
🌻🌻🌻
drtttt....drttt....drttt...
Suara getaran hp membuyarkan kedua orang yang sedang saling menyesap.
Mentari mendorong dada Dafa. Kemudian merogoh saku cardigan nya.
"Iya kak?" jawabnya pada panggilan Bintang
"..."
"Iya, sebentar ini lagi di lorong rumah sakit!"
jawabnya bohong
Dafa tersenyum mendengar kebohongan yang kekasihnya ucapkan itu, tangannya tak henti mengusap-usap punggung Mentari yang sedang duduk berhadapan dengannya.
"Aku harus segera ke kamar Abang!" ucapnya setelah memutus panggilan dan membenahi pakaiannya yang sedikit acak-acakan, akibat ulah dari Dafa.
Ya, Mentari datang pagi buta ke rumah sakit. Dia di teror semalaman oleh Dafa. Bertepatan dengan ayah yang pergi ke luar kota pada dini hari, menjadi kesempatan untuk mentari pergi menemui Dafa se pagi mungkin.
"Kesini lagi ya, aku kesepian!" rengeknya.
"CK... bukan itu pasti alasan kamu mas," Mentari mencebik sebal.
"Itu kamu tau." kelakar nya.
Mentari pamit namun Dafa memegang lengannya dengan cepat.
"Apalagi? buruan kak Bintang nanti marah!" Mentari mulai kesal.
Dafa kembali mengecup bibir Mentari yang sudah menjadi candu untuknya.
Mentari tersentak dengan ulah Dafa yang selalu bertindak seenaknya.
"Awww..." Dafa meringis saat sebuah capitan tangan Mentari mendarat di pinggangnya.
"Sakit.." dia mengusap-usap pinggangnya.
Mentari pun segera meninggalkan ruangan kekasihnya itu, dia tertawa kecil menghadapi kelakuan Dafa.
Bener kata Cindy kalo cinta membuat harinya lebih berwarna. Itu yang kini tengah dia rasakan
*
"Buruan Dek.. " suara Bintang menggema di lorong depan kamar rawat Langit.
Mentari berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang kakak.
"Dari mana aja sih? kata mbok kamu udah pergi dari setengah enam, kamu kemana dulu?" Bintang memberondong pertanyaan pada adik perempuannya itu.
"Iya, maaf.. tadi temen aku yang di rawat minta temenin sebentar." Mentari beralasan.
"Dan gue ampir kesiangan..." Bintang berlalu sambil menyentil kening adiknya.
...----...
"Bang...?" Mentari duduk di sisi ranjang Langit.
Terlihat Langit tertidur dengan wajah yang pucat, keningnya mengerut menahan sakit.
"Perutnya masih sakit?" tanyanya .
"Sedikit, udah agak mendingan!" jawab langit pelan.
Mentari mengiyakan ucapan sang Abang.
Seorang dokter paruh baya dan seorang suster cantik membawa nampan makanan masuk dan menyapa kakak adik itu.
Mulai memeriksa dan mengecek semua keluhan yang Langit rasakan. Menyuruh suster yang mendampinginya menuliskan jenis obat yang akan di konsumsi Langit.
Dokter itu pun pamit untuk memeriksa pasien lain. Mentari menatap mata Langit yang terus memandangi suster cantik itu.
"Ehmmm..." Mentari membuyarkan Langit yang tengah melamun.
"Apa sih dek? suapin Abang!" Langit memposisikan duduknya agar lebih nyaman.
Mentari pun dengan telaten memberikan suapan demi suapan pada sang kakak.
"Chaca Nebus dulu resep ya!" pamitnya dan di angguki Langit tanda memberikan ijin.
*
*
Mentari sedang duduk di bangku menunggu di depan apotek rumah sakit, menunggu antrian penebusan obat.
Seseorang duduk di sebelahnya. Lalu menyandarkan kepalanya di pundak Mentari.
"Eh.. sorry." dia terkejut.
"Mas....ishh bikin kaget!" saat dia mengetahui Dafa yang menyandarkan kepalanya.
Dafa tersenyum lebar memperlihatkan gigi rapih nya.
"Ngapain di sini?" tanya Mentari.
Dafa menunjukkan sebuah kertas berisikan resep, "tangan aku yang di gips ngilu semua."
adunya manja.
__ADS_1
"Sini, biar aku yang antriin!" Mentari mengambil kertas resep milik Dafa.
Mereka pun mengobrol dan sesekali tertawa dengan celotehan Dafa.
Hingga obat pun sudah mereka dapatkan.
"Aku kasih ini dulu sama Abang ya! kasian mau di minum, Abang lambung nya masih sakit." Ujarnya sambil bangkit.
"Aku tunggu kamu buat makan obat ini!"
"Nggak akan aku makan sebelum kamu Dateng!" ancamnya.
"Iyaa... nanti aku ke sana, udah Abang tidur!'
seraya berjalan menjauh.
Dafa hanya tersenyum melihat punggung kekasihnya yang semakin menjauh.
"Dasar... " gumamnya.
*
*
"Istirahat bang, biar enakkan!" Mentari merapihkan selimut hingga menutupi perut Langit.
"Dek.. kalo mau pulang nggak apa-apa, Abang sendiri aja!" ucap Langit sambil membenahi posisi tidur nya.
"Nanti aja bang nunggu kak Bintang dateng!" jawab Mentari.
"Lah... dia di sini marah-marah mulu, nggak bisa pacaran katanya, terus aja telponan Ama pacarnya. Malah Abang nggak bisa tidur, denger dia nge gombal Mulu!" kekehnya.
Mentari duduk di sofa menunggui Langit yang beristirahat. Dia tengah berbalas chat dengan Dafa, senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya menanggapi kata-kata gombalan dan guyonan dari Dafa.
Dia melirik ke arah Langit yang memang sudah tertidur pulas, lalu melihat jam yang tertempel di dinding hampir jam satu. Teringat janjinya yang akan kembali ke kamar Dafa saat abangnya itu tertidur.
Mentari mengendap keluar dari kamar rawat Langit. " Ampun, kenapa aku jadi kayak maling gini sih?" tangannya membekap mulutnya menahan tawa.
"Mas.." Mentari masuk ke kamar Dafa,
terlihat kosong dia celingukan. Pintu kamar mandi terbuka. Dafa keluar dari sana dengan mengenakan handuk saja.
Dafa terkejut mendapati Mentari sudah terduduk di sofa.
"Kaget.. kirain nggak ada kamu!" Ucapnya berjalan ke arah lemari kecil mengambil baju ganti.
Kemudian dia masuk kembali ke dalam kamar mandi. Tak lama dia mengintip kan kepalanya di balik pintu.
"Sun.. aku susah pake baju." Cengirnya.
"Terus.. aku harus gimana? panggil perawat ya!" dia pun bangun hendak memanggil perawat untuk membantu Dafa.
"Nggak usah, sama kamu aja! cuma pakein kaos aja. Ini gips nya ngehalangin." dia kembali mengacungkan tangan yang masih di bungkus gips itu.
"Eughhh nyesel, kenapa tadi aku maksain pake celana, tau gitu aku minta sekalian pakein sama kamu semuanya!" sesalnya.
"Dih.. maunya kamu itu mah mass!" Mentari memukulkan kaos pada pinggang Dafa.
Dafa pun tertawa berhasil menggoda Mentari hingga wajahnya merona.
Dafa memegang Pinggang Mentari agar mendekat, wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, pandangan mereka saling mengunci.
Dafa kembali melabuhkan bibirnya, dia selalu saja yang memulai.
Tangan Mentari menahan dada polos Dafa yang masih terasa dingin.
"Masss..." melepas pautan itu.
"Kenapa? ini bukan yang pertama kan?" Dafa menatap netra gelap milik Mentari.
"Makin hari kamu makin cantik, aku makin nggak tahan buat nggak nyium kamu!" dia mengelus pipi Mentari.
Mentari merona mendengar penuturan Dafa.
"Udah mau pake baju nggak sih? ntar masuk angin lagi!" Mentari mulai memasukkan Kaos Dafa ke lengan yang masih di balut gips secara perlahan.
"Pelan-pelan masih ngilu ini!" rengeknya.
"Ishhh.... manja , tadi gimana mandinya?" tanya Mentari.
"Ya gitu pake shower, tangan nya aku acungin ke atas!" jawab Dafa dengan memeragakannya.
Mentari tertawa kecil sambil memasangkan kaos itu hingga selesai.
"Dah.. " ucapnya.
"Makasih.. cup!" lagi-lagi kecupan mendarat dengan cepat di bibir agak bervolume milik Mentari.
Cubitan pun mendarat kembali di perut Dafa.
Mentari berlalu ke arah sofa menetralkan degup jantungnya menahan rasa Gugupnya, malu..? tentu saja, tapi entah kenapa serasa ada kupu-kupu berterbangan membuat dirinya selalu ingin tersenyum jika dekat dengan Dafa.
"Aku belum makan obatnya loh sun!" Dafa berkata sambil duduk di sebelah Mentari.
"Ya makan lah!" Titahnya.
"Nunggu kamu, aku kan dah bilang mau makan obat kalo kami balik lagi ke sini!" Jelasnya.
Mentari bangkit dan berjalan ke arah nakas mengambil bungkusan obat.
"Nihh.." dia menyodorkan.
__ADS_1
"Aaa.... suapin!" membuka mulutnya.
"CK.. manja!" tapi tak urung gadis itu lakukan juga.
Dan obrolan ringan di sertai gombalan Dafa mewarnai waktu siang itu, hingga tak terasa Sore pun tiba, dan Tika harus kembali ke kamar Langit.
*
*
Mentari tergesa-gesa masuk ke dalam Kamar rawat sang kakak.
"Dari mana dek..?" tanya Langit yang sedang memeriksa email kerjaan di tab nya.
"Dari nengok temen bang.." jawabnya pelan sambil menyimpan tas di atas sofa.
"Abang udah makan?" tanyanya mengalihkan perhatian Langit.
"Udah.."
Mentari pun mengangguk dan menyalakan televisi dan duduk di ranjang Langit, Langit pun bergeser memberi ruang pada adik kesayangannya itu.
perlahan tapi pasti Mentari memejamkan matanya, diapun tertidur dengan pulas tangan nya masih memeluk remote TV.
Langit mengukir senyum dan mengusap sayang kepala Mentari.
"Kamu udah gede dek, dan kamu nggak bisa bohong sama Abang!" ucapnya dengan tersenyum.
*
Mentari terbangun dengan suara ribut Kakaknya, ya Siapa lagi suara Menggelegar kalau bukan Bintang.
"Heh... masa iya lu ikut tidur di ranjang Abang, liat noh yang sakit mepet Ampe mau jatuh!" Bintang menunjuk Langit yang tertidur di ujung kasur.
Mentari bangun dan segera membenarkan posisi abangnya.
"Maaf bang, Chaca ngantuk banget!" Katanya sambil menyunggingkan senyum merasa bersalah.
Mentari masuk ke kamar mandi, membersihkan wajahnya.
"Udah pulang sana, tapi ayah katanya nggak akan pulang, kamu di rumah sendiri biarin ya!" ucap Bintang.
"Oh, ayah nggak pulang? biarin deh di rumah kan ada mbok!" saut Mentari.
"Udah mau Magrib, kalo mau pulang sekarang telpon mang Unang, biar kamu di jemput!" Bintang memberi titah.
"Pake taksi aja deh.. tapi bagi ongkos!" Mentari menjulurkan tangannya ke arah Bintang.
"Dih... bang, dia minta duit Mulu ke gue, nih gue dah beliin nasi goreng seafood dah beli jus, dari jatah jajan gue, sekarang lu minta ongkos lagi!" Adunya pada Langit.
Langit tertawa dan mengotak-atik Ponselnya.
"Dah Abang transfer tuh, buat gantiin jajan Mentari!" ujarnya.
"Asikkkk... Abang emang best!" Mentari berlari mencium pipi Langit.
"Ck.. selalu aja nggak ayah, Abang yang belain lu dek!" Bintang mencebikkan bibirnya sambil mengeluarkan uang pecahan biru empat lembar.
"Makasih.. kakak ku sayang!" Mentari menyambar uang itu dan keresek nasi goreng dan jus yang Bintang belikan untuknya.
*
*
"Pamit dulu ke Mas Dafa ah.." Batinnya.
Mentari mengetuk pintu kamar rawat Dafa, setelah sebelumnya mendengar suara yang tengah mengobrol di dalam, sepertinya Dafa tidak sendirian.
"Masuk... " terdengar suara dari dalam.
Mentari pun masuk dan melihat ada beberapa pria yang tengah berbincang dengan Dafa.
"Oh.. ada tamu, aku ganggu ya?" tanyanya.
"Nggak ganggu lah, lagian mereka juga udah mau pulang?" Dafa berucap.
Setelah semuanya pulang. Mentari memakan bekalnya yang Bintang belikan untuknya.
"Mau nyoba mas?" di menyodorkan satu sendok nasi goreng itu.
"Aku udah makan, kamu aja makan yang kenyang." Dafa asik memperhatikan Mentari yang sedang makan.
"Udah ini aku ijin pulang ya?"
"Nggak ada ayah di rumah!" Tambahnya lagi.
"Kemana emang?" tanya Dafa.
"Ayah ngecek beberapa tokonya yang ada di luar kota, barusan kata kak Bintang Ayah nggak akan pulang." teranganya lagi.
"Tidur di sini aja... temennin aku!" Kata Dafa Deny semangat menggebu.
"A..apa? tidur di sini? sama mass?" tanya Mentari kaget?
Dafa mengangguk dan mengedipkan matanya.
**Bersambung ❤️❤️❤️
Terimakasih banyak yang sudah mampir, dan di tunggu jejak kalian Like dan komentarnya.
🙏🙏🙏😘😘😘
__ADS_1
terimakasih banyak sehat dan bahagia untuk kita semua💓💓💓**