Kisah Mentari

Kisah Mentari
Sama-sama kangen


__ADS_3

❤❤❤


"Kangen... kangen banget, aku pengen ya."


Dafa merangsek semakin mendekap sang istri.


"Ini aku udah berat banget nahan, pegel... " Suaranya semakin parau.


"Apa yang berat?" kekehnya geli.


"Ini nih... " Tunjuk Dafa pada celana yang sudah menggembung.


Mata Mentari membulat sempurna, melihat celana Dafa.


"Kenapa gede banget? Mas... " Mentari memundurkan duduknya sedikit berjarak dari Dafa.


"Kayak biasa kok," Dafa menunduk melihat kepemilikannya.


"Nggak, ishhh... itu gede banget? kamu nggak hernia kan mas?" Mentari semakin beringsut ke belakang hingga punggungnya menempel pada sandaran tempat tidur.


"Apa? kamu bilang apa? ini asliii... kayak biasa, mungkin kelamaan nampung air yang harusnya aku keluarin.


" Nggak... aku nggak mau, kenapa jadi gede banget, Pasti nggak masuk. Aku... nggak mau..." Mentari bangkit dan berjalan menjauh tangannya reflek memang daerah bawahnya saking ngeri membayangkan jika itu masuk pasti akan sakit sekali.


"Ayo, Sun... buruan... cepet, aku udah kangen banget." Dafa ikut berjalan menghampiri.


"Nggak... aku nggak mau Mas, itu kayak bukan yang biasa, aku takut."


"Ini biasa, nanti juga bakalan biasa lagi kalau udah ngeluarin airnya." Dafa terus membujuk.


Kamar itu sedikit ricuh karena kelakuan pasangan itu yang saling kejar.


"Kamu nggak usah teriak, nanti pada kebangun." Dafa terus berusaha mendekat.


"Biarin, Bun... Bundaa... " Mentari malah memanggil Bunda Rima.


"Bunda... aku nggak mau, Mas... stop." Mentari manahan tubuh Dafa yang semakin menempel padanya.


"Nggak... nggak mau... "


...-------...


"Sayang... Sayang, kamu kenapa? Hey... anak Bunda!" Rima menepuk pelan lengan mentari.


Wanita paruh baya yang masih cantik itu, bersiap untuk membuat menu sarapan saat melewati kamar yang di tempati putrinya terdengar suara Mentari yang terdengar ketakutan.


"Cha... sayang! kenapa nak?" kini dia menepuk pelan pipi anaknya.


"Astaga, sampai keringetan gini! sayang, bangun nak, kenapa?" katanya lembut.


Mentari terlonjak kaget, dia menatap wajah Bunda yang ada di depannya. Nafas yang masih menderu dengan wajah yang merah karena mengingat mimpi nya barusan.


"Mimpi apa nak? mimpi serem ya?' tanyanya sambil mengusap wajah anaknya yang merah berkeringat.


" Serem banget Bun...


"Mimpi apa?"


"Binatang buas... " Jawab Mentari, tidak mungkin dia cerita bermimpi di kejar-kejar Dafa dengan sesuatu yang spektakuler besarnya.


"Itu hanya mimpi. Bersih-bersih gih, kita bikin sarapan bareng yuk di bawah. Kita buatin nyonya rumah sarapan istimewa." Ajaknya.


Mentari mengangguk dan kemudian bangkit berjalan ke arah kamar mandi.


"Bunda tunggu di dapur ya!"


"Iya, Bun." Jawabnya di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Mentari masih memegang dadanya, bibirnya menahan senyum masih jelas di kepala nya, Dafa mengejarnya dengan sesuatu buang menggembung sangat besar.


"Astaga, otak aku. Binatang buas."Dia memukul pelan kepalanya lalu terkikik.


Bagaimana bisa, sedangkan dia melarikan diri dari suaminya. "Apa ini ngidam? kenapa beberapa hari ini aku ingetnya itu terus. Ngebayanginnya aja aku udah gelisah, berdenyut. Padahal dulu nggak gini-gini amat." Dia mendengus pasrah.


*


*


Di lain tempat...


Suasana di rumah itu masih temaram, mereka dafa dan Rijal pulang larut malam sekali mencari mobil yang di duga di tumpangi Mentari, namun nihil akibat dia yang hampir menabrak sebuah truk, mereka kehilangan jejak BMW X5 putih itu.


Mereka pulang dengan rasa lelah yang mendera, hingga Rijal memilih tidur di rumah sahabatnya itu.


Dafa tidak langsung tidur dia masih merasa gemas, karena tidak berhasil menemukan istrinya itu. Padahal dia sudah sangat rindu.


Rijal tengah membuat secangkir kopi dan mee rebus mie instan di pagi itu saat dia mendengar suara-suara aneh dari kamar sahabatnya yang berhadapan langsung dengan ruang makan.


"Hhmmm... ughhh... iya, Sun. Uhhhh aku kangen."


Dafa meracau


Rijal menempel kan telinganya pada daun pintu.


"Hah... sama siapa si kunyuk? suaranya kek lagi main odong-odong!"


"Nggak mungkin Mentari pulang kan?" Dia berlari mengintip ke arah teras, masih sama dengan keadaan yang terakhir dia lihat semalam.


"Ama siapa, dia dia di dalem?" Rijal kembali menempel kan telinganya di daun pintu.


Suasana pagi yang hening, memperjelas suara yang Dafa keluarkan.


Rijal mematikan kompor yang sedang dia pakai merebus Mie instan. Miris di dapur seorang anak pengusaha besar dan calon advokat hanya terdapat satu dus mie instan yang tinggal setengah dus saja.


Rijal langsung mengatupkan mulutnya menahan tawanya, dia langsung merogoh saku celana yang dia pakai untuk mengambil ponselnya.


Menyalakan ke mode kamera dan memijit tombol video. Rijal tak kuat ingin terbahak, dia sampai menggigit bibirnya keras dan menginjak jempol kakinya agar bisa menahan sedikit lebih lama.


Melihat Dafa menelungkup di atas guling yang di pakai kan baju terakhir Mentari, menggerak-gerakkan tubuhnya di atas guling.


"Ughhh... Sun... " Dafa melenguh ambruk di atas guling itu, kepalanya menciumi ujung guling dan seketika dia terperanjat saat lengkingan tawa Rijal yang menggema di dalam kamarnya.


"Anjing... gue dapet live streaming, gilaaaa pagi-pagi udah nemu hal sableng." Rijal berkata sambil tertawa terbahak-bahak.


Dafa yang tersadar, langsung terduduk di atas kasur, matanya masih menyesuaikan sinar lampu yang baru Rijal nyalakan.


"Ngapain lu, berisik banget masih subuh juga." Dafa mengusap wajahnya.


"Udah gue bilang, tuh guling jangan lu pakein baju.


Bener kan lu anuan sama guling!" Rijal duduk di atas kasur sambil terus tertawa hingga perutnya terasa keram.


"Apa sih, Lu. kagak jelas." Dafa turun dari tempat tidurnya berjalan ke arah kamar mandi dengan menahan malu.


Langkah kakinya terhenti saat Rijal kembali tertawa terbahak-bahak menunjuk ke arah bagian bawahnya.


"Astaga... Daf, bener-bener lu kudu nyari bini lu. Liat saking kangennya, pipa lu bocor sendiri. Hahahaha apa enak main sama si guling?" Rijal tertawa sampai menekukkan tubuhnya memegangi perut yang terasa sakit karena tertawa terus-menerus.


Dafa menunduk melihat ke tubuh bagian bawahnya, celana boxer berwarna abu muda itu , sudah basah bagian atasnya. Reflek Dafa menangkupnya dan berlari ke arah kamar mandi.


Rijal keluar dari kamar sahabatnya itu sambil terus tertawa, bahkan sudut matanya sampai mengeluarkan air mata.


"Ngenes banget yan kangen." Dia kembali terkikik.


*

__ADS_1


*


Dafa keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi, kemeja biru muda dan celana chinos hitam.


Lalu dudul di meja makan, menghampiri Rijal yang sedang memakan mie instan yang dia buat tadi.


"Duh... mie gue jadi ngembang gini, gegara liat live streaming." Rijal menahan tawanya.


"Tamu nggak ada akhlak, pulang lu sono." Dafa berkata sambil mengambil selembar roti tawar, dan langsung membuka toples selai coklat langsung mengolesi roti itu.


Tatapan matanya mengintimidasi Rijal.


"Nggak punya malu, bikin mie cuma satu. Nih yang punya rumah juga laper tau."


"Sory gua cuma bikin satu. Iya tau lu laper abis main sama tante guling." Tawa Rijal pun pecah , dan sebuah tutup toples selai melayang ke arah kepalanya.


Namun segera di tangkis dan malah masuk ke dalam mangkuk mie yang sedang dia makan.


Otomatis kuah mie itu, muncrat ke wajah dan kemejanya. "Ah... sialan lu, gue udah mandi nih." Gerutunya.


"Mandi lagi, tapi di rumah lu. Gue mau ada ketemu bokap gue, sebelum ke kantor firma hukum." Timpalnya.


"Bokap dah balik ke rumah?"


"Udah, kemarin katanya. Gue di suruh ke sana sama pengacara nya." Dafa mengunyah gigitan terakhir rotinya, kemudian dia menuangkan air ke dalam gelasnya dan langsung meminumnya.


"Wah... mengalihkan kekuasaan nih!" godanya.


"Cie... Pak pengusaha."


Dafa hanya menatapnya jengah, kemudian berdiri.


"Gue, berangkat. Mau bareng? atau mau bersih-bersih di mari?" Dafa tergelak sambil memakai sepatu nya.


"Dih... kan ada bini guling lu." Rijal kembali meledeknya.


"Kagak usah di bahas, monyet... " Tatapan Dafa tajam ke arah sahabatnya itu.


"Duh, rindu itu berat. Untung lu punya bini cadangan." Rijal setengah berlari ke luar rumah takut akan murkanya Dafa.


"Sialan lu... "


Mereka pun keluar rumah dengan menggunakan mobil Dafa. Tanpa sepengetahuan Dafa, Rijal memiliki rekaman yang sangat memalukan untuk dirinya.


Rijal terus saja menahan tawanya saat berada di mobil, Dia berencana akan menunjukkan video itu jika bertemu dengan Mentari.


"Napa sih lu?"


"Nggak apa-apa, masih kebayang adegan tadi." Jawab Rijal.


"Pengen gue getok lu, biar amnesia." Dafa mengutuk.


"Gue serius kangen banget, mau fokus dulu sama yang ada sambil nunggu laporan dari temen lu yang hacker itu."


"Siap, lu tenang aja. Seenggaknya beban lu nggak terlalu berat tadi udah lu muntahin kan sebagian." Rijal menjauhkan tubuhnya saat Dafa kembali akan menyerang nya.


"Mulut lu, gue sumpel juga ama kunci Inggris."


"Sadis emang lu, ama temen setia kayak gue."


Mereka pun terbahak-bahak sepanjang perjalanan menuju cafe Rijal.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka🥰🥰, like komen nya jangan lupa😘😘


Maaf kalo kurang puas, minta puasin ke pasangan ya 🤭🤭🤣

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu buat kita❤❤


__ADS_2