
*
"Ughhh... gemesin."
"Lucu banget ya!"
__ADS_1
Orang-orang di ruangan rawat Mentari sedang menatap takjub pada bayi mungil itu, yang baru saja selesai pengambilan foto shoot dari pelayanan rumah sakit itu.
"Makin canggih dan gemesin ya, anak bayi bisa di macem-macem in." Ayah berujar masih takjub melihat cucu pertamanya begitu lucu dalam pose yang begitu menggemaskan.
"Aku pengen gigit." Bunda yang berdiri di sebelah suaminya itu berujar.
"Bun... udah lama, kita... " Bisik Ayah.
"Apa, ih... Ayah?" Bunda menyikut perut suaminya itu.
Bintang yang berdiri tak jauh dari kedua orang tuanya, mendengar ucapan bisik-bisik itu.
"Kalah telak, aduh batin ku mau di taro di mana?" Bintang mundur perlahan memegangi dada nya mendramatisir rasa sedihnya.
"Kenapa lu?" Langit yang ikut memfoto keponakannya itu langsung menghampiri Bintang.
"Gue takut, Bang!"
"Takut apa?"
"Takut punya adek lagi."
"Jangan gila lu!" Langit yang baru selesai mengupload foto keponakannya itu menoyor kepala sang adik.
"Barusan Ayah, kodein Bunda. Udah lama katanya! Udah lama apa coba? pasti nih... pasti mau ngadon."
"Masih bisa emang mereka?" Bintang berbisik.
"Geblek lu." Langit kembali menumpuk kepala adiknya itu.
"Nggak kebayang gue, di umur segini punya adek." ucapnya lemas, membayangkan dia harus mengurus adik kecilnya.
"Gue jadi pengen ngadon, masa iya kalah sama yang tua." Cicitnya.
"Alesan lu, bukannya sering?" Langit menoleh padanya.
"Abang, walaupun gue mesum dan slengean. Aslinya gue ini perjaka." Bangganya.
"Nggak pernah main?" Jari Langit membentuk tanda kutip di atas kepala.
"Kagak Bang, sama almarhum Ayu juga kagak pernah main. Paling di mimpi sama sabun doang." terangnya.
"Sama aja gembel."
"Beda lah, dulu ampir sih, helm udah mau masuk. Tapi keburu sadar kalo udah terperosok ntar takut susah naik lagi ke permukaan." Ucapnya terbahak.
"Gila, dasar emang gila lu." Langit tertawa dengan pernyataan adiknya itu.
Mereka pun tertawa, kemudian Ayah dan Bunda pun pamit pulang dengan alasan ingin istirahat.
"Dih, mau istirahat apa ngadon?" sindirnya.
"Ngadon apa? Bunda capek bener, mana sempat ngadon kue!" Terang Bunda polos, dia tak mengerti bahasa ngadon untuk anak jaman sekarang itu apa.
"Yuk, Bun." Ayah merangkul pundak istrinya itu agar segera meninggalkan ruang inap Mentari.
"Yah... pepet terus!"
"Yah... sediain selang oksigen, takut ayah lagi nanjak abis nafas." ucapnya menggoda orang tuanya itu.
"Gila lu, kagak sopan." Langit menepuk kepalanya.
"Lu, mah Bang kalo ngarah pasti pala gue mulu. Pantesan nggak bener-bener nih otak, kek nya kebanyakan kekerasan yang lu lakuin." Bintang mengusap kepalanya.
"Brisik ishhh... anak ku tidur ini."Mentari memarahi kedua kakaknya yang sedari tadi beradu mulut.
*
*
Di rumah Ayah.
__ADS_1
" Bun... "Ayah merengkuh tubuh istrinya itu.
" Udah lama ya?" Bisiknya.
"Masa?" Bunda menggodanya.
"Udah minum pil nya kan Bun?" tanya Ayah.
"Aku takut, Bunda masih dateng bulan walaupun udah nggak beraturan, takut Bunda isi lagi." Tambahnya.
"Iya, nggak kebayang kalo Bunda hamil di umur Mau 52, udah nggak akan sanggup." Saut Bunda.
"Iya, kita tinggal ngemong cucu aja." Ayah menggiring tubuh istrinya itu.
"Bunda masih kayak dulu." tangan lelaki paruh baya itu sambil meremat apa saja yang berhasil dia pegang.
"Ayah juga, masih kayak dulu durasi sebentar tapi tiga kali nambah." Dia terkikik geli.
"Kamu... " Telunjuknya menjawil hidung mungil istrinya.
Saat mereka akan menyatukan kekurangan dan kelebihan, suara dering ponsel terdengar nyaring.
"Astaga... " Ayah kembali menegakan tubuhnya sedikit menjulurkan tangannya ke atas nakas.
"Langit... "
"Jawab, Yah. Takutnya tentang Chaca." Bunda beringsut mengambil selimut menutupi tubuhnya.
"Jangan di tutup." Ayah menahannya.
"Halo, Bang... "
"Ayah...
" Apa Bin? kirain Abang.
"Jangan lupa kunci pintu... Wkwkwkkw."
Telepon pun terputus sepihak.
" Kurang ajar... " Makinya pada orang di seberang sana.
Bunda hanya mengernyit tak mengerti apa yang membuat suaminya marah.
"Waktu kamu hamil Bintang ngidam apa sih Bun? itu anak beda dari yang dua, apa ketuker di rumah sakit? kayaknya kita harus tes DNA. Ayah curiga dia bukan anak kita." Ayah menggerutu sambil menyimpan ponselnya lagi.
"Enak aja, tes DNA. Ayah lupa aku brojol di Bidan sepi, karena megang uang cuma satu juta. Nggak ada pasien selain aku." Bunda bersungut saat suaminya meragukan keaslian DNA siapa Bintang berasal.
"Yah... Bun, dia tidur lagi." Ayah menunduk melihat alat tempur nya tidur kemabali.
"Ya udah nggak jadi."
"Jadi Bun, ayo bantu bangunin. Aku pengen ... "
Ayah menarik lengan istrinya untuk mengusap senjatanya agar bangkit kembali.
"Tuh kan, bangun nya cepet." Ucap ayah menyeringai puas.
Bunda hanya menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya sikap Bintang itu, di turunkan dari suaminya, hanya saja Ayah Gunawan jaim jika di hadapan orang luar, namun jika dengan nya dia akan sangat menyebalkan, narsis, dan mesum. Persis dengan anak ke dua mereka, hanya ini lebih tersembunyi.
"Masuk sekarang ya... " Ayah memejamkan mata saat senjatanya terjerembab masuk ke dalam.
erangan dan suara-suara aneh saling bersauatan dari pasangan pengantin old itu.
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka🥰🥰, maafkan kalo. ada typo dan cerita yang tidak sejalan dengan pemikiran kalian🤭, aku nggak punya sapu buat bersihin otak yang ngeres ini🤣.
Like dan komen jangan lupa ya😘😘🙏🙏.
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤❤